Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 19 Pagar Berduri


__ADS_3

Didalam mobil pun, Emeryl terus memberontak. Dia memukul dada Kevin berulang-ulang sekuat tenaganya. Akan tetapi dengan sangat mudah Kevin mencekal tangannya.


"Berhenti melawan, Emer. Kau hanya perlu mematuhi keinginanku!" Bentak Kevin Keras, seraya melotot.


"Bang, kenapa kamu tega, Bang. Aku ini istrimu. Tapi kenapa kau malah menjajakan aku pada pria lain. Dimana otakmu, Bang. Hiks.. hiks...!" Emeryl menundukkan kepalanya berusaha untuk bisa mengendalikan diri.


Perkataan itu rupanya menusuk jiwa Kevin, Ia memang berhak atas hidup Emeryl dari pria mana pun. Tetapi dendamnya pada Dimas telah mendarah daging.


Lima tahun yang lalu, Dimas memacari adik perempuannya bernama Kayla saat mereka masih duduk di bangku SMA. Sebelum gadis itu meninggal akibat overdosis. Mereka menjalani hubungan secara diam-diam dibelakang keluarga besar Kevin dan dia sendiri mengetahui hubungan mereka tanpa mereka sadari. Pacaran backstreet terjadi akibat dari orang tua Kayla tidak menyetujui hubungan mereka. Ya, itu karena Dimas hanya orang miskin yang hidup dari suatu keajaiban dan belas kasihan.


Karena cinta yang begitu besar pada keduanya, akhirnya sesuatu pun terjadi. Mereka telah melalukan hubungan terlarang agar kelak mendapatkan restu. Tapi sangat disayangkan, hubungan itu berlanjut berkali-kali hingga Kayla mengandung.


Lama menutup rapat masalah itu, rupanya terbongkar juga. Keluarga Kevin meminta Dimas menikahi Kayla dengan syarat Ia harus membayar ganti rugi dengan memberikan mahar uang 100 juta.


Akibat terhimpit Ekonomi, Dimas keberatan dan dia menghilang dari kehidupan Kayla. Lama-kelamaan Kayla mulai putus asa, Ia tidak sudi menanggung malu seorang diri tanpa kejelasan dari Dimas. Karena pikiran yang kalut, Kayla memutuskan mengkonsumsi obat-obatan terlarang hingga merenggut nyawa nya dan calon anak mereka.


Mungkin Dimas telah lupa, tapi tidak dengan Kevin. Dia akan selalu mengejar kemana pun Dimas pergi. Mendapati Dimas mati pun rasanya belum juga impas, apa lagi Dimas juga telah membunuh calon anaknya.


Mengingat masa lalu yang kelam, Kevin mengepalkan tangannya dan langsung menggampar wajah Emeryl sekuatnya hingga istri sirinya itu terkejut.


"Berhenti membuat ku marah, Emer. Kau tidak akan pernah merasakan apa itu yang namanya bahagia!" Kevin menatapnya dengan Kemarahan yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Dia segera melepas ikat pinggangnya dan menjadikan benda itu sebagai alat untuk mengikat kedua tangan Emeryl.


"Aw, Bang sakit!" Emeryl merintih merasakan kulit tangannya menjadi panas. Belum lagi, wajahnya memerah bagai terkena cabai.


"Percepat jalannya, Tok. Kita harus sampai ke markas Bos Diaz sebelum pukul 07, 00 malam!" Titah Kevin kemudian.


Tapi sebelumnya, Kevin lagi-lagi perlu merogoh saku untuk sekedar memperbaiki penampilan Emeryl. Ada sesal melihat luka lebam di pipi Emeryl. Karena itu akan jadi masalah besar dengan Diaz Danuarta nantinya.


Kevin meminta pemilik salon menyamarkan luka di pipi Emeryl hingga tidak terlihat dan dia juga minta gadis itu memakai baju se seksi mungkin agar Ia mempesona disana.


Drrrrr!"


Kevin yang hanya seorang diri menemani Emeryl kesalon mendapat telpon dari Petir.


"Bang, lagi dimana?" Tanya Petir, langsung. Ia sosok pria yang sedikit cuek.


"Kau kemana saja Petir?" Pertanyaan balik Kevin lontarkan. Ia marah dan kecewa karena Petir tidak mengabarinya untuk meminta izin.

__ADS_1


"Maaf, Bang. Saya baru saja selesai membantu mengemas barang yang baru saja dikirim, ke Pak Alex." Petir bicara apa yang perlu Ia jelaskan.


"Oke, susul aku ke markas Bos Diaz, aku akan memberikan Emeryl padanya."


Petir mengernyitkan dahi, agak riskan rasanya mendengar nama Diaz. Tapi Petir menyetujui permintaan Kevin.


"Baik, Bang. Saya akan menyusul kesana sekarang juga."


