Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 43 Kembali


__ADS_3

"Brengsek, aku tidak akan mengampuni kalian berdua, Elang!" Karena tak kuasa mendengar erangan panjang, Kevin mematikan ponselnya dan melempar benda itu kesembarang arah.


Ia mondar-mandir resah, seluruh tubuhnya seakan membara. Merasakan gumpalan besar yang membongkah ke dada dan itu sangat menyesakkan. Barulah Ia sadar bahwa Ia tidak harus mempertahankan Emeryl. Karena mulai hari ini dendam itu akan bertambah besar. Baru lah Ia mengerti Pengkhianatan Emeryl begitu menyakitkan.


Damar yang berdiri tak jauh dari tempat Kevin berada. Hanya bisa menggeleng. Ia heran akan sikap Kevin pada Emeryl.


"Bang, apa kau mulai punya rasa sama Emer? Kenapa kau tidak biarkan saja mereka bersama. Toh, Elang sebenarnya tidak terlalu mendendam, Bang. Faktanya Ia mau membantu mu membayar 1 Triliun itu." Pikiran sempit seakan harus Damar katakan.


"Gila kamu, Damar. Aku tidak akan mungkin rela Emeryl menjadi miliknya aku akan meminta bantuan Bos Diaz untuk menjatuhkan Elang sampai dia tidak berdaya." Kevin menyambar jaket dan handphonenya tadi lalu meninggalkan teras rumah makan yang sudah lengang oleh pengunjung tersebut.


"Kita mau kemana, Bang?" Tanya Damar yang mengekor.


"Mencari jalan keluar," jawab Kevin tanpa memberikan kejelasan.


Malam itu sangat sunyi, hanya ada bintang-bintang kecil yang indah bertaburan di angkasa. Dimana malam itu begitu membahagiakan bagi Elang dan Emeryl yang akhirnya melakukan pelepasan secara suka rela.


"Terima kasih, Emer. Aku akan berusaha mendapatkan mu sebisa ku." Elang menggenggam kedua tangan perempuan bertubuh kecil itu lalu menciumnya secara bergantian.


Emeryl balas memeluk Elang, Ia berharap apa yang dikatakan Elang bukanlah tipu muslihatnya saja. "Aku akan menunggu momen itu, Bang."


Elang menggendong Emeryl ke ranjang. Lalu menyelimuti Emeryl sampai ke dada. Ia meninggalkan kecupan terakhir di kening Emeryl sebelum akhirnya membiarkan Emeryl larut dalam tidur.


Elang sendiri belum bisa memejamkan mata, Ia harus memikirkan cara untuk mempertahankan Emeryl bersamanya. Karena mengalahkan Kevin berkali-kali tentu tidak akan selalu berjalan lancar. Apa lagi melihat kemarahan Kevin yang sepertinya mulai menaruh rasa cemburu padanya.


"Mungkinkah pria itu mulai jatuh cinta pada Emer?" Tanya Elang seorang diri. Hingga saat Ia larut dalam ketenangan. Sebuah pesan mengabarkan jika Kevin dsn Damar telah kembali ke kota.


"Bagus, itu artinya beberapa hari kedepan Emeryl akan aman dari gangguan-gangguan Kevin."


Drrrrr!


Suara panggilan masuk menggema. Kali ini yang menelpon adalah Tania. "Tumben malem-malem nlp, ada apa ya?"

__ADS_1


Elang mulai merasakan sesuatu yang tidak enak, tanpa pikir panjang Ia menyambut panggilan vidio call tersebut. Tapi yang lebih mengejutkan, Elang mendapati Tania menangis histeris.


"Kak Tania, ada apa? Sepertinya kau sedang di rumah sakit?" Elang bisa tahu sebab Ia melihat ada banyak kursi tunggu di sana di tambah lagi layar di belakang Tania jelas-jelas bertuliskan ICU.


"Iya, Lang. Kakak di rumah sakit. Mommy sedang sekarat, Lang," Jawab Tania disela isak nya.


"Apa?" Elang langsung berdiri. "Bukankah tadi pagi Mommy masih baik-baik saja?" Elang belum percaya jika Mommy Diana sakit keras.


"Dia tidak sakit karena serangan jantung atau pingsan, Lang. Tapi Mommy di serang orang misterius di sebuah Kafe di daerah X dan sekarang sedang kejang." Tania menjabarkan.


