Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 36 Kiriman


__ADS_3

Elang makan dengan lahap, Ia juga mengajak Jack makan bersama untuk mempersingkat keberangkatan mereka. Ia ingin membawa Emeryl pergi berdamai dengan suasana kelam yang selalu datang silih berganti.


"Mom, pastikan Abimanyu tidak merusak kebahagiaan Kak Tania selama aku tidak ada," Pesan Elang diakhir kegiatannya.


"Iya, iya, Mommy akan melihat bagaimana sikap Abimanyu sekarang ini," Jawab Mommy Diana. Ia sangat yakin jika Abimanyu adalah pria yang bisa diandalkan.


"Bagus, aku belum menyelidiki pria itu," gumam Elang, spontan.


"Ihk, ngapain mau nyelidikin Mas Abimanyu," sahut Tania, ketus. Perempuan itu mencebikkan bibir sambil berlalu dari hadapan mereka.


"Harusnya jangan bicara didepan Kakak mu, Lang. Dia itu sangat sensitif orangnya." Eyang Kanesty menengahi.


Elang hanya bereaksi menggaruk pelipisnya, ia memang tidak sadar mengatakan hal itu secara langsung didepan Tania yang cenderung mudah tersinggung.


"Oke, Eyang, Mom. Elang pergi dulu ya. Kemungkinan kami akan seminggu disana." Elang bangkit dan memeluk Eyang Kanesty dan Mommy Diana bergantian. Emeryl tidak tinggal diam. Ia ikut berpamitan meski hanya sekedar mencium tangan Eyang Kanesty.


"Eyang, maaf ya jika Emer sudah menyusahkan disini," ujar Emer, penuh rasa hormat.


"Tidak masalah, Eyang menyukai keberadaanmu disini." Wanita tua itu mencubit pelan pipi Emeryl. Gadis itu tersenyum semanis mungkin lalu beralih ke Mommy Diana.


"Tidak usah, aku tidak sudi di sentuh wanita seperti dirimu. Jika kau adalah gadis yang baik mana mungkin kau mau berada di satu ruangan tertutup dengan Putraku," Cicit Mommy Diana.


Emeryl menarik tangan yang menggantung itu, Ia menundukkan wajah karena malu. Mommy Diana benar, dia memang bukan wanita baik-baik. Faktanya Elang sudah berhasil merampas kesucian nya pada malam itu meskipun terjadi sekali selama kebersamaan mereka.


"Sudahlah, Sayang. Ayo kita berangkat!" Elang merangkul pundak Emer keluar. Jack sendiri hanya membungkukkan badan pada dua wanita tersebut lalu mengekor dibelakang Elang dan Emer. Pesawat pribadi sudah menanti kedatangan mereka. Mereka akan naik helikopter di sebuah lahan terbuka dekat dengan rumah.


"Bos, silakan masuk !" Titah salah seorang pilot kepercayaannya. Elang melangkah lebih dulu lalu mengulurkan satu tangannya pada Emeryl.

__ADS_1


Gadis itu rupanya agak ketakutan dan ragu-ragu mau naik. Sebab itu adalah kali pertamanya bisa naik kendaraan udara yang memiliki kecepatan lebih kencang dari pada kendaraan roda empat.


"Ayolah, Sayang. Kau tidak perlu merasa takut. Ada aku yang akan menjagamu!" Elang meyakinkan diri. Meski takut itu tidak juga berkurang, Emeryl akhirnya menyambut tangan Elang untuk masuk diikuti Jack dibelakang mereka.


"Kau masih takut?" Elang memperhatikan wajah pasi yang terus saja menghiasi guratan pipi Emeryl.


"Iya, aku takut. Ini kan pasti akan terbang tinggi nanti. Bagaimana jika tiba-tiba jatuh kebawah dan menabrak pepohonan apa aku akan mati?" Emeryl tak henti-hentinya meremas kedua tangan yang banjir oleh keringat dingin.


"Kalau begitu bersandarlah di pundakku!" Elang menggaet kepala Emer ke arah tubuhnya. "Apa ini bisa mengurangi?" Elang bertanya lagi.


"Entahlah, aku masih deg-deggan," jawab Emeryl jujur.


