Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 12 Usaha


__ADS_3

Terjerat dalam kegilaan para pria tak punya nurani, Emeryl hanya membeku dalam kungkungan pria yang kini tengah membekap mulutnya. Derai air mata dan perasaan takut diiringi degup jantung bertalu-talu bagai kan sebuah ancaman yang mematikan.


Ditambah suasana temaram nan mencekam tanpa lampu menjadikan suasana semakin tegang. Emeryl tak bisa melihat apa pun. Seseorang yang dipastikan pria itu mulai menuntunnya berjalan kearah tangga.


Dengan rasa takut Emeryl turut mengikuti kemana Ia di bawa. Pasrah, hanya itu kekuatannya. Mungin saja sebentar lagi Ia akan bersimbah darah atau menjadi wanita durjana yang kotor dalam kubangan lumpur lelaki bejat.


"Duduk...!" perintah pria tersebut. Pada sebuah kursi dimana meja didepannya di penuhi makanan yang banyak. Semua itu sangat jelas terlihat karena ada segelintir lilin yang menerangi tempat itu.


Takut-takut Emeryl menurut, sambil mendongak kearah pria diatasnya. Masih dengan atribut sama, topi jaket dan masker menutup sempurna di sebagian wajahnya.


"Apa ini?" tanya Emeryl, dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana mungkin Ia bisa santai dalam kondisi dan situasi yang tidak tepat.


Pria itu terkekeh kecil. Dia memandangi Emeryl dengan sorot matanya yang menunjukkan jika Ia sangat hangat pada lawan bicaranya.


"Menurutmu? Apa aku akan menelanjangimu jika kau kuhadapkan pada hidangan ini?" Pertanyaan balik Elang membuat Emeryl terdiam.


Pemuda itu menyeringai. Ia membuka piring yang menangkup didepan Emeryl lalu membubuhkan nasi beserta lauk pauknya.


"Makan...!" Titahnya. Elang menarik kursi lain berhadapan dengan Emeryl tanpa melepas tatapannya.


Kedua tangan Emeryl saling meremas, Ia merasa takut untuk makan. Sebab itu adalah makanan yang datangnya dari orang asing. Bisa jadikan makanan tersebut sudah di kasih racun dan itu akan membuat hidupnya berakhir.


Elang terus memperhatikan gerak-geriknya, menunggu kapan gadis bertubuh kecil tersebut menyantap makanan yang sudah disiapkannya khusus untuk menyambut kedatangannya.


"Kenapa diam?" tanya Elang, dengan sorot bola mata yang tajam.


Kegelisahan kentara di mimik wajah perempuan belia itu, Ia masih sangat lugu untuk memahami keadaan ini.


"Ke_ kenapa Abang juga tidak makan?" tanya Emeryl, gugup. Lagi-lagi menundukkan kepalanya tak berani terlalu lama menatap pria misterius didepannua.


"Heh...." Elang berdecih. "Aku sudah sering makan yang enak," jawabnya, enteng. Seolah tidak mau diremehkan.

__ADS_1


"Ta_ tapi aku tidak bisa makan jika sendiri," jawab Emeryl jujur.


Mendengar pengakuan Emeryl, Elang tertawa. Bagaimana jadinya jika Ia menunjukkan wajah yang selama ini masih di rahasiakan pada gadis polos seperti Emeryl.


"Aku sudah kenyang," jawabnya dengan santai.


Di tengah cahaya lilin yang tidak terlalu terang, Elang saling menatap Emeryl yang masih tertunduk dalam kebisuan dan itu berlangsung beberapa menit.


Sesaat Elang menghela nafas lalu mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi ingin terlontar. "Apa kau tahu tujuan suamimu mengantar kamu kesini?"


Emeryl tidak menjawab, Ia sudah tahu bahkan sangat tahu jika Kevin tengah menjual dirinya untuk melayani pria tak bermoral.


"Lalu kenapa Abang mau membayarku dengan mahal, sedangkan aku tak punya pengalaman apa pun?" tanya Emeryl, balik. Ia mulai memberanikan diri.


Elang menatapnya lagi, pria tersebut tersenyum simpul lalu bangkit dari duduknya. Ia mendekati Emeryl dan menangkup pipi yang memerah antara takut dan malu akibat sentuhannya.


"Makanlah, kau perlu tenaga untuk melayaniku!" bisiknya, pelan. Bagai hembusan angin yang mendayu. Ciri dari vokal suaranya saat berbicara saja merdu dan itu membuat semua orang yang mendengarnya saja sangat menyukainya.


