Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 10 Misterius


__ADS_3

Emeryl mendengar jelas perbincangan kedua pria di dekatnya. Ia melirik mereka dengan tatapan penuh kebencian. Hatinya bergemuruh, akan tetapi Ia terlalu lemah untuk melawan.


Emeryl memejamkan mata, mengingat bagaimana Ia menyaksikan sendiri jika Dimas sudah tiada.


Tidak, Kak Dimas sudah mati. Itu artinya aku harus keluar dari tempat terkutuk ini...


Emeryl mulai mengendalikan diri, Ia akan mencari waktu yang tepat untuk bisa lolos dari jeratan Kevin. Bagaimana pun Ia berhak hidup bebas dari manusia tak punya hati seperti mereka.


"Bang, bagaimana kalau dia foto tanpa_." Damar menghentikan ucapannya lalu menoleh kearah Emeryl. Gadis yang menurutnya amat sangat menyedihkan.


Kevin yang dapat membaca pikiran Damar, langsung menepuk pundak Damar sambil tertawa girang.


"Hahaha, Good, Mar. Idemu sungguh cemerlang," tandas Kevin.


Emeryl menggeleng, Ia tahu maksud ucapan keduanya. kedua tangan itu tanpa sadar mencengkram sprei di sampingnya. Bagaimana bisa Ia terjebak dalam lembah hina tersebut.


"Ayo Sekarang!" Kevin terlihat bersemangat.


Drrrrttt!


Ponsel Damar bergetar, Ia melihat sendiri siapa nama yang terpajang dilayar ponselnya.


"Bang, tunggu dulu!" tahan Damar. Ia menunjukkan ponselnya.


Kevin mengerutkan dahi. "Ini?"


"Elang," jawab Damar, berbinar.


"Coba angkat!" titah Kevin buru-buru. Ia yakin itu adalah kabar baik.


Damar langsung menggeser tombol berwarna hijau di ponselnya hingga suara tegas terdengar nyaring dari dalam layar.


"Halo, Bos!" Sapa Damar.


"Antar Emeryl ke Villa ku," jawabnya sangat jelas.


"Maksudnya?"


"10 M untuk 3 hari," jawab Elang.


"Hah?" Damar tercengang dan melirik kearah Kevin.


Pria disamping Damar mengangguk, kapan lagi ada pria kaya berani membayar wanita dengan 10 M hanya dalam waktu singkat.


"Baik, Bos. Kirimkan saja alamatnya!" Jawab Damar.


Setelah mendapat lokasi yang di maksudkan, Damar menyarankan Kevin agar Emeryl di buat secantik mungkin.


Kevin segera menarik Emeryl masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri, Ia sengaja meninggalkan Emeryl dalam waktu 10 menit.


"Jangan membuatku marah, Emer. Bersihkan dirimu sebersih mungkin, aku tunggu di bawah sepuluh menit lagi!"


Emeryl hanya bisa menangis meratapi nasib, Ia segera mengguyur tubuhnya tanpa bersemangat sedikit pun.


"Haruskah, aku memberikan tubuhku lagi pada pria asing? Mengapa ini harus terjadi sama aku?"

__ADS_1


Percuma, meratap. Tidak akan ada yang peduli. Emeryl mempercepat pekerjaannya dan segera menemui Kevin dan Damar.


Terpaksa, mereka berhenti disebuah salon kecantikan. Dan menggelontorkan uang sebanyak 5 JT, untuk mengubah seekor rubah menjadi kelinci yang imut.


"Wah, keren Bang. Yakin, kau tidak tertarik," bisik Damar di telinga Kevin.


Kevin tidak menjawab, hanya tatapan acuh tak acuh yang Ia tunjukkan. Dihatinya hanya ada rasa dendam jadi mana mungkin Ia sudi memberi hati pada perempuan belia tersebut.


Drrrrt!


Ponsel Damar bergetar lagi.


"Elang, Bang," ujar Damar.


"Angkat saja!"


Damar menurut dan langsung menghubungkan kedua benda teknologi canggih tersebut.


"Kenapa belum datang?" tanya Pria yang di kenal Elang tersebut.


"Maaf, Bos. Kami sedang dalam perjalanan," jawab Damar.


"Usahakan tiga puluh menit lagi sampai!"


"Apa, Bos?"


"Atau kita batalkan perjanjian kita."


"Oke, Bos. Sabar, kami akan mempercepat perjalanan kami."


Sambungan terputus.


"Kenapa, Mar. Dia hanya memberi kita waktu 30 Menit, Bang."


Keduanya nampak gelisah, apa lagi Emeryl belum selesai mengenakan sepatu yang cocok.


