Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 48 Dimas Mengaku


__ADS_3

Melihat Dimas semakin menjauh Kevin langsung mengejarnya. Ia ingin membuktikan sendiri jika Dimas benar-benar masih hidup.


"Tunggu...!" Teriak Kevin, saat tiba di sebuah lorong. dimana Dimas ingin menghindar akhirnya menghentikan langkahnya. Mungkin itu adalah waktu yang pas untuk memberi tahu Kevin jika Ia masih hidup.


Kevin mengitari tubuh Dimas, Ia ragu jika Dimas masih hidup dari jurang yang amat sangat dalam itu. Tapi otaknya baru paham setelah mengetahui Petir adalah seorang pengkhianat ulung.


"Jadi Petir tidak membunuhmu waktu itu?" Tanya Kevin, seirama dengan tatapan nyalang. Ada seonggok amarah yang seakan mengalir ke otak. Baru sadar, jika Ia sangatlah bodoh. Mengapa setelah sekian tahun, Ia tidak menyadari telah berhasil ditipu oleh orang-orang sekitarnya dengan bertopeng kesetiaan.


"Bagaimana kabar Adikku?" Balas dari Dimas. Ia sangat merindukan Emeryl. Bahkan sangat berdosa membiarkan adiknya hidup teraniaya. Padahal Emeryl tidak layak mendapatkan karma atas dosa-dosanya.


"Seharusnya aku tidak perlu menyakitimu dan adik kesayanganmu, jika kau setia pada Kayla." Kevin akhirnya memberi tahukan Dimas soal masa lalu yang membuat Ia membenci Dimas dan merampas kebahagiaan Emeryl.


Deg!


Memori ingatan Dimas tentang Kayla terkuak lagi. Sekian lama Ia menata perasaan untuk wanita itu karena kesedihannya masih ada sampai sekarang.


"Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Kayla?" Dimas menggoncang tubuh Kevin. Sudah lama Ia ingin melihat dimana makam Kayla di kuburkan. Karena Ia ingin menemui Kayla dan meminta maaf telah terlambat datang.


Kevin menepis tangan Dimas. "Itu semua salahmu, Dim. Kenapa kau tidak kembali dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu?" Pekik Kevin, meneriaki Dimas yang membuatnya muak melihat wajah itu.


Tubuh Dimas mendadak lemas, air matanya jatuh berderai. Ia menyesal tidak nekat menemui Kayla lagi waktu itu karena merasa telah putus asa.


"Aku tidak pernah meninggalkan Kayla, Kevin," ucap Dimas, sangat yakin.


"Munafik!"

__ADS_1


Dimas menggeleng. "Dia adalah wanita yang sangat ku cintai sampai detik ini." Dimas mengusap air matanya. Ia berusaha kuat menceritakan kebenaran yang sudah menimpanya.


"Bohong! faktanya kau tidak mau datang dan bertanggung jawab, bukan?" Kevin menekankan kalimatnya. "Lelaki mana yang pantas disebut jagoan jika melarikan diri dari perbuatan tercelanya, camkan itu."


Dimas yang tidak terima akan tuduhan Kevin langsung menimpali. Dialah korban dari kebusukan keluarga Anggara. Dimana seharusnya kini Ia telah hidup bersama Kayla harus menderita seumur hidup.


"Vin, seharusnya kau tanyakan itu pada Papamu Anggara? Kau tidak tahu apa-apa soal perjuanganku!" Dimas balas menatap tajam pada Kevin. "Aku sudah mengorbankan nyawaku untuk mendapatkan uang 100 JT yang ku janjikan. Tapi apa? Ayahmu Anggara memerintah orang lain merampas uang itu dari tanganku," ujar Dimas berapi-api. Pahitnya di sakiti calon mertua sendiri hanya karena menolak menikahkan Ia dengan Kayla sampai ke dasar hati.


"Apa?" Kevin rupanya tidak percaya akan penuturan Dimas.


"Heh...!" Dimas tersenyum kecut. "Harus nya aku yang marah. Pada saat pesta berlangsung sekitar tiga tahun yang lalu. Aku yang sudah siap memakai gaun pengantinku bersama beberapa orang yang ku pilih menemaniku, tidak menyangka. Ayah mu mengirim puluhan preman bayaran untuk mencegah kami di tengah perjalanan."


