Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 47 Di pertemukan


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti Keluarga besar Elang Danuarta. Rumah itu begitu sepi. Elang memilih menyendiri di kamar seorang diri. Pikirannya kalut. Kehilangan wanita yang melahirkannya tentu tidaklah mudah, terlepas dari jarak yang berhasil menjauhkan mereka selama ini.


"Jangan terlalu berlarut-larut adik ipar." Abimanyu muncul dari balik pintu.


"Mas, kau belum tidur?" Tanya Elang yang menoleh sesaat.


"Menurutmu? Mana mungkin aku kesini jika aku sudah bisa tidur, sepanjang waktu hingga hari ini Kakakmu terus saja menangis dan itu membuat ku menjadi bingung," ujar Abimanyu, bercerita. Ia mendaratkan bokong di samping Elang yang nampak sangat rapuh.


"Lebih baik kau bekerja di sini saja, Mas. kasihan Kak Tania, dia butuh seseorang untuk menemaninya," saran Elang.


Abimanyu manggut-manggut. "Aku sedang memikirkan itu, Lang. Besok aku akan keluar kota untuk mengurus surat-surat pengunduran diri,"


"Sama siapa?" Todong Elang pada Abimanyu.


Pria itu menggidikkan bahu. "Mana mungkin aku mengajak Tania kan? Dia masih sangat sedih?" Cakap Abimanyu. Pemuda itu berpamitan keluar. Dia bertemu dengan Emeryl di ruang tengah sedang membantu kedua pembantunya memunguti gelas dan piring sisa tamu yang baru saja selesai pengajian.


"Butuh bantuan?" Tawar Abimanyu. Melihat senyum yang tak biasa menghiasi bibir Abimanyu. Emeryl langsung menunduk.


"Tidak usah, Mas. Ini sudah hampir selesai!" Emeryl buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Ia hendak pergi ke dapur menyusul kedua ART yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


"Biar aku saja!" Abimanyu mengambil alih nampan ditangan Emeryl. Hingga mereka saling tatap-tatapan.


"Jangan Mas, ini pekerjaan perempuan." Emeryl yang tidak menyukai tindakan Abimanyu menarik nampan itu tapi Abimanyu menahannya.


"Mas...!" Panggil Tania dari lantai atas. Abimanyu yang terkejut segera mendorong nampan tersebut menjauh.


"Sayang, belum tidur?" Abimanyu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun. Ia bergerak menghampiri Tania dan merangkulnya.


"Kalian ngapain, Mas?" Tania menaruh curiga. Ia melirik Emeryl yang tidak berani menatap keduanya. Karena tidak mau jadi topik pembicaraan, Emeryl menundukkan kepala sejenak dan berlalu dari hadapan mereka.


"Gak papa, Sayang. Aku cuma mau letakin cangkir sisa minum aku." Abimanyu tersenyum dan mengusap pipi Tania. "Ayo kita kekamar!" Ajak Abimanyu lagi.

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur, Mas." Tania terus terngiang-ngiang dengan almarhumah Diana.


"Biar Mas temenin," jawab Abimanyu. Keduanya kembali kekamar untuk beristirahat.


Cukup singkat menyelesaikan kesibukan di dapur, Emeryl menemui Elang di kamar. Ia menutup pintu dan mengamati mendung wajah pria yang belum jelas statusnya itu.


Elang pasti sangat terpukul, sebab kematian Ibundanya memang tidak di duga sama sekali. Emeryl jadi merasa bersalah, semua bermula pasti gara-gara Elang mengajaknya ke Bali. Sehingga Elang yang seharusnya fokus melindungi keluarganya jadi tidak bisa stay di tempat.


Tanpa terasa air mata perempuan itu meleleh, Ia benar-benar menyesal dan tidak sanggup melihat kemurungan pria yang selalu ada untuknya itu.


"Maafkan aku, Bang." Kata-kata tersebut terlontar begitu saja. Elang menoleh, Ia mengurai senyum meski Emeryl tahu itu adalah senyum di dalam luka.


Emeryl mendekat dan mendudukkan diri di samping Elang, menatap lekat embun yang seakan hendak menerobos jatuh dari bola mata pria tangguh itu.


"Menangis lah, Bang. Aku tahu kau juga berhak untuk itu," ujar Emeryl, parau. "Andai, kita tidak pergi ke Bali tentu Bi Diana masih sehat sampai sekarang," imbuh Emeryl lagi. Sesekali menghapus jejak yang membekas basah di pipinya.


