Benih Siapa Di Rahimku?

Benih Siapa Di Rahimku?
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Tak terasa, kita sampai juga di bab akhir kisah Romeo dan Rere. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Lapak Heaven dan Mayra masih sepi, yang belum mampir, bisa langsung cuz kesana. Judulnya kutukan mantan.


Selamat membaca.


"Abang lepas." Rengek Rere saat Romeo memeluknya dari belakang. Bukan tak suka dipeluk, tapi waktunya kurang tepat. Dia sedang dandan saat ini, dan pelukan Romeo, membuat pergerakannya sulit. "Abang." Rere mencoba melepaskan belitan lengan Romeo. "Aku mau


pakai lipstik, lepas dulu."


"Sini abang yang pakein." Romeo melepas pelukannya, hendak meminta lipstik tapi diberikan oleh Rere.


"Yang ada aku cemong kalau Abang yang ngelipstikin."


"Enggak bakalan, sini."


"Enggak," sahut Rere telak. "Udah sana Abang main sama Ryu dulu, aku mau lanjut make up," usir Rere.


"Ryu sama mama dan papa. Lagian dandan cantik buat siapa sih?"


"Ya buat Abang lah. Biar Abang gak malu saat gandeng aku nanti."


Romeo seketika cekikikan. Alasan yang terdengar klise. Buat suami katanya, jelas jelas sudah naluri wanita ingin selalu tampil cantik kapanpun dan dimanapun, entah ada suami atau tidak.


Romeo menarik pelan hidung Rere. "Bilang aja kalau kamu gak pede kalau gak cantik."


Rere tersenyum absurd, membenarkan kata Romeo dalam hati. Hari ini dia menjadi bridesmaid dipernikahan Haikal, sedang Romeo menjadi groomsmen. Pernikahan Haikal sempat diundur satu bulan karena beberapa hari setelah mereka datang kerumah sakit, Haris meninggal.


"Aku takut kamu malah dikira pengantinnya kalau terlalu cantik, secarakan kamu mantan Haikal. Kali aja ada yang masih gak tahu kalau kamu sama dia udah jadi ipar."

__ADS_1


"Cie cemburu, cie." Goda Rere sambil mencubit pinggang Romeo. Romeo hanya menyebikkan bibir, tak mengiyakan ataupun menyangkal. "Uhh...makin ganteng deh kalau lagi cemburu." Rere menarik gemas kedua pipi Romeo sambil tertawa ringan. "Udah sana minggir, aku mau lanjut make up." Dibalikkannya badan Romeo lalu mendorong punggungnya menjauh.


Selesai make up, Rere sekeluarga berangkat ketempat acara.


Pesta pernikahan Haikal dan Rania digelar out door disebuah taman. Hanya sekitar 100 orang saja yang diundang sesuai permintaan Rania. Nuansa putih pink terlihat diarea pesta.


Romeo dan Rere menghampiri Haikal yang terlihat tampan dengan tuxedo warna hitam. Wajahnya terlihat sangat tegang.


"Rileks bro." Romeo menepuk pelan bahu kakaknya tersebut.


"Aku udah berusaha rileks, tapi gak bisa," sahut Haikal.


"Iya juga sih. Jangankan ijab kabul disaksikan banyak orang. Aku yang hanya dilihat beberapa orang aja gemetaran." Romeo teringat saat dia menikahi Rere. Saat itu, hanya sedikit sekali tamu yang datang.


Tak lama kemudian, acara dimulai. Haikal dan Rania duduk berdampingan didepan penghulu. Rania terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink.


"SAH."


Haikal merasa lega setelah berhasil mengikrarkan ijab kabul dalam sekali nafas.


Selesai ijab kabul, langsung dilanjutkan acara resepsi dan foto foto. Tak hanya Rere, mantan yang menjadi bridesmaid. Saga, mantan Rania itu juga menjadi groomsman.


Bu Risa melakukan sesi foto keluarga bersama kedua putra, menantu serta cucunya. Dia yang berada ditengah, dipeluk dari samping oleh Haikal dan Romeo. Sementara disamping Haikal dan Romeo, ada istri mereka sambil menggendong anak. Raut bahagia terukir jelas diwajah mereka. Setelah drama panjang dikeluarga itu, akhirnya mereka mendapatkan kebahagiaan.


Setelah beberapa kali mereka mengubah gaya, tiba tiba Rere merasa pusing lalu menyerahkan Ryu pada Romeo.


"Kenapa, pusing lagi? Atau mual?" tanya Romeo.

__ADS_1


"Pusing," sahut Rere lemah.


"Rere kenapa?" tanya Bu Risa yang melihat wajah menantunya pucat. "Sakit?"


"Emm..." Romeo ragu untuk mengatakannya. "Rere hamil Bu."


"Hah, hamil?" Pekik Haikal dan Bu Risa bersamaan. Sementara Rania, dia menutup mulutnya menahan tawa. Sebenarnya dia sudah tahu karena Rere sudah cerita. Setelah hari itu menjenguk Haris bersama, Rere dan Rania makin dekat. Keduanya sering saling curhat.


Haikal melihat baby Ryu yang ada digendongan Romeo. Bocah itu masih usia 4 bulan, tapi bisa bisanya ibunya sudah hamil lagi.


"Kok bisa kebobolan, kamu gak kb?" tanya Bu Risa.


Rere menggeleng. "Kita memang ingin langsung punya anak lagi Bu. Ingin Ryu ada temannya. Biar sekalian repotnya. Nanti saat mereka sudah sama sama besar, kita tinggal santai saja."


Bu Risa tak bisa berkomentar lagi jika itu sudah menjadi keputusan mereka. Haikal dan Romeo yang beda 2 tahun saja, dia merasa kerepotan, apalagi nanti Ryu dan adiknya yang hanya berjarak 1 tahun.


"Tak masalah jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua. Tapi ingat, jangan sampai karena hamil atau sibuk dengan adiknya, Ryu jadi gak keurus."


"Tenang saja, ada saya Bu." Sahut Pak Tomas yang tak sengaja mendengar obrolan mereka. "Dua tahun lagi saya pensiun. Sepertinya bermain bersama cucu bisa menjadi aktifitas yang menyenangkan."


"Ada saya juga." Mama Jia tak mau kalah. "Saya pasti bantuin ngerawat anak Rere dan Romeo. Ibu tak usah khawatir Ryu tak terurus."


"Masa tua memang paling indah jika dihabiskan bersama anak cucu," sahut bu Risa. Setelah ini rumah saya juga akan makin ramai karena ada Haidar," sahut bu Risa.


"Dan mungkin akan segera ada adiknya Haidar setelah ini." Goda mama Jia dan langsung disambut tawa oleh lainnya. Sementara Rania, dia hanya tersipu malu.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2