Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 55 Ancaman


__ADS_3

Emeryl terpaku pada Kevin, tapi Ia justru membayangkan jika pria di depannya adalah Elang yang tengah menghipnotisnya dengan sejuta senyum pemikat. Tanpa sadar tangan itu terulur menyentuh pipi Kevin dan itu menyatukan satu buah kecupan manis.


Bak gayung bersambut, Kevin sangat senang mendapat reaksi itu dari Emeryl mempercepat bibirnya menyapu milik Emeryl.


Jantung wanita itu berdegup cepat, mana kala Ia tersadar jika yang bersamanya adalah Kevin bukan Elang seperti bayangannya.


"Oh, Mas. Maaf...!" Emeryl buru-buru melepaskan diri dari kungkungan Kevin. Ia tidak tahu mengapa wajah Elang selalu mengganggu pandangan matanya. Sejatinya Ia ingin menjadi istri yang berbakti, namun apa lah daya. Ia kesulitan menguasai perasaanya sendiri yang bertolak belakang.


Kevin tersenyum lagi, Ia tahu Emeryl masih bingung akan perlakuannya. Tapi Kevin tidak mau ambil pusing. Ia percaya, jika waktu yang akan membuktikan siapa yang lebih pantas mendapatkan cinta yang tulus dari Emeryl.


Beberapa waktu bergelut di dapur, Kevin selesai juga membuatkan susu. Ia merangkul Emeryl duduk di depan televisi.


Cukup lama hanya saling menatap, mereka yang masih canggung itu di kaget kan oleh ponsel Kevin yang berdering.


Kevin langsung memeriksa ponsel itu dan tahu jika yang menelpon adalah Diaz Danuarta. Sedikit ragu-ragu, Ia menerima panggilan itu dan harus siap akan perkataan Diaz.


"Halo, Kevin. Sudah lama tidak bersua, apakah hari-harimu bahagia sekarang?" Pertanyaan Diaz, terkesan menyindir dirinya. Bisa jadi, Diaz telah mengetahui sesuatu mengingat ada yang mengambil gambar mereka ketika masuk ke mobil tadi.


"Apa maksudmu, Bos?" Tanya Kevin, berpura-pura.


"Heh, kau melupakan sesuatu rupanya. Hutangmu belum kau bayar, Kevin. Apa kau telah melupakannya."


Kevin bingung harus apa, Ia bisa memahami arah ucapan Diaz. "Saya akan mengusahakannya, Bos," jawab Kevin, pelan.


"Hahaha...!" Diaz tertawa terbahak-bahak. "Ayolah, Sobat. Apa kau berubah pikiran untuk menawarkan calon teman ranjangku."


Bola mata Kevin membulat, benar dugaannya jika Diaz telah mengetahui kalau Emeryl sudah kembali bersamanya. Kevin menoleh kearah Emeryl, perempuan itu hanya menyimak perbincangan keduanya.

__ADS_1


"Saya akan mendapatkan uang itu," tandas Kevin, dengan mantap. Ia mematikan panggilan itu sebelah pihak tidak perduli jika Diaz Danuarta akan marah. Kali ini Ia harus melindungi Emeryl. Karena wanita itu adalah istrinya sekarang setelah dendam pada Dimas itu lenyap.


"Ada apa, Mas?" Tanya Emeryl, penasaran. "Apa dia memintaku memberikan diri?" Lanjut Emeryl lagi. Kevin hampir tercekat.


"Jangan bicara yang aneh-aneh Emer." Kevin terlihat tidak suka.


"Gak papa, Mas. Jika dengan memberikan aku. Hutang Mas Kevin lunas, aku siap kok," ucapnya melantur. Meski Ia tidak akan pernah siap menghadapi itu tapi Ia mau menunjukkan kebaktiannya pada seorang Kevin.


Kevin menggeleng. "Aku akan mendapatkan uang itu, Emer. Apa pun caranya."


Air mata Emeryl meleleh, Ia terharu setelah akhirnya, Kevin benar-benar telah berubah. "Aku masih tidak percaya ini, apa kau benar-benar berubah, Mas? Kau tidak takut, jika Diaz akan membunuhmu nantinya?"


Kevin menatap dalam bola mata yang sudah banjir oleh linangan air mata itu lalu menghapus dengan tangannya. "Plis, jangan menangis begini. Karena itu akan menyakitiku, Emer. Lebih baik aku mati dari pada harus melakukan kesalahan serupa yang akan membuatku menyesal seumur hidup."