Emeryl tidak menjawab, hanya ada suara sepatu Elang yang terdengar berdetap dilantai menjauhi dirinya. Ia pasti sengaja dibiarkan sendiri untuk mati secara percuma diruangan tersebut.


Emeryl dengan sengaja memasukkan sebagian makanan dan sayur tersebut kedalam piring yang sudah di berikan Elang lalu melangkah kedaun jendela dan membuangnya jatuh kelantai bawah.


"Bagus, pria misterius itu tidak akan mengetahui apa pun," desis Emeryl. Gadis lugu itu melihat garfu, lekas Ia mengambilnya untuk dijadikan alat menyerang Elang. Dengan membunuh Elang atau membuatnya cidera, Ia yakin dirinya bisa kabur dari Kevin.


Perasaan takut bergerilya, keningnya berkeringat, itu kali pertama untuk Emeryl melakukan hal yang ekstrem. Membunuh adalah hal yang mengerikan, tapi Ia tak punya pilihan lain selain bertindak dengan pikiran sempitnya.


Ceklek!


Benar saja, suara pintu terbuka kembali dengan jelas terdengar. Ia yakin jika itu adalah Elang. Disana lah Emeryl mengumpulkan keberanian untuk bersiap menyerang pria tersebut.


Elang memeriksa makanan diatas meja, melihat sudah berkurang, Elang tersenyum puas. Pasti Emeryl sudah memakan sebagian.

__ADS_1


"Good, manis. Aku suka melihat mu begini."


Derap langkah Elang kaki mendekati Emeryl, dengan nafas menggebu, Emeryl memegang garfu tersebut dengan sangat erat. Matanya tajam penuh ambisi. Ya, dia siap untuk sesuatu yang mengerikan.


Menatap kaki Elang semakin dekat, lantas Emeryl Bangkit sambil berteriak menghujamkan benda ditanganya.


"Mati Kau!" Ucapnya dengan suara penuh kemarahan.


Tapi sayang usahanya gagal, Elang terlalu tangguh untuk itu. Ia dengan cepat menahan lengan Emeryl dan mencekram lengannya sampai benda tersebut terjatuh.


"Kau mau apa, Sayang?" Cicit Elang. Ia menarik tangan Emeryl dan menangkup nya dari belakang.


Karena ketidak ahlian nya, Emeryl merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Begitu mudahnya, Elang menghentikan serangan yang sudah Ia rancang.


"Bang , Lepas. Aku bukan perempuan murahan, pria gila. Tolong lepaskan aku! Aku bukan pemuas birahi kalian" Pekik Emeryl, kesal. Ia meronta-ronta dari pelukan Elang ingin di bebaskan dari pekerjaan yang sangat merugikan dirinya.


Elang memanas, Ia mengeratkan giginya. Sedang jari telunjuknya menekan pipi Emeryl membentuk garis lurus.


"Jangan macam-macam denganku, atau kau akan menyesalinya!" Ancaman yang sangat mengerikan menutur Emeryl tapi Ia tidak menyerah. Ia menginjak kaki Elang dengan sangat keras hingga pria tersebut memekik.


"Shieeaat...!"


Ada kesempatan untuk kabur, Emeryl langsung berlari kedaun pintu untuk membukanya tapi ternyata pintu tersebut sudah dikunci. Itu pasti karena Elang sudah membaca situasi.


"Bang, tolong buka pintunya, Bang. Aku tidak mau melayanimu, biarkan aku pergi!" Emeryl menggoyang-goyang kenop pintu sambil memohon belas kasihan.


Elang melangkah dengan pelan untuk mendekatinya, dan suara sepatu Elang saja berhasil meluluh lantahkan jiwa Emeryl saat sudah dikuasai ketakutan yang sangat besar.


Emeryl berbalik menyandarkan diri di daun pintu sambil menggeleng, berharap Elang tidak melakukan apa pun padanya.


"Tolong jangan lakukan apapun, Bang. Aku masih ingin meneruskan cita-cita yang selama ini ku dambakan, aku mohon."

__ADS_1


Air mata meluncur dengan mudahnya, Emeryl tidak tahu lagi apa yang akan terjadi akibat kebrutalannya melawan Elang.


Pria bertubuh tinggi tersebut telah ada dihadapannya dan secara bebas menempelkan tubuhnya semakin tak berkutik di pintu tersebut.


__ADS_2