Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 13 Perlawanan


__ADS_3

Seketika nafas Emeryl naik turun, mana kala Elang yang memiliki perawakan tinggi menundukkan sedikit wajah hampir menyentuh bibir nya. Walaupun ada kain penghalang, bukan tidak mungkin Elang melepasnya dengan cepat dan mulai bertindak sesukanya.


Emeryl memejamkan mata, membayangkan kesucian yang sudah di ambil darinya akan terenggut lagi oleh pria misterius itu.


Ekspresi yang ditunjukkan Emeryl justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Elang. Ia merasa sedang di goda dengan cara yang berbeda. Elang meraih sesuatu dari saku bajunya lalu melemparnya kearah lilin hingga penerangan tersebut padam.


Melihat itu, sontak Emeryl membuka mata terkejut tak berdaya. Elang pasti akan meluncurkan aksi bejatnya. Tinggal menunggu waktu, maka habislah riwayatnya.


Elang terus memandangi wajah Emeryl, wajah gadis yang baru mulai membentuk kecantikan yang terlihat di semburat wajahnya. Menyingkir kan pelan-pelan anak rambut yang mengganggu pemandangannya.


Merasai itu, jiwa Emeryl melanglang buana. Ia merasakan sesuatu sedang menyerang sekujur tubuhnya. Hembusan nafas dan tubuh membeku tak punya kekuatan untuk bergerak. Akan tetapi dibalik cahaya remang-remang, bola mata indahnya mengekor pergerakan tangan Elang yang kini berada di dagu nya. Membelai dengan lembut dan menyentuh dengan hangat.


Untuk kali pertamanya, Emeryl terus memberanikan diri menatap wajah yang tidak sepenuhnya terlihat didepannya. Entah kenapa Ia begitu penasaran akan sosok Elang. Bahkan saat kali pertama bertemu, Emeryl tidak berinisiatif sama sekali untuk menyentuh wajahnya.


"Emer, apa kau bisa lebih tenang?" suara pria itu terdengar parau. Mungkin karena Ia berbicara dengan nada yang rendah.


Bagaimana Emeryl bisa menjawab dengan mudah, jika tangan Elang berkelana turun ke dadanya. Untuk mengangguk saja serasa sangat berat.


Ia sangat gemeteran, melihat Elang mulai menyentuh kancing baju dari dress yang dipakainya sampai benda bulat itu terlepas.


"Bang...!" Cekap nya. "Kasihanilah saya, tolong jangan apa-apakan saya, Bang." Emeryl menghiba.


Elang menatapnya lagi, kali ini Ia menekankan kedua tanganya menyatu pada kedua tangan Emeryl. Bola mata yang penuh ketakutan seakan menjadi sebuah pemacu keinginan Elang untuk segera memulainya.


"Sayang, Aku tidak bisa melepasmu," bisiknya lagi tepat ditelinga Emeryl. Membuat bola mata Emeryl membulat sempurna.


Keningnya berkeringat dingin, pikiran terburuk yang menyemayangi akan segera terjadi. Dimana tak ada satu orang pun yang dapat menolongnya dari birahi Elang.

__ADS_1


"Emer, jadilah merpati yang jinak di depanku maka semua akan baik-baik saja!"


Terasa jelas, jika tangan Elang telah menyentuh pangkal paha nya. Emeryl benar-benar merasa takut, nafas yang belum sepenuhnya stabil kembali menderu dengan ritme lebih cepat.


"Ka_ Kau benar-benar tidak waras!" Maki Emeryl. Ia menggoyangkan tubuhnya ingin melepaskan diri dari kungkungan Elang.


"Heh, aku paling suka saat kau menghujatku," jawab Elang, santai. Ia menarik tubuh Emeryl memutar kebelakang hingga membentur dada bidangnya. Emeryl mengikuti permainan Elang. Tak ada cara lain lagi yang bisa diharapkan untuk kabur saat itu juga.


"Baiklah rubah nakal, ayo kita mulai!"


Emer, harus mengambil hati Elang. Ia akan mencari jalan yang ampuh untuk meluluhkan pria misterius tersebut. Jika ditanya mengapa Emer jadi seperti itu? jawabannya adalah semua hanya siasat Emeryl. Bila saatnya Elang lengah, Ia akan melarikan diri sejauh mungkin.


