
Kevin dan beberapa anak buahnya telah melipir ke tepian bahu jalan. Mereka melihat jelas keindahan sebuah kantor mewah yang menjulang tinggi kearah langit.
"Benar ini gedung nya, Tok?" Tanya Kevin, pada para anak buahnya. Tidak sabar untuk segera bertemu dengan Elang dan bertatap muka secara langsung.
"Kalau di lihat dari sosial media iya, Bos. PT. Elang Hitam hanya ada satu-satunya di negara kita," jawab Totok, yakin.
"Oke, baiklah. Mana berkas yang saya minta!" Kevin akan menyamar sebagai seorang yang mencari pekerjaan. Dengan begitu Ia bisa masuk ke gedung tersebut tanpa di curigai. Kevin melepas jaketnya menyisakan setelah kemeja putih dan celana dasar berwarna hitam.
"Ini, Bos." Totok sudah menyiapkan sebagaimana kebutuhan Kevin.
Pria 30 tahun dengan tinggi 187 tersebut bergerak keluar dari mobil, matanya yang sedikit cokelat menatap kesatu arah tanpa menoleh kesekitaran tempat itu.
Seorang pria yang tengah duduk berjaga.memperhatikan Kevin, lantas Ia menahan langkah pria tersebut dengan tongkatnya tepat diambang pintu.
"Ada perlu apa?" tanyanya, tegas. Tak ada basa-basi sedikit pun. Kevin melirik dengan tatapan sinis. Jika bukan karena suatu misi, Ia tidak akan sudi di perlakukan demikian.
"Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan," jawab Kevin, tenang.
Pria agak gemuk yang memiliki baju berlogo security tersebut memperhatikan Kevin dari atas sampai bawah.
"Heh, kenapa wajahmu lebih mirip dengan penjahat ya!" ledek security itu. Bagaimana tidak, tanpa berbicara pun wajah Kevin terlihat sangat garang.
Mendengar itu, Kevin berbalik menghadap security tersebut. Kevin menepuk bahu pria itu, tapi security itu langsung menepis tangan Kevin. Tatapannya begitu tajam, seakan tahu jika Kevin punya maksud tertentu.
"Maaf, ini kan kodrat dari Tuhan, Pak," ujar Kevin lagi, seraya tersenyum simpul. Kevin sebenarnya emosi, tapi sebisa mungkin untuk tetap menahan diri. Bukankah Ia harus bersabar untuk mencapai sebuah tujuan. Apa lagi security itu hanya bagaikan seekor semut yang tidak ada apa-apa nya dibandingkan dia.
"Sudah ada janji?" tanya security itu, lagi.
Kevin menggeleng.
"Kalau begitu tunggu sebentar!"
Belum juga beranjak dari tempatnya berdiri, sebuah mobil mewah memasuki lahan parkir.
"Bos, datang!" Ucap seorang perempuan bisik-bisik. Kevin bisa melihat dengan jelas jika mereka sangat risau, Security dan beberapa orang lainnya langsung berlari untuk menyambut kedatangan pemilik mobil itu.
"Oh, ya. Pasti itu Elang?" Gumam Kevin kemudian.
Kevin terus mengamati mobil yang dikerumuni mereka dan melihat jelas seorang pria keluar memakai penutup wajah sangat rapat.
"Ah, benar dia adalah Elang," gumam Kevin lagi.
__ADS_1
Kevin agak gugup saat Elang dan beberapa orang lainnya melintas kearahnya. Ia memilih menundukkan kepala agar Elang tidak mengenalinya.
Tapi Kevin dibuat terkejut, orang itu berhenti tepat disampingnya.
"Dia siapa?" Tanya Elang, pada sekertaris nya.
"Mau melamar pekerjaan, Pak," sahut security tadi.
Elang mengangguk dan melanjutkan langkahnya masuk kedalam. Kevin tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bola matanya yang mengikuti langkah Elang masuk kedalam sebuah lift.
Wah, sepertinya Elang memang bukan orang biasa. Dia sangat tertutup pada orang lain...
Kevin hendak melangkah masuk, tapi Security menahan bahunya lagi.
(Sial, kalau bukan karena mau mencari tahu bagaimana wajah Elang. Sudah kupatah kan tulang belulangnya...)
"Ayo ke bagian HRD, untuk interview!" Ajak Security tersebut. Dengan sangat terpaksa, Kevin mengikuti langkahnya.
