Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 21 Keributan


__ADS_3

Dress itu hampir saja terlepas, akan tetapi sekelat gerakan mampu menahan bajunya dari belakang, dan itu megundang perhatian semua orang. Seperti biasa, pria itu menutupi seluruh wajahnya dan dia berdiri di samping Emeryl dengan tatapan menantang kearah Diaz Danuarta.


"What? Siapa kau?" Diaz nampak sangat marah. Ada yang berani datang dan membuat kekacaun.


Pria bermasker dan memakai penutup jaket di kepalanya berdecih liar, Ia memandang tanpa mengedipkan matanya sama sekali.


"Heh, perlukah ku perkenalkan diri?" Menjawab dengan tegas.


Diaz beranjak dari duduknya dan mendekati Pria itu. "Kau mau mampus ya?" Ancaman Diaz hanya di tertawa kan olehnya.


Dia dengan sangat tenangnya menaikan lagi dress di baju Emeryl dan memalingkan wajahnya kearah Kevin. Pria itu mengeraskan rahangnya sambil menatap sinis.


"Dia masih ada dalam kendaliku. Apa kau lupa, waktu yang ku minta adalah 3 hari," Kata pria tak berwajah itu.


Mereka saling berpandangan dan itu membuat Diaz terbahak-bahak.


"Kevin, akan mengembalikan uangmu seutuhnya!" Diaz meraih sebuah cek bermaterai dari saku baju yang Ia persiapkan untuk Kevin.


"Bawa saja ini, dengan begitu hutangmu lunas!" Diaz menggampangkan apa yang tidak Elang sukai.


Pria misterius itu membuka lipatan kertas itu di hadapan mereka. Tanpa rasa takut sedikit pun. Ia menyobek kertas tersebut lalu menghamburkannya ke udara.


"Aku tidak sudi uang haram dari mu itu, uangku di dapat dengan cara yang halal," jawab nya, Santai. Mengamati semua yang ada disana untuk dikenalinya.


Keberanian Pria itu membuat Dias melongo. Dia kemudian mengeluarkan senjatanya untuk menodong Elang tapi dengan gampangnya Elang menepis lengan Diaz hingga senjata itu terjatuh.


"Hahaha...!" Elang membuktikan ketidak takutan sama sekali dan bahkan malah tertawa tanpa beban. "Santai Pak tua, dia ini milikku Kau tidak akan bisa memilikinya sampai waktu yang kutentukan."


"Siapa kau ini?" Tanya Diaz, penasaran.

__ADS_1


Orang yang dianggap Elang itu, menatapnya lagi. Ia ingin orang tua itu menebak sendiri siapa dirinya. Sebab Diaz sangat anti dengan Elang.


"Kau akan struk, jika ku beri tahu siapa aku," jawabnya lagi, masih dengan tenangnya. "O ya, Kevin mana uang halalku, kau harus membayarnya jika kau mau mengambil Emeryl dariku!" Elang menengadahkan tangan.


Kevin kalang kabut, Uang itu sudah Ia berikan pada Lana untuk keperluan sehari-hari. Sebagian lagi dipakainya untuk memuaskan diri.


"Saya tidak memegangnya lagi," jawab Kevin. "Tapi Diaz bisa membayar Emeryl jauh lebih mahal dari dirimu."


Elang tidak menyukai pernyataan Kevin, lantas Ia menjejak kaki Kevin hingga suami Emeryl itu terjatuh. Serta merta semua yang ada disana segera berdiri seakan hendak mengeroyoknya.


Elang memutar bola matanya, mengitari wajah mereka. Ia tidak akan bisa dikalahkan oleh cecunguk Diaz dengan mudahnya.


"Jika kalian jagoan, ayo lawan aku satu persatu!" Ucapnya menantang. Mereka saling berkode.


"Kenapa kawan, kau takut!" Diaz merendahkannya. Dari dulu Elang tidak pernah menyukai sifat munafik Diaz. Pria tua itu pernah menjadi duri dalam kehidupannya di masa lalu.


"Aku tidak pernah takut, justru sebaliknya aku sangat mual melihat wajahmu yang mulai bergelambir ini, Diaz Danuarta. Tapi masih saja kau haus akan kebejatan pada Gadis yang masih di bawah umur!" Elang menunjuk pada semua wanita yang masih ingusan disamping mereka.