Ya, Emeryl berbalik menghadap Elang dan menarik masker di wajahnya dengan cepat, sebab tangan Elang sedang melingkar sempurna dipinggang nya. "Bolehkah aku belajar menjadi perempuan yang menggoda?" Emeryl membelai wajah Elang, hanya ada bulu-bulu lembut yang dapat terjamah oleh nya.


Biarlah tidak pernah tau wajah pria misterius itu, yang penting Ia dapat mengenali bola mata memikat dan kumis tipis disekitaran wajahnya.


Speechless, itu yang terjadi pada Elang. Ia tidak percaya Emeryl berubah bagaikan ayam betina yang berkokok ingin sesuatu.


"Waw, kau menantangku?" seru Elang, dengan bola mata berbinar. Tak masalah tidak ada penutup kain lagi karena Ia telah leluasa meraba dalam cahaya yang sangat minim. Hanya ada lampu dari luar yang sedikit memberi penerangan tapi tetap tak bisa menatap secara rinci.


Elang menghuyungkan tubuh Emeryl kebelakang, lalu mengecup atas dada yang terekspos oleh nya, kemudian membantunya berdiri lagi berlanjut dengan bertukar air liur.


Cukup lama beradu dalam pertarungan daging merah muda pengecap rasa, Emeryl bergerak menjauhi Elang. Keduanya mengitari meja makan tanpa melepas pandangan lalu bertemu diatas ranjang.


Emeryl bergaya layaknya Wanita jerman yang ahli mencari perhatian. Ia mendorong tubuh Elang jatuh keranjang sehingga Elang terlempar dengan mudah ke king size yang sudah menunggu mereka.


Ranjang yang dipenuhi wewangian, bahkan ada taburan bunga yang sama sekali tidak Emeryl ketahui sebelumnya. Gadis sembilan belas tahun itu merangkak menindih Elang sambil memainkan jarinya ke bibir tebal milik pria dibawah kendalinya.

__ADS_1


Tatapan berbinar dan penuh takjub mengitari setiap sudut ranjang itu dengan kekaguman. "Oh, Sayang. Kau sengaja menyiapkan ini untuk memujaku?" desis Emeryl, liar. Padahal Ia jijik mengucapkan kalimat tersebut. Mana mungkin keluguannya memaksa Ia untuk menjadi wanita yang tanpa malu merendahkan diri didepan pria.


Elang terkekeh kecil. Ia tahu Emeryl tidak sepenuhnya menggoda dirinya. Terlihat saat Elang bertukar posisi dengannya Emeryl langsung terkejut.


"Begini yang benar!" cicit Elang, nyalang. "Kau akan ada diatas jika aku yang memintanya," imbuhnya lagi. Elang mulai melepas semua pakaiannya dan itu membuat Emeryl merinding.


Oh Tuhan, ini terjadi lagi. Aku benar-benar sudah setarap dengan sampah...


"Kau siap, Ladys?" Elang telah kembali mengungkung Emery, lalu mencicipi jenjang leher yang tersembunyi di balik uraian rambut panjangnya.


"Ah...!" Emeryl menjerit. Elang telah membuat kulitnya tergores.


"Brengsek, kenapa kau selalu menggigitnya pria tangguh!" Cemo'oh Emeryl. Ia Mengusap leher yang sudah dipastikan telah memerah.


"Kau tenang saja, ini baru namanya pemanasan. Kali ini aku akan memuja mu diranjangku. Sebab kau adalah salah satu wanita yang beruntung telah menidurinya," ungkap Elang, terang-terangan.


"Bangsat, jangan bilang kalau ranjangmu ini penuh dengan noda!" Emeryl menatap sinis.


"Hahaha...." Elang tertawa renyah. Kemudian Ia menarik dress Emeryl tanpa aba-aba. Hingga menampakan keindahan yang tetap menakjubkan seperti kali pertama Ia melihatnya.


"Gila, Kevin bahkan tidak memberimu pakaian dalam!" Elang memaki dengan nada agak kecewa. Walaupun sebenarnya Ia sangat menyukainya.


Emeryl tersenyum manis, Ia melingkarkan kedua tangannya keleher Elang mendekat kearahnya.


"Heh, untuk apa? Bukankah dengan begini kau lebih muda menyentuhnya?" Seringai Emeryl, Masih berusaha tersenyum semanis mungkin didepan Elang.


"Sudah kuduga, Aku tidak akan rugi!" Tandas Elang, balik. Menggenggam buah dada yang tidak sabar Ingin dimainkan.

__ADS_1


__ADS_2