
Di tempat lain, Kevin terus saja uring-uringan. Ia sangat marah karena telah berhasil di bohongi lewat tipu daya anak buahnya sendiri.
"Sial! brengsek! Kenapa aku bisa kecolongan sih, ini benar-benar sangat memalukan! Aku terlalu bodoh untuk bisa menyadari kepalsuan Totok selama ini!"
Lana dan Petir hanya mematung. Ia lebih memilih mendengarkan dari pada memberi solusinya.
"Apa, Bang? Totok? Ada apa dengan dia?" Sahut Damar yang tiba-tiba sudah ada di ruangan itu.
Kevin menggeleng. "Dia sudah menipu kita, Damar!" Teriak Kevin, geram.
Damar menoleh kearah Petir dan Lana. Keduanya tetap tidak bersuara sama sekali untuk menjelaskan duduk perkaranya.
"Ada apa, Bang? Tolong jelaskan secara rinci?" Damar tidak sabar ingin mendapatkan kejelasan dari marahnya Kevin.
"Kau tahu siapa, Totok kan?" Kevin balik bertanya. Ia masih kesulitan menguasai diri. Pengkhianatan Totok tidak akan pernah mungkin termaafkan.
"Iya, ada apa dengan Totok?" Damar belum sepenuhnya paham.
"Ternyata, Totok itu Elang, Mar," jawab Kevin, dengan nada yang meletup-letup. "Dia adalah musuh dalam selimut. Aku yakin penjualan obat ilegal yang kita kirim ke Singapura gagal itu terjadi karena Ia ikut andil menghancurkannya!" Lanjut Kevin lagi belum usai.
"Apa? Jadi dia adalah orang yang sangat dekat dong dekat kita?" Damar tidak habis pikir.
"Tentu saja, dia benar-benar menyembunyikan jati dirinya dengan sangat rapat hingga tidak tercium olek kita." Kevin melemparkan bokongnya ke sofa. Berulang-ulang mengusap wajah tetap saja tidak membuatnya merasa tenang.
"Brengsek sekali si Elang itu, apa tujuannya menjadi penyusup, Bang?" Damar ikut duduk disamping Lana.
"Dia pasti ada misi tertentu," Sahut Lana, acuh tak acuh. Damar dan Kevin langsung menodong kearahnya. Mereka baru sadar jika itu adalah jawaban yang tepat, dan harus mencari tahu apa niat Elang di balik penyamarannya.
"Misi apa ya, Bang? Apa dia punya dendam sama, Abang?" Damar mulai menggali lebih dalam tentang apa yang masih Kevin sembunyikan darinya.
__ADS_1
"Aku pernah membunuh seorang wanita setelah ku perkosa," jawab Kevin.
Damar dan Lana menganga.
"Apa hubungannya dengan Elang, Bang?" Tanya Damar, untuk kesekian kalinya. Karena jawaban itu akan membuka jalan mereka untuk melakukan sesuatu dikemudian hari.
"Entahlah, tapi yang pasti dia mendendam karena hal itu." Kevin mengingat lagi, bagaimana sadisnya Ia mengagahi seorang gadis cantik bernama Alena pada saat mengantar obat yang dipesannya. Kevin sendiri sadar, jika waktu itu keadaanya masih sangat sulit, dan dia memiliki na_su yang luar biasa pada usianya masih 17 tahun. Jadi dia yang gelap mata akhirnya nekat menyetubuhi Alena sebagai korban pertamanya.
Awalnya Kevin tidak akan menghabisi nyawa Alena, tapi karena gadis itu hendak menikamnya dengan pisau. Ia hilang kendali dan menghunuskan senjata itu ke perut Alena sampai bersimbah darah. Na'asnya dalam waktu yang amat sangat singkat, perempuan itu sudah meninggal.
"Mungkin mereka punya hubungan saudara, Bang. Itu sebabnya dia seperti itu. Anggap saja seperti hubungan kamu dengan Dimas gara-gara kematian Kayla," tukas Damar kemudian.
Kevin mengangguk. "Mungkin saja, tapi aku tidak akan membiarkan ini. Elang harus membayar semuanya. Hari ini dia harus mengembalikan Emeryl ke tanganku!" Kevin mengepalkan tangan. Tidak sabar rasanya Ia menghajar wajah Elang hingga pria itu menyesali perbuatannya.
