
Sesungguhnya jantung Emeryl bergemuruh antara takut dan marah. Dibalik sadar tidaknya Elang, Emeryl sangat ingin memukul, menerjang atau mencabik-cabik tubuh kekar itu layaknya harimau kelaparan. Tapi lagi-lagi Ia tidak berdaya untuk mempertahankan kehormatannya. Karena kelemahannya sebagai seorang wanita.
Emeryl memejamkan mata, MENGIKHLASKAN butiran bening menetes menerima apa saja yang Elang lakukan pada tubuhnya. Rasanya nikmat tapi hatinya sakit.
Sesaat kemudian tangannya mendorong bantal yang mengganggunya dan tanpa sengaja meraba sesuatu yang sangat berharga baginya. Dia tidak tahu benda apa yang dipegangnya karena melihat saja sangat terbatas. Tapi jika di pahami secara detail, benda tersebut mirip dengan gunting. Mungkin Elang habis menggunakannya dan lupa menyimpan benda tajam kembali.
Mendapat kesempatan, pikiran jahat timbul lagi, Emeryl mencari momen yang pas. Ia pura-pura mende'saah nikmat, agar siap untuk menghujamkan alat tersebut pada tubuh Elang ketika Ia lengah.
Pemuda tersebut tampak tengah sibuk menikmati buah dada yang menantang baginya. Meski belum terlalu besar, Elang sudah cukup terpuaskan. Karena Ia adalah pria yang kini tengah menguasai tubuh mungil itu.
"Jelita, boleh aku tanya sesuatu?" Pertanyaan itu datangnya dari Elang.
Emeryl mengangguk. "Tentu, apa yang ingin kau ketahui dariku?" Balas nya kemudian. Meremas benda ditangga nya semakin kencang.
Elang terkekeh kecil, Ia sangat menyukai suara manja yang dibuat-buat oleh Emeryl. Entah kenapa? tapi gadis itu membuatnya rela mengeluarkan uang yang banyak agar dapat membersamai nya.
"Emer, apa Kevin pernah menyentuhnya?" Gurau Elang. Jika boleh jujur, Ia berharap Emeryl menjawab tidak.
Emeryl mengerutkan dahi, Ia menatap wajah remang-remang nan wangi didepannya. "Jika Iya, apa itu bermasalah?"
Elang terdiam, Ia tentu tidak rela. Sebab, dia suka wanita yang belum pernah tersentuh lelaki mana pun. "Tidak apa, aku hanya ingin tahu jika kau bahagia dengan Kevin?" jawab Elang.
"Hahaha...." Kali ini Emeryl tertawa. "Apa pria seperti Kevin, bisa menerima aku?" Ujarnya, kemudian.
Elang berhenti bertanya, Ia mulai menempelkan lagi kedua bibir mereka, dan memainkan dengan sangat hati-hati. Mendorong bibir Emeryl dengan lidahnya agar wanita yang kini ada dibawahnya memberi celah untuk dapat masuk kedalamnya.
"Eum... Elang. Ciuman menggairahkan!" desis Emeryl. Sungguh, itu tidak datang dari hatinya.
"Jika begitu, nikmati permainan ini," bisik Elang lagi.
Pemanasan yang sempat terhenti, memanas lagi. Dahaga yang memabukkan membuat Elang sangat bersemangat. Tidak ada titik di bagian tubuh Emeryl yang tidak tersentuh olehnya.
Gesekan kecil di bawah sana mulai terasa, Emeryl mengeratkan gigi. Tapi Ia tetap tenang, dan mengeluarkan suara penuh kenikmatan.
Shet...!
__ADS_1
Kepala adik Imut Kevin, mulai masuk. Ranjang bergetar di buatnya hingga tubuh Emeryl bergoyang akibat gerakannya.
Apa ini saatnya?...
Emeryl mulai bersiap, Ia akan menghabisi nyawa Elang di tengah kelengahannya di kuasai oleh birahi.
Elang, aku tidak ridho ini...
Emeryl mengayunkan tangannya berkelabat di wajah Elang, Pria itu terkejut, Ia menangkis tangan Emeryl hingga gunting tersebut terlempar.
"Baby, jangan membuat ranjangku berdarah olehmu. Aku menyiapkan semua untuk kesenangan duniaku," Ucap Elang sinis. Ia melepaskan tubuhnya dari Emeryl dan menuju ke sudut meja.
Sial, kenapa selalu gagal sih?...
"Minum ini?" Elang menyodorkan sebutir pil berwarna putih ke depan Emeryl.
