
Romeo mondar mandir didepan ruang persalinan. Sudah tengah malam, tapi Rere belum juga melahirkan. Ingin sekali dia masuk kedalam untuk melihat kondisi Rere dan memberi dukungan, sayangnya dia tak diizinkan masuk. Selain dilarang Pak Tomas, Rere juga lebih memilih ditemani mamanya.
Pak Tomas menatap menantunya yang seperti setrikaan itu. Sampai lelah dia menyuruh Romeo pergi, tapi pria itu kekeh tak mau meninggalkan tempat itu.
Didalam, Rere tengah berjuang untuk melahirkan. Dia baru tahu seberat ini perjuangan seorang ibu untuk melahirkan. Sudah hampir 14 jam dia mengalami kontraksi, tapi belum juga pembukaan lengkap.
"Rere gak kuat Mah." Ujar Rere yang tak kuat merasakan sakitnya kontraksi.
"Hus, jangan bilang gitu. Kamu pasti kuat." Jia terus memberikan dukungan. Tak lupa selalu berdoa agar proses persalinan Rere dipermudah.
Satu jam kemudian, akhirnya pembukaan lengkap. Saatnya Rere berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Ayo Bu, dorong."
"Emmpppt." Rere berusaha mengeluarkan bayinya. Tapi hingga beberapa kali percobaan, bayi itu tak kunjung keluar.
"Saya gak kuat lagi Dok." Ujar Rere dengan suara lemah. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis, tapi bayi itu belum juga keluar.
"Kamu pasti kuat sayang. Fokus, dorong yang kuat," ujar Jia.
Rere melakukan sekali lagi seperti instruksi dokter, tapi sayang bayinya belum juga keluar.
"Dimana suaminya Bu, kenapa tidak mendampingi?" Tanya dokter yang sejak tadi tak melihat suami Rere.
"Suaminya....ada diluar," jawab Jia ragu ragu.
"Kenapa gak disuruh masuk. Kadang ada bayi yang lahirnya nungguin papanya dulu. Siapa tahu saat ditemani papanya, jadi cepet keluar."
"Apa kamu mau ditemani Romeo?" Jia lebih dulu bertanya sebelum keluar untuk memanggil Romeo. Bagaimanapun, kenyamanan Rere adalah yang paling utama.
__ADS_1
Rere yang sudah sangat kelelahan, hanya bisa mengangguk. Melihat itu, gegas Jia keluar untuk menyuruh Romeo menggantikan posisinya.
"Apa bayinya sudah lahir?" tanya Tomas saat melihat Jia keluar ruang persalinan.
Jia menggeleng. "Belum Pah."
"Bagaimana kondisi Rere Mah?" Tanya Romeo yang tak kalah cemas dari Tomas.
"Masuklah, temani Rere melahirkan."
Romeo kaget mendengar itu, begitupun dengan Tomas.
"Cepat masuk, Rere butuh kamu."
Tak mau membuang waktu, Romeo langsung masuk kedalam.
Air mata Romeo meleleh melihat kondisi Rere yang tampak sangat kelelahan. Saat netra mereka beradu, segera Romeo menyeka air matanya dan berjalan cepat mendekat kearah brankar. Langsung dikecupnya kening Rere yang berkeringat sambil memegang tangannya.
"Kamu pasti bisa sayang." Bisik Romeo tepat ditelinga Rere.
"Ayo Bu, dicoba lagi. Sudah ditemani suaminya, semoga bayinya bisa cepat keluar. Ikuti instruksi saya," Titah dokter perempuan yang membantu proses persalinan Rere.
Rere mengangguk, tangannya menggenggam erat telapak tangan Romeo sambil mengikuti instruksi dari dokter.
Rere sudah melakukan sesuai instrukai dokter. Dia juga sudah mengejan dengan sekuat tenaga, tapi bayi itu belum juga keluar. Romeo merasa seluruh tubuhnya sakit semua, terutama bagian pinggang, punggung dan perut. Dia seperti ikut merasakan sakit yang dirasakan Rere.
"Ayo Bu ayo, sedikit lagi." Suster terus menyemangati.
"Semangat sayang, kamu pasti bisa. Aku mencintaimu." Romeo mencium tangan Rere beberapa kali.
__ADS_1
"Ayo Bu dicoba lagi. Usahakan kali ini berhasil. Kepala bayinya sudah kelihatan."
"Dorong."
Rere mendorong kuat sambil mencengkaram lengan Romeo.
Oek oek eok
Tak terkira leganya Rere sekaligus Romeo saat mendengar tangis pertama bayi mereka. Keduanya saling menatap dengan mata berkaca kaca.
"Anak kita sudah lahir sayang. Kamu hebat, kamu kuat." Romeo mencium kening Rere lama. "Terimakasih sudah berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu." Air mata Romeo jatuh diatas wajah Rere. Selain ucapan terimakasih, dia tak tahu harus memberikan apa lagi sebagai bentuk rasa terimakasihmya.
Rere hanya mengangguk karena tubuhnya terasa sangat lelah. Sementara suster memeriksa kesehatan bayi dan membersihkannya, Rere merasakan sakitnya dijahit. Padahal dia pikir perjuanganya sudah selesai, ternyata masih ada proses yang tak kalah menyakitkan, yakni dijahit.
Setelah bayi dibersihkan, suster memberikannya pada Romeo untuk diadzani. Dengan tangan gemetar, Romeo menggendong bayinya untuk pertama kali. Rasanya sungguh luar biasa saat menatap makhluk mungil versi kecil dirinya. Ya, wajah mereka sangat mirip.
Selesai adzan dan ikomah, Romeo mengecup pipi merah bayinya. Rasanya masih seperti mimpi, dia seorang ayah sekarang. "Welcome to the world, boy." Dia tak henti hentinya mengagumi wajah tampan bayinya dan mengucap syukur.
Suster mengambil lagi bayi mungil tersebut. Setelah ini, Rere dan bayinya akan melalukan imd.
Wajah Rere sekatika memerah saat suster membuka baju bagian atasnya. Dia malu pada Romeo. Karena selama menjadi istrinya, dia belum pernah menunjukkan area sensitifnya didepan Romeo. Dia tahu Romeo pernah melihatnya, tapi dia dalam kondisi tak sadar saat itu. Jadi rasanya seperti pertama kali dia telan jang dada didepan Romeo.
Suster meletakkan bayi mungil diatas dada Rere. Membiarkan makhluk kecil itu mencari sumber makanannya sendiri.
Romeo menatap takjub bayi mungil yang berusaha mencari puncak dada Rere. Tak menyangka jika bayi yang baru keluar itu sudah langsung mengerti kemana dia harus bergerak.
"Wah, pinter sekali debaynya." Puji dokter yang melihat bayi mungil itu sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya dan mulai menghi sapnya. "Pasti nurun dari papanya ini. Seperti kata pepatah, like father like son."
Wajah Rere dan Romeo otomatis memerah karena malu. Mereka tak menyangka jika dokter yang sudah tampak berumur itu bisa bercanda seperti itu.
__ADS_1