Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 22 Pengenalan


__ADS_3

Sedang di tempat lain jauh dari rumah markas Diaz, Emeryl yang kini ada didalam mobil terus memandangi orang yang membawanya, Ia masih bingung akan pria yang disampingnya. Padahal Ia melihat sendiri jika Elang berkelahi dengan Kevin didalam sana.


"Siapa kamu ini?" Pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Emeryl.


Pria itu tersenyum. "Jangan heran begitu, Nona. Aku akan membawamu pada orang yang sedang menunggu," ucapnya dengan nada di buat-buat.


Tak jauh dari persimpangan, beberapa mobil tengah terparkir rapi. Ada beberapa orang berdiri menyandar pada badan mobil. Salah seorangnya juga bermasker menambah gelisah hati Emeryl.


Benar saja, mobil itu berhenti tepat di dekat mereka. Lalu sang pria bermasker yang membawanya menyerahkan Emeryl pada Pria bermasker ketiga.


Emeryl mengernyit dengan wajah bingung, apa yang sebenarnya Ia lihat benar-benar di luar otaknya.


"Siapa sebenarnya kalian ini? Apa jangan-jangan kalian sedang mempermainkan ku!" Emeryl takut jika yang mengaku Elang adalah pemilik wajah dari beberapa pria.


"Apa yang membuatmu takut, Sayang." Elang sesungguhnya memeluk Emeryl."Lihat mataku baik-baik. Kau pasti mengenaliku, bukan?" Elang menatap nya dengan lekat. Keduanya berbalas pandang.


"Bagaimana aku tahu jika Elang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang yang sama?" Emeryl meragu.


"Hahaha...." Elang tergelak. "Aku tidak mungkin membagi seorang wanita yang ku mau dengan pria lain." Elang meyakinkan Emeryl. Wajah lugu nan manis yang mampu merebut hatinya dalam sekejap.


Emeryl semakin mengkerut saat Elang mempererat pelukannya dan merangkul Ia masuk kedalam mobil.


"Kau urus dia, pastikan lukanya sembuh!" Titahnya pada pria yang memberikan Emeryl tadi. Wanita polos itu terus memandangi pria bermasker kedua, rasanya ada sebuah rencana yang sedang Elang dan sekawanan nya lakukan untuk mengecoh Ia atau orang disana tadi.


Emeryl mematung, mobil mereka mulai berjalan. Sesekali Ia menoleh kearah Elang. Memastikan sorot mata itu memang benar-benar sang empunya.


"Tidak usah melihatku begitu!" Meski tidak melihat langsung, Elang menyadari tindakan Emeryl. Pria itu begitu lihai memainkan kemudi membelah jalanan yang ramai.


Cukup lama menela'ah kejadian malam itu, Emeryl melepaskan bebannya dengan menghela nafas panjang lalu Ia hembuskan perlahan-lahan.


"Aku tidak tahu maksud, Abang. Tapi kenapa Abang mau menolongku dari Bang Kevin dan pria tua itu?" Emeryl butuh sebuah jawaban yang menenangkan.


Elang meliriknya sebentar. "Tidak ada, itu semua karena aku sudah mengeluarkan uang yang banyak," jawabnya, datar.

__ADS_1


"Mustahil," Jengah Emeryl.


"Apa sebegitu sulitnya percaya padaku?" Elang balik bertanya. Emeryl bisa melihat jika Pria itu sedang tersenyum simpul dari garis pipinya.


"Aku tidak mempercayai siapapun di dunia ini," Jawabnya, jujur. Emeryl sudah sering merasakan penderitaan. Tidak ada satu orang pun yang mampu membuatnya tertawa sampai saat ini.


"O ya? Miris sekali!" Elang menggodanya. Ia menoleh kearah dada Emeryl yang masih menyembulkan dua gundukan kembarnya dengan jelas. Sedikit saja turun maka bintik pink-nya akan terlihat secara sempurna.


Emeryl yang mengerti pun langsung menutupi dengan kedua tangannya, Ia sendiri tidak sadar jika bawahannya menunjukkan sesuatu yang lebih menggoda naluri pria.


Elang terkekeh gemas, bagaimana mungkin Emeryl se polos itu. Rasanya tidak ada guna juga jika Emeryl menutupi tubuhnya yang sebenarnya tidak mengubah apa-apa. Karena begitu saja, Elang dapat melihatnya dengan jelas.


