Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 17 Kabur


__ADS_3

Pemuda yang sejak tadi memang geram pada Kevin langsung melotot dan mencengkram kerah baju Kevin tanpa ampun. Sejak masuk ke kantor PT. Elang hitam Pria itu sangat tegas kepada orang-orang yang berusaha mendekati Elang.


"Apa masalahmu, ha? Kau itu hanya jongos disini?" Sentak Pemuda itu, dengan amarahnya.


Pria yang duduk di kursi membelakangi mereka mengangkat tangannya. Ia memerintah agar asistennya berhenti melakukan tindakannya.


"Maaf, Bos. Saya khilaf." Pemuda tersebut melepas Kevin dengan kasar.


"Dasar brengsek!" Desis Pemuda itu lagi. Ia menatap kesal pada Kevin. Namanya adalah Jack Wilson. Seorang Ketua karate pada sebuah Dojo tempat Ia melatih 4000 anak buah menjadi ahli bela diri dan tangkas.


"Pergi sekarang!" Ucap Pria itu, santai. Ia tetap tidak mau menunjukkan bagaimana wajahnya pada Kevin.


Kevin melirik jengkel, usahanya itu rupanya tetap sia-sia. Ia tak punya alasan untuk menolak, karena jika Ia tetap memaksa, maka sudah dipastikan Ia akan dicurigai.


"Maaf, Bos. Saya permisi!" Kevin melangkah mundur tanpa melepas tatapan akan sosok Elang, hingga hilang di balik pintu kokoh yang tertutup kembali.


"Bos, kenapa kau tidak menghukumnya?" Tanya Jack, heran. Pria berperawakan besar dan tinggi itu mengumpul berkas yang basah.


"Untuk apa?" Tanya Elang, balik. "Iya bukan salah satu dari anak buah kita!" Ucapnya menambahi, dan itu membuat Jack menghentikan kegiatannya.


"Jadi dia adalah penyusup?" Jack sendiri kurang tahu. Sebab Elang memang sangat dingin, jarang bercerita atau pun memerintah. Elang lebih suka melakukan segalanya sendiri dan itu sudah cukup membuat Jack mengaguminya.


Sesampainya di ruangan belakang, Kevin melempar semua atribut yang di pakainya tadi. Ia sangat kecewa karena tidak berhasil mencari tahu siapa Elang sebenarnya.


"Sial, aku tidak boleh menyerah. Dia harus memperlihatkan wajahnya didepanku?" Gerutu Kevin seorang diri. Ia pun keluar meninggalkan kantor itu dan mengajak anak buahnya kembali.


...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...

__ADS_1


Usai menikmati sarapan pagi, gadis belia dengan wajah cantik bermata besar bulat namun indah tersebut segera membersihkan sisa makanannya. Ia sadar diri jika semua kenikmatan itu harus Ia bayar dengan raganya.


"Eh, Non. Jangan lakukan apa-apa, biar Bibi aja yang beresin!" Cegah Bi Izzah. Perempuan itu sendiri belum rampung menyapu lantai.


Emeryl Menjawab serta mengulas senyum. "Tak apa, Bi. Saya tidak ada pekerjaan. Bosan berdiam diri saja," jawab Emeryl, sopan. Gadis itu menuju ke ruangan belakang dan mencuci piring serta cangkir yang dipakainya tadi.


Kemudian Ia mendongak kearah jendela, dekat dengan wastafel tersebut. Ia sangat takjub ketika meliha ada taman yang begitu indah di belakang sana.


"Wah, keren. Ini taman atau surga ya?"


Emeryl cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan membuka pintu samping. Ya, taman yang di kelilingi pagar bertembok itu dipenuhi bunga dengan segala macam rupa. Bahkan banyak kupu-kupu cantik berterbangan ditempat itu. Taman yang sangat luas, akan tetapi sangat terawat kebersihan dan kerapiannya.


Merasa mendapatkan anugerah, Emeryl berlari ketengah taman itu sambil merentangkan kedua tangannya. Di hela nya nafas panjang lalu dihembuskan perlahan-lahan. Ia begitu bahagia bisa menikmati keindahan yang tidak pernah Ia jumpai sebelumnya.


