
Kevin sangat tidak sabar, Ia segera mencatat nomer baru Elang dan segera menelponnya lewat vidio Call. Kali ini Ia menganggap Elang bukan lagi pohon uang melainkan musuh dalam selimut.
"Sayang, suami mu menelpon. Perlukah kita menerima panggilannya?" Telisik Elang pada Emeryl.
Emeryl mengigit bibir. Ia menatap dalam manik mata Elang. Seakan takut jika Kevin menelpon untuk memintanya kembali.
"Tidak, aku tidak sudi berurusan lagi dengannya." Emeryl membuang muka.
"Kenapa? Bukankah dia masih suami mu?" Tanya Elang, gamblang.
"Suami dari mana, dia bahkan tidak menafkahi aku lahir maupun batin. Aku sering kelaparan dirumahnya," jawab Emeryl, jengkel. Tanpa mau melihat wajah Elang.
"Oke, baiklah kita tunggu lanjutannya setelah tiba di Bali nanti." Elang menonaktifkan ponselnya dan kembali fokus menikmati pemandangan.
"Sial, aku akan membuat perhitungan dengan mu, Elang!" Kevin sangat marah karena tidak mendapat respon sama sekali. Ia yakin Elang sengaja merusak mute nya agar pria itu mudah mengalahkannya.
"Elang mematikan ponsel?" Tanya Damar lagi.
"Iya, Mar. Dia sedang menyulutkan api yang sudah berkobar. Aku tidak akan membiarkan Ia merampas kesenanganku untuk mengambil Emeryl!"
Beberapa jam berlalu, akhirnya helikopter mereka mendarat di sebuah pulau yang terkenal akan keindahannya. Banyak turis dari luar negeri datang memenuhi tepian pantai untuk sekedar berjemur. Tidak peduli jika baju yang mereka pakai hanya menggunakan penutup atas dan bawah yang seadanya.
"Astaga, apa mereka itu adalah model?" Emeryl berdecak melihatnya. Ia takjub mengamati orang-orang yang berkulit eksotis sangat pede mengumbar lekuk tubuh mereka.
"Kenapa? Kau mau seperti mereka?" Tanya Elang, seraya mengerlingkan bola matanya.
"Gak mau, ah malu." Emeryl menyembunyikan wajahnya dipunggung Elang.
"Bagus, kau hanya boleh memperlihatkannya di depanku saja," Ucap Elang, sayup. Mendesir syahdu ditelinga Emer.
__ADS_1
"Berhenti bicara begitu, aku bukan pemuas birahimu," Cibir Emeryl, kesal.
Elang tersenyum simpul, Ia melirik Emeryl yang masih ada dibelakangnya. Gadis itu malu sendiri akan orang-orang disana. Seperti sedang menunjukkan kepemilikan yang serupa dengan yang Ia punya.
"Bos...!" Teriak Petir. "Aku sudah mendapatkan penginapan tak jauh dari sini. Bila berjalan pun tidak akan memakan waktu yang lama," lanjutnya lagi setelah Ia sudah dekat.
"Oh... oke." Elang menggenggam tangan Emeryl. mereka perlu beristirahat dulu untuk melepas lelah sepanjang perjalanan.
Beberapa menit berjalan, Jack menyerahkan kunci milik Elang. "Kok satu?" Seloroh Elang, bingung. Pasalnya mereka ada bertiga saat itu.
"Hanya ada dua, Bos. Jadi Bos bisa berbagi dengan Nona Emer," jawab Jack, tanpa canggung.
"Dasar kau, ini jauh lebih bagus. Ayo Emeryl!" Elang sangat beruntung. Ia kembali menggenggam tangan Emeryl sampai mereka masuk di sebuah kamar yang begitu mewah. Meski tidak sebesar kamarnya, namun tempat itu disulap menjadi sebuah tempat yang dapat memanjakan penghuninya. Disana juga ada ruang tamu ditemani televisi dan juga tersedia kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Wah, sprei nya rame ya, Bang. Banyak motif kembang. Boleh aku tidur?" Tanya Emeryl tidak sabar. Ia sudah sangat mengantuk dan ingin tidur.
"Tidak bisa," jawab Elang, dingin. Wajah yang tadi cerita seketika terlipat. Emeryl sangat kesal dengan larangan tersebut.