Emeryl menggeleng. "Jangan Elang, maafkan aku. Itu hanya khilaf tadi." Gadis polos itu akhirnya menangis sesenggukan. Ia bukan seorang yang pandai bersandiwara. Hingga tak bisa menunggu lebih lama.
Elang menatap tajam. "Ayo duduk!" ucapnya, membentak. Tak ada lagi kelembutan karena kenikmatannya telah di rusak.
Elang meletakkan segelas air di tangannya di atas nakas dan mengangkat Emeryl yang masih ketakutan mendudukkan diri.
"Ayo telan!" Paksa nya lagi. Menekan bibir Emeryl agar mulutnya terbuka. Dengan kasarnya, Elang memasukkan obat tersebut kesana.
"Ti_ tidak, jangan." Emeryl memberontak. Ia terus menatap Elang dengan sangat takut.
"Jangan membantahku, Emer." Elang membantu Emeryl meneguk obat tersebut hingga obat kecil itu tertelah. "Bagus, kau memang perlu obat itu untuk menjernihkan pikiranmu!"
"Hiks... hiks...." Emeryl terisak-isak. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya beberapa saat lagi. Pasti obat yang di berikan Elang bukanlah obat yang aman di konsumsi.
Elang tersenyum miring, Ia terus memperhatikan Emeryl yang menundukkan kepalanya.
"Sayang...!" Elang menekan kepala Emeryl agar menatapnya. "Kau itu milikku saat ini, jadi jangan bertindak gegabah. Sebab apa pun yang kau lakukan itu hanya lelucon untukku, kau mengerti!"
Emeryl mengulum bibir, Ia tidak tahu harus apa. Rupanya takdir belum memihak nya untuk lolos. Selang beberapa saat berlalu, Emeryl merasakan ngantuk yang luar biasa, dimana mulutnya terus menguam tanpa henti.
__ADS_1
Elang menghitung jari yang di jabarkan nya sampai tiga kali, berbarengan dengan hitungan terakhir, tubuh Emeryl ambruk diranjang. Gadis itu sepertinya telah terlentang dalam keadaan tertidur pulas.
Melihat Emeryl dalam keadaan demikian, pria tersebut kembali mengulas senyum. Ia bergegas membenahi posisi tidur Emeryl dan menyelimutinya dengan hangat.
Usai bertindak demikian, Elang merebahkan diri disamping Emeryl. Menikmati wajah polos Emeryp yang selalu menggoda pikirannya.
"Gadis yang malang, semoga obat itu bisa membuatmu lebih rileks!"
Sebelum memejamkan mata, Elang yang sebenarnya masih ingin melanjutkan aksi nalurinya harus menahan diri lalu menukarnya dengan melabuhkan kecupan terakhir di bibir tipis milik Emeryl.
"Good night, Manis!" Elang memeluk tubuh Emeryl sampai akhirnya Ia tertidur pula.
...🌺🌺🌺🌺...
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 07.00, Kevin ada diteras depan. Ia mencoba menghubungi Damar berulang-ulang untuk meluncurkan siasatnya memata-matai PT, Elang hitam. Akan tetapi, Kevin sangat aneh. Tak biasanya, ponsel Damar tidak aktif.
"Sial, kemana bocah itu pergi? Apa ada masalah dengan neneknya?"
Wajah Kevin tak bersahabat, Ia begitu gelisah, dan itu mengundang perhatian dari istrinya Lana.
"Kenapa, Mas. Kok pagi-pagi sudah uring-uringan?" Tanya Lana, heran. Perempuan itu memeluk pinggang Kevin.
"Aku membutuhkan Damar, Sayang. Tapi dia tidak bisa di hubungi," jawab Kevin, datar. Pria itu hanya menoleh kebelakang sebentar, lalu fokus menatap taman.
"O ya? Mungkin dia sedang sibuk, Mas." Lana berpindah kehadapan Kevin dan masuk lagi kepelukan pria itu.
Kevin mengusap rambutnya. Meski sering mendua, Ia masih mencintai Lana. Jadi Ia akan berusaha bersikap hangat meski itu tidak terjadi setiap hari.
"Aku hanya ingin, hutangku segera lunas. Memanfaatkan dia atau Mafia itu," ungkap Kevin, lenang.
Mendengar pernyataan Kevin, lantas Lana mendongak dan membelai dagu Kevin. "Memangnya kau menyuruh maduku kerja apa, Mas?" Lana sudah lama penasaran, tapi untuk bertanya Ia belum punya kesempatan yang pas.
Kevin menatap Lana, Ia mengecup kening istrinya dan merapatkan kepala Lana di dada bidangnya.
"Menjual diri," jawab Kevin.
__ADS_1