Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 41 Serangan


__ADS_3

Damar mengarahkan pistol tersebut keatas dan menggema tepat pada seekor burung merpati yang melintas hingga jatuh di depan mereka.


"Damar? Apa yang kau lakukan? Jika Emeryl bisa kembali padaku? Maka Elang juga tidak berhak!" Pria itu akhirnya memilih pergi. Ia terlalu emosi untuk melanjutkan aksinya.


Damar yang merasa bersalah pun mengejar Kevin. Ia meminta maaf atas segala kekhilafannya. Sebagai Adik angkat Damar sangat menghormati Kevin Ia tidak mau Kevin bertindak gegabah karena Elang bukanlah pria yang bisa disepelekan.


"Maafkan saya, Bang. Ini semua saya lakukan agar Abang tidak di cap suami yang tidak bertanggung jawab. Kita akan cari cara untuk mendapatkan Emeryl kembali!" Kata Damar.


Kevin menghentikan langkahnya. "Kau tahu caranya?"


Damar langsung terdiam. "Ma_ maaf Bang, untuk itu. Saya masih tidak tahu. Tapi kita bisa mencari solusinya bersama-sama kan?"


Kevin yang masih tidak bisa mengendalikan diri melanjutkan langkahnya. Ia sudah lelah dengan semua yang Ia hadapi. Sebenarnya perasaan tertekan juga ada. Kevin tidak menyangka kematian Alena rupanya memiliki hubungan berat dengan Elang.


Disebuah kota di daerah X, malam itu Diana pergi kesebuah kafe dia sedang mengadakan arisan bersama teman-teman sosialitanya.


"Wah, kali ini pasti saya yang nembus, Jeng," ujar salah satu temannya.


"Ah, masak situ terus. Kali ini saya yang nembus, nanti uangnya buat beli gelang mahal keluaran terbaru," sela Diana ditengah-tengah perbincangan mereka.


Asyik dalam perbincangan panjang, Salah seorang teman Diana melihat lelaki dengan perempuan muda sedang menyantap makanan mereka. Teman Diana yakin pria itu adalah mantan suami Diana.


"Jeng Diana, maaf ya. Kok itu kayak Mas Diaz ya?" Perempuan itu menunjukkan arah yang di maksud.


Diana tentu sangat terkejut, dia paham betul seperti apa wajah Diaz sebenarnya. Sudah beberapa tahun berpisah, Wajah itu terus menganggu otaknya. Jadi perubahan usia mereka tidak membuat Diana lupa akan sosok suaminya itu.


"Dasar, si tua bangka. Sampai saat ini pun, Ia belum juga berubah dari kebiasaan buruknya." Diana sudah lama menyimpan kebencian. Ia mencoba membuang keinginannya untuk memaki Diaz, tapi hatinya bergemuruh.

__ADS_1


Diana hendak bangkit untuk mengumpat Diaz, Ia ingin menumpahkan semua kebencian yang sudah membuat sesak dadanya selama bertahun-tahun.


"Eh, Jeng. Mau kemana?" Temannya menahan Diana.


"Saya mau memaki pria tua itu, saya menderita bertahun-tahun gara-gara dia selingkuh saat saya mengandung Elang," jawab Diana dengan nada penuh amarah. Rasanya itu adalah waktu yang pas untuk bertemu Diaz secara langsung.


"Jangan, Jeng. Dia itu ketua penjahat kelas kakap. Jangan sampai deh kamu cari masalah sama dia!" Temannya mengingatkan. Tapi Diana yang keras kepala tidak perduli. Ia harus mencurahkan semua yang sudah Ia pendam itu.


Diana segera berjalan kearah Diaz yang masih berpelukan dengan wanita lain. Ia meraih gelas yang ada di depan Diaz kemudian menyiramkannya kearah kedua pasangan mesum tersebut.


"Hey, apa yang kau lakukan, Mbak?" Diaz menatap marah. Ia bangkit dari duduknya dan langsung menampar Diana. Semua yang ada di kafe itu langsung melihat kearah mereka.