"Kau tau apa yang terjadi?" Dimas menatap Kevin semakin lekat. "Mereka melukai orang-orang tang tidak bersalah lalu menculik dan mengikat aku di sebuah rumah kosong. Mereka juga mengambil cek 100 JT yang akan ku jadikan mahar untuk menikahi Kayla."


Mengingat hal itu, Dimas terisak. Ia tak mampu lagi menceritakan kisah selanjutnya. Tapi yang pasti, dIa adalah orang yang paling terpukul atas kejadian itu. Harus rela melepas kepergian calon anak dan wanita yang sangat di cintai nya akibat keegoisan Anggara dan keluarga. Bahkan di tuding sebagai penyebab kematian Kayla dan calon anak mereka.


"Luka ini masih ada, Vin. Masih membekas disini, mungkin sampai aku tidak bisa bernafas lagi." Dimas menunjuk-nunjukkan dada Kevin. Agar Kevin bisa merasakan seberapa sakit Ia menerima perlakuan tidak adil. "Kayla mati bukan karena aku melainkan kekejaman Ayahmu sendiri yang tidak merestui kami," ujar Dimas lagi melanjutkan, semakin sulit untuknya bisa mengendalikan emosi.


Kevin menghela nafas panjang. Ia bisa saja masih meragu, tapi melihat sorot mata Dimas yang sangat jujur Kevin tidak tahu harus mengatakan apa.


"Jadi itu yang sebenarnya terjadi?" Kevin mengulangi pertanyaan yang sama.


"Kau lihat ini!" Kevin memperlihatkan kalung atas nama inisial K di leher Dimas. "Kayla juga memiliki ini atas inisial ku. Kami pernah berjanji untuk berjuang sampai kami bisa bersama, tapi aku yakin orang tua mu membuat cerita yang menjatuhkan nama ku hingga Kayla nekat bunuh diri," terang Dimas, sampai ke akar-akarnya.


"Aku telah salah, Dimas." Kevin luluh dan langsung merangkul pemuda yang sedikit pincang dihadapannya.

__ADS_1


"Jadi karena itu kau dendam padaku?" Tanya Dimas. Sebelum mereka mengurai diri.


Kevin mengangguk. "Ku pikir dengan menyakiti kamu dan Emeryl rasa sakit Kayla bisa terbayarkan."


"Aku belum mau mencari wanita lain karena Kayla tidak tergantikan, Vin. Tapi yang sangat aku sayangkan, kau pasti telah menyakiti Emeryl dan memperlakukan nya tidak adil. Dia masih bersama mu 'kan?"


Kevin hanya tertunduk lesu.


"Kenapa diam? Apa kau ingin menghancurkannya?" Cecar Damar.


Kevin berulang kali menggeleng. Bagaimana mungkin Ia mau melihat Emeryl menderita setelah tahu jika Dimas bukan lah orang yang pantas mendapatkan dendam gilanya.


"Tapi aku akan mendapatkannya, Dimas. Aku berjanji akan menyayangi Emeryl setulus hatiku untuk mengobati lukamu karena orang tua ku." Kevin bersungguh-sungguh. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya Kevin berlalu meninggalkan Dimas yang masih termangu menatapnya.


"kau akan kesulitan, Kevin," gumam Dimas seorang diri. Sebenarnya Ia sudah tahu jika Emeryl telah bersama Elang yang lebih menyayanginya di banding Kevin sendiri.


Dimas juga sangat tahu jika Elang bukan lah orang yang mudah di kalahkan. Dia bisa melakukan sesuatu di luar kendali seorang Kevin.


Nyatanya, Kevin berhasil terkecoh akan penyamaran Elang dan komplotannya.


"Aku sependapat denganmu, Bang," sahut Damar yang sudah berdiri di belakang Dimas. "Bang Kevin tidak akan mampu membawa Emeryl kembali padanya setelah semua perlakuan Bang Kevin pada Emeryl."


Dimas menepuk pundak Damar. "Aku mau meminta sesuatu darimu, berjanjilah. Lindungi mereka dari pengaruh Diaz Danuarta," pinta Dimas Antony.


Damar hanya tersenyum dan balas menepuk pundak Dimas sebelum Ia memutuskan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2