Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 11 Undangan


__ADS_3

Kevin tidak menoleh lagi, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di rasa sudah agak jauh dari villa tersebut, Ia menghentikan mobilnya dan menoleh kebelakang. Rasa penasaran yang ingin Ia buang jauh-jauh tetap saja menggelayut didada nya akan sosok Pria bernama Elang itu.


"Aku benar-benar tidak percaya ini? Kenapa Elang sangat rapat menyimpan wajahnya, ya? Apa yang sebenarnya Ia sembunyikan dari orang lain?"


Kevin mencoba berpikir keras, Ia harus memikirkan ide untuk dapat melihat Elang secara detail. Ia tahu pasti, nama Elang memang sangat terkenal, tapi sampai saat ini tak ada satu pun orang yang tahu akan jati dirinya.


"Gila, apakah aku perlu menyelidikinya di kantor PT. Elang Hitam? Tapi, bagaimana caranya aku bisa masuk kesana?"


Berkali-kali berpikir, tak juga membuahkan hasil. Kevin memutuskan melajukan mobilnya sambil mencari jalan keluar.


Drrrrrrr!


Ponsel Kevin, berdering. Kevin menggapai ponsel di dalam jaketnya dan melihat pemanggil yang menghubunginya.


"Astaga, kenapa lagi Bos menghubungiku?" Kevin menghentikan mobilnya lagi, dengan malas-malasan, Ia terpaksa menerimanya. Karena menolak panggilan Diaz Danuarta sama saja dengan bunuh diri masuk kedalam kandang serigala.


"Halo, Bos!"


"Cepat datang sekarang juga, aku ada perlu!" Perintah Bos adalah suatu kewajiban yang harus Ia taati.


"Baik, Bos. Saya segera kesana."


Kevin mematikan ponselnya dan melempar benda pipih itu ke kursi disebelahnya. Lalu memutar mobilnya kearah yang berlawanan.


Cukup beberapa menit, Kevin menghentikan mobilnya di depan rumah mewah layaknya istana. Banyak penjaga berjaga di depan gedung.


"Bang, cepat masuk. Bos sudah menunggu sejak tadi!" Ucap salah seorang anak buahnya.


Kevin mengacungi jempol tanda mengerti, dengan langkah tegapnya Ia segera masuk dan melihat Diaz Danuarta dan para Sohibnya sedang berpesta miras.


"Bos...!" Panggilnya, mengenal satu persatu orang disana.


Diaz menatap dengan senyum simpul, kemudian menyambut kehadiran Kevin.


"Hai, Kevin. Datang juga kamu, duduk!" Dua orang perempuan cantik, menggandeng tangannya mendaratkan bokong di sofa yang sudah diperuntukkan spesial untuknya.


"Ayo minum!" Titah Diaz, dengan tangannya sendiri Bos besar itu menuangkan satu gelas bir yang disodorkannya untuk Kevin.


"Thanks, Bos." Kevin menerima dan langsung meneguknya. Tidak peduli jika semua orang yang ada disana sedang mengamatinya.

__ADS_1


Usai minum, Kevin menanyakan apa sebab Ia di panggil untuk datang. Karena Diaz Danuarta tidak akan melakukannya jika Ia tidak ada maksud tertentu.


"Bos, apa kah ada hal yang penting?" tanya Kevin. Pria itu membalas tatapan Diaz. Jujur saja Kevin bukan pemuda yang penakut pada siapapun. Meski itu adalah Dias Danuarta seorang Mafia besar yang di segani.


Diaz tersenyum mengejek, Ia kemudian menengadahkan tangannya pada ajudan di samping nya duduk, dan dengan patuh nya, pria tersebut memberikan ponsel itu kepada Diaz.


"Kau lihat ini!" DiaZ menggeser ponsel itu didepan Kevin.


Kevin menunduk, Ia mengamati secara seksama ada beberapa Foto Emeryl yang di pajangnya di sosial media siang tadi.


Astaga, aku melupakan ini...


"Benar itu istri sirimu?" tanya Diaz lagi.


Melihat apa isinya, Kevin mengangguk. Kevin sudah tahu maksud dari Diaz, namun Ia pura-pura bersikap santai seolah tidak tahu apa pun.


"Kenapa kau menjualnya?" Seloroh Diaz lagi.


Kevin tersenyum kecil. "Saya butuh uang," jawab Kevin singkat, padat dan jelas.


Prok! Prok! Prok!


"Good, Kevin. Kamu pasti sedang mengumpulkan uang itu. Aku punya penawaran bagus yang akan menguntungkan dirimu!' ujar Diaz.


