
Lana sangat tidak sabar, Ia segera membuka kotak yang diberikan olah Kevin lewat Petir. Siapa yang tidak bahagia mendapat hadiah istimewa dari pria yang dicintai.
"Waw, ini kalung?" Lana membulatkan mata tak percaya mendapatkan berlian itu. "Petir, ini serius kan?"
Petir mengangguk, Ia tersenyum melihat wajah Lana merona. "Benar Nona. Bos bilang semoga anda suka?"
"Tentu saja, seorang wanita memang menyukai kecantikan, bukan? Aku tidak munafik soal itu?" Lana berkata dengan sangat jujur. Ia refleks menepuk pundak Petir. Pemuda gagah itu kembali tersenyum. Ia pun kemudian pamit undur diri.
"Maaf, Nona. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya, semoga anda tidak bersedih lagi." Petir tahu betul bagaimana Lana sering menangis karena Kevin berulang kali menduakan nya. Tapi salutnya Lana selalu setia pada Suaminya itu. Jauh didalam lubuk hati Petir Ia begitu miris melihat posisi seorang Lana.
Semoga kau terhibur, Nona
Petir kembali menaiki mobilnya meninggalkan halaman itu. Sedang Lana tak henti-hentinya mengagumi hadiah dari Kevin. Ia yang ingin mengucapkan terima kasih pada sang Suami memutuskan menelponnya.
"Halo, Sayang!" Kevin masih disebuah kamar tempat menyekap Emeryl. Bahkan penutup kepalanya masih melekat disana. Ya, Damar sedang mengikatnya pada sebuah kursi agar tidak bisa terlepas.
"Oh, Baby. Maaf sudah mengganggu. Oya, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu?" Ujar Lana, antusias.
"Soal apa?" Tanya Kevin, datar.
"Makasih untuk hadiah berliannya," jawab Lana.
Kevin mengernyitkan dahi. Ia tidak paham apa yang Lana katakan. Padahal biasanya Lana akan terus mengoceh sepanjang hari jika dia tidak pulang.
"Mas, kok diam? Kau masih disana?" Lana berteriak dari layar pipih canggih tersebut.
"Iya, ya sudah. Aku sedang sibuk. Maaf, mungkin besok aku baru bisa pulang!" Kevin mematikan sambungan telpon genggam itu sebelah pihak. Ia bisa kehilangan kewarasan karena perilaku Lana yang aneh.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk, pintu tidak dikunci!" Titah Kevin, dengan raut wajah sedikit kaku.
"Permisi Tuan, kami disuruh Tuan Diaz melayani Nona!"
Ujar salah satu dari dua orang perempuan pesuruh Diaz.
"Oke, baiklah!" Jawab Kevin.
__ADS_1
"Buat dia secantik mungkin. Tapi ingat gunakan cadar sesuai keinginan Tuan Diaz, sebab Ia tengah merencanakan sesuatu!" Timpal Damar, mengingatkan. Sedari kapan Ia diperintah oleh Diaz Kevin sendiri tidak tahu. Tapi Kevin bukan pria yang mau sibuk mempermasalahkan hal sepele.
"Siap, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik."
Kevin pun mengajak Damar keluar, Keduanya memutuskan pesta Miras dilantai utama. Hari itu Diaz tengah pergi menemui seseorang jadi rumah markas itu menjadi sedikit tenang. Tidak ada perempuan bebas yang akan datang menggoda mereka.
"Mar, kamu belum mau menikah ya? Nanti kalau Abang dapat bonus dari Bos Diaz, Abang yang biayain!" Kevin sepertinya setengah mabuk. Tapi Ia bicara dengan sangat serius. Karena Kevin sangat menyayangi Damar.
"Hah... Abang gimana sih? Siapa coba yang mau sama aku?" Damar sedikit berkilah. Dia memang berperawakan tinggi dan kecil, tapi ketampanan nya tidak diragukan lagi.
"Ah, kamu ni. Pilih mana saja yang kamu suka, siapa coba perempuan yang bisa menolak namanya uang!" Kevin terus memotivasi.
"Tenang saja, Bang. Aku lagi tahap melakukan proses PDKT, sebentar lagi gadis itu akan bertekuk lutut dengan gombalanku."
Damar menghisap sebatang benda berasap lalu menyemburkannya perlahan seakan menyerupai gumpalan pekat.
