Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 8 Bukan Keinginan


__ADS_3

"Maaf, sabar Bos. Bukankah saya sudah mengklaim jika barang tersebut disita polisi. Beruntung anak buahku langsung membunuh orang yang membawa barang tersebut. Jika tidak, kita pasti dikejar oleh polisi."


Kevin mencari alasan, agar Ia tidak terkena amukan Pria mengerikan seperti Pria itu.


"Heh, itu urusanmu. Sesuai perjanjian apa pun yang terjadi kau harus membayar biayanya!" Dia adakah Diaz Danuarta, seorang Mafia berusia 47 tahun yang sangat terkenal keberingasannya. Mana mungkin Ia takut dengan ancaman seorang Kevin yang hanya berada seujung kuku dengan kedudukannya.


"Tolong kasih saya waktu Bos, Uang itu bukan jumlah yang sedikit. " Kevin benar-benar tak mampu melakukan apa-apa selain mencari jalan keluarnya.


"Baiklah, saya beri lagi tenggang waktu satu bulan. Jika uang tersebut tidak kembali juga maka kau harus menanggung akibatnya!"


"Baik, Bos."


Sambungan terputus, sedang di lantai bawah. Dimas nekat menerobos masuk. Ia sangat marah setelah tahu jika Emeryl di jajakan sebagai wanita bayaran di sosial media.


"Petir, mana Bang Kevin? Dia itu sudah gila. Untuk apa dia menikahi Emeryl jika hanya untuk dijadikan alat mencari uang!" teriaknya dengan keras.


"Bang Kevin masih sibuk, silakan pergi dari sini!" Petir dan ketiga temannya menghalangi Dimas.


"Alah, minggir. Bang Kevin, Bang keluar kau! Emeryl itu perempuan baik-baik. Mana bisa kau jual dia sesuka hatimu. Bang Kevin, keluar kau!" Dimas tidak memperdulikan orang-orang yang mendorong tubuhnya.


Karena tak ada respon juga dari Kevin, Dimas menyerang Petir dan ketiganya dengan membabi buta. Tak bisa terelakan, baku hantam dan pukulan bertubi-tubi saling balas pun terjadi.


Dimas tak mau kalah, Ia pun mendaratkan satu terjangan di kepala Petir hingga terpelanting, dan berlanjut menghajar ketiga lainnya tanpa perlawanan.


Mendengar sesuatu diluar, Kevin tak jadi melanjutkan makan dan bergegas memeriksa.


"Emer, ayo kita lihat!" ajak Lana. Keduanya sama-sama penasaran lekas segera menyusul.


Benar saja, Dimas tengah berkaca pinggang menantang Kevin setelah berhasil mengalahkan anak buah Kevin. Ia makin marah lagi, saat melihat beberapa titik di wajah Emeryl telah membiru.


"Brengsek kau, Bang. Apa kau tak punya hati. Dia itu istrimu, sekarang. Tapi kenapa kau sakiti dia lalu kau jual ke pria hidung belang?" cerca Dimas. Tak kuasa menahan diri akibat emosi disertai nafas naik turun.


Sejak ditinggal orang tua mereka meninggal, Dimas adalah orang yang menjaga Emeryl dengan penuh kasih sayang. Bahkan rela lapar dan melakukan hal yang ekstrem asalkan Emeryl bahagia dan sehat. Tapi karena kebodohannya juga mau tidak mau Emeryl harus menerima penawaran gila Kevin, dan puncaknya Ia harus melihat Emeryl menderita.


"Hahaha... !" Kevin tertawa lepas, senang rasanya melihat Dimas terzolimi.

__ADS_1


Ia mendekati Emeryl dan dengan sengaja menjambak Perempuan belia tersebut di depan Dimas.


"Aw, sakit Bang. Tolong lepas!" Emeryl merasa kesakitan.


"Bang Kevin, hentikan Bang. Jika kau nekat melukai Emeryl. Maka aku akan membunuhmu!"


Dimas mengeluarkan pisau kecil dari bajunya dan dengan lancang nya langsung menyerang Kevin yang dengan cepat menghindar.


Dimas yang melihat Kevin masih menarik rambut Emeryl bertambah panas dan meradang. Maka sebagai timbal baliknya Ia yang tahu Lana adalah istri Kevin dengan brutal menendang perut Lana.


"A...!" Lana memekik.


"Abang jangan!" Emeryl terlambat mencegah. Di depan matanya sendiri Ia melihat darah segar keluar dari jenjang kaki Lana.


