
Disebuah tempat di daerah mewah. Tepatnya di ruangan pribadi Elang. Pria itu sedang duduk mengamati sebuah foto yang baru saja di dapatnya dari seorang yang Ia kirim untuk memata-matai Kevin dan Emeryl.
Elang terus menatap cukup lama lalu menoleh kearah Jack dan orang suruhannya. "Kau yakin ini yang terjadi?" Tanya Elang, seakan mengintimidasi.
"Benar, Bos. Mereka belanja bersama di supermarket itu dan membeli Kotak susu tiga buah sekali gus," jawab Orang itu.
Elang manggut-manggut. "Apa yang kau tangkap dari gambar ini, Jack?" Elang menunjukkan gambar itu pada asistennya.
Jack menelisik, Kevin yang tengah mengusap perut Emeryl serta susu yang ada ditangan pria itu.
"Apakah Nona Emeryl sedang_?" Jack dan Elang saling melemparkan tatapan.
"Mungkin kau benar, jika itu positif. Aku harus mendapatkan hak atas bayi itu, karena dia adalah keturunanku," ungkap Elang. Beberapa hari tidak bersama Emeryl rasanya begitu sepi. Ia selalu merindukan apa pun yang ada di diri Emeryl kala mereka sedang bersama.
"Apa yang harus kamu lakukan, Bos?" Tanya Jack.
"Merebutnya kembali," sahut Petir yang baru saja datang bergabung.
"Wah, kenapa wajahmu makin bersinar, Boy?" Elang menyindirnya. Keduanya saling mengejek.
"Ah... apa aku harus bercerita?" Petir mengedipkan sebelah matanya lalu duduk di samping Jack yang berhadapan dengan Elang.
"Tentu saja, pasti servisnya memuaskanmu. Kapan kau akan mengirimkan undangan pesta pernikahanmu?" Balas Elang.
"Nantilah, dia baru melayangkan gugatan cerai hari ini," jawab Petir, dengan bangganya.
"Jadi kau akan menikahi, Lana?" Tanya Elang lagi.
"Oh... ya ampun, Dia pandai memuaskan ku Elang, bahkan bisa masak dengan kedua tangannya yang lembut itu," puji Petir lagi, sengaja memanas-manasi Elang.
"Dasar kau!" Elang melemparnya dengan bolpoin yang dengan sigap di tangkap oleh Petir.
Mereka pun tertawa bersama. Sampai pada saatnya Petir menarik laptop di depan Elang dan menunjukkan aksi kejar-kejaran yang terjadi di jalan raya semalam.
Elang mengernyitkan dahi, Ia tidak mengerti maksud dari perlakuan Petir. "Apa ini?" Tanya Elang, penasaran.
"Kau pikir apa? Kevin sudah jatuh cinta pada Emeryl dan dia ingin mempertahankan Emeryl agar Om Diaz berhenti meminta perempuan spesial itu," jawab Petir, sembari menyulutkan sebatang rokok.
__ADS_1
"Apa? Jadi dia membobol Bank?" Tebak Elang, terkaget-kaget.
"Yup, kau benar. Kali ini masalah nya adalah keselamatan Tuan Putri Emeryl, Sobat. Om Diaz tidak akan mungkin melepaskannya."
Elang terdiam, Ia berulang kali meneguk salivanya. Kali ini musuhnya adalah pria kejam itu.
"Apa boleh buat? Dia harus tahu siapa aku," tilas Elang, yakin. Dendam itu menggunduk besar. Tidak perduli Ia akan melawan orang yang seharusnya mengayomi nya.
Sedang di balik pintu, seseorang tengah merekam obrolan mereka lalu mengirimnya pada Diaz Danuarta.
Petir rupanya dapat membaca pergerakan itu, tapi Ia pura-pura tidak tahu. "Ada musuh dalam selimut," ujarnya, berbisik.
Elang tersenyum. "Aku sudah tahu, dia juga salah satu yang ingin memiliki wanitaku," ungkap Elang. Pemuda itu amatlah cerdas, tidak ada satupun yang dapat lepas dari pengamatannya di rumah itu.
"Dasar bodoh, apa dia tidak berpikir kalau rumah ini sudah seperti mata-mata. Banyak layar monitor yang terpampang di setiap ruangan," cicit Petir lagi, sambil berkali-kali melempar tawa.
Elang mengangkat alis. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil memikirkan sesuatu.
"Ku rasa, kita akan kerja keras beberapa hari ini," ujar Elang lagi.
