Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
RASA CINTA


__ADS_3

Gina terus menunduk sepanjang jalan menuju unitnya. Bukan satu dua orang yang memperhatikan penampilannya, melainkan hampir seluruh orang. Rambut acak acakan, hanya memakai kaos yang kedodoran, penampilannya sudah seperti seorang gelandangan. Untung satpam disana mengenalnya, kalau tidak, dia pasti akan diusir saat berada dilobi.


Haikal, Gina teringat pria itu. Kemana pria itu hingga tak menolongnya saat tiga pria asing membawanya? Dan kenapa dia sampai mabuk. Padahal dia tahu minuman yang dia pesan semalam kadar alkoholnya sangat rendah, rasanya mustahil dia mabuk gara gara minuman itu.


Wanita itu, dia pasti menyampurkan sesuatu diminumanku. Awas kamu, akan ku balas.


Gina mengepalkan kedua telapak tangannya saat mengingat wajah Alin. Dia yakin jika bartenter itulah yang membuatnya mabuk. Tapi apa alasannya? Bukankah mereka tak ada masalah sebelumnya?


Gina bernafas lega saat sampai didepan unit apartemennya. Tapi kelegaan itu hanya sesaat karena saat dia masuk kamar, dia menyadari jika kamarnya habis diacak acak.


"Haikal." Desis Gina sambil memejamkan mata. Hanya pria itu yang tahu sandi apartemannya, jadi sudah pasti, jika Haikal lah pelakunya.


Gina seketika menyadari satu hal. Tak mungkin Haikal hanya mengacak acak, dia pasti sedang mencari sesuatu.


"Ponselku." Gina berjalan sempoyongan menuju almari lalu membuka laci kecil didalamnya. Mulutnya mengaga melihat ponsel yang semalam dia letak disitu ternyata sudah raib.


Teringat ponsel yang satunya, segera Gina mengecek tas. Hilang, ponselnya tak ada disana. Dia yakin bukan pria semalam yang mengambil, buktinya tak ada yang hilang dari tasnya selain ponsel. Uang dan yang lainnya masih utuh ditas. Sekarang dia makin yakin, jika Haikal juga yang telah mengambil ponsel ditasnya.


Gina terduduk diatas ranjang. Dia memijit mijit kepalanya yang terasa pusing karena mabuk semalam. Dan makin pusing lagi, saat menyadari, jika kemungkinan besar, semalam Haikal sengaja menjebaknya. Dan itu artinya, Haikal sudah tahu semuanya.


"Jadi kau sudah tahu semuanya Kal?"


Badan yang terasa remuk dan kepala yang sakit, membuat Gina tertidur dan melupakan masalahnya untuk sesaat.


.


.


.


Rere terkejut saat membuka mata, dia melihat Romeo tengah menatapnya.


"Jangan bilang kamu gak tidur semalaman?"

__ADS_1


"Morning sweety. Mimpi apa semalam? Semoga saja indah." Romeo tersenyum lalu mengecup kening Rere. Mengabaikan pertanyaan sekaligus rasa penasaran Rere. "Mau sarapan apa pagi ini, biar aku masakin." Romeo hendak bangun tapi Rere menahan lengannya.


"Katakan dulu, apa kamu tidak tidur semalaman?"


"Ini hari minggu, aku libur. Apa kau ingin pergi kesuatu tempat? Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu."


Rere makin kesal karena lagi lagi, Romeo mengabaikan pertanyaannya. Dia menghela nafas lalu bangun dan turun dari ranjang.


"Hei, mau kemana?" Romeo turun dari ranjang lalu menyusul Rere.


Jika tadi Romeo mengabaikan pertanyaan Rere, kali ini ganti Rere yang mengabaikannya. Keluar dari kamar tanpa bicara sepatah katapun.


"Sayang, Re." Romeo menahan lengan Rere lalu memeluknya dari belakang agar Rere berhenti berjalan. "Apa kau marah?"


Sebenarnya Rere tidak marah. Dia hanya kesal karena perubahan sikap Romeo yang dirasa aneh.


"Please, jangan ngambek. Gimana kalau kita jalan jalan saja. Bukankah kata mama, kamu harus sering jalan agar proses persalinannya mudah," ajak Romeo.