Pria itu meneguhkan hati lalu memeluk erat-erat tubuh Emeryl seakan takut perpisahan terjadi lagi. Tapi pria itu harus nekat, jalan satu-satunya adalah Ia harus mendapatkan uang 1 triliun untuk membayar Diaz. Dengan begitu hidupnya akan tenang.


Mereka bertemu di sebuah jalanan kosong dan berangkat bersama-sama dengan mobil Jeep. Golok, pistol dan beberapa senjata tajam menjadi teman mereka.


"Apa kalian benar-benar siapa?" Kevin meyakinkan temannya.


"Siap, Bang. Aku tahu kau tengah berjuang untuk mempertahankan istrimu," jawab Damar yang selalu mendukung setiap tindakan Kevin.


Keempat orang itu berhasil menepikan mobil di sebuah Bank swasta di daerah itu. Mereka bersembunyi-sembunyi melihat situasi dan kondisi untuk memastikan keamanan. Hanya ada dua satpam yang berjaga. Diam-diam, Damar mencari perhatian melempar kaleng kearah yang gelap untuk mengalihkan perhatian kedua satpam pilihan itu.


"Woy, siapa itu?" Teriak mereka, terkejut. Keduanya segera memeriksa kesekitaran asal suara. Dengan mencuri kesempatan Kevin dan kedua orang lainnya langsung menghantam jenjang leher keduanya dengan balok hingga pingsan.


"Ayo masuk!" Ajak Kevin, berbisik-bisik. Gerakan kaki samar hampir tidak terlihat. Keempatnya masuk dan bertemu beberapa orang yang masih lembur.

__ADS_1


"Angkat tangan!" Sergah Damar, Ia dan Kevin menodongkan pistol kearah semua orang secara menyeluruh. Melihat ada beberapa CCTV tanpa pikir panjang Kevin menembak benda itu dari kejauhan hingga hancur. Sontak mereka yang ada ditempat itu terkejut dan langsung berdiri mengangkat tangan. Ada yang bahkan sampai berteriak ketakutan. Tapi seseorang nekat maju untuk menantang.


"Mau apa kalian, ha?" Tanya orang itu, sambil mendekat. Ia hendak melayangkan tinjuan. Alih-alih merasa jagoan, Ia menuai akibatnya.


Kevin yang dapat tantangan memuakkan, langsung menembak orang itu berulang-ulang hingga terbujur kaku tanpa ampun. Suara histeris sangat nyaring memekikkan telinga.


"Siapa disini yang menjadi pemegang kendali keuangan?" Tanya Kevin, garang.


Seseorang dengan wajah takut dan memucat me


mengacungkan jari.


"Sini kamu!" Titah Kevin, tanpa welas asih.


"Ampun, Pak. Tolong jangan bunuh saya!" Ucap perempuan yang berperawakan tinggi semampai bak seorang model.


"Cepat buka kode brankas, dan masukkan uang itu kesini!" Kevin melempar dua tas besar kewajah wanita itu.


"Baik, Pak." Wanita itu memungut tas tersebut dan menuju ketempat penyimpanan uang. Menekan beberapa digit kode hingga terbuka. Takut meregang nyawa, wanita itu cepat-cepat memasukkan semua uang merah yang terikat rapi kedalam tas besar tersebut sampai penuh. Sesekali melirik Kevin yang terus memantaunya dengan senjata.


"Terus, sampai penuh. Pastikan di dalamnya mencapai 1 Triliun!" Ujar Kevin lagi. Damar bersiaga menghalau seseorang yang mencoba melaporkan mereka melalui ponsel genggam.


Yakin sudah sangat banyak, anak buah Kevin mengangkut tas hitam itu. Dengan berjalan mundur tanpa melukai lagi keempatnya langsung berlari kemobil dan tancap gas. Sedangkan pihak Bank yang merasa sudah aman langsung menghubungi pihak kepolisian.


Belum terlalu jauh dari Bank, benar saja jika mobil Kevin dan Damar menjadi target pengejaran polisi yang di kepung dari berbagai sisi.


"Wah, ini gimana, Bang. Cepat juga mereka datang mengejar," ucap Damar, panik. Pasalnya dia belum siap mati jika keburukan terjadi.

__ADS_1


"Percayakan sama aku, Damar," ucap Kevin, menenangkan.


__ADS_2