
Elang mencegah tangan Si perempuan yang hendak menyentuhnya. Tapi perempuan itu tidak perduli. "Hai ganteng sendirian ni, aku temenin ya," tawar si perempuan. Ia bergelayut manja di bahu Elang. Tatapan sarkas menoleh kearah si perempuan itu.
Tanpa rasa malu, dia menggeret kursi dan duduk disebelah Elang sambil terus tersenyum menarik perhatian. Elang tidak perduli, Ia yang sudah mulai mabuk menuangkan lagi air wine kedalam gelas mini yang sejak tadi dipakainya.
"Biar aku bantu!" Perempuan itu menyerobot botol wine dari tangan Elang dan terus menebar pesona agar Elang terhanyut akan kecantikan dan keseksiannya.
"Terima kasih," jawab Elang, lirih.
Entah sudah berapa banyak pemuda bermata tajam dan memikat itu menghabiskan minuman keras didepannya. Ia nampaknya mulai tak bisa singkron.
"Boleh aku tau namamu?" Tanya perempuan itu.
"Panggil saja aku, Elang," jawab Elang lagi, tanpa menoleh seperti sebelumnya.
"Wah, namamu indah. Tampan dan gagah seperti orangnya. " Perempuan itu sok-sok an membenahi jaket Elang.
"Namaku, Ratih. Aku sangat tertarik mengenalmu, kau mau bersenang-senang?" Tanya Wanita itu. Ia membelai wajah Elang dengan jari jemarinya yang terawat.
Elang hanya mengedipkan mata, tapi sepertinya penawaran Ratih beranting besar itu tidak berarti. "Ku rasa aku sudah cukup minun, aku harus pulang," tolak Elang. Meski sempoyongan Elang berusaha bangkit dari kursinya.
"Kau butuh bantuan, Beib," ujar perempuan itu. Ia segera berdiri dan membantu Elang. Pemuda itu tak lagi menolak. Ia hanya mengikuti kemana pun langkah wanita yang memapahnya itu pergi.
Keduanya memasuki sebuah kamar besar, Ratih membaringkan Elang keranjang dan melepas sepatunya.
"Astaga, sepertinya aku telah memenangkan jack pot malam ini," Desis wanita yang kini tengah mengamati tubuh sempurna milik Elang.
Pemuda itu beruang kali mengusap wajahnya masih tidak sadar atas apa yang telah terjadi.
Karena tidak sabar ingin menikmati tubuh gagah Elang, wanita itu langsung bergegas melepas ikat pinggang Elang. Meski melihat samar dan seakan berputar-putar, Elang sadar jika Ia sedang di permainkan.
"Hey apa yang kau lakukan?" Elang bangkit dan mendorong tubuh Ratih hingga terjungkal ke ranjang. Tatapan marah Elang lemparkan pada perempuan itu.
__ADS_1
"Jangan coba-coba mencari kesempatan, sebab tubuhku hanya berhak dimiliki wanita spesial," cibir Elang, sembari menatap jengkel. Pemuda itu mencoba untuk tetap sadar agar Ia bisa lepas dari rayuan maut Ratih. Dengan tenaga yang tersisa, Elang memungut jaket dan sepatunya sambil berjalan keluar.
"Beib tunggu!" Ratih yang sudah di bayar mahal tidak boleh sampai gagal. Ia harus bisa menjalankan tugasnya sesuai perintah.
Elang tetap pada pendiriannya, Ia berjalan sambil meraba apa saja yang bisa di pegang nya. Pantang baginya berbagi tubuh dengan wanita sembarangan. Jahat iya, tapi bukan berarti Ia liar dalam bercinta tanpa memilih pasangan tidurnya.
"Beib, ayo kembali!" Ratih memeluk tangan Elang dan menariknya lagi. Tapi sayang, Elang terlalu sulit untuk di taklukan. Ia tipe seorang pria yang tidak mudah terpengaruh.
"Lepas...!" Bentak Elang, kasar. Menghempaskan tangan Ratih dengan kuat. "Jangan mencoba merayuku wanita laknat. Aku tidak akan sudi melayanimu."
