
"Bos, ada yang menelpon," Ujar Jack, saat mendapati ponsel di tangannya berdering.
"Siapa?" Tanya Elang, tanpa mau menoleh kearah Jack.
"Bi Izzah, Bos," Jawab Jack, lantang. Setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel milik Elang. Entah sejak kapan benda itu ada ditangan Jack.
Elang menengadahkan tangannya menerima benda pipih tersebut dan segera menghubungkannya pada wanita paruh baya yang menjadi orang kepercayaannya.
"Halo, Bi!"
"D_ Den, Non Emeryl_ ," ucap Bi Izzah, gugup.
"Kenapa dengannya?" Elang masih dengan santainya bertanya pada Bi Izzah. Suara yang selalu lembut ketika berbicara dengan perempuan itu.
Bi Izzah bertambah cemas, Ia bingung mau jawab apa pada Elang.
"A_ anu, Den. Sepertinya Non Emeryl tadi pergi ke taman terus menghilang, Den?" Bi Izzah menjelaskan secara mendetail.
Elang hanya menanggapi tanpa beban, seolah semua bisa Ia atasi dengan sangat mudah. "Bibi tenang saja, dia tidak akan jauh."
Elang segera mematikan ponselnya dan memeriksa Sebuah rekaman yang terhubung dengan Villa mewahnya. Elang mengecek dimulai saat Emeryl turun dari lantai kamarnya kemeja makan, lalu pergi ke dapur dan masuk ke taman. Gadis cantik itu benar-benar telah melarikan diri dari taman itu lewat celah rerimbunan.
Elang tidak mengatakan apapun, Ia memakai maskernya kembali dan beranjak dari duduknya.
"Jack, ikut aku!" Ajak, Elang.
Jack yang kembali merapikan berkas-berkas yang belum rampung menghentikan lagi aktivitasnya. "Bagaimana dengan ini, Bos?"
"Biarkan saja, ini jauh lebih penting," Jawab Elang lagi, sambil berlalu mendahului Jack, pria tersebut segera mengekor nya dari belakang.
Tanpa adanya percakapan mereka mempercepat langkah mereka sampai dilahan parkir dan segera naik kedalam mobil.
Dari tempat yang berbeda, Kevin dan anak buahnya dalam perjalanan pulang. Tak lama waktu bergulir, Kevin mendapat telpon dari Dias Danuarta. Wajah Kevin yang masih dalam keadaan marah bertambah parah. Pasti Diaz menginginkan yang lain lagi.
"Halo, Bos," jawabnya, setengah malas.
"Kembalikan uang dari pria yang menyewa Emeryl?"
"Apa? Kenapa begitu, Bos?" Kevin memijat keningnya yang mendadak ngilu.
__ADS_1
"Aku akan memberimu Uang 10 M dan hutangmu lunas. Pastikan bawa dia malam ini ke rumahku!"
Pernyataan Diaz, membuat Kevin membenturkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia masih bingung mau menjawab apa.
"Kau dengar aku, Kevin?" Suara dengan volume besar, memekik telinganya.
"Baiklah, Bos."
Kevin mematikan ponselnya, Ia benar-benar sangat kesal jika terus-terusan menuruti kemauan Diaz.
"Dasar bandot tua, tidak bisakah dia bersabar dua malam lagi!" Umpat Kevin, geram. Sadar tidaknya Ia replek mengacak-acak rambut nya sendiri.
"Ada apa, Bos?" Tanya Totok, keheranan. Dialah yang mengemudi mobil Kevin.
"Kita ke villa, sekarang!" Titah Kevin, dingin.
"Siap, Bos." Meski tidak mendapat jawaban, Totok segera memutar mobil dan berbalik arah lalu membelokan mobilnya kearah yang dituju.
Sekitar 2 Km dari perjalanan, mereka melintasi jalanan sepi. Siapa disangka disana lah Kevin melihat Emeryl sedang berjalan menyingcing sendal dalam keadaan bingung. Karena belum sepenuhnya yakin, Kevin mengucek matanya berulang-ulang.
"Emeryl!" Sontak Ia berucap. " Ngapain dia disini?" Gumam Kevin, seorang diri. Ia terus memastikan lebih dulu apa yang dilihatnya tidaklah salah.
Pria tersebut mempertajam pengamatannya. Ia memang tidak terlalu memahami Emeryl tapi sempat beberapa kali melihat Kevin membawa gadis itu keluar masuk dari rumahnya.
"Non Emeryl, Bos?" Tanya Totok, ragu.
"Ya, benar.Ayo kita tangkap dia!" Kevin segera turun diikuti para anak buahnya.
"Emer...!" Teriak Kevin. Emeryl yang merasa namanya dipanggil lantas menoleh. Ia yang tahu itu Kevin mendadak panik.
