
Tepat pukul 05.00 WIB sore, Elang pun mengajak Emeryl menikmati tepian pantai. Mereka duduk diatas hamparan pasir putih menikmati indahnya panorama yang tersaji memukau di depan mata.
Keindahan itu rasanya menenangkan, dan itu kali pertamanya Emeryl dapat melihat secara langsung pulau dewata yang sering Ia lihat di televisi atau sekedar membaca lewat surat kabar yang biasa didapat dalam sebuah majalah atau koran.
"Bos ini gula kapasnya!" Jack menyerahkan dua makanan manis tersebut pada Elang. Pria itu langsung menerimanya .
"Ini buat kamu."
"Terima kasih, kau sudah sangat baik, Bang."
"Biasakan untuk memanggil aku, Sayang." Elang melahap gula kapas itu sambil melirik Emeryl yang duduk bersila.
"Kenapa harus begitu? Aku masih berstatus istri orang, Bang. Jadi mana mungkin aku memanggil dengan sebutan itu. Apa lagi sepertinya keluargamu tidak terlalu menyukai ku?"
"Heh, apa maksudmu Mommy dan Kak Tania?" Elang sudah tahu akan hal itu. Sejak dulu Ia memang tidak terlalu dekat pada keduanya. Berbeda dengan Alena yang begitu sayang terhadapnya.
"Maafkan saya, Bang. Aku rasa begitu. Jujur saja, aku sudah cukup mengalami beban yang berat. Jadi aku tidak mau mengalami hal serupa secara berulang-ulang." Emeryl menatap sendu, ada secuil resah dan trauma yang selau datang mengganggu hidupnya. Dimana sampai saat ini Ia belum pernah menemukan seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya.
"Kau terlalu takut menghadapi diri mu sendiri, Emer. Belajarlah berdamai dengan keadaan maka beban itu akan berubah menjadi kebahagiaan. Syaratnya kau harus lepas dulu dari Kevin."
"Sayangnya, itu tidak mungkin terjadi, Elang," sahut Kevin yang kini sudah ada dibelakang mereka.
"Bang Kevin...!" Ucap Emeryl terkejut. Elang tidak menunjukkan kecemasan. Ia malah menyambut Kevin dengan sangat ramah.
"Sore, Kevin. Apa kau tengah merindukan kami. Aku tidak percaya kau nekat juga sampai datang ke Bali untuk menyaksikan keromantisan kami." Elang menarik Emeryl merapat dengannya dan itu membuat Kevin meradang.
"Ayo ikut aku, Emer!" Kevin segera mencekal tangan Emer. Ia tidak perduli apa pun yang dikatakan Elang kepadanya. Baginya menguasai Emer adalah sebuah kemenangan.
Elang yang memang selalu santai malah menertawakan Kevin. Ia menganggap apa yang dilakukan Kevin adalah lelucon yang konyol.
__ADS_1
"Apa Kau yakin bisa membawa Emer dariku?" Elang menunjukkan keberaniannya menantang Kevin.
Tentu saja Kevin tidak mau kalah. Ia adalah orang yang paling berhak atas diri Emer.
"Apa kau pikir, kau bisa leluasa membawa istri orang?" Kevin meninggikan suaranya agar seluruh orang yang ada disana mendengar dengan jelas jika Elang adalah seorang Pebinor.
Benar saja, beberapa orang yang ada disana mulai
berbisik-bisik menghujat Elang. Tapi bukan Elang namanya jika Ia sampai kalah dari Kevin.
"Jangan maling teriak maling, Kevin! Mana buktinya jika kamu adalah suami Emeryl."
"Apa? Mana mungkin aku sempat membawanya, Elang!" Geram Kevin lagi. Ia memang lupa dengan surat nikah sementara yang diberikan penghulu pada saat ijab qobul waktu lalu.
"He, dasar, payah! Kau itu suami yang tidak bertanggung jawab, Kevin. Bahkan hal yang paling penting pun tidak pernah kau utamakan. Bagaimana mungkin kau mengaku sebagai seorang suami didepan kekasihku ini. Oya aku punya bukti menarik untuk bisa di tonton," ujar Elang lagi. Ia meminta sebuah rekaman pada saat Ia nego harga dengan Kevin pada hari pertama mem booking Emeryl.
