
Tak mau membuang waktu, tempat pertama yang dituju Haikal adalah kamar Gina. Meski ada 2 kamar, tapi dia tahu yang mana kamar Gina karena dia pernah kesini sebelumnya.
Haikal melakukannya dengan sangat hati hati, jangan sampai Gina menyadari jika kamarnya baru saja dimasuki orang. Almari, meja rias, nakas, apapun itu tak lepas dari pencarian Haikal. Sayangnya dia tak menemukan apa apa. Kemungkinan laptop dan ponsel dibawa oleh Gina.
"Dimana Gina menyembunyikannya?" Haikal berteriak frustasi.
Tak mau putus asa, Haikal mencari dikamar satunya. Sama seperti tadi, dia juga tak menemukan apapun disana. Dapur, ruang tengah, rasanya tak mungkin benda seperti itu disimpan disana, apalagi di kamar mandi.
Haikal menjatuhkan bobot tubuhnya diatas sofa. Dia membuang nafas kasar sambil menyunggar rambutnya kebelakangan mengunakan jemari. Dimanakah kira kira Gina menyembunyikan benda itu? Disaat sedang sibuk berfikir, matanya tak sengaja malihat rak buku yang ada dibawah tv. Mungkinkah Gina menyimpan sesuatu disana?
Haikal beranjak dari kursi, berjalan cepat menuju rak bawah tv.
"****." Belum sempat dia membuka rak tersebut, terdengar suara pintu dibuka. Yakin jika itu Gina, segera Haikal kembali kesofa dan pura pura tidur.
"Astaga, dia sampai tertidur karena terlalu lama menungguku." Dengan senyum lebar, Gina mendekati Haikal.
Andai saja aku bisa melihat pemandangan seindah ini tiap hari.
Gina menggeser sedikit kaki Haikal lalu duduk disofa. Ditatapnya wajah tampan yang selalu dia rindukan siang dan malam. Dia tak berniat membangunkan Haikal. Makin lama Haikal tidur, makin puas juga dia menikmati wajah tampan pria itu.
Capek juga Haikal pura pura tidur. Dia akhirnya mengerjabkan mata dan pura pura menguap. Memasang ekspresi lelah dan ngantuk agar Gina tak curiga.
"Gina, kapan kamu pulang?" Haikal mengubah posisinya menjadi duduk.
"Baru saja." Sahut Gina sambil tersenyum. "Maaf udah bikin kamu nunggu lama."
Lebih lama lagi lebih bagus, batin Haikal.
"Tak masalah." Haikal menatap kotak pizza yang ada diatas meja. Perutnya terasa lapar karena belum makan sejak siang tadi.
"Sepertinya pizzanya sudah dingin, biar aku panaskan sebentar di microwave," ujar Gina yang paham kemana arah tatap Haikal.
"Tidak perlu." Haikal langsung saja membuka kotak pizza tersebut. "Bisa tolong ambilkan aku minum, aku sangat haus."
"Astaga Kal, jadi daritadi kamu belum minum?" Haikal menggeleng sambil mengambil sepotong pizza lalu memakannya.
__ADS_1
"Lain kali langsung ambil saja didapur, tak perlu menungguku. Anggap saja apartemen ini seperti milikmu sendiri." Ujar Gina sambil berjalan kedapur untuk mengambil minum.
Dengan kepercayaan penuh dari Gina seperti ini, Haikal yakin tak akan sulit untuk menemukan benda itu nantinya.
Melihat tas Gina yang ada diatas meja, Haikal segera membukanya. Ternyata ada 2 buah ponsel disana. Gina membawa semuanya, tak meninggalkan salah satu dirumah. Laptop, mungkinkah dia tinggal di kantor? Atau mungkin didalam mobil?
Hari ini mungkin gagal. Tapi tidak untuk lain kali. Haikal tak akan berhenti sebelum bisa memusnahkan foto foto tersebut.
.
.
.
