
Malam itu suasana langit sangat cerah. Bahkan musim kemarau cukup lama menyapa. Biasanya pada musim tersebut cuaca sangat gerah akan tetapi di kamar mewah itu sungguh berbeda. AC menyala on dua puluh empat jam tanpa henti. Sedang wanita yang saling berhadapan dengan pemuda di depannya menjelma menjadi bocah kecil. Suapan demi suapan Emeryl terima dari tangan Elang hingga makanan itu habis tak tersisa.
"Bagus, tenaga mu agar segera pulih, sayang." Elang memandang penuh kehangatan. Senyuman yang terlukis juga bukan sesuatu yang baik bagi Emeryl. Karena setelah itu, Emeryl harus bersedia menjadi wanita hina yang menjijikkan untuk Elang.
Elang bukan pria romantis, tapi Ia berusaha semanis mungkin didepan Emeryl. Wanita yang masih berstatus istri orang itu harus mampu membuatnya bahagia.
Emeryl masih duduk ditempatnya. Harap-harap cemas menanti apa yang akan dilakukan Elang selanjutnya. Pemuda itu terus menatap tanpa melepas pandangan.
Emeryl merasa jika senyuman itu adalah sebuah ancaman yang membahayakan.
"A_ apa ada yang aneh?" Tanya Emeryl, gugup. Dia memilih kembali menundukkan kepala. Tidak nyaman rasanya jika Elang terus menatapnya begitu.
"Em, sebelum kita mulai. Aku mau tanya dulu soal perasaan mu pada Si Kevin itu." Elang menggeser kursinya tepat disamping Emeryl.
Jam di dinding berdetak cukup nyaring. Sekarang tepat jam sebelas malam. Suasana yang lengang menambah tegang otot-otot Emeryl. Mungkin seluruh penghuni di rumah mewah itu sudah terlelap semua. Hingga dengan leluasa Elang memulai aksinya.
"Un_ utuk apa?" Tanya Emeryl lagi. Jantungnya berdegup keras dua kali lipat dari sebelumnya. Wajahnya juga bersemu merah.
"Tidak, apa kau mencintainya?" Elang menopang dagu diatas meja menghadap Emeryl. Ia ingin terus menikmati wajah ayu paling sempurna di muka bumi.
"Bagaimana mungkin?" Desis Emeryl, lambat. Pernikahannya saja terjadi secara mendadak. Bahkan Ia tidak mempersiapkan diri untuk pernikahan rumit yang dijalaninya.
"Apa? Jadi kau tidak ada perasaan apa pun dengannya?" Elang nampak sangat berbinar. Itu artinya Emeryl belum punya pujaan hati.
"Kenapa memangnya? Aku tidak pernah diperlakukan sebagai istri, jadi mana mungkin aku mencintainya." Emeryl mengusap wajahnya sendiri.
Ia bahkan lupa jika obrolan mereka telah menghabiskan waktu yang lama.
"Tidak salah, beri aku ciuman!" Elang mematikan lampu utama hingga ruangan berubah sangat gelap dan mengerikan.
"Bang...!" Emeryl takut dan meraba tubuh Elang.
"Panggil aku, Sayang." Suara bisikan Elang terdengar diantara gelapnya ruangan.
__ADS_1
"Kenapa kau mematikan lagi lampunya, aku takut!" Emeryl menoleh kesana-kemari tapi tidak ada sedikit pun yang bisa Ia lihat.
"Kau tenang saja!" Entah sejak kapan kedua bibir mereka saling menempel. Dia yang dalam posisi belum siap membulatkan kedua bola matanya.
"Bagaimana kalau begini, apa kau masih takut? Aku sudah tidak kuat menunggu lagi!" Bibir tebal dan bibir tipis itu mulai bergerak. Elang mencecapi nya dengan lembut. Emeryl merasa sentuhan itu mampu membuat darahnya berdesir hebat.
"Eum...! Bang, tunggu dulu!" Emeryl mendorong sedikit dada Elang untuk melepas pangutannya.
"Kenapa?" Wajah keduanya masih begitu dekat.
Emeryl semakin gugup. Ia takut jantungnya bisa terlepas jika Elang terus membuainya.
"Ke_ kenapa kau tidak cari perempuan yang belum menikah saja, Bang? Me_ mereka pasti le_ lebih memikat kan?" Emeryl sengaja mengatakan itu agar Elang melepaskannya.