"Tapi beib_." Ratih tak mau menyerah. Karena yang Ia tahu jika seseorang mabuk tidak akan bisa mengendalikan diri. "Aku ini cantik, seksi dan bisa memuaskan mu dalam semalam. Apa kau tidak tertarik. Biar ku perlihatkan dadaku yang berisi." Ratih benar-benar sudah tidak waras. Ia menurunkan tali dress di dadanya agar Elang terpesona.
"Cih... menjijikan." Elang muak Ia tetap tidak tertarik. Walaupun pandangan itu terpampang indah di matanya. Padahal ada banyak orang disana tapi Ratih tidak perduli kan aksi nekatnya. Baginya semua itu sudah biasa.
"Beib, ayolah. Aku akan membuaimu dengan sejuta keindahan." Wanita itu menggapai tangan Elang ke arah dadanya tapi lagi-lagi Elang menolak.
Plak!
"Kau itu cantik, Ratih. Tapi semua itu sirna setelah kau menawarkan harga dirimu pada seorang pria. Lebih baik kau sembunyikan lagi mahkotamu itu sebelum ada pria laknat menginginkannya!" Tukas Elang lagi. Peduli apa, Elang sudah tahu jika Ratih memang wanita bayaran yang tidak akan memiliki rasa malu mengumbar dada mau pun bawah pusarnyw.
"Pergi kau!" Usir seseorang.
Ternyata itu adalah Dimas, tanpa mengurangi rasa hormatnya Dimas meminta perempuan itu menjauh. Karena usahanya sia-sia, Ratih akhirnya meninggalkan tempat itu.
Seorang pria yang menyuruh Ratih kesal melihat kegagalan Ratih. Ia tidak menduga jika Elang sangat sulit di jatuhkan.
"Ah sial siapa juga pria yang datang itu?" gerutu orang tersebut.
"Lang...!" Sapa Dimas. Pemuda itu menapah diri tubuh lemas Elang.
"Bang, kau sudah sehat?" Elang menyempatkan diri bertanya. Meski sedikit kabur Ia bisa mengenali Dimas dari suaranya.
__ADS_1
"Hem, terima kasih atau bantuanmu yang sudah menjaga Emeryl."
Keduanya berpandangan.
"Maaf jika aku membuatmu terluka dengan membiarkan Emeryl pergi bersama Kevin?" Dimas sudah meminta ini sebelumnya pada Elang untuk memberi kesempatan Kevin bertaubat.
Elang hanya menanggapi dengan tersenyum kecil. "Padahal aku sangat berharap, Emeryl akan memilih aku, Bang," jawab Elang, parau. Sepertinya Elang sangat menyayangkan.
"Aku tahu kau punya rasa dengan Emeryl, Lang. Tapi, aku hanya mau membuktikan apakah Kevin memang laknat atau benar-benar berubah. Aku tidak akan mungkin tinggal diam jika dia melukai Emeryl."
Walau berjalan tertatih, Dimas mengantar Elang sampai masuk ke mobil. "Biar aku antar," tawar Dimas.
Elang mengangguk setuju. "Bawa aku ke rumahmu," pinta Elang di balik kelemahannya saat ini. Dimas tidak menjawab atau pun menolak. Pria itu melajukan mobil mereka untuk menyusuri jalanan.
Sampai tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Rumah yang selama ini tempat hidup Dimas setelah lepas dari kematian.
Dimas memapah Elang masuk dan menidurkannya di sofa. Ia segera mengambil segelas teh untuk menghangatkan tubuh Elang.
"Ayo minum!" Dimas mengangkat kepala Elang agar Ia mudah meminum air manis yang di siapkan nya.
"Terima kasih, Bang."
"Sama-sama."
Sepertinya Elang langsung terlelap, Ia pasti sangat pusing karena pengaruh minuman beralkohol itu.
"Maafkan aku, Lang. Jika Emeryl jodohmu. Aku pastikan dia akan kembali ke tanganmu dengan atau tampa kau harapkan," gumam Dimas seorang diri.
Belajar dari masa lalu dimana Ia pernah merasakan cinta yang begitu dalam dan itu benar-benar mengikis kehidupan nya akan kepergian sosok wanita yang di cintai nya kala cinta itu tertata indah sampai berubah menjadi luka dan kesakitan.
"Berbahagialah Kayla, aku akan buktikan jika apa yang ku lakukan adalah yang terbaik!"
__ADS_1