"Sekarang kalian sudah tau kan? Emeryl bersamaku saat ini adalah karena aku telah membookingnya. Tapi rupanya suaminya yang tidak tahu malu ini sengaja sedang mencari gara-gara. Apa suami seperti ini wajib di bela?" Tanya Elang pada orang sekitar mereka.
"Wah, brengsek lo Bang. Mending kita hajar aja yuk. Suami laknat. Masak istri sendiri di jual ke pria lain!" Caci salah seorangnya.
"Mbak Emer, gugat cerai aja deh. Lagian yang booking Mbak Emer lebih baik kayaknya," saran salah seorang lagi. Dia pasih bahasa Indonesia. Pasti dia bukan asli orang Bali.
"Sudah kita hajar saja dia rame-rame. Beraninya pria seperti dia mempermainkan perasaan wanita seenak hati!" Kata Pria lainnya. Jika didengar dari logatnya bicara pria itu berasal dari tanah batak, Medan.
"Ayolah, hajar!"
"Eh... gimana sih ini!" Tahan Kevin. "Masa bookingnya sudah selesai, ini saatnya Elang mengembalikan Emeryl padaku." Kevin berusaha membela diri.
"Iya Benar. Bang Elang sudah tidak berhak lagi membawa Emer." Damar baru saja bersuara setelah pergunjingan panjang tersebut.
__ADS_1
"Kamu yakin, Mar? Bagaimana dengan ini?" Elang kembali mendengarkan rekaman suara saat Kevin menolak uang 1 Triliun yang Ia berikan.
"Aku masih menginginkan pacarku, tapi dia menolak. Apa uang 1 Triliun tidak lah bisa memuaskannya ya?" Tanya Elang pada orang-orang disana.
"Wah, parah lo, Bang. Jadi lo maunya apa coba? Meski kau tolak pun paling-paling istrinya cuma di siksa doang," timbal salah seorang Ibu-ibu.
"Itu_ itu tidak benar, Bu. Sa_ saya menjual istri saya karena hutang yang besar. Ta_ tapi itu semua atas keinginannya sendiri kok, sungguh. Itu semua dia lakukan karena dia sudah menduakan saya dengan pria ini!" Tunjuk Kevin pada Elang. Ia tidak boleh gagal membawa Emeryl bersamanya.
"Tidak, Bang. Aku tidak mau ikut denganmu." Emeryl menolak secara gamblang. "Aku sudah nyaman dengan Bang Elang. Dia sangat menyayangiku dan memperlakukan aku seperti istrinya sendiri," Imbuh Emer lagi.
"Tidak, Mer. Aku suamimu. Kau tidak bisa menolakku seperti ini. Karena kau akan berdosa telah membangkang suamimu sendiri." Kevin kembali menarik lengan Emeryl akan tetapi Emeryl tetap pada pendiriannya.
"Lepas, Bang. Kau sudah sering menyiksaku jadi aku tidak kan pernah sudi ikut denganmu lagi," jawab Emeryl, sembari menegaskan keputusannya.
"Sial, kau mau main-main rupanya." Kevin mengeluarkan pistol lalu menodongkannya pada Emeryl. "Ikut atau mati?" Pertanyaan itu sama persis dengan ancaman yang pernah dilakukan oleh seseorang pada saat mengantar Emeryl kesebuah villa.
Prok! Prok! Prok!
Bukannya mengindahkan tindakan Kevin, Elang malah bersorak. Ia sama sekali tidak gentar. Benda itu sudah cukup lama menjadi teman hidupnya. Akan tetapi Elang tidak pernah memamerkannya pada siapa pun.
"Apa hanya itu yang bisa kau lakukan sobat?"
Kevin mulai menarik pelatup nya, Ia mengarahkan senjata itu tepat didada Emeryl. Perempuan itu menggeleng ketakutan. Ia pasti akan mati ditangan Kevin jika tetap menolak untuk ikut.
"Jangan, Bang. Kau jangan bertindak gegabah!" Cegah Damar. Ia tidak mungkin tega membiarkan Emeryl mati sia-sia hanya karena Kevin tidak bisa mengontrol diri.
Dor!
Suara tembakan membahana!
__ADS_1