
Suasana senja kian memudar, berubah menjadi malam kelam yang akan menyesakkan dada bagi seorang gadis blasteran spanyol-Indonesia tersebut. Ia telah berada di dalam mobil menuju ke suatu tempat yang akan membuat hidupnya seperti benar-benar di neraka.
Hidup yang didalamnya penuh dosa dan kenistaan. Tidak akan ada tawa dan kebebasan lagi. Ia akan di kungkung layaknya hewan piaraan dalam sebuah sangkar yang mengerikan.
Sedari kecil kehilangan kasih dan sayang sebagai seorang yang haus kasih sayang, membuatnya membenci kehidupan. Meski Dimas menyayanginya akan tetapi semua itu tidak membuatnya terpuaskan.
Bila pagi kakaknya itu pergi dan Ia akan kembali saatnya menjelang subuh, tapi kini semua sudah tidak bersisa. Ia melihat sendiri jika Dimas telah mati di jurang itu. Sudah pasti tidak akan orang yang sudi menolongnya dari lembah menjijikan yang akan menjeratnya dari para pria binal itu.
Mobil itu melaju kencang, melewati berbagai bangunan dalam segala bentuk rupa. Hingga membawanya pada sebuah tempat terakhir yang akan menjadi pelabuhan mereka.
Terdengar dengan sangat jelas suara disko memekakkan telinga berasal dari dalam sana. Ia di paksa turun dari mobil untuk segera masuk.
Emeryl melihat sendiri di setiap sudut halaman rumah itu banyak pasangan sedang melakukan hal diluar nalar. Mereka tanpa malu melakukan hubungan badan di depan orang-orang yang datang, seakan hal itu sudah sangat lumrah terjadi.
Tubuh yang memang sudah lemah itu bertambah lunglai, berjalan mengikuti Kevin pun seakan tak bertenaga. Hanya air mata yang berderai bukti ketakutannya.
Sampai di dalam, Ia dilemparkan oleh Kevin ke depan puluhan pria yang duduk memangku pasangannya masing-masing.
Mendapati kenyataan pahit, Emeryl menggeleng menatap netra Kevin. Laki-laki itu yang seharusnya mengayomi dirinya malah dengan tega menjualnya pada pria lain.
"Hahaha....!" Suara tawa mendadak pecah. Mereka memandangi Emeryl sebagai objek tontonan.
"Bang, kenapa aku dibawa kesini?" Emeryl melihat setiap orang yang ada disana. Mereka benar-benar pantas dianggap sampah. Ada yang beradegan berciuman, memijat buah dada, bahkan bertelanjang setengah badan di depannya.
Kevin tidak menjawab, Ia hanya menatap ke arah lain tanpa menolehkan pandangannya pada Emeryl.
Emeryl merasa dirinya hampir gila, bagaimana Ia bisa dicintai suaminya jika pria itu sendiri yang membuatnya terhina.
"Kau benar-benar berhati iblis, Bang. Harusnya kau melindungi aku sebagai seorang istri, tapi kenapa kau merendahku ditempat terkutuk ini!" Emeryl mendesis marah.
Ditengah keputus asaan, seorang pria datang membelai pundaknya yang terbuka. "Tidak usah marah-marah, Sayang? Suamimu tidak menginginkanmu," Bisik Diaz, Danuarta. Dengan percaya diri, dia menggerayangi bagian dada Emeryl dengan diikuti bola mata Emeryl yang mulai tersulut oleh Emosi.
__ADS_1
"Wah, wah, wah, kau sangat cantik, Sayang. Aku tidak akan bosan mendapat teman ranjang seperti dirimu." Diaz Danuarta tepat berdiri didepannya dan dia memandang dengan tatapan menggoda.
"Cih...!" Replek Emeryl meludahi wajahnya, dan itu membuat Diaz terkejut. "Menjijikkan, Kau itu sudah tua bahkan sebentar lagi akan menjadi bangkai. Mau sampai kapan kau bertobat dari perbuatanmu ini, ha?" Emeryl memberanikan diri mencelanya.
Diaz, menatap tajam, dia merasa dipermalukan. Tapi anehnya sesaat kemudian pria itu terkekeh nyaring. Meraih sapu tangan dan mengusap wajah nya sendiri dengan sangat tenang.
