Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 39 Mencari Tahu


__ADS_3

Pagi...!" Sapa keduanya balik. Sepertinya mereka sedang mengecek kondisi kantor sepeninggalan Elang dan Jack ke Bali.


"Baiklah karena hari ini Pak Elang sedang liburan, aku yang akan menggantikannya selama Ia pergi," ujar Tania pada para karyawan yang masih duduk di depan layar komputer.


"Baik, Bu, Emang Pak Elang nya liburan kemana ya, Bu kalau boleh tahu?" Tanya salah seorangnya. Mereka sudah tak canggung lagi pada Tania, sebab mereka sudah sering berkali-kali berhadapan dengan perempuan yaang satu itu. Tania juga sangat mungkuni dalam ikut mengawasi perusahaan yang Elang miliki.


"Ke Bali," jawab Tania, jujur. "Baiklah kalau begitu kalian boleh kembali bekerja, aku dan Mas Abimanyu harus pulang dulu kerumah jadi baru besok aku bisa aktif," kata Tania lagi.


Mereka semua hanya mengangguk patuh melihat keduanya jalan beriringan keluar. Petir yang akhirnya tahu segera pulang kekediaman Kevin dan memberitahukan apa yang Ia dengar.


"Ke Bali, Tir?" Tanya Kevin kurang percaya.


"Iya, Bos. Sepertinya mereka sedang bersenang-senang disana," jawab Petir, yakin.


"Brengsek si Elang, enak saja dia bisa bebas menikmati istriku sesuka hati sampai-sampai pergi kesana. Segera cari jadwal keberangkatan tercepat kita pergi sore ini juga!" Titah Kevin yang sudah dipenuhi perasaan emosi.


"Baik, Bos. Saya akan mendapatkan tiket secepat mungkin." Petir dan beberapa anak buahnya segera menjalankan tugas, berbeda dengan Damar yag sejak tadi pergi akan tetapi belum juga kembali.


Kevin berkali-kali menelponnya namun seperti biasa nomor telponnya sangat sulit untuk di hubungi.


"Ya ampun, kemana sih ni bocah? Kenapa sejak tadi sangat sulit menghubunginya," omel Kevin seorang diri.


"Mungkin dia sedang sibuk, Mas," sahut Lana dari belakang. Ia membawakan satu gelas teh dan satu piring cemilan untuk mendinginkan pemikiran Kevin. Lana sebenarnya sakit hati melihat Kevin begitu sibuk menemukan keberadaan Emeryl tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Kevin telah menikahinya.


Kevin tampak mengusap kasar wajahnya sambil memikirkan cara untuk bisa segera membawa Emeryl kembali kepadanya.


(Aku tidak akan membiarkan kamu memiliki istriku, Elang. Aku tidak peduli se dendam apa kamu terhadapku) gumam Kevin dalam hati.


"Siang, Bang!" Damar muncul dari pintu. Pria itu langsung menghempaskan bokongnya di sofa tepat bersebelahan dengan Lana.

__ADS_1


"Kau kemana saja, Mar. Hari ini kita akan pergi ke Bali untuk menyusul Emer disana," ujar Kevin, memberi tahu.


"Oh, jadi Elang membawa istrimu kesana, Bang?" Damar memastikan.


"Iya, aku tidak akan membiarkan Elang bahagia bisa menginjak-nginjak harga diriku. Dia pasti sengaja melakukan ini untuk membalas dendam akan kematian Alena," kata Kevin.


Damar mengangguk setuju, tapi dalam hati tidak menyalahkan Elang. Ia tentu tahu alasan Kevin memusuhi Dimas juga karena kematian Kayla. Jadi kelihatannya Elang hanya ingin suatu ke adilan untuk menghukum Kevin.


"Kalau begitu aku pulang dulu untuk berkemas." Damar hendak bangkit lagi tapi Kevin mencegahnya.


"Tidak usah, aku masih punya beberapa kemeja yang belum terpakai. Kita bisa membawanya untuk berganti pakaian."


"Oh, baiklah. Sepertinya kita harus segera pergi," jawab Damar, pasrah.


Kevin meminta Lana mengemas keperluan mereka. Benar saja Petir akhirnya mengabari jika Ia sudah mendapat tiket penerbangan ke pulau dewata bali lebih cepat dari harapan Kevin.


