
Halo reader kesayangan, maaf ya beberapa hari ini belum bisa upded rutin sebab ada sedikit foblematika yang gak bisa bikin aku fokus.
Semoga saat upded meski gak tiap hari, kalian masih setia sama Emeryl dan Elang ya. Tunggu saja upded rutinnya setelah aku bisa aktif lagi. InsyaAllah novel ini akan terus berlanjut sampai Ending.
Mudah-mudahan Gak akan lama, hanya sampai kesehatan ku benar-benar pulih lagi. Soalnya akhir-akhir ini tubuh kurang fit dan sering sakit perut.
Oke makasih atas pengertiannya. Aku mencintai kalian semua dan cinta itu akan terus ada di hati. Memang butuh waktu dan kesiapan untuk menulis lagi, tentunya harus siap otak supaya bisa singkron diajak berpikir keras.
Maaf juga ya, jika ada yang tersinggung dengan perkataanku selama ini, siapa tau ada kata-kataku yang sangat berlebihan dalam bercanda.
Oke, silakan membaca....
...💥💥💥💥...
Belum juga puas menatap tubuh Diana yang masih terbujur, tiba-tiba kejang menyerang. Ranjang tersebut bergetar sangat keras membuat mata Elang seketika melonjak.
"Mommy, ada apa denganmu, Mommy?" Elang tentu sangat panik. Ia mengguncang tubuh Diana agar perempuan itu tersadar tapi sayang Mommy Diana tiba-tiba kembali terpejam. Tubuhnya semakin pucat dan dingin.
"Mommy, bangun Mommy. Ada apa dengan Mommy?"
Disela rasa takut kehilangan, Elang memutuskan berlari keluar dan meminta mereka untuk memanggil Dokter.
"Cepat panggil Dokter sekarang, Mommy tidak baik-baik saja!" Titahnya di sertai deraian air mata. Meski mereka todak terlalu dekat, tetap saja Elang tidak akan terima begitu saja jika hal buruk menimpa Mommy yang melahirkannya.
"Elang, Mommy kenapa dek?" Tania ikut panik. Pasalnya Ia sangat membutuhkan Diana yang selalu mensupport dirinya dalam segala hal. Jika bukan karena Mommy nya itu, Tania sudah terusir dari rumah Elang saat Ia menjadi wanita nakal.
Dulunya, Tania menikah dengan Abimanyu karena pria itu lah yang membuat Tania kehilangan kesucian hingga membuatnya hampir gila. Abimanyu enggan bertanggung jawab karena dia bilang Tania lah yamg menggodanya tapi Elang yang punya kekuatan dalam kekuasaan memaksa Abimanyu tetap menikahi Tania. Walaupun pada kenyataanya sampai saat ini kecil kemungkinan mereka akan memiliki keturunan setelah tahu Tania mandul.
Beberapa Dokter berlari keruang ICU, mereka segera melakukan serangkaian pemacu untuk membangunkan Diana. Tapi beberapa tindakan terbaik yang mereka ambil tidak membuahkan hasil. Diana sudah tidak bisa di selamatkan lagi karena Ia sudah pergi.
"Maafkan kami Pak Elang, Bu Tania dan Nyonya Kanesty. Sepertinya Ibunda kalian lebih bahagia disana," tutur Sang Dokter dengan raut wajah sedih. Kesakitan yang paling dalam bagi seorang Dokter adalah saat mereka yang sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan Fasiennya tetap saja tidak bisa mencegah kepergian sang Fasien itu sendiri.
__ADS_1
Elang dan seluruh keluarga sangat histeris. Hanya ada air mata dan duka yang menyelimuti ruangan dimana Diana telah pergi untuk selamanya.
Elang yang mengingat bagaimana akhir kisah Diana, di bunuh secara tidak logis mengeratkan rahangnya. Ia tidak akan pernah membiarkan orang itu selamat dari dirinya.
Bug!
Tinjuan keras melayang ke dinding. Darah segar berterbangan dari jari jemari Elang yang terluka. Hatinya membara, rasa cinta untuk mengubah seseorang menjadi lebih baik berhasil menumbuhkan dendam di dalam jiwanya. Ia tidak mungkin lagi melakukan sesuatu untuk mengubah sifat seseorang ke jalan benar tapi kali ini Ia akan menghancurkan orang yang sudah mengacaukan ketulusannya.
"Bang, apa yang kau lakukan?" Pekik Emeryl. Ia mendekat dan langsung memeriksa tangan Elang. Menatap bola mata yang memerah di penuhi amarah.
"Aku akan membunuh mereka!" Jawab Elang.
