
"Kenapa kau berubah pikiran?" Elang belum percaya sepenuhnya dengan apa yg dikatakan Emeryl.
"Aku serius, Bang. Toh, aku tidak mencintai nya, begitu juga dia tidak mencintai aku. Pernikahan itu terjadi karena Ia dendam pada Bang Dimas!" Emeryl mencurahkan seluruh keluh kesah yang membelenggu hatinya. "Dia sudah membunuh Bang Dimas, tapi kenapa dia terus menyiksaku," tambah Emeryl lagi.
Elang menatap gadis itu dengan lekat. Meski suasana begitu gelap. keduanya bisa mengetahui mimik wajah masing-masing. Wajah yang didalamnya tergambar luka dan kekecewaan yang belum terselesaikan.
"Besok aku akan membawamu, ke Bali," ujar Elang kemudian. Pria itu merasa lelah. Jadi Ia memutuskan untuk merebahkan diri disamping Emeryl.
Tidak mendapat kejelasan yang menyenangkan, Emeryl galau. Ia sangat takut jika harus kembali menghadapi Kevin. Bisa jadi pria itu akan memberikannya lagi pada Diaz.
Cukup lama hanyut dapat pemikiran yang suram, Emeryl ikut menidurkan diri di dekat Elang. Ia terus memandangi wajah pemuda yang sudah pulas didepannya itu. Ia tidak tahu apa kah pemuda itu mau membantunya atau akan membuangnya begitu saja. Bagaimana pun akhirnya nanti, Ia harus pasrah dengan kenyataan.
π₯π₯π₯π₯π₯
Sekitar pukul 06.00 WIB pagi. Elang yang sudah lama tidak menikmati dinginnya kolam renang tiba-tiba ingin mandi di sana. Ia dan Jack sudah berdiri di tepi kolam. Elang telah menggunakan kaos celana pendek dan bersiap untuk melompat kedalam jernihnya air tersebut.
"Brrr, Bos belum nyebur aja udah dingin kayak gini. Yakin kau mau nyebur!" Kelihatannya saja posturnya gagah dan ahli bela diri tapi pada dasarnya. Jack paling malas berhadapan dengan air di pagi hari.
"Cemen, belum apa-apa udah nyerah. Biar aku sendiri saja kalau gitu," Ejek Elang. Pemuda tampan itu memulai dengan melakukan pemanasan. Merentangkan tangannya beberapa kali sampai Ia benar-benar rileks.
"Oke, Jack. Ayo mulai!" Seru Elang, penuh semangat.
Byurrrr!
Air kolam renang itu sampai bergelombang mendapat hentakan dari tubuhnya.
"Gak dingin, Bos?" Jack merinding merasakan desiran angin pagi yang menerpa kulitnya secara langsung.
"Aman, Jack. Ayo melompat!" Teriak Elang. Dia terus berenang layaknya lumba-lumba. Tidak akan sudi berdiam hanya di satu titik.
"Tidak, Bos. Aku sudah mandi air hangat," jawab Jack, jujur. Ya mau bagaimana lagi pekerjaan menuntutnya untuk harus selalu tampil rapi.
__ADS_1
Sedangkan di kamar utama, Emeryl sendiri masih terlelap. Entah mengapa dia selalu bangun kesiangan. Mungkin karena beberapa waktu bersama Kevin, Ia tidak pernah merasakan tidur dengan nyenyak.
"Astaga, jam berapa sekarang?" Emeryl selalu mencari jam saat Ia mengalami kegugupan. Melihat jam sudah beranjak tepat di angka 6. Emeryl segera berlari ke balkon. Ia mau mencuci mata dulu sebelum memulai sesuatu yang lain.
Asyik menikmati pemandangan dari atas, Emeryl tidak sengaja melihat kearah kolam renang. Dimana disana ada seorang pemuda yang baru saja mengebaskan rambutnya dari dalam air.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Emeryl menganga seperkian detik dibuatnya. Ia tidak percaya bila pada akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah pemuda misterius itu.
Karena kurang puas, Emeryl segera berlari kelantai bawah untuk melihat secara langsung. Sudah lama rasa penasaran itu membuncah di dadanya akan sosok pemuda itu.