"Dengan tega menjadikan mereka pemuas na_f_su tanpa memikirkan efek dari tindakanmu!" Geramnya, lagi.


"Ck, lalu kenapa kau juga memesan wanita!" Sahut Kevin, posisinya tepat dibelakang Emeryl. Orang yang dikira Elang berbalik dan melihat Kevin sudah bangun dari lantai.


"Karena dia cocok untukku dan aku membutuhkan satu wanita saja untuk melepas birahiku," jawab Elang, seraya tersenyum simpul menoleh kearah Emeryl yang masih terisak.


Elang sengaja mengusap air mata Emeryl di depan Kevin hingga pria itu merasa panas dan akhirnya mengamuk.


Kevin menyerang Elang, hingga terjadilah perkelahian di antara mereka. Beberapa anak buah yang dikira Elang turut masuk dan menyerang para pria di sana hingga menimbulkan keributan besar.


Semua perempuan yang ada ditempat itu berhamburan keluar, mereka membiarkan para kekasih mereka ikut dalam perkelahian itu.

__ADS_1


Bag! Bug! Bag! Bug!


Terdengar baku hantam dan suara tembakan begitu ricuh. Orang yang bermasker itu sendiri masih adu ketangkasan dengan Kevin. Terjebak di tengah keributan Emeryl kebingungan, Ia tidak tahu cara nya keluar dari tengah-tengah mereka.


"Bagaimana ini? Mereka bisa saja memukulku?" Emeryl sangat panik. Hingga tiba-tiba Ia dikejutkan oleh seseorang yang menarik lengannya keluar dan menjauh. Dia pria bermasker lain dengan yang ada didalam tadi.


Keduanya berlari meninggalkan rumah markas Diaz dan dikejar oleh beberapa orang. Emeryl sedikit bingung akan apa yang di lihatnya tapi untuk bertanya situasi sedang tidak tepat.


"Berhenti!" Teriak Seseorang, dia adalah Totok.


Pria bermasker itu menurut, tanpa melepas tangannya dari lengan Emeryl. Menoleh dengan tegasnya kearah para pecundang itu. Entah apa keuntungan yang mereka dapat hingga begitu patuh dengan perintah Kevin.


"Jangan menghalangi kami." Ia memperingatkan. Akan tetapi Totok tidak perduli. Ia dan anak buahnya menyerang secara keroyokan membentuk lingkaran tanpa memberi ruang untuk bisa melarikan diri.


Melihat ada dalam sebuah kurungan, Pria bermasker itu menerjang perut salah seorangnya hingga terpelanting kebelakang.


Perkelahian berlangsung sengit, orang yang dikira Elang melindungi Emeryl dengan cara memegang pinggangnya dan memutar tubuh Emeryl hingga kakinya mengenai wajah mereka semua sampai berjatuhan. Ditambah pula kakinya ikut bekerja menendang inti mereka dengan kuat.


Para pria itu tergeletak di tanah meringis kesakitan, begitu pula Totok yang tak berdaya memegangi juniornya.


"Sepertinya kalian harus mengistirahatkan adik imut kalian beberapa hati kedepan untuk tidak berolah raga." Pria bermasker itu tersenyum kecil. Tak ada lagi penghalang, dia membawa Emeryl masuk kesebuah mobil yang sudah menunggu mereka didepan.


Malam itu rumah Diaz menjadi pora-poranda, banyak yang tumbang oleh tembakan seorang pria bermasker yang pertama tadi. Ia melabuhkan pukulan terakhirnya tepat di kepala Diaz hingga pria itu luruh ke sofa.


Diaz yang kesakitan tidak tinggal diam, Ia balas menembak kaki pria bermasker itu tepat pada sasaran.


"Ah...!" Dia memekik kesakitan. Memegangi kakinya yamg dipenuhi oleh darah.


"Bang...!" Teriak salah seorang anak buahnya yg masih baik-baik saja. Dia yang tidak punya senjata mengambil vas bunga yang di lemparkannya tepat ke kepala Diaz hingga pria itu pingsan.

__ADS_1


"Ayo, Bang. Kita pergi!" Beberapa anak buahnya membopong dia. Sedang yang terluka berjalanya sekuatnya keluar dari tempat itu.


__ADS_2