Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 31 Kejutan


__ADS_3

Tepat pukul 20.00 WIB, acara mulai berlangsung. Seperti biasa, seluruh pasangan harus bersedia melakukan dansa di tempat yang sudah disediakan.


Tanpa rasa malu dan canggung, Lana segera menggeret Kevin untuk ikut menjadi salah satu anggota dari mereka yang ikut berpartisipasi.


"Silakan, Sobat. Sebentar lagi putraku akan datang dan memulai acaranya!" Titah Pak Yoga.


"Baiklah, ayo cantik!" Diaz Danuarta sangat percaya diri merangkul Emeryl kelantai dansa dan menikmati permainan itu tanpa melepas senyum. Tidak peduli jika tak


jauh dari tempatnya berdiri, ada sepasang bola mata yang begitu kesal melihatnya.


Siapa lagi kalau bukan seorang Kevin. Kehadiran Lana tak membuatnya bersemangat sama sekali. Pria itu merasakan sebuah kecemburuan yang luar biasa. Baru kali ini Ia tidak menyukai tawa Diaz saat bersama seorang wanita. Kebahagian Diaz tidak ubahnya seperti sebuah ejekan yang menyakitkan. Apa lagi menyaksikan wajah Diaz dan Emeryl begitu dekat, Kevin sangat ingin mencabik-cabiknya.


Cukup lama dilantai Dansa, musik tiba-tiba berhenti. Mereka yang ikut berdansa segera di minta kembali ketempat masing-masing. Rupanya Para pelaku pesta tengah menyambut kedatangan Seorang pemuda bermasker yang baru saja memasuki ruangan tersebut. Dialah pemuda yang sangat diistimewakan karena dialah orang di balik terjadinya pesta itu.


Menyadari siapa yang datang, Kevin dan Diaz membulatkan rona matanya. Mereka tidak percaya jika itu adalah sosok yang tidak asing lagi bagi mereka.


"Good night, semuanya. Apa kalian menikmati pesta malam ini?" Elang menatap penuh kebahagiaan. Tapi Diaz dan Kevin merasa itu bukanlah sesuatu yang baik untuk mereka.


"O ya, perkenalkan aku adalah Elang Danuarta. Seorang pemilik perusahaan PT. Elang hitam."


Mendengar nama besar itu, sekejap tamu restoran menjadi ramai. Mereka tidak menyangka bisa datang kesebuah acara orang yang selama ini selalu menutupi jati dirinya.


Elang mengangkat tangan bermaksud meminta mereka untuk berhenti berbicara dan memberikan ruang untuknya menjelaskan siapa dan apa tujuannya.


"Dimana tempat itu menjadi tempat yang dikenal di mana-mana. Tapi aku tidak bermaksud sombong. Sejujurnya aku hanya ingin mengenalkan diri di halayak ramai. Bukankah kalian selalu penasaran akan tampangku yang apa adanya ini?"

__ADS_1


Elang menatap kearah Diaz dan Kevin secara bergantian.


"Halo Pak tua, kenapa pasanganmu lebih pantas jadi anakmu ya?" Elang sengaja menggodanya. "Ups, maaf. Rupanya jiwa tua tapi hati muda kan ya?" Imbuhnya lagi, tanpa perasaan bersalah.


Diaz terus menatap tajam, Ia tidak mau kalah dan memeluk erat tubuh Emeryl didepan Elang supaya dia cemburu.


Elang hanya tergelak. Ia akan membuka semuanya dihadapan orang tentang siapa dia. Karena tujuannya hanyalah satu membuat Diaz kapok atau mau saling membantai. Begitu juga seorang Kevin, ada dendam yang belum usai untuk melakukan perlawanan balik.


Tapi Ia juga tidak munafik, salah satu yang ingin Ia buat menderita adalah Kevin. Dengan begitu menghancurkan Kevin tentu akan lebih muda dari dugaannya.


"Tolong buka maskernya, Bos! Kami sudah tidak sabar mau melihat!" Seru seorang perempuan. Dia adalah seorang model. Perempuan itu mengirim pesan pada awak media untuk meliputi drama di tempat itu.