"Kau harus mengatur siasat yang matang untuk itu. Kau tahu kan Bang. Elang bukan orang sembarangan, kita tidak akan bisa dengan mudah menghancurkan dirinya hanya dengan tangan kosong," ucap Damar, menyarankan.
.
.
.
Elang dan Emeryl sudah selesai berkemas. Mereka tidak memakai baju dalam satu ruangan. Elang tahu Emeryl tidak mungkin mau melakukan itu. Jadi dia memutuskan mengalah bersiap dikamar yang lainnya.
Keduanya bertemu di anak tangga, Elang terpesona dengan kecantikan natural yang ada pada sosok Emeryl. Ia terus saja memandangi tubuh kecil itu dari atas sampai bawah. Hiasan ala kadar dan dress selutut melekat sangat cantik di sana.
"Kau cantik, Sayang. Semoga bertambahnya usiamu, dada kecil disana akan membentuk dengan sempurna." Pemuda gagah nan tampan tersebut mengedipkan sebelah mata. Ia selalu saja mampu membuat Emeryl tidak bisa percaya diri.
"Ayo...!" Elang mengulurkan tangan kearah Emeryl dan dengan sangat terpaksa gadis itu menyambutnya dengan pelan.
__ADS_1
"Bagus, kita akan menjadi pasangan yang solid," tandas Elang, lagi. Keduanya berjalan beriringan menuju kemeja makam. Perhatian Elang tercurah begitu saja pada Emeryl. Ia bahkan tidak segan menarik kursi disebelahnya agar Emeryl bisa duduk.
"Kau mau makan apa, Sayang?" Tanya Elang. Tidak peduli Mommy Diana dan Tania terus menatap Emeryl dengan sangat sinis.
"Apa saja," jawab Emeryl lirih.
Elang pun bergerak menyiapkan untuk Emeryl. Ia asal mengambil sayur dan lauk pauk berharap Emeryl menyukai semuanya.
"Tunggu dulu!" Cegah Mommy Diana. "Seharusnya dia yang melayani mu, Sayang. Bukan malah sebaliknya. Dia itu bukan ratu hanya calon istri yang belum tentu menikah," Ujarnya terang-terangnya. Dia sengaja menunjukkan ketidak sukaan nya pada Emeryl agar gadis itu memutuskan hubungan dengan Elang.
"Gak papa, Mom. Diakan pacar Elang. Nanti kalau dia udah jadi istri, ELang. Dia akan selalu menjadi pelayan setia Elang dalam segala hal, bukan begitu, Sayang?" Elang menatap lekat wajah Emeryl berbarengan dengan satu suapan pertama yang terulur didepan bibir wanita cantik yang kini mulai berkaca-kaca.
Meski ragu, dia membuka mulutnya menerima suapan itu. "Terima kasih, Bang!" Ucap Emer.
Elang terkekeh kecil. "Ya ampun, Sayang. Kau lupa, aku kan sudah bilang panggil aku dengan sebutan, Sayang atau paling gak My husband lah biar terdengar romantis."
"Is, menjijikan," gumam Mommy Diana tidak terima. "Kau mungut perempuan ini dimana sih, Lang?" Tanyanya, tanpa rasa hormat.
"Diana, ada apa denganmu?" Eyang Kanesty mulai tidak menyukai sikap berlebihan putrinya itu.
"Maaf, Mama. Aku kurang setuju Elang berhubungan dengan gadis itu. Bibit, bebet dan bobotnya saja jauh dari kata sempurna."
Eyang Kanesty menggeleng. "Kau melupakan masa lalumu itu sebabnya kau jadi sombong dan angkuh pada kehidupan di bawahmu," Ucap perempuan itu dengan bijak.
"Okelah, ini mau sarapan atau ngurusin gadis itu sih, ayo sarapan. Aku buru-buru mau jemput Mas Abimanyu nanti," ucap Tania mulai kesal. Ia memutuskan menikmati sarapannya tanpa perdulikan lagi perdebatan yang belum usai itu.
"Kapan Mas Abimanyu menelpon?" Elang membiarkan Emeryl makan seorang diri karena dia juga butuh imun untuk melanjutkan niat mereka pergi ke Bali.
"Semalam, katanya dia akan pulang lebih cepat agar bisa sampai disini lebih pagi dari biasanya."
__ADS_1