Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 50 Pilihan


__ADS_3

"Kau tidak punya hak atas hidup istriku, Lang." Pemuda itu mengalihkan senjatanya kearah Petir dan Elang secara bergantian.


"O ya? Lalu kau pikir dirimu lebih berhak." Elang terkekeh menanggapi bualan Kevin.


"Tentu saja, aku belum menceraikan dirinya."


"Sayang, itu tidak akan pernah terjadi." Elang meremehkan permintaan Kevin. Mana mungkin Ia sudi berbaik hati setelah Kevin membunuh kakak perempuannya.


Mendengar jawaban Elang, Kevin semakin bernaf"u membunuh pria itu dengan senjata nya. Ia ingin menarik pelatup pistol itu agar segera mengenai sasaran akan tetapi Damar datang dan mencegah aksinya.


"Jangan, Bang. Kau tidak perlu mengotori tanganmu hanya untuk melawan Elang."


Kevin yang terkejut langsung menoleh. Ia mengerutkan dahi, dari mana Damar tahu Ia nekat masuk ke kantor Elang demi menemukan Emeryl.


"Damar, apa yang membuatmu sampai disini?" Tanya Kevin.


"Ada seseorang yang memberi tahuku." Damar menatap kearah Elang dan Petir bergantian. Sebagai seorang adik angkat yang disayangi melebihi adik sendiri tentu Damar merasa kecewA pada keduanya.


"Aku tidak menyangka akan perbuatan picik kalian, Lang. jika memang kalian itu hebat lalu mengapa kalian bersembunyi di balik penyamaran," tukas Damar pada mereka.


Hahaha....


Gelak tawa Elang dan Petir menggelegar. Mereka benar-benar puas melihat kekalahan Kevin.


"Dasar bodoh, itu namanya bukan licik, Mar. Tapi siasat mengecoh lawan," jawab Elang, monohok.


Mereka saling balas melotot, dan kejadian itu membuat Emeryl yang datang hendak mengantar makan siang untuk Elang terkejut.


"Bang Kevin...!" Ucapnya, spontan. Rantang nasi yang Ia gengam ditangannya sampai terlepas dan berserakan.


Membuat semua orang yang ada disana serempak menoleh kearahnya.


"Emer...!" Kevin tidak sadar membuang pistolnya dan berlari menghampiri Emeryl tapi Elang menahan dada nya untuk menghentikan niat Kevin memeluk Emeryl.


"Jangan kurang ajar, Lang!" Mata Kevin memanas. Ia mengalihkan tangan Elang tapi pria itu menolak. Kevin yang tidak bisa menahan diri langsung memukul rahang Elang hingga Ia terbelalak mundur. Tidak terima dengan tindakan Kevin Elang balas menyerang hingga perkelahian panas antar keduanya pun terjadi.


Jack ingin turut campur, agar Kevin segera kalah tapi Petir menahannya.

__ADS_1


"Biarkan saja, Jack. Biar mereka membuktikan ketangkasan diri mereka masing-masing!" Cegah Petir. Karena Ia sangat yakin akan kemampuan bela diri Elang.


Bag! Beg! Bug!


Suara pukulan memenuhi ruangan yang berubah sangat hening. Hanya ada bunyi saling terjang, memukul dan meninju tak terelakan. Bahkan wajah mereka sama-sama bengap. Emeryl yang melihat perkelahian mereka bisa saja saling membunuh mulai berpikir.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskan aku tetap bersama Elang atau pergi bersama Bang Kevin?...


"Pilihan untuk menghentikan mereka ada di tanganmu, Emer. Kau pasti tau pokok utama kewajiban seorang istri adalah menutupi keburukan suaminya," Ujar Damar, mengarahkan.


"Tapi, Bang. Emeryl harus apa?" Ia takut salah memilih dan akan menghancurkan hidupnya. Apa lagi Ia mulai memiliki perasaan terhadap Elang yang sudah memberikan kebahagiaan saat Kevin membuangnya.


"Kevin memang kejam, Emer. Tapi aku pastikan kau akan menjadi yang spesial," ucap Damar lagi. Sesekali kembali melihat kearah kedua pemuda yang kini berlumuran darah.


Kali ini Elang dan Kevin saling menyerang dengan menghantamkan kepalan tangan mereka, tapi belum juga sampai Emeryl sudah lebih dulu berdiri tepat diantara keduanya. Untung secepat kilat mereka menahan kepalan tangan itu lebih dulu sebelum menghantam pipi Emeryl.