Rere melepaskan belitan tangan Romeo lalu membalikkan badan. "Aku tanya sekali lagi. Apa kau tak tidur semalaman?" Nada bicara yang terkesan lugas itu membuat Romeo menelan salivanya susah payah.


"Tapi kenapa?" Rere tampak makin gelisah. Bahkan matanya sampai berkaca kaca sekarang. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu besar yang disembunyikan Romeo.


"Aku tak bisa tidur. Lagian hari ini minggu, aku libur. Jadi bisa tidur seharian. Udah, jangan bahas itu lagi. Apa kamu mau ke toilet?"


Melihat Rere mengangguk, gegas Romeo mengantarnya. Begitu Rere masuk ke toilet, Romeo menuju dapur lalu mencuci wajahnya di wastafel cuci piring. Setelah merasa lebih segar, dia mengambil apron lalu mengenakannya. Mengecek persediaan bahan makanan didapur sebelum dia memutuskan mau memasak apa.


Entah dimana kedua mertuanya pagi ini, mungkin mereka sedang joging atau kepasar. Biasanya mama Jia sudah berkutat didapur dijam ini. Tapi mungkin karena sekarang minggu, jadi wanita itu ingin libur dari dapur dan kesibukan disana.


"Kamu mau masak?" tanya Rere yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Romeo sudah siap dengan apronnya.


"Iya. Mau request sesuatu?" Tanya Romeo sambil menoleh kearah belakang.


Rere mendekati Romeo lalu memeluknya dari samping. "Buatkan aku makanan yang penuh cinta."

__ADS_1


"Tidak ada makanan seperti itu." Romeo menoel hidung Rere sambil tertawa ringan. "Apa kau mau waffle?"


Rere seketika mengernyit. "Kau bisa membuat waffle?" Dia saja yang perempuan tak bisa. Rasanya wow banget jika suaminya itu bisa membuatkannya waffle.


"Sangat mudah bagi seorang Romeo." Sahut Romeo jumawa sambil menepuk dadanya. "Kau mau toping rasa apa?"


"Rasa cinta." Jawab Rere sembari tertawa kecil.


Romeo yang gemas langsung mengecup pipi Rere. "Tidak ada varian rasa itu nona Juliet. Silakan pilih yang lain saja."


Rere melepaskan belitan tangannya lalu bersedekap sambil cemberut. "Pokoknya aku cuma mau rasa cinta, titik. Aku lagi ngidam, harus diturutin. Emang kamu mau anak kamu ileran?"


"Baiklah baiklah. Waffle rasa cinta akan segera disiapkan. Sekarang kamu duduk disini." Romeo mendorong pelan bahu Rere menuju meja makan yang letaknya didapur. Menarik kursi untuknya lalu membantunya duduk.


Rere duduk sambil bertopang dagu. Senyum senyum sendiri sembari menatap Romeo yang sedang membuat adonan waffle.


Astaga, suamiku seksi sekali.


Rere buru buru menggelengkan kepala. Membuang pikiran kotor yang tiba tiba singgah di otaknya. Bisa bisanya dia membayangkan tengah bercinta dengan Romeo.


Tak lama kemudian, aroma sedap waffle mulai tercium. Perut Rere seketika terasa lapar. Dan setelah wafflenya siap, Romeo membawa kehadapan Rere.


"Taraa...waffle rasa cintanya sudah siap."


Waffle dengan toping potongan strawberry yang disiram coklat serta sedikit madu siap untuk dinikmati.


"Seperti inikan cinta? Kadang manis seperti madu. Sedikit pahit seperti dark coklat, dan kadang juga asam seperti strawberry."


Rere menggeleng. "Tidak seperti itu. Karena bagiku, selalu manis jika bersamamu." Rere mengambil potongan strawberry lalu memakannya. "Hem...manis sekali strawberry ini, dan coklat ini." Rere mencolek sedikit lelehan coklat menggunakan telunjuknya lalu mencicipinya. "Sangat manis. Seperti cinta kita."


Romeo tersenyum getir melihatnya. Dia juga ingin cinta mereka selalu manis. Tapi mungkinkah itu?


"Meo, bisakah kau berjanji untuk membuat cinta kita selalu manis?"

__ADS_1


Ingin sekali Romeo bilang meminta maaf karena tak bisa mewujidkannya. Tapi tak mungkin dia bicara segamblang itu.


"Aku tak bisa janji. Tapi akan selalu berusaha membuatnya manis."


__ADS_2