Emeryl sendiri menjelma menjadi baby siter. Dia terpaksa terus menyuapi Elang gara-gara perkataan tadi. Ada sesal di hati tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Elang.


Emeryl segera mengambil menu tambahan sambil sesekali bertanya apa yang Elang inginkan.


"Kamu mau ini?" Tanya Emeryl pada ikan kakap super jumbo.


"Iya, awas ada tulang ya." Elang sok manja dan itu sangat menggelikan Emeryl.


Perempuan itu sangat pari purna, Ia terus saja melayani Elang sampai pemuda itu kenyang barulah iya yang makan.


"Wah, pantas saja makan mu banyak. Rupanya makanan ini rasanya sangat nikmat!" Seru Emeryl dengan bola mata berbinar. Ia menyeruput kuah sayur sup yang sudah lama tidak pernah di makannya selama ada di rumah Kevin.


"Pastinya dong, kamu boleh habisin semuanya jika kamu mampu," ujar Elang. Pemuda itu memandangi Emeryl sangat lekat. Ada sesuatu yang terjadi dalam hatinya. Mengingat bagaimana jika Emeryl adalah kekasih pertamanya ketika mereka masih duduk di bangku SMP dulu. Rasa suka itu masih tertanam di dalam sanubarinya. Sayang memang, Emeryl tidak pernah mengetahui hal itu sebab Elang tidak pernah mengungkapnya.

__ADS_1


(Dulu mungkin sulit mendapatkan mu, Emer. Tapi untuk kali ini, aku akan melakukan apa pun agar aku bisa menguasaimu) gumam Elang dalam hati.


"Hey, sini!" Elang melihat nasi di ujung bibir Emeryl lalu dengan pelan membuangnya.


Tatapan Elang dan Emeryl bertemu, mungkin saja di dalam sana telah bermunculan benih-benih cinta yang mulai terbangun.


"Ehemz...." Emer mengendalikan diri. "Bang a_ apa ya_ yang membuatmu tidak mengembalikan aku pada Bang Kevin?" seloroh Emeryl. "Apa kau membeli diriku lagi?" Lanjutnya masih belum selesai bertanya. "Atau_?"


"Atau apa?" Tanya Elang balik. Tatapannya berangsur terlepas.


"Em... itu. Kau berencana untuk tidak melepaskan aku?" Emeryl bersikap percaya diri.


"Menurutmu?" Lagi-lagi di minta menjawab sendiri.


"Mana aku tahu? Bukankah kau punya alasan sendiri untuk itu?" Dengkus Emeryl. Ia melanjutkan makanan yang masih penuh di piringnya.


Tidak ada lagi perbincangan, semua hening dalam sekejap sampai akhirnya Emeryl berhasil meringkus nasi dan lauk pauk didepannya tanpa sisa.


Elang sendiri membelalakan mata. Bahkan Ia tidak sadar sejak kapan Emeryl menyantapnya.


"Apa makanmu kau kunyah dengan benar, ha? Kenapa semua makanan sebanyak itu cepat sekali habisnya?" Elang mengulangi melihat beberapa wadah dihadapan mereka tidak lagi ada se cuil pun makanan yang tertinggal.


"Hehehe... habis enak. Mubajir kan kalau di buang," jawab Emeryl beralasan. Ia tidak malu masih menjilati bekas lelesan bumbu di jari jemarinya.


"Astaga Emer, ini sangat menjijikan, tauk. Sudah cuci sana. Apa makanan yang selama ini ku berikan kurang enak, ya?" Elang menyeringai keheranan.


Emeryl hanya mengumbar senyum, Ia tidak peduli anggapan Elang yang penting perutnya sudah ter charger dengan full untuk memulai berjalan-jalan sore di tepi pantai. Mereka akan menghadiri keindahan tenggelamnya senja di ufuk barat.


Emeryl bergegas mencuci tangan dan mulai menagih janji. "Bang, ayo jalan. Katanya mau ke pantai. Disana kan asyik banyak perempuan seksi yang bisa dilihat dengan mata telanjang," Ucapnya merayu.

__ADS_1


"Oya? Jadi kau tidak keberatan jika aku tergiur melihat tubuh para turis yang eksotis itu?" Elang balas menggoda Emer


__ADS_2