Kevin mengerutkan dahi. Pasti ada sesuatu yang Diaz maksudkan.


Melihat ekspresi seorang Kevin yang belum membuka celah. Diaz mengurai pelukan seorang gadis dari pundaknya lalu beranjak menghampiri Kevin.


"Aku tahu, kau sedang kebingungan, bukan? Tapi aku rasa ini memudahkan mu?" bisik Diaz, lirih.


"Soal apa, Bos?" tanya Kevin, lantang.


"Hahaha...." Mendengar pertanyaan Kevin, Diaz kembali tertawa. Seakan-akan itu sebuah lelucon yang tidak berarti.


"Bos, mohon beri penjelasan!" Ujar Kevin, nyalang. Ia memang tidak suka sesuatu yang berbelit-belit.


"Berikan gadis itu untukku, maka hutangmu ku anggap LUNAS," Jawab Diaz, dengan nada yang ditekankan. Pria hampir separuh abad itu melanjutkan menikmati bir pada gelas mini dalam genggamannya.


Sesaat Kevin termangu, Ia tidak mungkin langsung menyetujui permintaan Diaz. Sebab Emeryl tengah berada pada orang yang sama besarnya dengan Bos Mafia itu.

__ADS_1


"Kasih aku waktu 3 hari," Jawab Kevin.


Diaz menatap dengan pandangan tidak suka, tapi kemudian ia terkekeh lagi. "Kenapa harus selama itu, Kawan?" Tanya Diaz.


"Dia sedang mengalami tamu bulanan, Bos. Tidak asyik kan jika kau bermain dengannya." Kevin beralasan.


"Wah, wah, wah.. Kau jujur Kevin, apa kau sudah memeriksanya? Oh ya, saya lupa. Dia adalah istri keduamu, ya?"


Kevin mengangguk bohong. Ia harus pandai bersiasat agar tidak mengembalikan cek 10 M di tangannya.


"Baiklah, saya akan menunggu kau datang mengantarnya. Buat dia se menggoda mungkin saat menginjakkan kaki ditempat ini?"


"Oke, Bos." Kevin tidak akan bisa menolak keinginan Diaz.


Pria berwajah garang itu kembali duduk ditempatnya, Ia tak segan mencium bibir wanita disampingnya didepan orang banyak.


"Kau memang pejantan tangguh, Diaz. Sudah hampir beruban pun kau suka bocah ingusan!" Sahut salah seorang rekannya.


"Heh, tentu saja. Pria tua juga punya minat, bukan? Apa lagi jika itu barang baru?" Jawab Diaz, enteng. Lagi-lagi menyeringai kearah Kevin.


"Em... Bos, diakan istri Kevin. Berarti Kevin sudah mencicipi dulu dong?" Timpal yang lain lagi. Usianya masih kisaran 35 tahun.


Diaz tersenyum miring. "Tidak masalah, usianya masih 19 tahun. Itu artinya, kerusakannya tidak terlalu fatal. Lagian baru seminggu kan Kevin menikahinya? Aku yakin, Kevin belum sepenuhnya memakai barang bagus itu?"


Mendengar pendapat mereka, Kevin merasa tidak nyaman. Ia bahkan belum pernah menyentuh Emeryl sama sekali, bagaimana bisa Diaz berpikir demikian.


"Baiklah, Bos. Terima kasih atas waktunya. Aku boleh pergi!"


"Hei, tunggu, Vin. Kenapa terburu-buru? Apa kau tidak ingin bersenang-senang dahulu. Pilihlah salah satu wanita yang ada disini?" Tawar Diaz Danuarta.


Kevin memandangi semua wanita tersebut, tapi sayang tidak ada satu pun yang membuatnya tertarik.


"Tidak, Bos. Aku harus pulang, Lana baru saja keguguran," jawabnya berterus terang.


"Wah, malang sekali. Oke, baiklah. Aku tunggu kedatangan wanitamu ke istanaku!" Diaz mengingatkan. Ia bangkit dan menyisipkan satu bungkus benda berwarna putih ke saku Kevin.


"Nikmati ini, Sobat. Aku tahu hanya ini yang bisa menemanimu!"


Kevin mengangguk. "Terima kasih, Bos. Atas hadiahnya!" Kevin menundukkan kepala dan bergegas keluar dari rumah tempat berkumpulnya para manusia bebas tersebut.

__ADS_1


Tidak ada moral, Akhlak, rasa malu atau pun Kebajikan di dalamnya. Semua yang ada disana hanya bertujuan untuk bersenang-senang. Memilih wanita yang dikehendaki atau lupa diri akan minuman beralkohol di tambah obat-obatan terlarang lainnya.


__ADS_2