
"Elang, kamu belum menjawab pertanyaan nenek?" Eyang Kanesty mengingatkan lagi jika Elang belum menjawab apa yang ingin Ia dengar.
Wanita lansia itu begitu menyayanginya sejak Ia baru dilahirkan. Jika bukan karena wanita tua itu, sudah dipastikan Ia tidak akan bisa hidup sampai sekarang.
Elang mengetahui sebuah cerita jika Ibu yang Ia pikir malaikat sempat berulang kali berusaha menggugurkannya, bahkan hampir membunuhnya saat Ia masih bayi.
Diana pernah mengalami depresi gara-gara pria yang menikahinya suka berjudi, main perempuan dan mengkonsumsi barang-barang terlarang. Tak jarang kekerasan pisik Diana alami jika Ia menuntut sebuah perhatian.
Kejadian itu membuat Elang tumbuh menjadi seorang pemuda yang menentang penindasan dan kekerasan pada seorang wanita. Ia akan melakukan apa pun untuk bisa melindungi orang yang dicintainya.
"Maaf, Eyang. Saya sangat sibuk di kantor. Oleh sebab itu saya memilih menginap di villa," jawab Elang, datar.
Mendengar jawaban yang kurang memuaskan wanita Lansia itu membuang nafas kasar.
"Ya sudah, ayo kita makan malam. Sekarang sudah jam sembilan!" Eyang Kanesty berdiri lebih dulu di susul Diana dan Tania. Saat ini suami Tania sedang pergi keluar kota dan hanya akan kembali pada hari sabtu dan minggu.
Emeryl sendiri masih termangu, Ia terus menatap Elang seakan ingin menanyakan kenapa dirinya di bawa kerumah itu sebagai seorang yang penting.
"Kau tidak lapar?" Elang menoleh kearah Emeryl. Bola mata tajam itu terlihat memikat.
"Bang, apa kau sudah gila?" Emeryl ganti bertanya. Wajah sendu yang tercetak diwajahnya begitu ingin tahu.
Elang membisu, ada hal yang belum bisa Ia ceritakan pada sosok Emeryl. Elang memang terkenal suka menutup diri pada siapa pun termasuk pada keluarganya sendiri. Tidak ada satu orang pun diantara mereka yang bisa merubah itu dari diri Elang.
"Kau pasti lapar!" Pria itu menggenggam tangan Emeryl yang tengah berada di pangkuannya. Pria itu membawanya masuk keruangan yang begitu besar. Ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam barang berharga yang sudah dipastikan bernilai jutaan atau bahkan ratusan juta rupiah.
Ditengah-tengah ruangan itu ada satu set meja makan khusus keluarga sebagai tempat perjamuan di kala sedang makan bersama. Tidak tanggung-tanggung. Masakan itu begitu banyak bahkan tidak akan habis dimakan oleh satu keluarga.
Menu nya saja mewah, Emeryl tidak akan bisa mendapatkannya walau satu porsi saja meski memeras keringat untuk membelinya.
"Duduk!" Sang Eyang menatap dingin.
__ADS_1
Pemuda yang masih di balut masker itu menggeret kursi untuk Emeryl. Ia kemudian memberi kode dengan lirikan mata agar Emeryl segera duduk.
"Bagus, kau akan menjadi seorang istri Emeryl. Hari ini Eyang ingin melihat kau melayani Elang dengan benar!" Perkataan Eyang Kanesty tidak ubahnya seperti sebuah tantangan untuk mendapatkan hati mertua.
Emeryl agak canggung, tapi ada hal yang membuat Emeryl sedikit bersemangat. Ditempat itu Ia akan melihat Elang melepas maskernya dan bisa melihat jelas wajah pria yang selama ini membuatnya penasaran.
"Aduh, Eyang. Perut ku sakit!" Tiba-tiba Elang mengeluh. Ia meringis memegangi perutnya.
"Astaga, Nak. Kamu makan apa tadi!" Diana mendekat dan memeriksa. Tangannya menempel ke kening Elang guna mengecek suhu tubuhnya.
"Aku mau tidur saja, Mom!" Elang berjalan meninggalkan mereka. Jujur saja, Emeryl menaruh curiga. Ia merasa kalau Elang tengah membohongi mereka.
