Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 46 Terkuak 2


__ADS_3

Di balik sinar matahari yang semakin merangkak naik. Gelora panas tercipta dalam balik kamar Lana. Nafas bertaut dan keringat membasahi sekujur tubuh. Mungkin sekitar satu jam lamanya, Petir membuat Lana benar-benar kehabisan tenaga.


"Petir, apa kau belum selesai, aku mulai lelah?" Ucap Lana dibalik dessahannya. "Kaki ku sangat pegal," lanjutnya lagi. Karena Petir menahan kedua kaki Lana naik ke atas.


"Tunggu sebentar lagi, aku ingin memuaskanmu." Petir terus menghentak-hentakkan kegagahannya tidak peduli jika Lana benar-benar telah lunglai. Sebenarnya Ia sengaja menyalakan vidio untuk merekam kejadian itu dan mengirimkannya pada Kevin tanpa Lana ketahui.


"Arrrg... ini nikmat, Nona." Petir memekik saat sesuatu yang lengket memenuhi milik Lana.


Petir belum juga usai, Ia menjatuhkan tubuhnya di atas Lana. "Apa kau merasa puas?" Bisik Petir, seperti terpaan angin lalu. Sesekali tersenyum, Ia sedang menanti petaka apa yang akan terjadi.


Lana mengangguk, baru kali ini Ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Gubrak...!


Suara hentakan pintu mengagetkan Petir dan Lana.


Bola mata memerah bagaikan api menyala dengan tajam tergurat pada wajah pria 30 tahun tersebut seolah akan menelan mangsanya


"Petir...! Lana...!" Teriaknya seperti sampai ke langit ke tujuh.


Lana yang belum siap akan kondisi itu langsung mendorong tubuh Petir lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Kevin yang melihat sendiri pengkhianatan Petir akan kepercayaanya bergerak menghampiri lalu memukul wajah Petir dengan keras.


"Brengsek kau, Petir. Rupanya kau juga seorang pengkhianat!" Amuk Kevin, tak bisa lagi Ia kendalikan. Belum usai rasa kecewanya saat tahu jika ToTok adalah Elang, malah ditambah dengan pengakuan Petir.


Pria disamping Lana hanya tersenyum santai, tidak ada beban yang terlihat disana. Ia bahkan tidak merasakan sakit akibat pukulan yang dilayangkan seorang Kevin.


"Berdiri kau...!" Kevin menarik tubuh Petir yang masih dalam kondisi telanjang. Tapi Petir tidak ingin melayani Kevin. Ia balas memukul wajah Kevin sampai pria itu terdorong. Petir segera memunguti bajunya dan dengan segera memakainya lagi.


"Mau bersama Kevin atau bersama ku?" Tanya Petir pada Lana. Tidak peduli bagaimana marahnya Kevin melihat itu.


Lana terisak, Ia bingung harus apa. Ia sudah cukup sabar untuk menghadapi Kevin selama ini. Tapi tak pernah sekalipun dihargai oleh Kevin sebagai istri yang di utamakan. Lana tetap bungkam, namun Ia segera memakai pakaian miliknya dan turun dari ranjang untuk mendekati Petir.


Melihat apa yang dilakukan Lana, tentu itu sangat menyakiti Kevin.

__ADS_1


"Kau itu istriku, Lana. Tidak ada yang berhak membawamu pergi dari sini!" Kevin beralih menarik Lana bersamanya.


Petir menyeringai sambil tertawa kecil dan itu terkesan mengejek Kevin.


"Sejak kapan kalian berhubungan?" Todong Kevin lagi. "Jawab Lana, sejak kapan?" Bentaknya pada perempuan yang kini disampingnya.


"Ma_ maaf, Mas. A_ Aku sadar Pe_ Petir lebih baik darimu," jawab Lana, jujur. Ucapan itu seperti bongkahan bara api yang mempora-porandakan hati seorang pria yang terkenal kejam seperti Kevin.


"Kau dengar itu, Bos. Eh, Bos.. Kevin Anggara ya. Dia lebih bahagia denganku kau tahu kenapa?" Petir menjeda kalimatnya. Agar rasa sakit Kevin makin terasa. "Karena Ia sangat puas akan permainanku," lanjut Petir lirih. Gelak tawa menguar tajam pada telinga Kevin.


Bug!


Kevin yang di kuasai amarah kembali menghantam wajah Petir, tapi kali ini mereka saling balas.


"Aku tidak akan mengampunimu, Petir!" Teriak Kevin sekeras mungkin.


