Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 42 Pasrah


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit, Tania dan Abimanyu langsung ke UGD. Mereka berdua bertemu teman-teman Diana.


"Bagaimana dengan keadaan Mommy saya, Tante?" Tanya Tania khawatir. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang membahayakan Orang tua tunggalnya.


"Gak tau, Nak. Mommy mu masih di tangani Dokter," Jawab salah seorang diantara mereka.


Tania mengangguk. "Oya Bu, bagaimana kejadian persisnya tadi?" Tanya Tania lagi. Perempuan itu berulang kali mengusap wajahnya.


"Tadi Mommy mu habis ribut dengan Ayah mu, Nak. Terus karena kami kasihan lihat Mamamu. Kami memutuskan mengajak pulang. Tapi baru keluar dari lahan parkir seseorang misterius menusuk perut Mommy mu," Cerita Ibu itu sejelas-jelasnya.


"Papi? Dia sudah kembali?" Gumam Tania seorang diri. Memang sudah dua tahun berlalu Ia tidak pernah bertemu Diaz lagi. Bahkan tidak pernah mendengar kabarnya yang tidak jelas ada dimana.


"Aku harus mengabari, Elang!" Tania hendak merogoh ponsel, tetapi Abimanyu menahannya.


"Jangan sekarang, Sayang. Baru juga siang tadi dia pergi masak harus di beri kabar buruk. Alangkah baiknya kita lihat dulu kondisi Mommy. Moga-moga saja Mommy selamat dari serangan itu?"


Karena menganggap perkataan Abimanyu benar, Tania pun menurut. Ia menyimpan kembali ponselnya sampai ada kabar dari pihak rumah sakit.


Malam mulai menyapa, angin semilir berhembus damai di sekitaran rumah makan yang tersedia di tepi pantai. Elang, Emeryl dan Jack sedang menikmati makan malam bersama. Namun tentu tidak se meja, Jack memilih duduk ditempat lain. Maklum saja dia hanyalah jomblo tua yang ngenes. Sudah berusia 28 tahun belum juga mendapatkan tambatan hati. Wajar saja sih, sebab Jack terlalu sibuk mengurusi Elang hingga tidak punya waktu memikirkan diri sendiri.


"Emer, kau takut Kevin akan datang lagi?" Seloroh Elang. Ia terlihat tengah menyantap rendang daging sapi kesukaannya.


"Tentu saja, Bang. Aku takut dia membawa aku pada Si tua bangka itu lagi," jawab Emer, berterus terang.


"Oya, kalau gitu kamu harus bisa memaksa Kevin menalak kamu. Buat dia marah dengan sengaja."


"Itu tidak mudah, Bang. Sepertinya Bang Kevin memiliki tujuan berbeda kali ini."


Emeryl menyelipkan anak rambut yang berterbangan kewajah nya dan reaksi seperti itu mampu menggoda pandangan Elang yang tanpa henti menatapnya.


"Kau punya perasaan denganku?" Tanya Elang lagi, sangat konyol.


Emeryl yang mendengar pernyataan itu tersipu, Ia kembali melahap makanan miliknya tanpa mau menjawab. Ia sendiri tidak tahu apa kenyamanannya bersama Elang adalah bentuk dari rasa suka. Jujur saja, Ia belum pernah bisa setenang ini saat bersama lelaki lain.

__ADS_1


Kehancuran keluarga sudah seperti mematikan kebahagiannya, Ia hanya bisa hidup dengan berusaha berdiri tegak. Menebalkan telinga mendengarkan gunjingan orang lain.


Ia juga tidak menyalahkan Dimas, jika kakaknya itu nekat terjun ke dunia kelam demi bisa bertahan hidup bersamanya. Tapi harapan itu telah pupus. Dimas sudah meregang nyawa. Pasti tubuhnya telah habis di lalap binatang buas dalam jurang itu. Kemungkinan hidup sangat kecil, terlalu dalam dan terjal untuk bisa bertahan di dalamnya.


"Aku merindukan Bang Dimas," ucapnya spontan. Pandangan kosong tertuju pada deburan ombak yang bertautan si ujung sana.


"Lalu, apa yang bisa mengobati rindumu?" Elang menatap lekat manik bola mata bulat yang sedikit kecoklatan milik Emeryl. Perempuan cantik itu selalu tampil apa adanya Ia tidak akan berdandan berlebihan jika bukan orang lain yang menginginkannya.


"Entahlah, apakah rumah itu masih menyisakan barang-barang milik Bang Dimas, atau mungkin sudah hancur tanpa sisa."


