Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 34 Getaran


__ADS_3

"Aku ma_ masih tidak percaya ini?" Emeryl menatap sendu. Tanpa sadar air matanya meleleh jatuh. Tidak tahu perasaan apa, tapi yang pasti perasaan itu seakan sesuatu yang sangat membingungkan.


"Kau nyaman denganku?" Elang membalas tatapan itu. Ia mengusap air mata Emeryl dengan penuh kelembutan.


Emeryl mengangguk. Ia tidak bohong, bersama Elang lebih damai ketimbang bersama Kevin. Suami yang sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai istri.


Elang tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia menjadikan tangannya sebagai alat menampung air untuk membasahi kepala Emeryl.


"Ayo mandi, biar otak mu itu cepat segar kembali. Pukul 08.00 nanti aku akan mengajakmu berwisata!"


"Kita mau kemana, Bang?"


"Panggil aku, Sayang!" Ujarnya, memerintah. Pria itu kembali berenang. Ia harus segera menyelesaikan aktivitasnya sebelum hari merangkak siang.


Emeryl sendiri memilih diam dan ikut membersihkan diri. Tapi Ia hanya berani dipinggiran, sebab Ia tidak ahli dalam berenang. Seumur-umur itu adalah kali pertamanya ada di dalam air yang terhampar luas bagaikan ditengah lautan. Namun bedanya air kolam lebih bersih dan tenang.


Selesai membersihkan diri, Elang menepi lebih dulu. Disana sudah ada Jack yang telah menunggu mereka dengan baju handuk. Jack juga dengan sigap membantunya mengenakan handuk tersebut.


"Oke, pergilah lebih dulu!" Titah Elang lagi.


"Baik, Bos." Jack segera berlalu dari hadapan Elang. Pria itu memfokuskan diri memandangi Emeryl yang takut-takut membasahi dirinya dengan air. Rasanya udara terlalu dingin untuk mandi di kolam sepagi itu.


Elang mendaratkan diri di kursi, Ia akan menjadi penonton Emeryl dari tepian. Gadis itu sedari tadi membuat jakunnya terus bergerak. Entak kenapa aksi Emeryl sangat menggemaskan pandangan matanya meski gadis itu membelakangi posisi nya sekarant.


"Kau belum selesai?" Tanya Elang.


"Sebentar lagi," jawab Emeryl, lirih. Ia sebenarnya malu untuk keluar dari dalam air. Bagaimana tidak, baju tidur yang telah basah membuat lekuk tubuhnya terlihat kentara dengan jelas dan itu sangat memalukan.


Elang melirik jam ditangannya, Ia mulai jengah. Emeryl pasti sengaja memperlambat waktu untuk membuat Ia marah.


"Ayo cepatlah, kita akan pergi sebentar lagi!" Ulang Elang lagi.


Emeryl mengernyitkan seluruh wajahnya menjadi berlipat-lipat. Ia benar-benar tidak berani bergerak dari dalam sana.

__ADS_1


"Emer, kita juga perlu bersiap!" Elang mulai tidak sabar.


Aduh gimana ini? Kok dia gak pergi-pergi sih malah ngajak cepet lagi?...


Emeryl membalikkan tubuhnya perlahan-lahan. Ia terpaksa harus menutupi dadanya dengan kedua tangan. Sebab dia memang tidak memakai pelindung di bagian dalamnya.


Elang yang melihat itu mengulas senyum, dia sudah tahu apa yang membuat Emeryl begitu malu dan tidak percaya diri.


"Perempuan yang manis, sini Sayang?" Elang menyambut dia dari atas tangga. Dengan ragu-ragu Emeryl mengulurkan tangan. Ia benar-benar tidak percaya diri dengan kondisinya sekarang.


Sampai diatas tangga, Emeryl yang tidak hati-hati malah terpeleset hingga menabrak tubuh Elang dan menyebabkan keduanya terjatuh kelantai. Gadis itu kini tepat ada diatas Elang, Ia benar-benar tidak sengaja melakukan itu.


Cup!


Karena hilang keseimbangan perempuan itu mencium dada Elang dan itu membuat Ia terperangai.


"Ma_ maaf," Kata Emeryl, spontan. Wajahnya memerah menatap mata Elang.


Bukannya marah Elang lagi-lagi tersenyum. Ia malah sengaja merengkuh tubuh Emeryl semakin merapat.


Emeryl merasa ada sesuatu yang keras mengganjal di bawah sana, tanpa sadar Ia merogoh benda itu dengan tangannya karena mengira ada sesuatu yang aneh.


"Aw...!" Emeryl langsung menyadari sesuatu, setelah dapat menyentuh benda dibawahnya secara langsung.


