Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 32 Mengingatkan


__ADS_3

Kevin terdiam, Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada beberapa tahun yang lalu, dimana Ia telah memperkosa seorang gadis cantik dan menggaulinya sampai meninggal. Akibat panik dan bingung, Kevin akhirnya membakar rumah kontrakan itu secara sengaja pada waktu sepertiga malam. Kemudian mengecoh semua orang kalau kebakaran itu terjadi seakan-akan adalah suatu kecelakaan.


"Kau ingat, Bos?" Elang menepuk bahunya. Ia tahu Kevin sangat syok karena baru mengetahui kalau Elang telah melihat semuanya.


Kevin mengeratkan gigi, Ia kesal dan marah atas penghinaan Elang lekas ingin pergi. Tapi sayangnya, Elang belum selesai.


"Eits, tunggu dulu! Kau masih harus melihat kejutan dariku berbarengan dengan Bos Diaz!" Elang tersenyum simpul, lalu melirik Diaz.


Pria paruh baya itu tidak tinggal diam, Ia merangkul Emeryl untuk membawanya pergi.


"Jangan terlalu berna_su begitu, Bos. Yakin, tidak mau buka cadarnya?" Elang kembali menjahili. Dia sangat suka melihat wajah Diaz dilipat seperti itu.


Elang kemudian mendekat, Ia mengangkat kedua tangannya lalu mencubiti pipi Diaz yang mulai bergelambir. Sensasi itu begitu menyenangkan, dan itu menjadi yang pertama kali seumur hidupnya.


"Tuan yang terhormat, tidak kah kau penasaran sama wanita yang ada disampingmu? Kau yakin dia adalah wanita pujaanmu?" Elang mengulangi ucapannya. Ia terus meledek Diaz tanpa merasa takut. Bukan tidak mungkin itu akan menjadi bumerang untuknya.


Diaz sedikit acuh tak acuh, tapi mendengar perkataan Elang, Ia harus membuktikan sendiri siapa wanita di balik cadar itu. Tanpa banyak cingcong, Diaz menarik Cadar wanita yang dikiranya seorang bidadari dengan kasar.


"Apa?" Diaz dan Kevin yang masih membelakangi posisi mereka akhirnya terpancing untuk mengecek secara langsung.


"Astaga, Kenapa bisa begitu?" Kevin terkejut bukan main. Malam yang begitu indah seketika berubah menjadi gelap gulita. Dada Kevin sampai bergemuruh melihatnya.


Siapa sangka, wanita yang bersama mereka memang lah seorang kupu-kupu malam. Nasib baik Elang memilihkan yang cantik, jadi Diaz tidak akan dirugikan.


"Ini namanya Mawar, dia adalah bidadari tercantik penghuni rumah Cemara. Bersenang-senanglah Tuan!" Elang membungkukkan badan.


Diaz hendak merogoh pistol dari saku bajunya, Ia tidak terima dengan perlakuan tersebut. Tapi belum juga diperlihatkan, Petir datang mencegahnya.


"Jangan Bos, disini banyak wartawan. Kita bisa di pidana mati jika ketahuan pihak berwajib," ujar Petir lirih.


"Aku tidak takut," Jawab Diaz, emosi.

__ADS_1


"Aku tahu, Bos. Tapi kita bisa menyusun rencana untuk Membalas penghinaan Elang, bukan?" Petir berusaha semampunya untuk meyakinkan Diaz, sebab Ia tidak ingin ada korban jiwa yang tidak bersangkutan ikut terseret akan kejamnya sebuah perkelahian.


Diaz akhirnya terbujuk, Ia mengurungkan niatnya dan membawa Mawar bersamanya pergi. Meski dia bukan Emeryl, Diaz tidak peduli. Sebab, dimatanya semua wanita sama saja.


"Mawar, tolong layani dia dengan baik. Buat ranjangnya bergetar sehebat yang kau bisa!" Teriak Elang dari kejauhan. Mawar tidak merasa takut, sebab Diaz tidak mungkin membunuhnya toh, Elang juga sudah membayar Ia dengan uang yang sangat menggiurkan. Kalau sesuatu yang buruk tetap terjadi, Mawar rela. Asalkan Keluarga yang ditinggalkannya diberi tunjangan hidup yang mencukupi.


"Brengsek, aku tidak akan membiarkan penipuan ini, Elang!" Kevin sangat amat geram namun tetap berusaha tenang. Ia memutuskan membawa Lana dan Petir dari tempat itu.