Beberapa saat berlalu, helikopter tersebut lepas landas. Perlahan-lahan benda canggih itu melambung ke udara dan melesat dengan sangat aman. Emeryl yang tidak merasakan keanehan langsung kegirangan. Ia pikir, dirinya tidak mampu merasai angin yang besar di atas pepohonan. Tapi ternyata itu semua tidak sesuai dengan pemikiran buruknya.


"Wah, ternyata asik juga ya naik pesawat. Lihat itu banyak pemandangan indah yang bisa dilihat dari sini." Emeryl menunjukkan segala macam penghijauan yang tersaji di bawah sana. Bahkan Ia bisa melihat persawahan yang luas terhampar dari tempatnya berada.


Gadis itu nyengir kuda, Ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Elang. Entah kenapa rasa malu pada sosok pemuda itu perlahan memudar.


"Oke, Jack apa kau sudah meminta seseorang mengirim barang yang aku pinta!" Elang beralih pada Jack yang duduk disamping pilot.


"Sudah, Bos. Aku yakin orang tersebut sudah sampai dirumah Kevin saat ini," Jawab Jack, yakin.


"Bagus, aku mau lihat bagaimana reaksinya kali ini," Seringai Elang, picik.


Benar saja, Kevin yang masih berkumpul dengan Damar, Petir dan Lana di kagetkan oleh salah satu anak buahnya yang membawa seorang kurir masuk kedalam.


"Maaf, Bos. Ada kurir yang ingin mengantar barang," kata anak buahnya.

__ADS_1


"Untuk siapa ya? Kau memesan sesuatu, Lana?" Kevin menatap istrinya yang menggeleng.


"Anda salah alamat, Pak. Kami tidak memesan apa pun," Ujar Kevin, menegaskan. Ia hendak beranjak kedalam tapi kurir itu menahannya.


"Anda memang tidak memesan, Pak Kevin tapi ini adalah pesanan Pak Elang yang diperuntukkan untuk anda," ujar kurir itu. Ia menyerahkan sebuah bungkusan besar berlapiskan kertas kado dengan rapi.


Ragu-ragu Kevin menerimanya, Ia cukup penasaran untuk melihat apa isi yang dikirimkan Elang kepadanya.


Karena pekerjaan telah usai sang kurir berpamitan pergi.


Kevin yang tidak sabar langsung merobek bungkusan itu dan melihat ada maff, cek dan Foto milik Alena didalamnya.


"Apa ini? Elang mau menerorku?" Kevin meraih maff itu dan segera membaca isinya. Rupanya itu adalah surat keterangan cerai agar Kevin segera menalak Emeryl. Sebab Elang tidak bisa meminta mereka bercerai secara hukum karena pernikahan sirih keduanya.


"Bangsat, jadi perempuan itu sudah menikmati jalan ceritanya yang mengenaskan itu bersama Elang," hardik Kevin dengan dada yang membara. Ia benar-benar merasa sedang dipermainkan oleh pria itu. Disana juga ada selembaran surat yang ditulis dengan tangan oleh Elang.


(Aku sudah membayar Emeryl dengan sangat mahal. Maka hari ini kau harus menelpon Emeryl dan menalak dia sebanyak tiga kali, agar kau tidak perlu lagi melihat wajahnya...)


(Di dalam sana juga amplop coklat sebuah cek sekitar 1 Triliun sebagai jaminan. Anda bisa mencairkan uang tersebut di bank mana saja di Ibu kota)


Kevin semakin tertantang dengan niat Elang. Ia tidak akan mungkin membiarkan Emeryl bahagia bersama nya. Sedangkan Ia sendiri belum puas untuk membalas dendam.


"Tidak, ini tidak mungkin. Aku akan membuat perhitungan denganmu Elang!" Teriak Kevin, emosi.


Ia membuka surat itu dan melanjutkan membaca isinya.


(Oya ini Alena, biar ku beri tahu siapa dia sebenarnya. Ya, dia adalah Kakak perempuan pertamaku yang mati karena telah kau bunuh secara sadis. Mulai sekarang, Aku akan membuat mu seperti di neraka, Kevin)

__ADS_1


"Astaga, jadi Alena Kakak nya Elang, Bang?" Damar yang ikut penasaran dan membaca sampai tak percaya dibuatnya.


__ADS_2