
Rere bingung dengan apa yang dikatakan Remoe. Ditambah lagi, pria itu tiba tiba memeluknya erat. Perasaan dia tak mau pergi kemana mana, lalu apa maksudnya? Ada apa dengan Romeo?
"Jangan tinggalkan aku." Romeo kembali mengatakan itu, membuat kebingungan Rere makin berlipat ganda.
"Meninggalkanmu? Aku tidak mau pergi kemana mana Meo." Rere mengernyit bingung.
"Aku mencintaimu Re."
Tubuh Rere seketika membeku mendengar ungkapan cinta Romeo. Ada apa sebenarnya dengan Romeo, kenapa dia tiba tiba aneh? Rere tak tahu harus merespon seperti apa. Benarkah Romeo mencintainya? Mencintai wanita kotor seperti dirinya.
Romeo melepaskan pelukannya lalu menatap kedua netra Rere.
"Romeo, a_" Romoe meletakkan telunjuknya dibibir Rere.
"Tidak perlu dijawab. Aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku. Aku tahu cintamu masih untuk Haikal."
Muncul perasaan bersalah dibenak Rere. Orang yang seharusnya dia cintai adalah Romeo, suaminya, tapi hatinya belum juga bisa move on dari Haikal.
"Aku akan belajar untuk mencintaimu. Maukah kau menungguku?"
Meski tak ada kepastian dari jawaban itu, tapi Romeo tetap senang. Rere mau belajar mencintainya, itu sudah lebih dari cukup. Dia meraih kedua tangan Rere lalu menggenggamnya.
"Sampai nafas terakhirku, aku akan menunggumu. Menunggumu mencintaiku dan memaafkan semua kesalahanku."
"Kesalahan?" Rere mengulang kata itu. Ucapan Romeo hari ini sungguh membingungkannya. "Kesalahan apa maksudmu?"
Rasanya ingin sekali Romeo mengatakan yang sejujurnya. Tapi nyalinya masih terlalu kecil.
"Ya sudah ayo masuk, tanganmu harus segera diobati."
Romeo mengangguk cepat lalu masuk kedalam toko bersama Rere. Disaat bersamaan, ternyata para tamu hendak berpamitan, begitupun dengan Gina dan Anisa. Toko yang mulanya ramai itu langsung sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja.
__ADS_1
Selesai mengantar tamu kedepan, Rere mengajak Romeo naik kelantai dua. Ditempat yang tadi dipakai Tomas berkumpul dengan teman temannya.
Rere mengambil obat antiseptik lalu duduk di sofa panjang yang sama dengan Romeo.
"Hanya ada obat ini, tak apa kan?" Rere menunjukkan obat yang dia pegang pada Remoe.
"Tak masalah, lagian ini hanya luka kecil."
Rere meraih tangan Romeo. Memperhatikan luka di punggung tangan tersebut lalu meneteskan obat antiseptik diatas luka.
Romeo mendesis pelan karena rasa perih yang diakibatkan oleh obat tersebut.
"Perih ya?"
Romeo menganggauk. "Perih, karena kau tak meniupnya."
Rere tertawa mendengar kejujuran Romeo. Dia menarik tangan Romeo lebih dekat lalu meniupnya.
Jantung Romeo berdegup kencang. Perhatian-perhatian kecil seperti itu selalu berhasil membuat kerja jantungnya jadi lebih keras. Matanya tak lepas menatap Rere dan mengagumi kecantikannya. Perih yang dia rasakan seketika hilang. Setiap haripun, dia rela terluka asal mendapatkan perhatian Rere seperti ini.
"Kenapa, apa tidak boleh?"
"Boleh, tapi aku takut kau akan bosan padaku."
Romeo tergelak mendengarnya. Dia merapikan rambut Rere lalu menyelipkan dibelakang telinga.