"Hahaha...!" Elang terpingkal-pingkal. Ia sangat suka itu. Wajah Emeryl sudah mirip tomat rebus sekarang dan itu sangat menggodanya.


Emeryl yang sangat kesal, merasa dipermainkan hanya bisa memasang wajah cemberut. Emeryl sama sekali tidak nyaman berlama-lama ada diposisi itu pun berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan saya, Bang. Saya mau bangun!" Ucap Emeryl, ketus.


"Gak mau, aku belum puas memelukmu!"Tolak Elang. Dia sangat mensyukuri penyatuan mereka. Dua bukit kembar yang terekspos hampir jelas begitu menggodanya. Apa lagi benda itu terasa menggelenyar di dada bidangnya. Menambah sensasi jiwa lelakinya langsung bangkit dari lembah persembunyian.


"Bang, Ayolah. Katanya ini sudah siang!" Emeryl memelas.

__ADS_1


Elang menyingkirkan anak rambut basah milik Emeryl yang berani kurang ngajar menutupi wajahnya. Pria itu menatap dengan bola mata mengerikan. Bola mata pria nakal yang ingin mendapatkan sesuatu.


"Kita akan menikmati malam-malam kita disana, Emer!" Bisik Elang, dengan nada mengancam. Emeryl tidak perduli, Ia akhirnya bisa lepas setelah Elang melonggarkan kedua tangannya.


Elang menyusul bangkit dari posisinya, Ia masih saja menatap Emeryl dengan tatapan liar sekali lagi hingga membuat Perempuan itu mulai merasa takut.


Cukup lama mengerjai Emeryl, Elang bergerak menghampiri menimbulkan genderang perang yang menggoyahkan jantung Emeryl seakan mau copot. Pria itu lagi-lagi mendekatkan wajah mereka. Karena tidak berani terlalu lama memandangi ketampanan Elang. Emeryl menundukkan wajahnya. Padahal Elang tidak mau apa-apa, Ia hanya mau memasangkan handuk baju itu ketubuh Emeryl.


"Tidak perlu malu, kau akan terus memperlihatkannya di depanku mulai sekarang!" Desis Elang, childish. Seraya mengerlingkan kedua anak matanya yang berbinar.


Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Elang menggandeng Emeryl masuk kedalam rumah. Mereka rupanya sudah ditunggu di meja makan untuk sarapan bersama.


"Cepatlah bersiap, Ini sudah Pukul 07, 15 Menit!" Eyang Kanesty mengingatkan.


"Oke, Eyang. Kami bersiap dulu," jawab Elang sembari nyengir.


Diana lagi-lagi berdecak jengkel, Ia tidak suka melihat Elang dan Emeryl saling bergandengan tangan didepannya.


"Ck, ya ampun. Dia benar-benar gadis yang membuatku sakit mata melihatnya!"


Mengetahui ketidak sukaan Sang Ibu, Elang menanggapinya dengan menggidikkan bahu.


"Ayo, Sayang!" Elang semakin memperlihatkan kemesra'an mereka. Ia merangkul tubuh Emeryl menuju kelantai atas tanpa memperdulikan sindiran Diana.


"Dasar anak tidak tahu di untung. Kenapa dia memilih gadis udik tersebut," Gerutu Diana lagi. Belum puas rasanya Ia meremehkan sosok gadis seperti Emeryl.


"Iya, Mom. Aku rasa Angel lebih cantik dari perempuan itu? Dia masih terlalu polos untuk menjadi istri seorang Elang Danuarta, CEO muda pemilik dengan perusahaan yang sangat besar dengan berbagai cabang yang tersebar." Tania menyahuti.


"Tidak usah ikut mendekte, ini adalah hari Sabtu. Kapan suamimu kembali, Tania?" Tanya Eyang Kanesty. Ia bermaksud mengalihkan pembicaraan yang tidak penting sama sekali.


"Ini, Eyang. Dia akan tiba menjelang siang nanti," jawab Tania, yakin.


"Owh, Baguslah. Sebaiknya kau suruh dia bekerja disini saja. Kamu tidak takut jika nanti dia punya selingan di luaran sana tanpa pengendalianmu," Ucap Eyang Kanesty, mengingatkan.

__ADS_1


Jujur saja Eyang Kanesty meragukan kesetiaan Abimanyu. Mana mungkin seorang pria sanggup LDR an sampai waktu yang sangat lama dan menahan gairah lelakinya untuk bertemu kembali. Apa lagi sampai saat ini pernikahan keduanya belum juga dianugerahi seorang momongan yang bisa memperkuat ikatan pernikahan mereka.


"Mommy setuju dengan Eyang, Sayang? Lebih baik Abimanyu risign dari pekerjaan nya di Bandung saja, Nak." Mommy Diana menambahi.


__ADS_2