Emeryl kembali membelakangi mereka dan segera berlari, dia tidak sudi balik lagi kerumah manusia berhati iblis itu. Jika Ia tertangkap, Ia pastikan nasibnya akan bertambah buruk.
"Ayo kejar!" Teriak Kevin, pada mereka.
Kevin tidak mungkin melepaskan Emeryl begitu saja. Ia sangat berhasrat mendapatkan Emeryl sebelum kesempatan itu hilang. Karena Ia sangat yakin, Emeryl pasti kabur dari Villa milik Elang.
Dengan perasaan cemas dan takut, Emeryl menguatkan diri untuk dapat berlari meloloskan diri dari pengejaran Kevin. Ia sudah cukup menderita dengan di jadikan alat untuk membalas dendam, tanpa tahu apa-apa.
"Emer, berhenti!" Panggil Kevin, yang tak jauh dari posisinya.
__ADS_1
Emeryl hanya menoleh, tanpa menghentikan langkahnya. Rambut panjang sebahu itu berterbangan ditiup angin.
"Emer, berhenti atau aku menembakmu!" Kevin menodongkan pistolnya kearah Emer. Gadis itu tidak perduli, Ia tidak akan menuruti kemauan Kevin meski Ia harua mati sia-sia.
Kevin yang kesulitan mengejar Emeryl memerintah Totok menghadangnya dari arah lain. Ia harus mendapatkan bocah itu untuk suatu urusan yang besar.
Emeryl mulai kelelahan, lelehan air mata terus berjatuhan tak kala kakinya tidak sanggup lagi untuk berlari lebih cepat lagi.
"Ayo Emer, kau pasti bisa selamat!" Gadis itu memotivasi dirinya sendiri. Emeryl melihat sesuatu yang mungkin dapat menyelamatkannya, Ia sudah dekat sebuah pemukiman padat penduduk.
Emeryl tidak mau membuang waktu, Ia segera berlari ke kampung itu dan meminta pertolongan. Beberapa pria yang sedang duduk santai di pos ronda sedang main kartu segera mendekat.
Emeryl tersenyum, kali ini Ia benar-benar akan terbebas dari belenggu Kevin, suaminya sendiri.
"Bang, tolong Bang. Mereka mau nyulik saya!" Emeryl mengatupkan kedua tangannya memohon belas kasihan.
Mereka melihat Kevin dengan sorot mata tajam, sudah mendekat. Pria berwajah masam dengan senjata mematikan ditangannya.
"Bang, tolong saya Bang!" Emeryl menghiba lagi, kaki Kevin mulai melangkah menghampirinya.
"Emer, kamu mau kemana, Sayang?" Kevin berhasil menjamah rambut girly nya.
"Berhenti Bang, jangan memaksa ku!" Pekik Emeryl. Ia memandangi ke sekian pria didepannya yang masih saja diam. Sepertinya mereka tidak akan membantu sama sekali. Karena rasa dan kesalnya. Emeryl menatap penuh kebencian.
"Pria macam apa kalian ini, ha? Mengapa kalian tidak menolongku dari pria biadab ini?" Emeryl marah, dan mengomeli mereka.
"Hahaha...!" Kevin langsung tertawa lepas. Ia menepukkan kedua tangannya dengan tatapan meremehkan kearah Emeryl. "Ini sudah menjadi nasibmu, Manis. Kau harus membayar mahal hutang nyawa yang dibunuh oleh Kakakmu." Kevin mendongakkan wajah Emeryl menatap para pria didepannya. "Mereka tidak akan mengasihi dirimu sama sekali!" Bisik Kevin, dengan nada menderu lirih di telinga Emeryl.
"Chih, Jadi mereka adalah komplotan Anjing busuk seperti mu!" Emeryl berdecih dan membalas tatapan Kevin.
Kevin tersenyum miring, Ia memandangi seksama wajah Emeryl. Ada hal aneh yang menari-nari di benaknya dengan sosok bocah ingusan dihadapannya.
Ia heran, mengapa Elang sangat terobsesi membayar nya sangat mahal, jika hanya untuk bersenang-senag. Begitu juga Diaz Danuarta yang bahkan sama sekali belum pernah menjumpainya, rela menganggap lunas uang 1 triliun yang di sita polisi akibat kecerobohannya.
Lama tenggelam dalam pikiran itu, Kevin menarik lengan Emeryl kearah mobil yang sudah menunggunya.
"Bang, tolong jangan bawa saya!" Emeryl memberontak ingin melepaskan diri, akan tetapi Kevin mendorongnya masuk kemobil.
"Ayo jalan!" Perintah Kevin, pada Totok.
__ADS_1