"Baiklah, aku akan mandi sekarang." Emeryl meraih handuk di gantungan. Tidak tahu itu handuk siapa, yang penting Ia bisa menutupi tubuhnya. Elang membiarkan itu, sebab Ia tahu jika handuk itu memang sengaja di peruntukkan buat mereka yang menginap dan membawanya pulang.
Dua puluh menit berperang dengan nikmatnya air di bak mandi. Emeryl keluar dengan menggunakan handuk saja. Ia menyapu tatapan keruang tamu, tapi sepertinya Elang sudah tidak ada. Emeryl pun segera memeriksa kover untuk memilih baju yang nyaman.
Karena tidak ada orang lain. Emeryl menggunakan baju itu di tempatnya tadi, Ia tidak tahu jika sebenarnya Elang tengah menodong tatapan dari pintu kamar. Pemuda itu menyenderkan punggungnya dengan sangat nyaman disana. Pria itu menganggap jika tindakan Emeryl adalah sebuah tontonan yang haram untuk dilewatkan.
"Dasar gadis kecil yang aneh, apa sebenarnya dia hanya pura-pura malu didepanku? Bahkan Dua bukit kembar itu menggelantung secara liar disana," Gumam Elang, sangat lirih. Walaupun ada orang disampingnya kemungkinan untuk mendengar ucapannya itu sangat lah minim.
Mendapati Emeryl sudah tertutup sempurna, Elang pun berdehem nakal.
"Ehemz.. Ehemz... Sudah selesai?" Pemuda itu bergerak mendekat membuat Emeryl mengkerut.
__ADS_1
"Se_ sejak kapan kau ada disana?" Tanyanya khawatir. Besar perkiraan jika Elang telah melihat tubuhnya dengan sempurna tadi.
"Sejak kau memulai memakai baju," bisik Elang lirih dan itu mengejutkan Emeryl. Ia segera menutupi dadanya karena benda kenyal itu yang terlihat sempurna tadi.
"Kenapa harus malu, kau sudah seperti istri bagiku," ujar Elang, melanjutkan ucapannya.
"A_ apa? Kapan kau menikahiku?" Emeryl memelankan kalimat terakhirnya.
"Saat aku berhasil mencicipi tubuhmu waktu itu." Elang mengingatkan momen kelam tersebut.
"Ha? Ka_ Kau masih mengingatnya?" Emeryl sangat gugup.
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa kenangan manis itu." Elang benar-benar mulai menakutkan. Ia mendekatkan wajahnya lagi pada Emeryl. "Ayo kita mulai, aku sudah tidak tahan lagi!" Ajak pemuda itu.
Seperti biasa, bola mata itu langsung membulat sempurna. Ia belum sepenuhnya siap untuk kembali melayani Elang apa lagi cuaca panas disiang bolong.
"Ayolah, Sayang!" Elang melingkarkan kedua tangannya dipinggang Emeryl. Gadis itu langsung gemetaran. Ia masih bingung mau menjawab apa.
Bibir Elang mulai menjamah miliknya, bahkan bergerak menyapu sekitaran dengan sangat berhasrat.
"Ayo lawan aku, kita bergulat dengan keadilan. Jika kamu menang maka aku tidak akan meminta tubuhmu." Elang menawarkan sebuah isyarat dan rasanya kedua hal tersebut sangat merugikan Emeryl. Tapi jika dia menolak, maka Ia harus siap melayani kemauan dari pria itu.
Emeryl memberi jawaban, Ia menarik wajah Elang mendekat kearahnya lalu mengecupi bibir Elang perlahan-lahan. Elang membalas serangan hingga persaingan panas pun terjadi. Tapi nampaknya bukan menang atau kalah yang didapat. Mereka justru terhanyut kedalamnya hingga tanpa sadar menikmati setiap permainan mereka.
Pergulatan itu mulai melebar, Elang beralih mengecupi jenjang ceruk Emeryl hingga gadis itu mendes_h nikmat.
"Ahk... Bang, katanya ini perkelahian. Tapi kenapa kau melakukan ini?" Emeryl sampai mencengkram baju kaos oblong yang dipakai Elang. Kakinya bergetar hebat. Ada desiran membara yang bertambah kuat menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kau kalah Emer, lihat saja kau hanya menerima serangan ku tanpa mau membalasnya." Elang meremehkan. Merasa di tantang, Emeryl ganti melepas baju Elang dan menghisapi dada bidang pria itu sampai Elang memekik.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa ini mampu membuatku jadi menang?" Emeryl tersenyum puas.