"Apa yang kau lakukan, Sayang?" Cicit Elang.


"Jangan biarkan aku menyakiti dirimu lagi, Emer." Kevin tak mau kalah bersuara.


"Apakah kematian ku akan menyelesaikan perdebatan kalian?"


Keduanya membelalakan mata saat melihat kebawah, jika Emeryl telah menodongkan pistol milik Kevin yang terlempar tadi kearah perutnya.


"Jangan gila, Emer. Aku tidak akan membiarkan mu mati sia-sia," bentak Kevin, marah.


Begitu pula dengan Elang, Ia baru saja melihat Mommy Diana mati jadi mana mungkin Ia ikhlas melihat Emeryl yang sudah mencuri hatinya ikut mati juga.


"Jangan bodoh, Emer. Kau tidak ada hubungannya dengan dendam kami," Ungkap Elang.


"Tapi aku tidak perduli dengan dendam kalian!" Teriak Emeryl, kesal. "Hidupku sudah mati sebelum aku terlahir ke dunia ini, dan sekarang raga ini sudah saatnya pergi juga."


Seluruh staf karyawan ngilu melihat aksi nekat Emeryl. Mereka tidak akan mampu membayangkan bagaimana nanti jika Emeryl benar-benar nekat menembakkan pistol itu ke perutnya sendiri.


"Tidak, Sayang. Maafkan atas kesalahanku yang sudah menjual mu padanya. Aku sudah tahu yang sebenarnya jika Kayla tidak mati gara-gara Dimas." Kevin sampai menangis dan syok melihat tindakan Emeryl.


"Apa?" Emeryl kaget. "Siapa Kayla?"

__ADS_1


"Dia adalah adikku, kekasih Kakak mu Dimas, Mer. Ku pikir Ia mati bunuh diri gara-gara Dimas menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab."


"Ha? Jadi_?"


"Iya, aku yang salah. Telah membalas kematian Kayla pada orang yang sangat mencintainya," jawab Kevin.


"Cih...!" Elang berdecih. "Lalu bagaimana dengan Kakak ku Alena?" Tanya Elang, geram.


Kevin terdiam. Untuk kejadian itu memang dialah yang salah. Karena kecantikan Alena, Kevin gelap mata dan memperkosanya.


"Heh, kau sengaja, bukan? Memperkosa dan membunuh nya lebih sadis dari cara Dimas menghamili adikmu karena cinta, Kevin," tuntut Elang.


"Aku khilaf, Lang."


"Apa? Apakah itu bisa di jadikan alasan untuk bisa menebus dosa-dosamu?" Elang mengeratkan rahangnya yang seakan ingin memaki sepuas hati.


"Ikut aku, Emer!" Kevin mengabaikan ucapan Elang.


"Oke, ku beri kau pilihan Emer," ujar Elang, lagi. "Ikut dia dan menjadi musuhku atau tetap disini dan kita akan menikah?"


Pertanyaan Elang bagai detikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan hidup Emeryl. Perempuan itu memilih menggeleng.


"Kurasa kematianku adalah pilihan yang tepat."


Melihat Emeryl bersiap melakukan bunuh diri di hadapan mereka, Kevin yang tidak terima bergegas menyempar senjata itu hingga terpental jauh.


"Tidak, Emer!" Teriaknya tanpa sadar. Ia langsung memeluk tubuh Emeryl setelah berhasil mencegah niat Emeryl. "Tolong jangan lakukan itu, sudah cukup aku melihat sakitnya kehilangan Kayla karena bunuh diri, Emer. Aku tidak akan mampu melihat ini pada dirimu."


Emeryl dapat merasakan ketulusan Kevin dari caranya menangis dan menyesali perbuatan.


"Ayo kita pulang, aku janji akan membuat kamu bahagia Emer?" Kevin menyematkan tangannya di sela-sela jari Emeryl. Perempuan itu hanya bisa menatap Elang dengan perasaan bersalah.


Ia tidak mampu mengatakan apa pun dan tak kuasa menolak Kevin yang jelas-jelas lebih berhak atas dirinya sebagai seorang yang berstatuskan suami.


"Bos, kau_?" Kalimat Jack menggantung saat Elang mengangkat tangannya membiarkan Emeryl pergi.


Elang bisa saja mencegah Emeryl, tapi Ia lebih memilih diam dan memberikan kesempatan untuk Emeryl melihat siapa yang lebih tulus mencintainya, baik Ia atau Kevin sendiri.

__ADS_1


__ADS_2