Cukup lama dalam posisinya, seekor kupu-kupu berwarna kuning langsat penuh motif mirip batik tiba-tiba menghinggapi ujung jari Emeryl.


"Halo, cantik. Kamu mau gak sahabatan sama aku?" Tanya Emeryl pada kupu-kupu itu.


Hewan kecil itu hanya mengepakkan sayapnya didepan Emeryl dan menggerak-gerakkan kepalanya.


"Jadi kamu beneran mau jadi sahabat aku? Em, bagaimana kalau aku memanggil mu Butterfly?" Katanya lagi. Ia tahu itu adalah bahasa asing yang memiliki arti sama. Akan tetapi sangat menarik untuk di sebutkan.


Kupu-kupu itu menggerakkan kepalanya lagi.


"Wah, terima kasih. Temanmu banyak ya? Aku sendiri gak punya temen lo?" Emeryl terus bercerita. Ia merasa nyaman curhat dengan butterfly.


Tak berapa lama, kupu-kupu tersebut menjauh. Emeryl yang penasaran akan setiap inci taman itu mengitarinya. Ia memetik bungan mawar yang mekar dengan segar lalu di selipkannya di telinga.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, Pria aneh itu memiliki taman seluas ini? Tapi kenapa Villa nya sangat sepi ya?" Karena rasa kagum dan heran, Emeryl terus berargumen. Ia terus melangkahkan kakinya menikmati setiap deretan bunga yang sengaja dibuat sejajar hingga tiba-tiba bola matanya tertuju pada sebuah lorong kecil di ujung pagar bunga itu.


Emeryl menjadi penasaran akan fungsinya, Ia menoleh kesekitaran tempat itu untuk meyakini jika tidak ada satu pun orang yang akan melihatnya memeriksa.


Emeryl segera mendekat dan menyaksikan sendiri jika di luar adalah sebuah jalan raya yang dipenuhi kendaraan.


"Apa? jadi Villa ini sangat ramai?" Gumam Emeryl, lagi.


Ia mulai memikirkan sesuatu, antara pergi atau tidak dari tempat yang membuat nya menjadi terhina. Ia yakin apa yang ada didepannya adalah sebuah kesempatan langka.


"Baiklah, Emer. Kamu harus berani mengambil keputusan. Yakinlah jika di luar sana kamu bisa hidup dengan terhormat!" Ucap Emeryl pada dirinya sendiri.


Berulang kali menoleh ke bangunan mewah di belakanganya dengan perasaan tak tentu arah. Tapi Ia harus bisa melakukan itu demi kehidupan selanjutnya.


Dengan tubuh bergetar, Emeryl menerobosnya tubuh kecilnya keluar dan melihat bagaimana keadaan di jalanan adalah suatu kehidupan sebenarnya.


"Emer, kamu bebas!" Teriak Emeryl, senang. Ia segera berlari kemana kaki melangkah menjauhi villa tersebut sejauh mungkin agar tak seorang pun dari mereka yang menemukan dirinya lagi.


Bi Izzah sendiri akhirnya selesai dari pekerjaannya, Ia ke kamar mandi mencuci alat pel yang dipakainya tadi lalu menjemurnya di samping rumah. Tapi Ia baru tersadar, jika pintu tadi terbuka sangat lebar.


"Wah, iya. Apa Non Emeryl keluar ya?" Bu Izzah cepat-cepat pergi ke taman. Tapi disana Ia tidak melihat Emeryl sama sekali.


"Non, Non Emeryl!" Panggil Bi Izzah, mulai panik. "Non, Nona cantik dimana?" Teriaknya berkali-kali.


Perempuan paruh baya itu memeriksa ulang setiap bagian taman tersebut, akan tetapi hasilnya tetap sama. Karena takut Emeryl hilang, Bi Izzah segera masuk dan mengecek di dapat Villa itu, tapi rupanya tetap nihil.


"Wah, Non Emeryl kemana ni? Jangan-jangan dia kabur lagi?" Bi Izzah benar-benar khawatir, tangannya saling bertautan sampai mengeluarkan keringat dingin.

__ADS_1


Ia yang punya ponsel pemberian Elang beberapa bulan lalu pun merogoh ponsel itu l dari saku bajunya. "Den, cepet angkat!" Ujar Bi Izzah, tidak sabar.


__ADS_2