Elang mengusap pucuk kepala Emeryl, Nasib mereka memiliki kesamaan. Tidak semulus harapan orang kebanyakan. Tapi Elang bisa bangkit dan mampu mengendalikan situasi setelah Ia berhasil terlepas dari masa lalu.


"Kau akan baik-baik saja sekarang, Emer. Syaratnya kau hanya perlu diam dan ikuti kataku," tukas Elang.


Emeryl mengangguk.


Makan malam berlangsung beberapa menit, hingga akhirnya keduanya kembali ke penginapan. Emeryl sangat lelah, Ia yang sudah mengantuk langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tidak peduli jika Elang ada disana menatapnya dengan sejuta pesona.


"Soal apa?" Jawab Emeryl, parau. Ia sudah memejamkan matanya.


Elang mendekat dan membisikkan nada-nada indah di sana.


"Sesuatu yang bisa mengurangi sesak di dadamu gara-gara Kevin."


"Bang, aku pasrah. Yang penting kamu tidak membuangku," ucap Emeryl, seraya tersenyum.


"Kau yakin?" Elang memeluk tubuh Emeryl. Dia sangat beruntung akhirnya bisa bersama wanita yang di cintai nya.


Emeryl hanya tersenyum kecil hingga Elang akhirnya menyatukan kedua bibir mereka. Pasti ada setan yang membuat birahi Elang bangkit lagi hingga Ia terus saja mencari kesempatan mendapatkan Emeryl.


Terlepas status Emeryl yamg masih istri orang, akan tetapi ialah yang menikmati manisnya. Kamar yang semula rapi mulai koyak. Elang terlalu lihai membuat Emery tak berkutik di buatnya.


Emeryl sadar menolak pun sudah tidak ada guna, paktanya Elang sudah menguasai dirinya setiap hari tanpa adanya orang yang bisa menghalangi.

__ADS_1


Kali ini keduanya melakukan tanpa paksaan. Mereka menghabiskan malam suka sama suka. Getaran ranjang yang sudah seperti gempa 4,1 SR semakin menambah panas suasana malam yang penuh syahdu itu. Peluh keringat dan nafas yang memburu saling bertautan. Suara nikmat melengking mengikat erat peraduan keduanya. Tidak peduli meski ada ketukan pintu berulang-ulang tetap saja tidak akan mampu melonggarkan penyatuan mereka.


"Ah.., Bang. Kau tidak mau memeriksa keluar? Siapa tau orang itu ada tujuan penting?" Emeryl mengungkung pinggang Elang dengan kedua kakinya agar benturan di sana semakin kuat.


"Uh.. tidak ini belum selesai." Elang terus me maju mundurkan apa yang sudah terlanjur basah dan hangat di dalam perut Emeryl.


Drrr!


Ponselnya bergetar.


"Ah...Bang, ada panggilan tu!" Emeryl berteriak cukup tinggi. Ia merasakan seluruh tubuhnya terguncang dengan semakin tinggi.


"Ini nikmat, Sayang. Tunggu sebentar lagi." Elang mengangkat tubuh kecil Emeryl duduk di atas meja dan semakin gesit melakukan aksinya.


Perempuan itu hanya bisa mengaduh, Ia mengigit bibir menerima hentakan maha dahsyat dari pria yang mengungkungnya itu.


"Bang, tunggu dulu. Bagaimana jika aku mengangkatnya?"


"Terserah saja, tapi yang pasti aku tidak akan berhenti."


Emeryl menggapai benda yang terus berkedip-kedip disampingnya. Ia tidak melihat ada nama yang tertera.


"Ah.. Bang. Tidak ada namanya," teriak Emeryl lagi. Kesulitan mengendalikan diri. Ia dengan cepat menggeser tombol hijau dan memperbesar volumenya.


"Elang, kembali kan Emer padaku atau kau akan menyesal!" Jawab Kevin dari seberang.


Elang dan Emeryl saling berpandangan. Bahkan Elang tidak mengurangi gerakannya dan malah dengan sengaja memperkuat suara penyatuan mereka agar Kevin dapat mendengar.


"Astaga, Bang. Aku hampir selesai!" Emeryl mulai merasakan sesuatu semakin memuncak. Hingga tanpa sadar ponselnya terlepas ketempat asal.


Kevin yang sudah tahu apa yang dilakukan keduanya benar-benar tidak bisa lagi tinggal diam.


"Elang, brengsek kau? Berani-beraninya kalian bermain dengan nikmat disana!" Pekik Kevin yang terus berteriak-teriak dari layar ponsel.

__ADS_1


__ADS_2