"Baiklah, Kak. Aku akan pulang malam ini juga." Elang segera menghubungi Jack untuk menyiapkan bekal yang mereka bawa tadi.


"Maaf, Bos. Saya ngantuk banget. Ada apa ya, Bos?" Tanya Jack.


"Sepertinya kita tidak bisa berlama-lama disini, Jack. Aku harus mencari tahu motif penyerangan Mommy oleh seseorang," jawab Elang.


Setelah usai, Jack diminta menunggunya di luar. Mau tidak mau, Elang harus membangunkan Emeryl sekarang juga. Meski Ia tahu, Emeryl pasti sangat kelelahan.


Elang mengusap kepala Emeryl dan mulai memanggil dengan suara pelan.


"Sayang, ayo bangun! Sayang, kau dengar aku?"


Walaupun bola matanya terasa berat, Emeryl memaksakan diri untuk terbuka.


"Ada apa, Bang?" Ia mengambil posisi duduk sambil menatap Elang yang terlihat bersedih.


"Kita akan kembali ke kota malam ini juga, maaf jika liburannya tidak bisa lama. Segera ganti pakaian karena malam ini juga kita berangkat!" Titah Elang datar, sambil berlalu meninggalkan Emeryl.


Emeryl tidak protes, Ia menuruti perintah Elang dengan cepat. Pukul 04.00 dini hari penerbangan dari Bali Ke Jakarta mereka lalui hingga tak terasa sudah tiba di rumah sakit.


Suasana pagi mulai ramai, sebab orang-orang yang menunggui keluarga mereka di rawat sudah terbangun. Ada juga yang datang dan pulang untuk gantian berjaga.

__ADS_1


"Kak mana Mommy?" Elang sudah tidak sabar mau melihat kondisi wanita yang sudah melahirkannya.


"Ada di dalam, Mommy masih istirahat setelah kejangnya berhenti," jawab Tania.


Elang berlalu masuk seorang diri meninggalkan Emeryl bersama mereka. Sedang Eyang Kanesty sendiri baru muncul di hadapan Tania dan Abimanyu setelah kemaren sempat membututi.


Abimanyu liar, Ia jadi penasaran pada Emeryl. Perempuan itu mampu membuatnya terpikat dalam sekejap.


"Dia siapa, Sayang?" Tanya Abimanyu pada Tania tanpa mengalihkan pandanganya kearah Emeryl dari atas kepala sampai mata kaki.


"Emeryl, pacar Elang," jawab Tania.


"Oya? Tinggal dimana?" Tanya Abimanyu lagi.


"Mana aku tahu, bukan urusanku," jawab Tania ketus.


Abimanyu pun mengulurkan tangan kearah Emeryl. "Halo calon Adik Ipar boleh kenalan?" Sapa Abimanyu. Ia mengerlingkan mata pada wanita di samping Eyang Kanesty.


Emeryl yang tidak nyaman akan tatapan Abimanyu hanya mengangguk, Ia menolak menyambut tangan Abimanyu dan itu membuat Tania tersinggung.


"Kok gak di sambut sih, dia ini calon Kakak iparmu, Mer. Sombong banget sih jadi orang," gerutu Tania seraya memutar bola matanya kesal.


"Oh.. gak papa. Mungkin karena ini sudah menjadi kebiasaan Emer, Sayang. Iyakan Emeryl?" Lagi-lagi Abimanyu menatap nakal pada Emeryl.


"I_ Iya maaf, Bang. Saya tidak bermaksud apa-apa kok," jawab Emeryl membela diri.


"Ya sudahlah, biarkan saja. Ayo duduk, Sayang. Kamu pasti lelah kan?" Eyang Kanesty menarik tangan Emeryl duduk disebelahnya. Sesekali memandang Abimanyu yang belum juga berhenti menatapnya. Pria itu terkesan mengerikan, Emeryl paling takut di todong tajam seperti itu.


Di dalam ruangan yang di penuhi berbagai alat yang canggih dan menyala. Elang mendapati Mommy Diana terbujur diatas brankar tak berdaya. Ada perban putih yang tertempel di perut Mommy Diana yang sengaja tidak di tutupi baju oleh pihak rumah sakit agar lukanya segera mengering.


"Siapa yang membuatmu seperti ini, Mommy? Aku bersumpah akan membuat hidupnya tidak akan selamat dari pengejaranku." Elang sampai mengepalkan tangan. Melihat wajah yang sedikit cerewet itu telah memucat.

__ADS_1


__ADS_2