Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 9 Perubahan


__ADS_3

Sebuah mobil yang membawa Dimas sampai di sebuah tebing jurang. Petir dan tiga lainnya terpaksa membopong tubuhnya keluar.


Melihat jurang yang cukup dalam Dimas ketakutan, Ia memohon agar Petir tidak melemparkan dirinya kebawah sana.


"Tir, tolong , Tir. Saya belum mau mati, Tir. Jadi saya mohon biarkan saya tetap hidup!" Dimas meremas lengan Petir supaya dia di beri kesempatan.


Wajah Petir yang dipenuhi brewok, menatap tajam. Ia kemudian meminta ketiga pengikutnya menurunkan Dimas ketanah lalu mengambil sebuah alat runcing dari saki baju yang Ia persiapkan untuk melakukan sesuatu.


Melihat itu, tubuh Dimas bergetar. Ia berusaha memberontak, belum siap jika Petir tiba-tiba menghunusnya.


Ahk...


Satu tusukan menyakitkan yang dilakukan Petir dikaki Dimas, membuat Ia berteriak sekencang-kencangnya.


"Petir, apa yang kau lakukan?" Bola mata Dimas sampai berair dibuatnya, tapi Ia tak bisa melakukan apapun karena ketiga orang lainnya dengan erat mencekal kepalanya.


Tanpa Dimas duga, Ia melihat Petir berhasil mencongkel sebuah peluru yang bersarang dikaki nya. Petir menghentikan sejenak tindakannya dan tersenyum masam kearah Dimas. Wajah yang terlihat mulai memucat, tapi Ia harus menyelesaikan mengambil benda berbahaya tersebut di kaki Dimas, apapun resikonya.


Tusukan kedua, kembali membuat Dimas memekik merasakan sakit yang luar biasa.


"Ahk... Petir jangan lakukan lagi, aku tidak sanggup!"


Petir tidak mengatakan apa pun, Ia tetap dengan teganya melakukan aksinya sampa Ia berhasil mengambil empat buah peluru tersebut di kaki Dimas. Entah apa maksudnya, Petir juga mengambil sebuah kain panjang dari dalam mobil lalu mengikat kedua kakinya guna menutupi darah yang terus keluar.


"Siapkan barang yang aku pinta tadi!" Titah Petir pada mereka, dengan tegas nya.


Tanpa jawaban, ketiganya langsung mengeluarkan boneka yang di pompa. Lalu melucuti baju ditubuh Dimas.


Dimas sangat kaget, Ia merasa sedang dianiaya. Hingga tinggal menyisakan celana pendek.


Dimas bingung melihat tindakan anak buah Petir, Ia melihat dengan jelas jika tubuh boneka yang mengenakan pakaian miliknya, dengan sadis di gulingkan oleh sepak kan Petir kedalam jurang dan kejadian itu di vidio kan salah satu anak buah Petir.


Melihat boneka itu jatuh hancur, Dimas dapat membayangkan betapa mengerikannya jika itu adalah dirinya sendiri. Pasti ia sudah meregang nyawa dibawah sana.


"Pakaikan dia baju!" titah Petir lagi. Ketiganya begitu patuh, dan itu lagi-lagi membuat Dimas tercengang.


"Petir, kau_?"


Pria brewokan itu duduk berjongkok di didepan Dimas, Ia mengambil segepok uang yang sengaja di genggamannya pada Dimas, juga memberikan satu buah ponsel genggam.


"A_ apa maksudnya?" tanya Dimas. Ia tidak percaya Petir melakukan sesuatu yang tak lazim.


Petir tidak mengatakan apa pun, Ia bergegas mengajak ketiganya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Oh, Ya Tuhan. Petir membantuku?" Dimas berulang kali, berpikir secara logika. Mustahil rasanya seorang Petir yang sama kejamnya dengan Kevin melakukan sesuatu diluar nalar.


"Siapa Petir, mengapa dia memiliki banyak Uang?" Pertanyaan itu lagi-lagi membuat otaknya bekerja keras.


...🏵️🏵️🏵️🏵️...


Sekembalinya Kevin dari rumah sakit, dia merebahkan tubuh Lana di ranjang.


"Bi, buatkan Lana susu!" perintah Kevin pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik, Pak Kevin."


Beberapa saat kemudian. Bu Irma membawa minuman yang diminta.


"Minumlah baby, kau Harus segera pulih!" Kevin membantu Lana meneguknya. Tubuh Lana sangat lemah, dia tidak punya tenaga untuk bangkit.


"Terima kasih, Sayang. Seandainya kau selalu begini. Aku pasti akan sangat bahagia," ujar Lana. Sudah lama kehangatan itu memudar, Kedua nya tak pernah lagi menghabiskan waktu bersama.