"Aku juga tidak akan melepaskan Lana untukmu, Kevin," jawab Petir tak mau kalah. Kamar itu pora-poranda oleh ketangkasan keduanya. Lana mematung, tidak tahu harus apa. Pikirannya mendadak kosong. Antara berdosa pada Kevin atau pergi bersama pria yang menghargainya.


Lebih menakutkannya lagi, Kali ini keduanya menodongkan senjata satu sama lain dan itu menarik perhatian Lana.


"Kau atau aku yang mati," tantang Kevin.


"Aku tidak takut, karena aku pastikan nyawamu akan melayang lebih dulu," jawab Kevin.


"Oya, baiklah. Biar kita saling balas." Keduanya menarik pelatup perlahan-lahan.


"Tunggu...!" Teriak Damar dari luar. "Ada apa, Bang? Kenapa kalian bermusuhan?" Damar mendekat dan mengamati keduanya.


"Pengkhianat," jawab Kevin, seraya mengeratkan rahangnya yang menegang.


"Apa?" Damar tercengang. "Benar kah yang ku dengar Petir?" Tanya Damar, meyakinkan.


Petir menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Damar. "Sebenarnya hanya sepele, Mar. Aku mencintai Istri Abangmu ini tapi dia malah tidak terima. Apa aku salah?" Tanya Petir tanpa perasaan bersalah.


"Ha?" Damar lagi-lagi terperangah. "Maksudmu, kau menyukai Kak Lana?"

__ADS_1


"Iya, Mar. Mereka baru saja berhubungan badan di kamar ini," timpal Kevin, geram.


"Jangan melempar kesalahan pada Lana, Kevin. Sakitmu belum seberapa, dibandingkan sakit hati Lana saat kau membawa wanita pesananmu itu kerumah ini setiap malam dengan orang yang berbeda. Ayo beri alasan agar kami memahami keinginanmu," Ucap Petir, tegas.


Damar dan Kevin terdiam.


"Kenapa diam. Benar kan? Lana cantik, dia bahkan memiliki tubuh yang tidak kalah dari para wanita liarmu itu. Lalu kenapa kau memilih jajan di luar," tambah Petir lagi, kian mencuat.


Lana hanya berderai air mata, tak ada yang bisa Ia katakan selain mengulum bibir untuk memecahkan kondisi yang terlanjur kacau.


"Dia tidak pernah keberatan," Jawab Kevin yang tidak mau disalahkan. Bukankah pria punya kebebasan dibandingkan seorang wanita.


"Cih, otak udang. Jadi kau hanya ingin bersenang-senang kenapa Lana tidak boleh. Kau tidak pernah perduli kan kalau perasaannya telah hancur?" Petir menatap bengis.


Kevin yang kalah dalam berucap kembali menodongkan senjatanya kearah Petir begitu juga Sebaliknya. Petir tidak akan mau mati Sia-sia ditangan Kevin.


"Turunkan senjatamu!" Teriak beberapa anak buah Kevin.


"Hehehe... kau lihat itu. Hari ini kau akan mati Petir." Kevin merasa ada dukungan yang banyak dan Ia pasti akan menjadi pemenangnya.


"O ya?" Petir tidak gentar. Lihat baik-baik apa pistol mereka mengarah kepadaku?" Petir meminta Ia memeriksa sekali lagi.


Kevin pun memastikan jika senjata tersebut mengarah ke Petir di depannya. Tapi saat Ia bergeser, senjata anak buahnya mengikuti dirinya.


Kevin menggeleng. Ia tidak percaya akan hal itu. "Apa-apaan ini?" Kevin benar-benar telah ditipu.


"Kau lupa, Vin. Bahwa saat kau butuh anak buah aku lah yang mencarikannya untukmu." Petir mengingatkan kejadian beberapa waktu silam.


"Sial, kau benar-benar brengsek Petir siapa di balik punggungnya." Kevin ingin menguak pakta.


Petir kembali tersenyum licik.


"Tidak usah banyak tanya, cepat turunkan senjatamu sekarang juga!" Perintah salah satu anak buah Kevin sebelum akhirnya tau jika mereka lebih patuh pada Petir.


Kevin mati kutu, Ia tidak menyangka telah terjerembak dalam pengkhianatan orang-orang sekitarnya.

__ADS_1


Kevin pasrah dan membuang senjata ditangannya. Lalu membiarkan Petir membawa Lana keluar dari tempat itu.


"Aku tidak pernah salah, Petir. Kau harus mati ditanganku!" Desis Kevin yang menatap kepergian mereka.


__ADS_2