"Mbak lebih cepat lagi!" teriak Kevin.


"iya, Mas. Maaf, sepatunya kebesaran semua."


Para pekerja salon nampak sibuk, tapi untuk menemukan yamg sesuai mereka kesulitan.


"Ini, Bu. Ukuran 37," ujar salah seorang pegawainya.


"Wah, iya. Coba pakai!" Pemilik salon membantu Emeryl.


"Sudah cukup, itu sudah pas," sahut Kevin dengan tidak sabarnya.


Drrrr!


"Siapa, Mar?" Kevin mulai terganggu dengan bunyi ponsel Damar.


Kali ini bukan panggilan melain pesan WA.


"Nenekku sakit, Bang. Dia mencari aku," ujar Damar, lesu.

__ADS_1


Kevin paling tidak suka melihat itu. "Terus?"


"Aku harus kerumah sakit, sekarang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Damar.


Kevin terdiam, Ia masih menimang apakah Damar harus tetap ikut atau memerlukan urusan lebih dulu.


"Bang, saya mohon. Kasihan nenek saya," ujar Damar lagi. "Dia sudah tua dan hanya dia yang aku punya." Begitulah Damar memohon pengertian.


Kevin menghela nafas panjang, seolah-olah tidak rela melepaskan Damar karena tidak bisa menemaninya.


"Baiklah, pergi sana!" Kevin berlagak mengusirnya.


"Thanks, Bang. Aku pergi dulu!" Damar melesat dari hadapan Kevin. Entah sejak kapan, bentukannya tidak terlihat lagi.


"Cepat juga larinya," gumam Kevin seorang diri.


Kevin menoleh kearah Emeryl, rupanya gadis itu sudah berdiri di belakangnya. Sesaat Kevin terpanah, lalu Ia teringat ucapan Damar tadi jika mereka harus datang tepat waktu.


"Ayo cepat!" Ajak Kevin, terburu-buru. Ia melajukan mobilnya membelah jalan dengan kecepatan tinggi.


Tepat pukul 08.00 malam, Kevin menghentikan mobilnya di depan sebuah Villa yang sangat mewah. Kevin semakin yakin jika Elang memang pemilik PT. Elang hitam yang bergerak di bidang pertambangan dan perindustrian.


"Ini dimana, Bang?" Emeryl merasa cemas, mengetahui sangkar apa yang hendak Ia masuki. Bisa jadi itu harimau, singa, buaya atau Kadal raksasa.


"Tidak usah banyak nanya, ayo turun!"


Keduanya bergegas turun dan hendak mengetuk pintu tapi sebuah suara mengagetkan mereka.


"Stop!" cegah dari dalam.


Kevin melotot, Ia benar-benar heran dengan siapa sebenarnya Ia berhadapan.


"Ambil uangnya di dalam koper itu, ada cek 10 M didalamnya. Tinggalkan gadis tersebut tanpa menoleh lagi! Cepat, atau aku batalkan ini!" Perintah suara itu lagi, mengancam.


Emeryl menggeleng. Ia benar-benar ketakutan. "Tidak, Bang. Saya takut, tolong bawa saya, Bang!" Emeryl tak berhenti memohon sambil meniti kan air mata berharap Kevin akan mengasihani dirinya.


Pria itu tidak perduli, Ia memeriksa isi cek didalam koper tersebut dan melihat tertulis angka 1 M didalamnya.


"Kau sudah mendapatkannya, bukan? Ayo cepat pergi, dan biarkan gadis itu disana!" Perintah Suara itu.


Kevin menoleh kearah Emeryl, sebentar. Lalu dengan teganya Ia mempercepat langkahnya keluar.


A...


Emeryl menjerit, ketika tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan itu mengundang perhatian Kevin. Dia menoleh kearah pintu, tapi rupanya pintu sudah kembali tertutup.


"Dasar aneh, siapa pria itu?" Kevin menjadi sangat penasaran, Ia kembali melangkah perlahan kedaun pintu guna mengintip situasi didalam. Tapi belum juga sampai, sesuatu melesat kearah dirinya.


Sebuah anak panah bergambarkan tengkorak berwarna merah menyala tertancap didinding. Kevin terkejut dan mengedarkan bola matanya ke segala penjuru arah tapi anehnya tidak ada yang mencurigakan.


Dengan berbagai tanda tanya, Kevin memutuskan mencabut anak panah tersebut dan melihat apa tujuan benda itu dilemparkan kearahnya.


Pergi atau Mati?


"Sial, pasti dia bukan orang sembarangan?" Kevin akhirnya melangkah mundur dan membuang rasa penasarannya.

__ADS_1


__ADS_2