Sekitar dua jam berlalu, kedua pria tersebut rupanya tertidur pulas sedang hari hampir petang. Pasti sebentar lagi Diaz akan datang dan membawa Emeryl pergi ke pesta tersebut. Pesta yang seharusnya berlangsung besok malam tapi rupanya Diaz lupa dengan jadwal.
"Bos, Bang Damar!" Petir menggoyang-goyang tubuh keduanya. Ia perlu keberanian untuk itu.
"Apa sih, Tir!" Damar hanya menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya.
Mendengar ucapan Petir sontak Damar terbangun. "Astaga, Petir. Kenapa tidak sedari tadi sih? Saya lupa lagi mau pergi menjenguk Nenek. Kamu bangunin Bang Kevin ya, bilang saya gak bisa ikut!" Damar meraih baju kemejanya dan berlari keluar.
Sedangkan Petir beralih membangunkan Kevin. "Bos, bangun Bos. Sebentar lagi Bos Diaz akan datang!"
"Hah?" Kevin yang membuka matanya melongo melihat lampu ruangan telah menyala. "Ya ampun, ini jam berapa, Tir?" Ia segera bangkit dan mengecek jam ponselnya.
"Ah, sial. Apa perempuan itu sudah selesai di make over?" Tanpa pikir panjang, Kevin segera mengecek kekamar. Rupanya Emeryl sudah memakai cadar sesuai amanat.
"Apa dia sudah selesai?"
"Sudah, Tuan."
"Oke, saya mandi dulu." Kevin kembali keluar menemui Petir.
"Gimana, Bos?" Tanya Petir.
__ADS_1
"Aman, ayo kita membersihkan diri lebih dulu. Kita akan pergi menemani Bos Diaz!"
Keduanya bergegas ke salah satu dari kamar mandi disana. Mereka telah memakai baju yang sesuai untuk pergi ke pesta besar tersebut. Dua puluh menit berlalu, mereka bertemu lagi di ruang utama.
"Bagaimana penampilanku, Tir?" Tanya Kevin.
"Oke, Bos. Seharusnya Bos membawa Nona Lana untuk menemani Bos ke pesta itu!" Pernyataan Petir terlontar begitu saja.
"Kenapa kau sampai berpikir demikian, bukan kah aku bisa menggandeng perempuan yang ku sukai?" Kevin menatap tajam.
Melihat Kevin marah, Petir menundukkan kepalanya.
"Maaf, Bos. Saya cuma mau Bos menyadari jika semua orang sudah tahu kalau Nona Lana adalah istri Bos Kevin!"
Kevin menela'ah ucapan Petir. Apa yang dikatakan kaki tangannya itu memang benar dan seharusnya Lana lah yang pantas mendampingi dirinya.
"Kamu benar, aku akan meminta dia untuk datang!" Kevin segera mengetik sebuah pesan yang Ia kirim lewat chat WA.
Tin! Ton!
Mobil mewah yang membawa Diaz menepi, suara itu seperti sebuah seruan yang harus segera di layani. Benar saja, Diaz Danuarta masuk ke dalam rumah diikuti para algojonya.
"Malam, Bos...!"
"Kevin, dimana wanitaku? Aku benar-benar kesal harusnya pesta itu terjadi besok malam jadi aku bisa berkencan lebih awal bukan, hahaha! Rupanya aku salah menghitung hari." Dia tertawa dan memukul bahu Kevin dengan sangat girang. Sebenarnya Kevin kesal mendengar ocehan Diaz, Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa dirugikan.
"Baiklah, bawa bidadariku sekarang. Kita akan segera pergi!"
"Oke, Bos!" Dengan malasnya Kevin berjalan menjemput Emeryl. Ada rasa tidak ridho membiarkan Diaz merebut haknya.
Brengsek, kenapa aku begitu bodoh. Harusnya aku menikmatinya lebih dulu sebelum menjual perempuan itu...
Kevin membuka pintu dan melihat wanita itu duduk ditepi ranjang. Dilihat dari penampilannya yang selalu memukau, Kevin mendekati Emeryl.
Ia menyentuh kedua pundak wanita yang masih berstatus istri nya itu dengan tatapan lekat kedalam bola mata Emeryl. Lalu secara tidak sadar berusaha Ingin menciumnya.
Tapi karena marah, Emeryl membuang muka. Ia sudah tidak akan mau lagi menganggap pria tak punya hati tersebut sebagai suaminya.
__ADS_1
"Ck, Kenapa, Emer? Bukankah aku suamimu?"