
Hari berlalu begitu cepat hingga bergulir di hari berikutnya. Tidak ada yang terlihat aneh dari sosok Kevin semenjak mengetahui kehamilan Emeryl. Padahal wanita itu menebak-nebak jika Kevin akan marah atau paling tidak akan menyiksanya.
Saat itu di meja makan, keduanya duduk menikmati sarapan pagi dengan tenang. Belum ada sepatah kata pun yang di keluarkan Kevin untuk memulai perbincangan.
Emeryl yang gugup, sesekali melirik Kevin. Pria itu tidak terlihat marah, wajahnya sangat tenang dan biasa saja. Tapi tetap saja, Ia malah takut jika Kevin tidak memarahinya.
"Mas...!" Emeryl mulai merubah sebutan pada diri Kevin. Ia menyentuh tangan sebelah kiri milik Kevin yang tergeletak di atas meja. Bola mata tajam itu memandang Emeryl dan tersenyum. Tapi senyuman itu menambah perasaan bersalah di hati Emeryl.
"Plis, kamu tidak perlu menutupi kekecewaan kamu. Kalau mau marah, marah aja Mas. Aku rela kok, jika harus mendapat hukuman itu."
Kevin tersenyum untuk kesekian kalinya, Ia beralih mengusap pucuk kepala Emeryl menghadirkan kedamaian yang belum Emeryl dapatkan sebelumnya.
"Ngomong apa sih? Cepat siap-siap sekarang. Kita akan membeli susu untuk kesehatan kandunganmu," ucap Kevin, lembut.
Emeryl yang tidak mengerti akan sikap Kevin, mengerutkan dahi. Ia belum sepenuhnya percaya, Kevin begitu baik dan sudi menerima anak itu hadir diantara mereka.
"Ta_ tapi, Mas...!" Belum selesai mengucapkan kalimatnya, telunjuk Kevin lebih dulu menempel di bibirnya.
"Jangan katakan apa pun, sekarang kau adalah istriku. Jadi aku akan terus memperlakukanmu dengan baik."
Meski masih meragukan kebaikan Kevin, Emeryl mengangguk pelan. "Maaf, Mas," ucapnya tak juga berhenti merasa bersalah.
Kevin lagi-lagi hanya hanya mengulas senyum kecil. Ia melanjutkan sarapannya sampai mereka usai. Mengingat Kevin berusaha baik mengajaknya pergi ke supermarket, Emeryl bersiap di kamar. Ia memakai dress selutut yang sangat cantik, membuat Kevin yang menyusul kekamar terperangai.
Sesal di hati datang menguar, mengingat bagaimana Ia malah menyerahkan wanita sesempurna itu ke pria lain hanya demi uang, dan kali ini rasanya uang bukanlah yang utama lagi dibanding menemukan kehangatan mencintai.
Kevin yang terpatut akan keeleganan Emeryl, melingkarkan kedua tangannya dipinggang sang istri.
__ADS_1
"Mas, ada apa?" Emeryl terlonjak melihat pria itu ada dibelakangnya.
"Gak ada, terima kasih ya sudah mau memanggil dengan sebutan spesial itu, aku sangat bahagia, Emer," bisik Kevin, lembut. Ia mencium pipi Emeryl tanpa permisi. Semakin kuat rasa sayang yang Emeryl dapatkan dari pria tersebut.
"Sama-sama, Mas. Aku juga senang, kalau Mas mau berubah mencintai aku," balas Emeryl, sembari mendongak menatap ketampanan wajah Kevin.
"Itu sudah kewajibanku," sanggah Kevin, yang tidak mau dianggap hanya pria impoten.
Keduanya segera pergi ketempat tujuan, dimana tempat itu sangat ramai oleh para pengunjung yang datang untuk mencari kebutuhan.
"Kau boleh membeli apa pun yang kau mau?" Tawar Kevin.
Emeryl mengiyakan, mereka mencari ke rak-rak dimana mereka harus membeli beberapa keperluan sehari-hari seperti makanan kering. Tidak lupa susu hamil yang menjadi niat utamanya. Tak tanggung-tanggung, Kevin membeli tiga kotak jumbo sekali gus.