Perempuan itu mendudukkan diri, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Kevin.


"Aku akan membalas ini, Sayang. Dimas pasti sudah mati, rohnya akan melihat Emeryl menangis darah tanpa ampun," timpal Kevin. Giginya saling mengerat satu sama lain.


Ia bersumpah, aku membuat hidup Emeryl seperti di neraka. Tidak ada cinta dan kasih sayang yang akan didapatnya dirumah itu.


Terdengar ketukan dari pintu. Meyakini ada yang datang, Kevin mengurai pelukan Lana dan beranjak kearah pintu. Ternyata itu adalah Petir.


"Bagaimana?" tanya Kevin.


Petir menyerahkan vidio yang di dapatnya tadi. Kevin langsung mengecek sendiri, kehancuran tubuh Dimas di dasar jurang.


"Bagus, Emeryl pasti syok melihat ini!" Kevin meminta Petir pergi. Sedangkan Ia berpamitan pada Lana untuk menemui Emeryl.


Dikamar itu, Kevin masih melihat pemandangan yang sama. Dimana Emeryl selalu termenung diujung ranjang dengan berderai air mata.


"Halo, istriku. Berhentilah menangis!" Kevin pura-pura baik, Ia mengusap air mata Emeryl dengan ujung jarinya. "Kau mau melihat hadiah yang kubawa, tidak?" ujarnya, tersenyum simpul.


Emeryl melirik Kevin, hanya ada pancaran kebencian di dalam bola matanya.


"Dasar bisu," ejek Kevin. Dia memperlihatkan Vidio yang Ia dapatkan dari Petir tadi.


"Biadab, pria apa kau ini? Mengapa kau lakukan hal itu pada Kakakku, ha?" Hati Emeryl seakan mendidih melihat Dimas sudah tewas.


Seketika itu juga, Emeryl mencoba merebut ponsel Kevin. Tapi pria itu mengelak lalu mendorong tubuh Emeryl keranjang dengan sangat keras.

__ADS_1


Kevin menatap bengis, kebencian Emeryl tidak sebanding dengan Kevin. Sejak awal hatinya tidak mau memberikan belas kasihan sedikit pun.


Pria itu merangkak naik, mendekatkan bibirnya di telinga Emeryl sambil membisikkan kata-kata menyakitkan.


"Jangan macam-macam, manis. Apa kau mau, wajahmu yang standar ini rusak seketika!"


Cuiiih...!


Emeryl meludahi wajah Kevin, dan itu membuat Kevin meradang. Ia menarik ikat pinggang yang akan Ia pukul kan ketubuh Emeryl namun baru saja hendak mengayun. Damar malah masuk dan mencegahnya.


"Jangan, Bang!" teriaknya.


"Kenapa, Mar? Dia berhak mendapatkan ini dariku?" ucap Kevin, meninggikan nada bicaranya.


Damar tertawa miring. "Dasar, kau. Jangan lupa, dia adalah aset yang harus kita jajakan. Kalau tubuhnya rusak, siapa yang mau membayarnya, ha?"


Sejenak Kevin terdiam, lalu menoleh kearah Emeryl yang meringkuk menutupi wajahnya.


" 2 M, itu sangat lama untuk dikumpulkan, Mar? Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan 1 Triliun dalam waktu 1 bulan?"


Damar nampak berpikir. "Em.. bagaimana jika kita jajakan dengan harga fantastik 10 M, misalnya?" Ucap Damar, asal.


"Ck, gila kamu. Mana mungkin ada yang mau dengan gadis tanpa pengalaman seperti dia?" Kevin meremehkan.


"Kau yakin, Bang? Kalau begitu serahkan padaku!"


Damar membuat lagi status di Sosial media.


Barang siapa yang sanggup memesan gadis berusia 19 seharga 10 M dalam semalam maka dia akan menjadi pria yang sangat beruntung.


Gadis ini, sangat lincah membuat ranjang bergetar semalam suntuk tanpa berhenti. Jika minat silakan hubungi nomer ini O8 ****.


"Aku tidak yakin, Mar? Semalam saja pria aneh itu mengeluh jika Emeryl tidak pandai membuatnya terpuaskan?" Belum apa-apa Kevin meragu. Jelas saja Emeryl belum tahu teknik yang menggairahkan.


"Jangan pesimis lah, Bang. Kita tunggu notif yang masuk."


Ting! Ting! Ting!


"Wah, Bang ada 10 notifikasi. Kita lihat apa tanggapan mereka," ujar Damar.


Setelah di baca, mereka belum ada yang menyanggupi. Mereka hanya mampu memberi 1 M dari yang mereka tawarkan.


"Kau lihat kan? Itu tidak mudah?" ujar Kevin lagi, kesal.

__ADS_1


__ADS_2