Kevin terbelalak, Ia dengan kasar mendorong Emeryl jatuh kelantai guna membantu Lana.


Dimas sendiri terpaku, Ia tidak menyangka melakukan hal di luar prediksinya.


"Lana, astaga calon anakku." Kevin membantu Lana memapah kepalanya. Perempuan itu berkeringat dengan wajah memucat dan merintih.


Kevin melirik kearah Dimas, yang nampak masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Kevin yang dikuasai amarah tidak menunda lagi, Ia langsung mengeluarkan senjata berpeluru nya yang tidak pernah lepas dari saku bajunya.


Seperti manusia kesetanan, Kevin langsung menembak kedua kaki Dimas berulang-ulang sampai Dimas luluh kelantai.


"Bang Dimas!" teriak Emeryl. Ia berlari menyempar barang berpeluru tersebut terpelanting jauh agar Kevin menghentikan aksinya.


Dimas kehilangan kekuatan, kakinya bersimbah darah.


"Ahk...!" Dimas meraung-raung kesakitan. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Bang Dimas, Bang Dimas kenapa melakukan ini, Bang? Biarkan saja aku melakukan ini, jangan membuat aku bersalah Bang." Emeryl menangis melihat kaki Dimas tidak terlihat jelas oleh cairan merah yang terus keluar.


"Ma_ maafkan Abang, dek. Abang tidak tahu jika Lana se_ sedang hamil." Dimas menyesali tindakannya dan itu pasti akan menambah panjang penderitaan Emeryl. Ia yakin Kevin akan semakin kejam terhadap adiknya.


"Petir dan kalian bertiga. Bawa Dimas dari sini, buang dia ketempat yang tidak ada orang akan menolongnya. Dengan begitu pria itu akan mati perlahan-lahan!" Titah Kevin, dengan sadisnya.

__ADS_1


Petir dan ketiga temannya bergegas bangkit, mereka mendorong Emeryl menjauh dan mengangkat tubuh Dimas kemobil.


"Tidak, Bang Kevin tolong hentikan, Bang Dimas mau dibawa kemana, Bang?" Emeryl merangkak mendekati Kevin dan menggoyang-goyang lengannya. "Tolong jangan bunuh dia, Bang. Aku mohon, hik... hik...."


Kevin tidak perduli, lagi-lagi Emeryl harus menerima perlakuan kasar. Kevin menendang perutnya sampai terdorong kebelakang.


Emeryl hanya merintih, melihat Kevin menggendong Lana masuk kemobil hitam miliknya. Emeryl tahu, pasti Kevin akan membawa Lana kerumah sakit.


"Kalian!" panggil Kevin pada anak buahnya yang lain.


Keduanya langsung menghadap.


"Bawa perempuan itu masuk kekamar dan kurung dia agar tidak keluar!" Kevin menunjuk Emeryl dengan tatapan matanya.


"Baik, Bos."


Emeryl tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya menangis semakin kencang.


"Ayo berdiri!" Mereka menyeret tubuh Emeryl untuk bangkit lalu menyeretnya masuk kedalam sesuai perintah Kevin.


Setelah dipastikan aman, Kevin menyalakan mobilnya untuk menapaki jalanan yang panjang agar segera tiba dirumah sakit.


Benar saja, kabar duka harus Kevin terima. Padahal baru beberapa menit mengetahui Lana hamil, wanita itu akhirnya keguguran.


"Maaf Pak Kevin, pasti perut Bu Lana terbentur sangat keras. Amat sangat disayangkan program yang dijalani selama ini menjadi tidak berarti!" ujar sang Dokter.


Kevin menarik bengis sudut bibirnya, Ia tidak akan mengampuni kesalahan Dimas.


Kau akan melihat adikmu, sengsara Dimas...


Janji Kevin dalam hati. Dendam yang belum berakhir bertambah besar. Ya, dia akan membuat kehidupan Emeryl bagaikan Ombak yang akan menyeretnya pada kesakitan tiada henti akibat ulah Dimas.


"Mas, anak kita!" Lana menggenggam tangan Kevin. Sangat disayangkan penantian itu sia-sia. Baru sebentar Lana bahagia merasakan akan jadi Ibu, namun dalam sekejap juga semua hilang di rampas darinya.


"Sabar, Baby. Kamu pasti bisa mengandung lagi," tutur Kevin.

__ADS_1


"Tapi, Mas. Kita sudah lama menginginkannya?" Lana menitikan air mata. Ia benar-benar marah mengingat perbuatan Dimas kepadanya.


__ADS_2