Di tempat yang lainnya, Damar menepikan sepeda motornya di rumah Kevin. Ia heran melihat rumah Kevin sangat sepi. Biasanya, ada Petir dan beberapa anak buah yang duduk di kursi sebuah bangunan mini khusus untuk mereka.


Karena rasa penasaran, Damar membawa masuk tubuhnya kerumah tersebut menemui Lana yang tengah menonton televisi sambil menikmati berbagai makanan ringan di sampingnya.


"Kakak ipar, sedang apa?" Sapa Damar, santai. Ia memang ramah dan mudah bersahabat dengan siapa pun.


"Gak ada, cuma duduk santai aja," jawab Lana sekenanya. Perempuan itu menawari Damar satu bungkus makanan ringan yang Ia punya dan Damar menerima dengan senang hati.


Damar menelisik kearah pintu kamar Kevin, berharap pria dewasa itu ada disana.


"Bang Kevin, ada?" Tanya Damar, akhirnya. Ia membuka bungkus jajanan itu dan mengunyahnya dengan nikmat.


Damar membulatkan dua rona matanya yang semakin menambah pias ketampanan.


"Kemana, Kak?" Damar harus tahu jawabannya dari Lana.


"Katanya menyelidiki PT. Elang hitam. O ya, Mar kamu tahu gak, kalau Mas Kevin akan memberikan Emeryl pada Diaz?"


"Ha?" Damar tercengang.


"Iya, Diaz akan menganggap lunas hutang 1 triliun yang di gunakan Mas Kevin jika dia menukarnya dengan gadis itu. Dia memang maduku sih, Mar. Ada rasa senang Bang Kevin menjauhkannya dariku. Tapi_?"


"Tapi kenapa, Kak?" Damar ingin tahu kelanjutannya.


"Aku kasihan dengan gadis itu, bagaimana nasibnya jika dia ada di tangan seorang Mafia. Membayangkannya saja aku ngeri." Lana sedikit menyayangkan.


Mendengar cerita Lana, Damar segera berpamitan. Ia mengendarai motornya dan berhenti di ruas jalan. Akibat mau tahu secara lebih dalam lagi, Ia harus mendengar langsung dari Kevin yang segera ditelpon nya.


"Kenapa, Mar?" Kevin menjawab dengan memberikan pertanyaan yang mengagetkan.

__ADS_1


"Astaga, Abang. Ngomongnya pelanin dikit ngapa?" Damar tertawa kecil.


"Brengsek lo, aku sibuk sendiri. Kau malah ngilang ditelan bumi. Cepat datang ke rumah yang dijadikan markas Bos Diaz kita akan berpesta disana!"


"Oya? Memangnya ada acara apa, Bos?" Damar terlihat bersemangat.


"Aku memutuskan mengembalikan uang Elang dan membawa Emeryl pada Bos Diaz, dia akan mengganti 10 M itu dan menganggap lunas hutangku." Kevin tertawa senang, dan itu membuat Damar tercengang.


"Kok bisa, Bang. Bukanya Emeryl ada di villa Elang selama 3 hari?" Damar terheran-heran.


"Entahlah, aku menemukan gadis malang itu di jalan, mungkin Ia melarikan diri. Ya sudah, cepat menyusul. Sudah takdirnya ada ditangan Diaz, si tua bangkotan itu!" Gelak Kevin, lagi.


"Gila lo, Bang. Kamu yakin tidak akan menyesalinya, dia baru beberapa hari di rumahmu bahkan kau belum mencicipinya. Malah dengan tega di berikan ke orang lain," Ucap Damar, sedikit mencela.


"Bodo amat, yang penting uang. Saya tunggu kamu disana!" Kevin mematikan ponsel sebelah pihak dan melihat Emeryl telah selesai di rias.


Gadis itu terus menundukkan wajah, merasa tertekan dengan apa yang dijalaninya. Ia benar-benar terpenjara dalam kumpulan manusia tak punya hati seperti Kevin dan orang-orang yang menginginkannya.


Melihat penampilan Emeryl dengan dress, yang menampakkan belahan dada menonjol dan rok yang sejengkal dari pinggalnya, Kevin sempat meneguk saliva. Tapi sebisa mungkin Ia buang keinginannya untuk mengagumi Emeryl.


...🌺🌺🌺🌺...


Halo-halo disapa lagi sama cowok cute yang satu ini. Jangan lupa ya tinggalkan jejak cintanya berupa Like, komen, Vote, koffe juga boleh plus rate bintang lima ya...


Ditunggu lo, oke, oke!!!


Jalan-jalan ke kota Palembang...


Tidak lupa membeli tekwan...


Kalau sayang sama Abang...


Jangan Lupa diberi asupan....


wkkk... (Gombalan receh tapi bo'ong)


✌️✌️✌️🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2