
....... JANGAN LUPA BACANYA SAMBIL TERSENYUM YA.......
.
.
.
💥💥💥💥
Emeryl mematung lagi, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Perempuan lansia itu benar-benar tengah menjebaknya.
Sedang di tempat yang berbeda. Elang memarkirkan motornya di sebuah rumah sakit besar di Ibu kota. Pemuda itu menemui seorang Dokter, salah satu sahabat yang selalu menjadi tempat berlabuhnya dikala sakit. Dokter Adrian sudah pasti akan meluangkan waktu untuk sekedar berbasa-basi dengannya.
"Hei, sobat. Ada masalah apa pagi-pagi sudah absen?" Gurauan seperti itu sudah biasa Elang dengar. Dokter itu masih muda, bahkan seusia dengan nya.
Elang tidak menjawab, Ia duduk diatas brankar dan menunjukkan kakinya yang terluka semalam. Dokter Adrian sampai terkejut melihatnya.
"Astaga, kenapa sampai begini, ha? Kau berkelahi?" Luka itu terlihat membiru dan bengkak. Masih ada sedikit sisa darah yang telah mengering disekitaran nya.
Dokter Adrian segera membersihkannya dengan kain kasa dari kotoran.
"Aw.... sakit, Ian!" Elang menjerit, merasakan perih saat di sentuh.
Dokter Adrian tidak perduli, Ia segera membubuhkan obat berupa gel ke daerah lukanya agar sakit yang dirasakan Elang berkurang. Setelah itu ia bungkus dengan perban yang dililitkan.
"Ini pasti semalam ya? Kenapa tidak menemuiku secepatnya?" Dokter Adrian, menyayangkan.
Elang hanya menghela nafas kasar, Ia segera bangkit dan berpindah di kursi.
"Aku tidak sempat," jawab nya, singkat.
Dokter Adrian menatap lekat manik mata Elang. Ia sudah tahu apa yang membuat Elang nekat menantang badai. Berulang kali menasehati agar Ia menghentikan niatnya, tidak membuat Elang mengurungkan keinginannya.
"Lang, kenapa kau masih sangat terobsesi untuk melakukan hal yang berbahaya. Biarkan saja dia dengan hidupnya. Mungkin dia tidak bisa lagi mengubah kebiasaannya."
Elang balas menatap tajam, seakan memberi tahu jika Dokter Adrian tidak akan mengerti apa yang dirasakannya jadi tidak tahu kalau itu sangatlah penting di hidupnya.
"Dia orang tuaku, Ian. Aku mau dia bertobat sebelum kematiannya."
__ADS_1
"Aku tahu, tapi lihat. Rencanamu sudah berjalan selama dua tahun. Apa yang kau lakukan selama itu?"
Elang terdiam, pikiran berkabut tengah membelenggunya. Tidak tahu lagi bagaimana Ia bisa membuat situasi lebih baik kedepannya, setidaknya Ia telah berusaha.
"Sampai matipun, aku akan menentang orang-orang seperti mereka, meski nyawaku taruhannya," ucap Elang, kemudian.
"Oke, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Dokter Adrian. Rasanya tidak ada gunanya juga menasehati Elang saat ini.
"Aku sedang memikirkan nya."
Usai mengatakan kalimat terakhir, Elang memutuskan keluar ruangan.
"Jangan lupa tebus obat di apotik, aku akan kirim pesan nanti!" Teriak Dokter Andrian. Ia bahkan tidak sempat menuliskan resep obat untuk Elang.
Dokter Adrian hanya bisa menggelengkan kepala, Ia sudah tidak heran lagi dengan kebiasaan sobatnya yang satu itu. Datang dan pergi sesuka hati tanpa permisi.
Lain halnya dengan Kevin, Hari ini telah menjadi hal yang paling buruk untuk Kevin, Diaz Danuarta sangat marah karena telah kehilangan Emeryl dimalam bahagianya.
"Aku tidak mau tahu, Kevin. Sebisa mungkin kau harus membawa Emeryl kesini secepatnya. Besok malam, dia harus mendampingi aku hadir di sebuah pesta besar sebagai pasangan!" Diaz berbicara sembari melotot geram.
"Maafkan saya, Bos. Saya tidak menyangka jika ternyata Elang sangat menginginkan Emeryl hingga nekat datang menyerang," ujar Kevin, menimpali.
Diaz Danuarta sama penasarannya, baru kali ini ada seorang penguasa ingusan berani menantang dirinya. Biasanya mereka semua akan takut perusahaan mereka kacau balau akibat perbuatannya.