Setibanya disana, seorang HRD langsung memeriksa biodata lengkap Kevin. Sangat disayangkan, Kevin tidak punya pengalaman tentang bisnis manajemen.
"Maaf, Pak. Kenapa tidak ada riwayat tentang pekerjaan disini?" Tanya Kepala HRD itu.
"Saya baru pertama kali melamar pekerjaan," jawab Kevin, datar. Acuh tak acuh dengan pertanyaan yang di tujukan untuknya.
Kevin mengeratkan giginya, Ia tidak menyangka diperlakukan seperti itu secara mentah-mentah.
Brengsek, kau akan menyesali ini Pak Tua...
Kevin dengan kasar meraih maf itu dan berjalan keluar, kemudian disana bersamaan Ia melihat seorang office boy.
Disana lah ide pintarnya mulai terbuka.
Kevin membuang maf miliknya ke tong sampah, lalu pergi ke dapur, mencari perlengkapan pakaian yang Ia butuhkan. Keajaiban, ada satu setel yang terlipat di dalam lemari pada ujung dapur tersebut.
"Woy, buruan buat koffe untuk, Bos!" Ujar seseorang dibelakangnya.
Kevin sedikit kaget dan cepat-cepat memakai baju yang masih menggantung setengah di tubuhnya. Ia juga memakai topi yang masih menggantung.
Dikira aman Kevin berbalik dan mengangguk.
"Cepetan yang lain sibuk!" Ujar Office Boy itu lagi. Kevin yakin dia adalah ketua dari pekerjaan itu.
__ADS_1
Dengan asal Kevin mengambil gelas dan membubuhkan tiga sendok gula dan dua sendok koffe, lalu dengan cepat diaduknya sampai rata. Kemudian Ia mengambil penampan dan penutup gelas.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Kevin serasa mendapat angin segar. Bahkan keadaan sangat membantu kondisinya. Namun karena tidak tahu dimana ruangan tersebut, Kevin memutuskan bertanya dulu pada seorang Office girl yang sedang menyapu lantai.
"Maaf, Mbak. Ruangan Bos Elang dimana ya?" Tanya Kevin, dengan nampak bersemangat.
"Di lantai Ke 28," jawab cewek itu tanpa menoleh.
Kevin segera menaiki lift, dia memencet tombol angka yang di maksudkan. Beberapa menit di dalam sana, sampai juga di lantai yang sesuai dengan nomor pilihannya tadi.
"Benarkah ini ruangan, Elang?"...
Dengan ragu-ragu Kevin mendekat kedaun pintu dan mendengar Elang membicarakan sesuatu.
Iya, aku mau gadis itu di buat sempurna, aku tidak menyukai rambutnya yang sekarang...
Tok! Tok! Tok!
Kevin mengetuk pintu!
"Masuk...!" Jawab seorang pria dari dalam, dia adalah seorang pemuda bawahan Elang.
Kevin mendorong pintu dan melihat Elang sedang duduk menyender di kursi dengan posisi membelakangi. Jika dilihat dari samping, Kevin yakin Elang tak lagi memakai masker.
"Bos, ini koffe nya," ujar Kevin.
"Letakin disitu, Bos sedang mengobrol," ujar pemuda yang terus melihat Kevin.
Kevin bingung harus apa, dia memikirkan cara untuk membuat Elang berbalik kearahnya. Dengan begitu, Ia yakin tampang Elang akan terlihat.
"Bo_ Bos minum dulu selagi panas!" Ujar Kevin lagi, dengan lancang. Perbuatan itu tak ayal membuat pria yang berdiri disamping Elang melotot.
"Hei, jangan kurang ajar ya. Letakin saja disitu dan pergi sekarang!" Sentak pria itu.
Kevin menundukkan kepala, Ia tetap tak bergeming akan perintah Pemuda itu.
"Kenapa masih disitu?" Pria itu mulai geram pada Kevin.
Kevin melihat banyak berkas di meja tergeletak berantakan, lekas Ia berinisiatif merapikan berkas tersebut.
"Biar kurapi kan!" Dengan sengaja Kevin menyenggol koffe yang Ia suguhkan tadi hingga tumpah ke seluruh dokumen disampingnya.
__ADS_1
"Hey, apa yang kau lakukan?" Teriak Pemuda itu, sangat marah.