Sampai di tangga bawah, perempuan itu malah bertemu Diana. Tak heran lagi, Diana pasti akan terus menatapnya dengan mata melotot dan sinis.
"Dasar tidak tahu diri, udah numpang bangunnya kesiangan lagi? Dia pikir rumah ini panti asuhan apa? cuma mau memberi makan gratisan!"
Mendapati Emeryl datang, lantas Elang melihatnya dan tersenyum manis. Senyuman maut yang bisa meluluh lantahkan perasaan seluruh perempuan dimuka bumi.
"Pagi, Sayang. Kau sudah bangun rupanya? Apa tidurmu nyenyak?" Sapa nya, lembut.
Emeryl lagi-lagi gagu, Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin jika pria yang selama ini tidak pernah berhubungan dengannya ternyata adalah seseorang yang selalu bersama Kevin.
"A_ apa kau Elang? Bu_ bukankah kamu adalah_?" Emeryl tak sanggup mengucapkan kan kata-katanya. Ia tidak mau sampai salah menebak nama orang lain.
Elang tergelak. Ia begitu menyukai keterkejutan Emeryl. Bola mata bulat itu sangat menggemaskan baginya.
"Kemari!" Elang merentangkan kedua tangan. Emeryl yang masih bingung menoleh kearah Jack dan kembali menatap pria di kolam tersebut.
"Silakan Nona!" Jack meminta Emeryl mengikuti keinginan Elang. Tapi Emeryl masih tidak yakin, Ia bengong ditempatnya tanpa memperdulikan kata- kata mereka.
__ADS_1
"Ayolah, Sayang. Temani aku mandi. Kolam ini tertutup, jadi aman untuk orang luar!" Elang mengisyaratkan Jack untuk meninggalkan mereka berdua. Jack pun menurut dan berlalu pergi.
Elang berenang menepi, Ia keluar dari kolam dan merangkul tubuh Emeryl masuk ke kolam renang. Wanita itu tidak menolak tapi juga tidak mengatakan apapun.
"Kenapa kau masih bingung, Sayang? Apa ada hal yang membuatmu merasa aneh?" Elang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Ia menciumi setiap jenjang leher Emeryl dengan sangat bergairah.
Emeryl masih saja bungkam, mungkin Ia syok dengan wajah pemuda yang kini bersamanya.
"Kenapa kau sampai melakukan ini, Bang?" Tanya Emeryl akhirnya. Ia juga ingin tahu alasan Elang melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.
Elang menghadapkan Emeryl kehadapan nya, Ia menjamah bibir wanita itu menempel pada bibir tebalnya.
"Aku melakukan ini untuk kebaikan ku sendiri," jawab Elang. Tatapan keduanya begitu dekat. Deru nafas saling terhempas kewajah mereka masing-masing di iringi degupan jantung yang membara.
"Tapi, pertikaian itu_?" Bukankah Elang menyerang dia saat seorang pemuda bermasker lainnya membawa dia kabur.
"Kau lupa dengan ucapanku tempo hari?" Elang mengingatkan.
Emeryl menggeleng. Ia sangat bodoh untuk memahami sesuatu. Terlalu banyak beban pikiran yang membuat otaknya tidak bisa sinkron.
Elang menghela nafas panjang, Ia kemudian tersenyum lagi lalu menempelkan kembali bibir yang terus menggelora nya. Elang sebenarnya ingin terus menikmati ini. Tapi Ia kasihan pada Emeryl hingga menahan hasratnya beberapa waktu.
Kali ini suasana sepertinya sangat aman mendukung, Elang menyesapi bibir merah muda itu dengan pelan-pelan sampai leng_haan terdengar dari mulut Emeryl.
Dalam sekejap sebuah desiran hebat menyemayangi tubuhnya. Ia merasakan sebuah cinta dari sentuhan itu. Cinta dan kehangatan yang melenyapkan segala bebannya.
Eum... Eum...
Emeryl sampai kesulitan bernafas, mulutnya mulai terasa panas. Itu mungkin karena Elang terlalu lama tenggelam disana. Perempuan itu pun menahan dada Elang berharap pria itu menghentikan permainannya.
Hos.. Hos.. Hos...
__ADS_1
"Maaf, Bang. Aku tidak sanggup lagi," ujarnya parau.