Dari kejauhan, seseorang dengan mencurigakan mengamati gerak-gerik mereka. Ia sepertinya salah seorang suruhan yang tengah memata-matai.
Setelah mendaratkan foto orang itu berlalu pergi, Kevin dan Emeryl yang tidak tahu. Fokus menyelesaikan apa yang mereka cari lalu membayarnya dengan segera.
Kevin menuntun Emeryl masuk kemobil, Ia yang baru saja membuka pintu untuk sang istri, di kaget kan oleh suara pesan yang masuk.
"Tunggu, Sayang. Biar aku cek sekarang!" Kevin merogoh ponselnya dan melihat ada foto mereka saat ini di sana. Kevin yang ketakutan ada niat jahat dari seseorang langsung mengedarkan tatapannya di seluruh taman tempat lahan parkir itu. Ia tengah mencari sesuatu yang mencurigakan tentunya.
Tapi sepertinya Kevin tidak melihat apa pun yang aneh. Emeryl yang sadar akan kekhawatiran Kevin ikut menoleh kesana kemari. Ia ikut penasaran dengan reaksi Kevin.
"Mas, cari apa?" Tanya Emeryl.
"Ha...?" Kevin yang tidak ingin ada kepanikan di hati Emeryl segera merangkulnya. "Tidak ada, mungkin orang iseng," jawabnya, santai. Ia pun meminta Emeryl segera masuk kemobil. Tapi hati Kevin tidak tenang, pasti akan ada hal buruk yang akan terjadi setelahnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Ia terlihat gusar. Kecemasan akan siapa yang mengambil foto mereka membuatnya tidak bisa menghela nafas bebas tapi sebisa mungkin menyembunyikannya dari Emeryl.
Namun perempuan itu terlalu peka, Ia menyentuh lengah Kevin yang masih memegang kendali sopir dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Kevin, sedikit menatap lekat.
"Tidak ada, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, Mas. Katakan padaku apa yang sebenarnya orang itu kirimkan padamu?" Tanya Emeryl.
"No, Sayang. Tidak perlu cemas. Hanya ada orang iseng tadi. Mereka pasti kurang kerjaan, bukan?" Jawab Kevin, berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
"Jangan berbohong, Mas," sanggah Emeryl. Siapa yang tidak panik jika Kevin tidak mau jujur.
"Hm, sudahlah, duduk dengan tenang disitu dan jangan stres, Sayang. Percaya kan semua nya padaku, ya. Tidak akan terjadi apa pun!" Yakin, Kevin. Ia tidak mau sampai melihat Emeryl takut dan gelisah juga.
Emeryl memilih diam, dan berusaha untuk tidak lagi memaksa. Ia menyanggah kan satu tangannya di daun jendela yang terbuka membiarkan angin sepoi-sepoi masuk menerpa wajahnya sambil terus menatap pria yang sebenarnya masih terasa asing di sampingnya.
Maafkan aku, Mas. Jika pernikahan kita terasa begitu hambar. Aku tidak tahu harus apa, setelah semua yang terjadi selama ini.
Sesampainya dirumah, Kevin menuju ke dapur untuk memasak air. Ia ingin membuatkan susu itu se segara mungkin agar Emeryl meminumnya.
"Mas, mau ngapain?" Tanya Emeryl, keheranan.
"Hem, tidak ada. Aku hanya ingin membuatkan kamu susu, Sayang," jawab Kevin lagi, dengan sangat amat bersahaja.
"Apa? Biar Emeryl sendiri, Mas. Kamu pasti kecapekan kan?" Emeryl mau merebut panci di tangan Kevin tapi pria itu mengelak, hingga membuat Emeryl hampir jatuh. Untung Kevin buru-buru menahan tubuh Emeryl jika tidak entah apa yang terjadi pada wanita itu. Cukup lama berpelukan keduanya saling tatap-tatapan.
Perasaan Kevin menguat, Ia yakin perasaan cintanya benar-benar ada untuk Emeryl. Tapi Ia belum menyadari keberadaan cinta itu sebelumnya akibat di selimuti dendam yang mendalam.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Aku banyak salah denganmu," desis Kevin, lirih membuat Emeryl tak mampu mengedipkan mata.