"Waw, Aku suka dengan istrimu ini, Kevin. Dia sangat menantang," Seringai Diaz. Ia mendekati Kevin dan mengatakan sesuatu yang membuat Emeryl bagai di angkat lalu dihempaskan ke atas lantai sekuat-kuatnya.
"Aku mau dengan tanganmu sendiri, kau menelanjangi gadis ini sebagai hiburan kami!" Perintah Diaz dan itu membuat Kevin sedikit mengerutkan dahi.
"Aku...?" Kevin menunjukkan diri nya sendiri.
Kevin dan yang lainnya tidak sadar, jika Damar dan Petir sudah berdiri di ambang pintu. Kedua pria itu menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin Diaz memerintah kan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melecehkan seorang wanita di hadapan orang banyak.
"Cepat lakukan!" Diaz membentaknya. Kevin tertunduk lesu, ada rasa tak tega. Akan tetapi Ia tidak mungkin mampu melawan seorang Diaz Danuarta.
Kevin berjalan mendekat kearah Emeryl, gadis itu terus menggelengkan kepalanya. Air mata tak henti-hentinya meluncur. Dengan kedua tangannya Ia memegang gaun yang menggantung asal diatas buah dadanya.
"Bang, tunggu!" Damar menghampiri keduanya.
"Damar!" Ucap mereka bersamaan. Pemuda itu cengengesan menoleh kearah Diaz, sambil menggaruk kepala layaknya orang bodoh.
"Malem, Bos. Saya mau mengeluarkan pendapat saya bo_ boleh?" Lagi-lagi menunjukkan jejeran giginya yang putih.
"Apa yang kau lakukan, Mar?" Kevin marah karena Ia tidak mau pemuda itu mendapat masalah.
"E... itu, Bos. Wanita ini kan Limited, Bos. Apa Bos Diaz tidak rugi tu_ tubuhnya yang indah ini di lihat o_ orang banyak!" Damar terus berbicara tidak menghiraukan larangan Kevin.
"Damar, jangan aneh-aneh, Damar!" Melvin berbicara setengah berbisik dan melotot.
"Maaf, Bang." Meski Ia juga merasa seorang penjahat, tetapi Damar masih memilik hati.
__ADS_1
"Se_ sebaiknya Bos, nikmati saja sen_ sendiri kan?"
Lanjutnya, dengan nada terbata-bata.
Kevin menghadap Diaz, dia berharap Diaz tidak akan menghukum Damar.
"Maafkan adik saya, Bos. Dia masih terlalu muda untuk memahami ini!" Ujar Kevin.
Diaz tersenyum miring. Ia mendekati Damar dan menepuk pundak pria tersebut.
"Tidak apa, aku tidak rugi jika mereka melihat keindahan wanitaku," desis Diaz, ditelinga Damar.
Pria tua tersebut mendorong dada nya menjauh dan menyuruh Kevin melanjutkan aksinya. Tidak peduli, sudah merah seperti apa wajah Emeryl.
"Bang, aku istrimu, Bang. Tolong hargai aku!" Emeryl memohon dengan sangat. Namun Kevin menarik tanganya hingga masuk kepelukan Kevin. Pria itu memegangi kedua tangannya dari belakang dan dengan nekat menurunkan sleting dress dipunggung Emeryl hingga bongkahan dadanya hampir menyembul.
Gelak tawa gencar terdengar, mereka tidak sabar menyaksikan kemolekan tubuh Emeryl.
Tak kuasa menahan malu dan takut Emeryl hanya memejamkan matanya. Bahkan suara nafas menderu terdengar semakin kentara. Damar tidak tega melihat itu, tapi Ia terlalu lemah untuk melawan banyak pria kejam disana.
Dress tersebut mulai melorot turun, baju itu masih tertahan sebab masih menempel pada sebagian dada Kevin. Sekali saja Kevin mundur sudah dipastikan Emeryl tidak bisa lagi menyembunyikan harga dirinya.
"Bang, aku tidak akan melupakan ini!" Emeryl mengeratkan gigi. Hatinya mendendam. Ia tidak akan pernah memaafkan Kevin jika sampai Ia mengalami pelecehan itu.
Bagaimana mungkin mahkota yang Ia simpan sangat rapat, telah dijadikan mainan oleh orang lain dengan bebasnya.
"Lepaskan Kevin!" Teriak Diaz, tidak sabar. Serta merta Kevin mundur dari belakang Emeryl.
...🤗🤗🤗🤗...
Dan apa yang terjadi????
__ADS_1