Emeryl menggeleng. "Bukan itu yang harus kau fokuskan, Bang. Bibi Diana harus kita urus dulu!" Emeryl meniup tangan Itu agar sakitnya berkurang. Pasti rasanya sangat perih. Padahal Elang sendiri tidak merasakan apa pun. Luka seperti itu hanyalah luka kecil yang tiada arti baginya.
"Dengarkan calon istrimu, Nak. Dia benar lebih baik kita fokus dulu mengurus Mommy mu." Eyang Kanesty ikut memberi suara. Ia juga punya pemikiran sama. Berharap agat Elang tidak melakukan apa pun demi keselamatan jiwanya. Musuh yang dihadapi bukanlah orang yang mudah di taklukan. Bahaya akan selalu mengikuti kemana pun Elang berpijak.
Elang pun mengurai tangan Emeryl. Ia berusaha meredam emosinya dan kembali menghampiri jenazah Mommy Diana lalu memeluk nya erat-erat.
"Kita harus mencari tahu dalang pembunuhan itu, Elang. Aku pun tidak sudi orang itu bebas berkeliaran di luaran sana," sahut Tania.
Eyang Kanesty menepuk pundak Elang. Ia mau Elang tetap kuat menghadapi masalahnya.
"Elang, cobain ini akan terus berdatangan jika kau belum bisa menguasai dirimu."
Elang mengangguk. Ia juga paham sebenarnya masalah tidak akan pernah datang jika bukan gara-gara Ayahnya sendiri Diaz.
Hari berangsur sore, hanya dalam waktu singkat Diana telah di makamkan di lokasi pemakaman keluarga. Rasa sakit, perih dan kebencian seakan semakin runcing.
Malam dimana hari pertama kematian Diana, Elang membawa sekelompok anak buahnya mendatangi Markas Diaz.
"Dimana Bos kalian?" Tanya Elang pada beberapa anak buah Diaz. Mensedekap kan tangannya dengan sorot ketajaman. Tidak ada takut sama sekali, yang ada adalah niat untuk melampiaskan emosinya.
__ADS_1
"Tidak ada, beliau sedang bersenang-senang dengan pacarnya tadi," jawab salah seorang dari mereka.
"Kemana?" Kali ini pertanyaan datang dari Jack.
"Mana kami tahu, ini privasi Bos Diaz," jawab mereka serempak.
"Sial, jadi kalian mau menyembunyikan lokasinya." Jack yang sudah emosi lebih dulu langsung menyerang mereka dengan terjangan kakinya.
Dalam hitungan menit, tempat itu sudah hancur oleh anak buah Elang. Bahkan mereka semua yang menghalangi mereka masuk tidak punya kemampuan untuk melawan.
"Berhenti membuat kekacauan, Elang!" Teriak seseorang dari atas tangga. Pria itu adalah Petir. Ia menodongkan senjata berpeluru itu ke arah Elang.
"Cih, kau begitu mengerikan Petir. Sini kau, aku perlu memberimu hadiah!" Elang tersenyum sinis sambil meminta Petir mendekat.
Pemuda itu menurut, Ia melangkah sambil menyembunyikan senjatanya di dalam jaket. Kedua pria itu berpelukan. Sudah lama mereka tidak lagi bisa bertemu setelah sekian lama.
"Sudah saatnya, kau melakukan tugas utamamu Petir?" Ujar Elang.
"Aku akan lakukan apa pun untuk mu, Elang. Sepertinya musuhmu sangat banyak. Pertahankan Emeryl, aku akan membuat kejutan untuk mempora-porandakan Kevin. Kali ini dia mulai terobsesi dengan Emeryl dan disana lah kamu harus memulai memasang rantai besi untuk menjeratnya."
"Aku tahu kau bisa ku andalkan Petir, tapi aku tidak mau terjadi apa-apa setelah Kevin mengetahui siapa dirimu sebenarnya!"
Sudah cukup korban berjatuhan, usaha membuat Diaz berubah sia-sia. Jalan satu-satunya adalah menyerang secara terang-terangan. Tentu harus mengorbankan lelehan darah untuk memenangkannya.
"Bos, sepertinya Kevin sedang menyusun siasat besar. Apa lagi setelah kau berhasil mempermalukan dirinya di Bali kemaren." Jack mengingatkan.
"Kau benar, dia sangat licik dan cerdik. Aku tidak akan melepaskan Emeryl untuk pria sepertinya. Bagaimana pun caranya, Kevin harus melepaskan Emeryl. Dia tidak akan mungkin bisa berhenti menyakiti Emeryl jika dendamnya pada Dimas belum terpecahkan."
"Apa kau akan menikahi Emeryl, Lang?" Tanya Petir.
"Kita lihat saja nanti," Jawab Elang, yang hanya mengulas senyum simpul. Tidak ada yang tahu apa rencananya untuk perempuan malang itu.
__ADS_1