Benar saja, puluhan awak media segera masuk tanpa izin karena tidak adanya penjagaan di luar yang menghalangi mereka. Elang sudah tahu itu dan ingin melihat reaksi seluruh dunia terhadapnya.


"Ck, apa sih istimewanya dia?" Kevin membuang wajah. Lagi-lagi Ia kesal pada status kemasyhuran pria itu.


"Namanya saja orang kaya, Billionaire muda yang disanjung seluruh lapisan!" Sahut Lana sesukanya. Ia adalah satu wanita yang ikut penasaran dengan tampang pemuda itu. Bayangannya adalah ketampanan Elang setarap dengan Arjuna atau paling gak artis tampan dari korea yang digandrungi banyak para wanita.


"Oke, baiklah. Sepertinya kalian sangat tidak sabar. Aku punya sedikit kemiripan dengan pria tua itu!" Elang menunjuk Diaz Danuarta. "Bedanya, aku bergerak di bidang kewarasan," Papar Elang lagi. Butuh proses dan waktu yang tepat sampai dititik ini.


Menemukan kerikil dan berbagai sandungan dalam hidup telah membuatnya menjadi lelaki yang tangguh. Dengan santai Elang membuka penutup dikepalanya dan perlahan-lahan Elang juga menarik masker yang sudah menjadi teman hidupnya.


Beberapa menit berlalu, mereka yang bisa melihat tampang Elang tanpa penutup sontak berdiri kaget. Pria itu adalah seseorang yang tak asing lagi bagi Diaz dan Kevin maupun juga Lana.


"What? Benarkah ini?" Lana tidak percaya dengan apa yang ada didepannya.

__ADS_1


"Apa kau sedang bermain-main, ha? Aku sungguh tidak percaya ini?" Tanya Kevin. Sungguh itu diluar nalar, seorang cecunguk rendahan yang kumel dan tidak ada pantas-pantasnya menjadi orang ternama rupanya telah menyihir mereka.


Elang menggidikkan bahu tanpa beban.


"Kenapa tidak? Apa aku terlihat bergurau?"


"Lalu apa alasanmu menjadi orang lain, ha? Dan, kenapa bisa kamu berada ditempat yang sama dalam sewaktu-waktu?" Kevin benar-benar hilang kendali. Pemuda itu mendekat dan ingin menghajar Elang tapi seseorang menghalanginya.


"Jangan gegabah, Bos. Kamu harus sadar, kenyataan memangnya menyakitkan tidak bisa di bayangkan dengan akal sehat dan pikiran!" Tandas Seorang Jack, yang juga ikut ambil bagian dalam pesta.


"Ta_ tapi dia hanya sopir dan bawahan ku, jadi mana mungkin aku percaya. Bahkan aku melihat dia mengejar seseorang yang kami pikir adalah Elang pada pertikaian itu. Sedang Elang lainnya ada berkelahi denganku di dalam?" Kevin terus memaparkan apa yang menari dibenaknya.


Dia hampir gila membayangkan apa yang tidak mungkin ada dalam otak nya tiba-tiba terjadi begitu mudahnya.


"Mungkin kau melupakan sesuatu, kawan? Aku bisa membuat Elang 1, 2, dan 3 jadi bukan tidak mungkin aku bisa membuat Elang ke empat.


"Brengsek, jadi selama ini kau menipu kami!" Kevin mencengkram kerah baju Elang.


"Kau melupakan sesuatu?" Bisik Elang ditelinga Kevin. Ia lupa jika diruangan itu ada banyak awak media yang meliput. Dengan sangat terpaksa, Kevin melepaskan Elang. Ia tidak habis pikir jika rencananya selama ini telah menjadi sia-sia.


"Dasar, musuh dalam selimut!" Hardik Kevin, geram. Pantas saja setiap siasat mereka selama ini , semuanya selalu berakhir gagal.


"Kau tidak bisa menyalahkan diri sendiri, Bos. Aku terlaku cerdik orangnya?


"Heh, kau ingat tragedi pembakaran di sebuah kontrakan!" Elang berdecih dengan rasa yang membara. Sudah cukup rasanya Ia bersembunyi di balik topeng kepalsuan menjadi seorang cecunguk yang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2