"Aku tidak minat, tapi aku hanya minat tubuhmu!" Elang mendorong tubuh Emeryl terlentang di sofa. Posisinya kini ada diatas Emeryl.
Elang bisa merasakan nafas wanita dalam kungkungan itu tidak beraturan. Emeryl pasti sedang merasa malu, gugup atau tidak sabar menanti serangannya, begitulah yang bersemayam di otak Elang.
"Bang...!" Emeryl belum sepenuhnya siap. Ia memejamkan mata ketika merasakan tangan kekar Elang memijat buah dada kecilnya.
Elang terus menjelaskan tanpa menghentikan aksi normalnya sebagai seorang pemuda.
"Sepertinya, Eum. Keluargamu orang yang bermartabat. Tapi kenapa kau sangat Liar?" Emeryl mencecarnya sambil mengigit bibir dengan kuat.
Elang hanya tertawa. "Aku memang nakal, dan kau adakah orang yang sial," cicit Elang tepat ditelinga Emeryl. Pemuda itu tiba-tiba turun lalu membopong tubuh Emeryl keranjang. Ia tidak menabrak apa pun seolah sudah paham belum akan kondisi ruangan tersebut.
"Ke_ kenapa kau memindahkan ku kesini?" Emeryl heran.
Elang merebahkan tubuhnya disamping Emer, Ia bahkan mengambil selimut dan meringkuk.
"Bang...!" Emeryl ingin bertanya lagi, apa penyebab Elang tidak melanjutkan hasratnya. Tapi untuk melanjutkan perkataanya Emeryl tidak berani.
Bingung dengan penuh pertanyaan di otaknya akan perubahan sikap Elang. Tanpa sadar Ia terlelap dengan nyenyak.
__ADS_1
Sekitar pukul 04.00 Emeryl kembali bangun, Ia terkejut saat melihat Elang tidak lagi disampingnya.
"Kemana pria itu? Apa dia sedang keluar?"
Emeryl melihat sesuatu yang berwarna putih bergerak-gerak di sofa. Sepertinya itu sebuah selimut yang sengaja di pakai orang yang tengah tidur.
"Mungkinkah Bang Elang pindah tempat? Pria itu sulit untuk di tebak?" Emeryl turun keranjang untuk mengecek. Ia berjalan seperti siput menghampiri Elang.
Dug!
"Ah...!" Emeryl menjerit. Lututnya menabrak meja. Tapi Ia segera membungkam mulutnya dan memastikan apakan Elang terganggu dengan suaranya atau tidak.
"Aduh, sakit banget lagi," Ucap Emeryl, lirih. Menggosok-gosok bagian kaki yang nanar. Cukup lama berjongkok, Ia berdiri lagi.
"Malam ini aku harus bisa mengenali wajah Elang, sudah beberapa kali bertemu aku selalu saja gagal mengenali tampang nya yang membuatku sangat penasaran."
Emeryl kini ada disamping Elang yang tidur menghadap sandaran. Ia ingin melihat Elang dengan jelas wajah pemuda yang tertutup selimut seluruhnya. Meski pun gelapnya ruangan membatasi pandangan matanya.
Sangat pelan, Emeryl mulai menarik selimut yang digunakan pemuda itu. Tapi Emeryl melepaskannya saat Elang terbatuk-batuk. Pemuda itu kini tidur terlentang dan masih tertutup rapat
Yakin, Elang tidak bangun. Emeryl berusaha membukanya lagi. Namun baru sedikit saja terangkat, Pemuda itu tiba-tiba menarik lengan Emeryl hingga jatuh ke pelukannya.
Emeryl ketakutan, Ia telah tertangkap basah dan tidak berkutik didada pria itu.
"Kau mau apa, Sayang?" Elang menelisik wajah Emeryl yang mendongak menatapnya.
"Em, itu. Sa_ saya mau membenahi Selimutmu, ya itu. Tadi sedikit turun!" Emeryl mengelak. Ia takut Elang akan menghukum nya gara-gara nekat berbuat konyol.
"Kau sudah melihat wajahku, bukan? Apa aku terlihat tampan?"
Emeryl mengerucut, meski dalam keadaan dekat tetap saja Ia kesulitan untuk mengenali Elang.
"Aku mohon izinkan aku melihat wajahmu, Bang." Emeryl keceplosan. Ia malah berterus terang akan maksud dan tujuannya tadi.
__ADS_1
"Aku takut kau jatuh cinta."