"Itu bukan salahmu," celoteh Elang. "Tapi takdir telah menggariskannya." Pemuda itu menatap langit-langit, tempat itu seakan tidak bisa mengubah suasana buruk dihatinya.


Emeryl menyandarkan kepalanya di dada bidang Elang. Ia ingin pria itu tahu kalau dirinya sangat ingin Elang selalu bahagia dan meninggalkan dunia kelamnya.


"Berhenti balas dendam, Bang. Kita tinggalkan tabiat buruk itu agar tidak ada lagi korban jiwa yang terenggut karena ini. Kita sudah kehilangan semuanya. Masihkan Abang ingin jika musuh Abang menginginkan hal yang lebih?"


Elang menunduk menatap wajah sayu Emeryl. Ia tidak mengatakan apa pun. Sakit hati nya mungkin lebih fatal ketimbang rasa benci Kevin pada Dimas. Kehilangan Alena dan Mommy Diana sangatlah menyakitkan. Mereka dibunuh secara sadis oleh orang lain bukan bunuh diri seperti adik Kevin.


"Kau tidak paham situasi ku, Emer?" Elang tercekap. "Kehilangan akibat di bunuh itu sangat menyakitkan. Aku tidak akan mampu mengampuni kesalahan mereka jika aku berhasil menemukan pelakunya."


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Emeryl.


"Itu urusanku." Elang mengusap pucuk kepala Emeryl. "Tidurlah, Kau harus bersiap untuk sesuatu yang lebih besar," tutur Elang, lembut.


Emeryl menurut, Ia merebahkan diri di ranjang sambil sesekali memperhatikan Elang yang terlihat gusar. Tentu beban yang dipikulnya amatlah berat.

__ADS_1


...💥💥💥💥...


Pagi-pagi sekali tepat pukul enam lebih, Kevin sudah ada di pantai. Ia sedang bertukar barang dan uang dengan salah satu pembelinya. Seperti biasa penukaran barang itu terjadi begitu singkat.


"Terima kasih, Bos. Aku harap barang ini benar-benar no 01 ujar orang tersebut."


"Tentu, Bos. Kami tidak akan menipu jika barang tersebut berasal dari Bos Diaz," jawab Kevin, meyakinkan. Kali ini Ia hanya berdua dengan Damar. Biasanya ada Petir dan Totok yang menemani.


Usai penukaran selesai, Kevin dan Damar menuju sebuah restoran dimana mereka harus mencari sarapan untuk mengisi perut.


Keduanya duduk di bangku kosong. Mereka memesan banyak sekali makanan yang enak. Meski tenang dalam bersikap, Damar tahu Kevin menyimpan sejuta kegundahan.


"Bagaimana dengan Emeryl, Bang?" Damar mengingatkan istri sirihnya yang mungkin saja di lupakan oleh Kevin.


"Aku pasti bisa membawanya kembali, Damar. Tidak apa aku kehilangan Lana. Toh, dia juga sudah sulit untuk hamil," ungkap Kevin, setelah sejak lama menyembunyikan keadaan sebenarnya.


"Maksudmu, Bang?"


Kevin meneguk jus yang baru saja disediakan sambil mengingat lagi bagaimana Dokter menjelaskan soal kondisi rahim Lana ketika selesai di kuret tanpa sepengetahuan Lana sendiri.


"Kemungkinan hamil hanya 20 persen jadi itu artinya sangatlah rendah. Jadi alangkah baiknya aku lepaskan dia dan mengejar Emeryl," tukas Kevin selanjutnya.


"Apa kau mulai ada rasa dengan Emeryl?" Damar ingin tahu kenyataan dari sisi Kevin.


Brak!


Seluruh isi makanan yang ada dalam nampan terlepas dari tangan seorang pemuda yang tengah mengenakan atribut pelayan. Tidak menyangka jika orang yang hendak di layani nya adalah musuh bebuyutannya.


Kevin dan Damar yang mendengar suara pecahan tersebut langsung menoleh. Mereka membelalakan mata menyaksikan siapa pelayan tersebut.


"Dimas...!" Sentak Kevin, kaget.

__ADS_1


Dimas yang tidak ingin berurusan lagi dengan Kevin bergerak menjauh, Kevin bisa lihat sendiri jika kaki Dimas cidera gara-gara tembakannya waktu itu.


__ADS_2