Elang bersorak, Ia sudah membuat kejutan hebat yang tidak akan bisa dilupakan sepanjang masa. Sekarang saatnya Ia bisa melakukan apapun tanpa harus menutupi jati dirinya.


"Oke, ini adalah pesta kita. Silakan nikmati semua makanan disini!" Elang memberi kebebasan.


Tentu saja semua yang ada disana tidak membuang kesempatan. Ada beberapa yang berlari kemeja prasmanan untuk memilih menu kesukaan. Secara makanan disana adalah makanan berkelas dan ada juga sebagian para cewek-cewek yang tidak melewatkan kesempatan meminta Foto bersama dengannya.


Melihat suasana kondusif, ELang mengajak Jack pergi. Ia harus pulang karena ada urusan yang belum selesai.


"Bos, kau lihat tampang mereka tadi? Seorang sopir bisa jadi seorang yang diagungkan? Sungguh ini membuat semua orang terkagum-kagum dibuatnya!" Seru Jack. Mereka masih berada dalam sebuah mobil mewah yang harganya Milyaran rupiah. Hanya orang-orang yang punya uang Jutaan milyar dolar yang sanggup membelinya.


"Tapi, Bos. Bagaimana pun dia adalah orang yang membuatmu lahir ke dunia ini," Ujar Jack, mengingatkan.


Elang menatap Jack dengan slow, Ia mengukir senyum jahat namun penuh luka dihatinya.


"Justru itu Jack, aku ingin Ia mendapatkan balasan agar Ia jera," Jawab Elang. Ia berusaha mengatur nafas yang terasa penuh didadanya.


Cukup lama menempuh jarak dan waktu, Elang dan Jack memasuki rumah bak istana miliknya. Keduanya langsung disambut oleh sang Eyang yang sejak lama menunggu cucunya pulang.


"Malam Eyang, udah jam segini kok belum tidur?" Elang mengecup kedua pipi perempuan itu. Kasih sayang terus saja tercurah, tidak peduli musim badai atau masa kemarau panjang, kasih sayang akan terjaga sampai kapanpun.


"Tumben kau tidak lagi bermasker, ha? Apa bonyok di wajahmu sudah sembuh?" Eyang mengapit kedua wajah Elang dengan tangan ringkihnya.


Elang menggeleng. "Eyang selalu saja membuat hatiku senang." Elang kembali memeluk wanita tua kesayangannya itu..

__ADS_1


"O ya Mama sama Kak Tania kemana?" Tak biasanya kedua orang itu mengabaikan dirinya.


"Sudah tidur, istirahatlah!" Titah Sang Eyang penuh kelembutan. "Jack menginap saja disini, besok kamu bisa pergi bersama dengan Elang!"


"Iya Eyang, saya memang berencana mau melihat gadis cantik yang sedang Bos Elang sembunyikan," guyon Jack.


Plok!


Elang sedikit malu, dengan spontan memukul pundak Jack.


"Kebiasaan, jangan lama-lama membawa anak gadis orang, Cucuku. Berbahaya nantinya," Cibir perempuan tua itu.


"Baiklah, Eyangku yang paling cantik, kalau gitu aku kekamar dulu, dan kamu Jack, tidurlah! Besok kita harus pergi ke Bali!"


"Siap, Bos."


Elang bergegas kekamar, Ia membuka pintu pelan-pelan takut jika Emeryl terkejut saat melihatnya tanpa penutup wajah. Tapi tidak disangka-sangka kalau Emeryl telah menyiapkan apa yang sering dilakukannya yaitu mematikan lampu yang menyala.


"Kau sudah pulang?" Pertanyaan Emeryl terkesan konyol. Seperti seorang wanita yang sedang menunggu suaminya tak kunjung pulang.


"Kau dimana?" Elang tidak melihat apa pun.


"Aku ada di sini!" Emeryl tidak mengatakan letak persisnya. Tapi Elang yang cerdik dapat melihat gerakannya.


Pemuda itu berjalan hati-hati menghampiri Emeryl. Ia khawatir gadis itu telah menyiapkan sesuatu yang membahayakan nyawanya.


"Kau sengaja melakukan ini?" Seloroh Elang. Kini keduanya sudah saling berdekatan. Emeryl sepertinya tengah duduk dipangkal ranjang memeluk kedua kakinya.


"Aku mau bicara," Kata Emeryl, sayu.


Elang mengernyit bingung. "Soal?"

__ADS_1


"Aku mau memberikan hidupku padamu. Asalkan aku bisa terlepas dari Kevin dan pria tua itu!" Terdengar jelas isakan dibalik suaranya.


__ADS_2