Hingga larut malam, Rere tak bisa tidur. Tak bisa dipungkiri, dia rindu pelukan Romeo. 3 hari ini saat kedua orang tuanya tidak ada, Romeo selalu tidur dikamarnya. Dan malam ini, Romeo tak lagi tidur disana karena sungkan pada orang tua Rere. Takut mereka berfikiran macam macam dan mengira dia tak bisa dipercaya karena melanggar larangan.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan pintu, Romeo yang juga tak bisa tidur langsung membukanya.
Rere menggeleng. "Aku tak lapar dan tak sedang butuh sesuatu. Aku hanya gak bisa tidur."
Romeo tersenyum mendengarnya, ternyata Rere juga sama seperti dia, tak bisa tidur.
"Sepertinya sibaby gak bisa tidur kalau gak dielus papanya," ujar Rere sambil menunduk dan mengusap perutnya.
"Yakin baby, bukan mamanya yang pengen dipeluk?" Goda Romeo sambil terkekeh pelan.
"Ya udah ayo aku temani. Tapi nanti setelah kamu tidur, aku kembali ke kamar."
Mereka berdua lalu naik kelantai atas menuju kamar Rere. Dengan perut yang besar, Rere terngah engah menaiki tangga.
"Apa gak sebaiknya kamu tidur dikamar bawah saja Re. Kayaknya kamu sudah sangat kepayahan naik turun tangga," ujar Romeo.
"Benar juga, tapi dibawah sudah gak ada kamar lagi."
__ADS_1
"Tidur dikamar aku saja."
Rere menghentikan langkahnya mendengar itu. "Lalu kamu?"
"Aku bisa tidur diluar." Romeo tersenyum sambil menyentuh rambut panjang Rere lalu membelainya.
"Emm..." Rere terlihat ragu untuk mengatakannya. "Bagaimana kalau kita tidur sekamar saja mulai sekarang, dikamar kamu."
"Tapi.."
"Biar aku yang bilang sama papa. Lagian kita hanya tidur, gak ngapa ngapain."
Sebenarnya Romeo tak yakin orang tua Rere mengizinkan. Tapi kasihan Rere juga jika tiap malam tak bisa tidur.
"Terserah kamu saja."
"Turun lagi yuk, kita tidur dikamar kamu saja." Rere tampak sangat bersemangat. Tak tahu kenapa, dia selalu ingin berada didekat Romeo. Tak hanya pelukannya yang membuat nyaman, tapi dia aroma tubuh pria itu membuatnya candu.
"Baiklah."
Keduanya lalu kembali menuruni tangga dan masuk kekamar Romeo. Bisa dibilang, Rere sangat jarang masuk kekamar Romeo, karena lebih sering, Romeolah yang kekamar Rere.
Bukannya langsung naik keatas ranjang, Rere malah meneliti barang barang Romeo yang ada diatas meja. Dia tersenyum melihat foto pernikahannya dan Romeo yang ada diatas meja.
"Udah malam, belum mau tidur?" Romeo memeluk Rere dari belakang. Mencium pipi wanita itu lalu meletakkan dagunya dibahu Rere.
"Aku baru sadar jika kamu setampan ini saat kita menikah dulu." Rere menyentuh wajah Romeo difoto menggunakan ibu jarinya.
"Mungkin karena dulu dimata kamu hanya ada Haikal, jadi aku gak kelihatan sama sekali," Padahal Romeo hanya becanda, tapi Rere seperti tersindir.
"Maaf." Rere meletakkan foto tersebut lalu membalikkan badan menghadap Romeo.
"Untuk apa minta maaf." Romeo mengusap pipi Rere menggukan ibu jarinya lalu mengecup bibirnya sekilas. "Semua orang punya masa lalu. Tapi kita hidup untuk masa depan. Aku tidak peduli jika dulu Haikal yang ada dihatimu. Bagiku yang terpenting saat ini, aku adalah masa depanmu. Aku mencintaimu, dan kamu_"
"Dan aku juga mencintaimu Meo." Potong Rere cepat.
__ADS_1
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, setelah itu keduanya sama sama memajukan wajah dan menempelkan bibir. Sebuah ciuman dan lembut dan dalam tak bisa terhindarkan.