Kevin menoleh ke sekitaran, Ia tidak sadar jika kedua bocah andalannya itu sudah tidak bersamanya.
"Oh, ya ampun. Apa kedua orang itu ikut mengantar mereka yang terluka kerumah sakit?" Kevin benar-benar teledor.
"Cari mereka dan suruh mereka menculik Emeryl secepatnya. Gadis manis itu hanya boleh menjadi milikku!" Titah Diaz, lagi. Ia begitu terbius, mengingat bagaimana tubuh Emer yang menggoda birahinya.
Kevin membelalakan mata, Ia tidak habis pikir akan ambisius Diaz pada istri sirihnya itu.
Sial, kenapa harus di culik. Tidak bisakah menunggu besok sore ...
"Bos, Malam ini adalah malam ketiga Emer bersama Elang. Besok dia juga akan mengembalikan Emer padaku." Kevin, Sedikit protes. Sebab, Ia melihat sendiri bagaimana Elang dan komplotannya mengalahkan mereka dengan mudah. Tentu sulit untuk melakukan aksi brutal pada pemuda itu.
"Aku ingin bermalam dengannya, kau dengar itu!" Kali ini Diaz membentaknya.
Kevin menyeringai kesal, Ia pun bangkit dan meminta izin. "Kalau begitu saya pergi dulu!" Kevin dan beberapa anak buah yang tersisa meninggalkan markas Diaz. Di halaman Ia disambut oleh Petir dan Kevin.
__ADS_1
"Sudah beres, Bos?" Tanya petir.
Kevin memandangi keduanya secara bergantian, Ia menatap dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Dari mana saja kalian, ha?" Sejak semalam Aku tidak melihat kalian didalam!"
"Yang ampun, Bang. Kan aku sudah bilang Nenek sedang sakit jadi aku mengajak Petir menemaniku, Ya kan, Tir?" Damar melirik pria gagah disampingnya.
"Benar, Bos. Kami terpaksa bermalam disana. Sekalian mengobati kakiku yang terluka akibat perkelahian semalam!" Petir menunjukkan lukanya.
"Parah?" Tanya Kevin.
"Aman, Bos," jawab Petir.
"Malam ini, si tua bangkotan itu mau bermalam dengan Emer. Jadi kita akan melakukan hal ekstrem hari ini." Kevin berbicara dengan nada serius.
"Maksudnya apa, Bang?" Damar kurang paham.
"Kita ditugaskan untuk menculik, Emeryl. Jadi kita akan pergi mengintai Villanya." Kevin memberitahukan.
Damar dan Petir saling pandang.
"Bang, kau itu suaminya. Coba pikirkan dulu niatmu, apa kau tidak punya perasaan pada perempuan itu?" Damar kurang setuju dengan rencana Diaz dan Kevin.
"Iya, Bos. Kenapa gak Bos nikmati sendiri dulu." Petir menambahi.
Kevin tidak menjawab, Ia masuk kemobil lebih dulu disusul keduanya. Dalam perjalanan menuju Villa, Kevin terus memikirkan perkataan Damar dan Petir. Ia memang lebih berhak atas diri Emeryl untuk memuaskannya. Apa lagi setelah melihat bagaimana cara Diaz dan Elang saling berebut untuk mendapatkannya.
"Bang, memikirkan apa?" Tanya Damar.
Kevin menggeleng. Ia mengingat semua perlakuan kasarnya pada Emeryl dan juga mengingat bagaimana Dimas merusak kehidupan Kayla dan membunuh anaknya.
"No, aku tidak mungkin mencintai adik seorang pembunuh!" Teriak Kevin. Ia menggapai botol mineral didepannya dan mencengkraman nya hingga tidak berbentuk.
Melihat itu Damar dan Petir yang duduk dibelakang Kevin, kembali berpandangan. Mereka tidak tahu dendam seperti apa yang tengah membelenggu pria mengerikan itu.
"Berhenti...!" Teriak seseorang didepan mobil mereka hingga sang sopir menginjak rem secara mendadak.
Kevin sangat terkejut melihat Dimas yang kemaren telah mati tiba-tiba berdiri didepannya bersama segerombolan orang.
__ADS_1
"Dimas? Kenapa dia masih hidup?" Kevin segera membuka pintu mobil dan berdiri saling berhadapan.
"Halo, Kevin. Kamu pasti kaget ya?" Tanya Dimas, seraya tertawa picik.