"Hm, kurasa begitu." Petir pun bangkit dan kembali berpamitan.
"Sst... aku akan selalu ketagihan," jawab Petir, tak mau kalah. Pria gagah nan tampan itu berlalu keluar dan bertemu Abimanyu yang berdiri di samping sofa. Tidak ada tegur sapa, Petir hanya tersenyum sinis kearahnya lalu berlalu begitu saja.
Keesokan harinya, Emeryl merawat Kevin dengan telaten. Ia memasak bubur dan menyuapi Kevin sepenuh hati.
"Mas, obatmu sudah habis. Aku keluar sebentar ya," pamit Emeryl. Tentu saja Kevin tidak mengijinkan karena keselamatan Emeryl tengah di pertaruhkan.
"Tidak, Emer. Biar saja. Nanti aku yang minta Damar membelikannya," tolak Kevin.
"Tidak perlu, Mas. Aku janji akan pulang dengan selamat."
"No, jangan membantah."
Emeryl hanya tersenyum dan tidak mengindahkan larangan Kevin yang masih berbaring diranjang.
"Aku pergi...!" Ucapnya sambil menenteng tas mini di tangannya. Kevin tidak bisa lagi mencegah dan membiarkan Emeryl pergi.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu kamarnya terbuka lagi.
"Bang, bahaya," ucap Damar dengan nafas tidak beraturan.
"Bahaya apa?" Tanya Kevin, yang mengambil posisi duduk dan meninggikan sandaran bantalnya.
"Uang itu di bawa anak buan sialan itu kerumah Diaz, Bang. Mereka rupanya anak buah yang sengaja menyebar di berbagai tempat," ujar Damar, menjelaskan.
"Apa? Damar, Emeryl sedang pergi ke apotik terdekat. Aku mohon susul dia dan selamatkan dia dari incaran anak buah Diaz!" Kevin meminta sambil memelas.
"Lo kenapa dibiarin, Bang?"
"Aku sudah mencegahnya, akan tetapi dia ngotot."
Elang yang ikut khawatir bergegas keluar dan menyusul. Ia juga tidak ingin Kakaknya frustasi dengan keselamatan Emeryl.
Emery sendiri baru saja membayar pesanan obatnya, dia segera memasukkan obat itu ke dalam tas. Namun belum seberapa jauh kakinya melangkah pulang ke jalanan yang lengang, Kedua tangannya tiba-tiba di sergah oleh dua orang yang langsung menariknya masuk kemobil.
"Hey, siapa kalian? Apa yang mau kalian lakukan?" Teriak Emeryl. Ia berusaha memberontak akan tetapi tenaganya kalah jauh.
"Diam kau, ayo masuk!" Kedua orang itu mendorong tubuh Emeryl masuk kedalam mobil tepat di pelukan Abimanyu.
"Mas Abi," ucapnya tak percaya.
"Halo, Sayang. Senang bertemu denganmu." Abi memaksa merengkuh tubuh Emeryl tapi gadis itu menolak.
"Lepas, Mas. Aku tidak mau. Cepat keluarkan aku dari sini!"
Damar yang baru saja sampai di apotik itu terperanjat, ketika melintasi sebuah mobil dan mendengar sayu suara Emeryl sudah ada di dalam sana.
"Astaga Emer, Emer... Hey siapa kalian?" Damar mengetuk kaca jendela akan tetapi Abimanyu langsung meminta sopirnya melajukan mobil.
"Woy, berhenti lo!" Damar melempari mobil itu batu, namun mobil itu melesat jauh. "Aduh, bagaimana ini. Pasti Bang Kevin akan kecewa karena aku gagal melakukan perintahnya?" gumam Damar seorang diri. Tidak punya pilihan lain, Ia merogoh ponselnya dan menelpon Kevin. Memberi tahukan jika Emeryl telah di culik.
"Kejar mobil itu, Damar. Kenapa diam saja!" Pekik Kevin, geram.
"Iya, Bang. Saya sudah ada di dalam mobil sekarang," Jawab Damar. Ia langsung menjalankan mobilnya setelah mematikan ponsel.
__ADS_1
Kevin yang sangat takut kehilangan, nekat bangun dari ranjang. Ia segera memakai jaket dan menyelipkan pistol dipingang nya untuk mendapatkan sang istri kembali.
Kevin juga menyempatkan diri menelpon Dimas dan minta pemuda itu ambil bagian dalam penyelamatan Emeryl.