Diana memegangi pipinya yang memerah lalu membalas Diaz dengan tersenyum sinis. "Hai, apa kabar lelaki laknat? Begitu mudahnya kau melupakan wanita yang sudah sepuluh tahun hidup bersamamu?"


Diaz akhirnya tahu, jika dia adalah Diana. "Lalu kenapa kau menganggu hubungan kami? Bukankah kita sudah bercerai, Din?"


Diaz berkaca pinggang. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang, ha?"


"Menghardik!" Tunjuk Diana kewajah Diaz. Pria tua itu tidak perduli.


"Jangan membuat aku malu, Diana. Atau kamu akan kehilangan nyawamu?" Ancam Diaz.


"Aku tidak takut!" Tantang Diana. "Rasa benciku lebih besar dari rasa takutku padamu. Bahkan kau terus saja bergonta-ganti perempuan liar hanya karena na_su mu yang tidak bisa kau kendalikan itu," ucap Diana lagi melotot tepat pada bola mata Diaz.


"Sial, kau akan menyesal Diana!" Diaz merangkul perempuannya keluar meninggalkan Diana. perempuan itu hanya bisa terduduk lemas menangisi kemalangan hatinya gara-gara Diaz. Pria yang sangat di cintai nya semasa Ia muda dulu.


Diaz sangat pandai merayu, bahkan Ia menjanjikan beribu-ribu perkataan manis untuk Diana agar Ia bahagia. Tetapi tidak ada satupun janjinua yang Ia kabulkan.

__ADS_1


Diana menyesal karena Ia baru sadar akan kebusukan Diaz, setelah Ia melahirkan Alena dan Tania. Lebih parah nya lagi Ia di tinggal selingkuh setiap hari gara-gara hamil Elang.


Katanya kehamilan Diana membuat Ia tidak bisa leluasa berhubungan badan. Sebab Diaz punya hasrat berlebih yang tidak bisa di kendalikan jika tidak dilakukan.


"Dasar pecundang, pria busuk! Harusnya kita tidak pernah bertemu Diaz! Jadi aku tidak perlu merasa trauma menikah lagi!" Teriak Diana tanpa malu. Teman-teman Diana yang mengerti perasaannya pun segara membawa Diana pulang. Tapi na'as nya baru sampai lahan parkir seseorang memakai penutup cadar berlari menusuk perut Diana.


"Jeng Diana...!" Teriak teman-temannya histeris. Diana memegang perutnya yang sudah bersimbah darah. Ia terjatuh lunglai merasakan tubuhnya melemas.


"Jeng, sadar Jeng?" Teman-teman Diana ketakutan lekas salah seorangnya mereka mencari handphone Diana guna menghubungi salah satu keluarganya, dan yang menerima itu adalah Tania.


"Apa Mommy di tusuk orang gak di kenal?" Tania memastikan.


"Iya, Tan. Kami akan membawanya kerumah sakit. Kamu susul kesana ya?"


"Iya, Bu. Saya akan segera menyusul." Tania sangat panik, Ia segera meraih tasnya yang tergantung didinding dan bergegas menemui Abimanyu di lantai bawah. Pria itu sedang senyum-senyum sendiri. Entah apa yang sedang dilihatnya di dalam layar pipih tersebut. Tania sedikit curiga, akan tetapi Ia mengabaikannya. Karena menemui sang Ibu jauh lebih penting dari pada menanyakan hal yang belum tentu terjadi.


"Mas, ayo antar aku kerumah sakit, Mas! Mommy kecelakaan!" Ajak Tania buru-buru.


"Ngapain, sih? Aku lagi sibuk, sayang?" Tanya Abimanyu yang agak malas.


"Ayo dong, Mas. Mommy butuh kita disana? Kamu sibuk ngapain sih? Bukannya pulang nyenengin istri tapi masih aja ngurusin yang lainnya," dengkus Tania.


"Is, bawel. Ayo kita pergi sekarang. Bikin kesel aja deh," gerutu Abimanyu, kesal.


Eyang Kanesty mendengar semuanya. Ia yang khawatir dengan keadaan Diana segera meminta sopir mengikuti Tania dan Abimanyu.


"Kita susul mereka, Pak Toni!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


__ADS_2