"Bukannya bosan, yang ada aku akan jatuh cinta lagi dan lagi padamu." Rere salah tingkah saat Romeo menatapnya terus menerus. Karena malu sekagilus bingung harus berbuat apa, akhirnya dia memilih menunduk.
Haikal yang naik kelantai atas bersama ibunya, terpaksa harus menyaksikan hal yang tidak dia sukai. Melihat Rere memegang tangan Romeo dan seperti apa adiknya itu menatap Rere, hatinya terasa sakit.
"Rere."
__ADS_1
Panggilan bu Risa membuyarkan kecanggungan antara Rere dan Romeo. Melihat ada Haikal disana, Rere reflek melepakan tangan Romeo.
"Kami mau pamit pulang," ujar Bu Risa.
Rere dan Romeo langsung berdiri untuk menyalami Bu Risa. Sedangkan Haikal, Rere tampak ragu untuk mengulurkan tangan pada kakak ipar sekaligus mantannya itu.
Tanpa disangka, Haikal lebih dulu mengulurkan tangan, membuat Rere mau tak mau menjabatnya.
"Kami pamit dulu. Dan sekali lagi, selamat atas pembukaan toko bunganya."
"Terimakasih." Rere segera melepaskan tangan Haikal. Dia tak menyakiti hati Romeo.
Bu Risa dan Haikal kembali turun kebawah. Romeo yang menoleh kesamping, menyadari kemana arah mata Rere. Wanita itu menatap punggung Haikal hingga hilang dari pandangannya
"Jika suatu hari Haikal memintamu kembali, apakah kamu mau?" Romeo sadar masih ada cinta diantara mereka. Jika kebenarannya terkuak, bukan tak mungkin Haikal meminta Rere untuk kembali padanya.
Rere menggeleng pelan. "Aku tak mungkin kembali pada pria yang pernah tidak mempercayaiku. Itu terlalu menyakitkan Meo. Kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan. Dan kejadian serupa bisa saja terjadi lagi."
Rere meraih tangan Romeo yang saat itu berdiri disebelahnya. "Selain itu, aku sudah berjanji akan belajar mencintaimu. Jadi bisakah untuk tidak menanyakan hal itu lagi? Jangan membuatku seperti orang jahat Meo, yang masih mengharapkan pria lain disaat sudah memiliki suami."
"Maafkan aku." Romeo mengangkat genggaman tangan mereka lalu menciumnya. "Aku janji tak akan menanyakan itu lagi."
"Aku sudah pernah merasakan kecewa Meo, saat orang yang aku cintai tak mempercayai. Duniaku hancur saat itu. Cinta yang selama ini aku sanjung, aku junjung tinggi, aku kira cinta sejati, ternyata tak lebih dari sebuah omong kosong. Pria yang mengaku mencintaiku, hanya menganggap kejujuranku sebagai bualan." Rere tak kuasa menahan air matanya. Teringat kembali seperti apa Haikal menganggap semua yang dia katakan adalah kebohongan.
Romeo melepaskan genggaman tangan mereka lalu menyeka air mata Rere.
"Aku tak butuh cinta seperti itu Meo."
Romeo memeluk Rere yang sedang terisak. "Jika kau sungguh mencintai, berjajilah untuk tidak menyakitiku dengan sengaja. Aku tak mau sakit hati lagi Meo."
Mana mungkin aku bisa berjanji Re. Aku sudah menyakitimu, bahkan sangat dalam. Mungkinkah ini saatnya aku mengatakan yang sebenarnya? Aku tak bisa terlalu lama berbohong, semua ini sungguh menyiksaku.
__ADS_1
"Re, bagaimana jika ternyata," jantung Romeo berdetak kancang. "Bagaimana jika akulah orang yang_"
"Romeo." Panggilan dari Febbi menghentikan kalimat Romeo. Gadis itu ikut gemetaran mendengar apa yang barusan keluar dari mulut Romeo. Sedikit lagi pria itu akan mengungkapkan semuanya.