"Kau tahu apa yang membuatku tertarik membayar mahal?" Elang kembali menyindir.


Emeryl menganga, bibir di balut lipstik merah merona itu tampak seksi di mata Elang. Ingin rasanya Ia tenggelam ke dasar sana untuk menjelajahi. Tapi sayang mereka masih di jalanan.


"Emangnya kenapa?" Emeryl menunduk dan melotot melihat pahanya. Bagian dalam yang menonjol sedikit. Dia begitu panik lalu mencari sesuatu di mobil itu untuk menutupinya.


"Berhenti!" Elang menyentuh pahanya, hingga Emeryl tersentak. Ia melotot lagi dengan kaget cukup lama. Karena risih, Emeryl menepisnya secara kasar. Ia hanya bisa menunduk kan kepala karena malu.


"Wajahmu tambah cantik kalau panik," goda Elang lagi. Ia sangat suka melihat wajah Cemas Emeryl.


"Tentu saja kau untung, tapi itu sangat merugikan ku." Emeryl menjawab tanpa mau memandang Elang lagi.


"Kenapa begitu?" Tanya Elang, heran. Kedua netra nya membias indah kearah Emeryl.


"Tidak perlu ku jawab kau juga tahu," Ujarnya sewot. Sambil sibuk menutupi dada dan bawah sana dengan tangannya secara bergantian.


Elang fokus mengemudi, sampai mereka memasuki halaman. Tampak berdiri sebuah rumah yang sangat besar. Emeryl yakin jika itu bukan Villa tempatnya melarikan diri.


"Ini dimana, Bang?" Emeryl takjub melihatnya.


"Rumahku," Jawab Elang. Ia turun lebih dulu dari Emeryl dan terlihat berjalan mengitari pangkal mobil untuk membantunya keluar.

__ADS_1


"Bang, apa tujuan mu membawa ku kemari?" Emeryl merasa gemetar.


"Kau akan tahu setibanya didalam." Elang membuka bagasi mobil dan menguarkan rompi perempuan untuk membalut tubuh Emeryl, serta memberi ikat pinggang seperti manik di bagian tengahnya sampai Ia terlihat begitu elegan.


"Kau sengaja menyiapkan semua ini?" Emeryl tersenyum memandangi wajah Elang yang menunduk di bawahnya.


Elang mendongakkan kepala dan balas tersenyum. "Aku bisa melakukan semuanya dengan mudah," jawab Elang, gampang.


Pria itu menyematkan jari-jemarinya di tangan Emeryl untuk masuk kedalam rumah. Emeryl bertambah tidak percaya saat Ia mendapati kalau keluarga Elang sedang duduk di ruang tamu menunggu mereka.


"Eyang...!" Elang memeluk seorang perempuan tua yang duduk seorang diri di sofa tunggal.


"Cucu Eyang, pulang juga. Kapan kau tidak bandel sering pergi, ha? Apa wanita itu membuatmu melupakan keluarga!" Sang Eyang menelisik kearah Emeryl yang masih berdiri.


Disana ada Ibu Elang dan seorang Kakak perempuannya yang sudah menikah.


"Oh, jadi ini kah kekasih pilihanmu, Elang?" Perempuan sekitar 40 tahunan itu menatap seakan tidak suka.


"Benar Mom, saya harap kalian bisa menerima kehadirannya," jawab Elang, bangga.


Emeryl membelalakan mata mendengar ucapan Elang. Bagaimana bisa pria itu memperkenalkan dirinya sebagai pacar.


"Tapi sayang, Mommy masih suka dengan Angela," ujar perempuan itu. Dia adalah Diana. Seorang wanita yang tidak jelasnya statusnya. Suaminya tidak bertanggung jawab, dia hanya digantung seperti perempuan tak berarti.


"Maaf, Mom. Saya sudah bilang kan? Jika saya tidak menyukai Angela. Dia hanya mantan saya. Jadi tidak mungkin saya kembali dengannya." Elang berdiri menghampiri Emeryl dan menuntunnya duduk bersama mereka.


"Siapa namamu?" Tanya Kakak Elang bernama Tania. Ia juga menunjukkan ketidak sukaan pada Emeryl.


"Em_ Emeryl, Kak," Jawab Emeryl, gugup.


"Aduh, sepertinya dia tidak pandai bicara," sindir Tania lagi, berlanjut.


"Dia pemalu, Kak." Pembelaan Elang membuat Emeryl tertegun.

__ADS_1


__ADS_2