Diana segera mengambil piring, Ia juga membubuhkan nasi dan lauk pauk juga secangkir air minum untuk Elang.
"Mau apa?" Cegah, Eyang Kanesty.
"Mengantar makanan untuk Elang, Ma," Jawab Diana.
"Tidak usah!" Eyang Kanesty kurang setuju.
"Biar, calon istrinya yang mengantar!" Tandas Eyang, lagi.
"What?" Tania bersuara. "Kenapa harus dia, Eyang? Aku rasa Mommy lebih pantas dari dia!" Tania menatap sinis kearah Emeryl.
"Tidak usah!" Bantah Eyang Kanesty, dan itu membuat Diana meradang.
Akan tetapi Ia sangat patuh dan menuruti Ibunya itu. Diana kembali dan meletakkan makanan itu didepan Emeryl. Ia terus mengamati penampilan Emeryl sambil bersedekap.
"Ck, apa istimewanya bocah tengil ini?" Diana yakin jika Emeryl bukan wanita sosialita seperti Angela.
Eyang Kanesty mengabaikan ocehan Diana, dan berfokus pada Emeryl yang masih saja tak berani menatap mereka.
__ADS_1
"Emer, pergilah kekamar Elang! Dia butuh perhatian yang datangnya dari orang yang berhati suci!" Eyang berkata seakan menyindir Diana.
"Kenapa Mama bicara begitu? Cinta seorang Ibu tidak mungkin melebihi cinta seorang pacar," Sahut Diana, kesal.
Eyang hanya meliriknya sebentar, Ia acuh tak acuh akan omongan Diana yang dari dulu selalu keras kepala dan angkuh pada orang lain.
"Pergilah!" Eyang Kanesty kembali memerintah. Dengan terpaksa Emeryl mengangguk patuh. Ia mengambil piring dan minuman itu. Lalu berjalan kearah kemana Elang tadi pergi. Menaiki anak tangga kelantai atas dan melihat satu buah kamar yang terpisah. Sedang di sisi lainnya ada dua pintu berbeda.
"Apa ini kamarnya?" Emeryl sangat takut, jika seandainya salah kamar itu ada orang didalamnya dan itu bukan elang. Tentu akan sangat memalukan untuknya. Sedangkan Ia sendiri tidak tahu berapa jumlah penghuni rumah besar itu.
Didalam kamar, Elang memang sedang kesakitan. Tapi bukan sakit perut melainkan sakit akibat menyembunyikan luka dari tembakan yang dilakukan Diaz di rumah markasnya.
Ya, Pria bermasker 1 dan 3 adalah dirinya, dimana Ia meminta salah seorang kepercayaan membantunya sebagai pria bermasker 2 untuk menyelamatkan Emeryl. Pria bermasker 2 tak lain adalah Jack. Keahlian bela dirinya tidak di ragukan lagi. Tapi untuk melawan Diaz, Ia memilih turun tangan sendiri. Tidak puas rasanya jika hanya mengandalkan orang lain.
Selama Jack menyerahkan Emeryl, disaat itulah Elang dan komplotannya sudah lebih dulu menunggu mereka di badan jalan.
"Ah... !" Elang berteriak histeris. Ia nekat membuka pengikat kaki yang sudah dipenuhi oleh darah, dan teriakan itu sampai ditelinga Emeryl.
"Bang Elang!"
Suara Elang bersumber tepat di depannya. Ia berpikir jika Elang benar-benar sedang kesakitan, sehingga meraung sangat keras.
Tok! Tok! Tok!
Emeryl menggedor pintu berkali-kali. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan pria misterius itu. Karena bagaimana pun juga Ia berhutang banyak pada Elang.
"Bang, buka pintunya? Apa kau baik-baik saja?"
Elang mengigit bibir, Ia yang sudah tidak memakai masker terpaksa harus mengenakannya lagi. Pemuda itu buru-buru menutupi kakinya dengan celana yang panjang dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa?" Tanya Elang, membuka sedikit pintu di kamarnya.
__ADS_1
"Izinkan aku masuk!" Emeryl mendesak. Ia menerobos melewati tubuh kekar Elang.
Pria itu kembali menutup pintu dan berdiri berkaca pinggang, memperhatikan Emeryl meletakkan makanannya diatas meja.