Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 38 Ancaman


__ADS_3

"Tentu saja, kau harus merasakan ini." Elang mendorong Emeryl jatuh ke sofa sedang dia sengaja membiarkan kaki Emeryl menggantung kebawah. Karena disana benda mereka bisa saling bersentuhan.


Merasa tak berdaya, Emeryl memohon agar Elang mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Saya mohon jangan, Bang. Saya ingin tetap di hargai bila masanya ada orang yang mencintai saya dengan tulus." Emeryl tidak punya cara lain, selain meminta belas kasihan.


"Aku yang mengambilnya, bukan? Nanti juga kita menikah." Pemuda itu menyentuh pangkal pahanya dan itu terasa menggelikan Emeryl.


"Meski pendek, kaki mu indah. Aku menyukainya." Elang seperti seorang pria yang benar-benar sedang berna_su. Ia mengangkat kaki Emeryl keatas lalu menciuminya.


"Bang, plisss. Kamu boleh lakukan apa pun jika kamu benar-benar menikahi," Ujar Emeryl lagi. Sibuk dengan sensasi mengerikan itu.


Ponsel Elang yang sudah aktif kembali berdendang ria. Pria itu terpaksa menjauhi Emeryl dan mengambil ponsel tersebut diranjang. Rupanya Kevin masih penasaran. Ia kembali menelpon lewat vidio Call.


"Halo, Kevin. Ini sudah sore. Apa kau tidak punya etika untuk mengganggu istirahat kami!" Elang melambaikan tangannya sambil tersenyum miring.


"Kembalikan Emeryl padaku, Elang..Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan istri tawananku," jawab Kevin. Wajah nya tampak begitu emosional.


"Iyakah, sayang sekali. Aku sedang menikmati malam-malamku dengannya. Kau tau tidak? Emeryl lihai diatas ranjang." Elang memanas-manasi.


"Sialan, aku tidak akan mengampunimu, Elang. Kau sudah berani mengelabuhiku. Lihat ini!" Kevin menujuk kan surat dan cek ditangannya. Dengan sengaja menyobek barang tersebut di depan Elang lalu menghamburkannya ke udara.


"Hahaha... ." Elang tertawa terbahak-bahak. "Tidak masalah, kau telah memilih jalanmu sendiri. Rugi uang juga rugi tubuh Emeryl. Karena aku tidak akan pernah mengembalikannya padamu!" Ucap Elang, liar.


"Dimana Emer, Elang? Aku pastikan dia akan kembali padaku. Karena kamu tidak akan pernah bisa menikahinya." Kevin sampai ngotot dalam berkata.


"Ya ampun, ngeri ya. Kamu tenang saja, meski kamu tidak menalak dia jika dalam waktu 3 bulan kamu tidak memberi nafkah lahir batin. Maka kalian akan dinyatakan bercerai atau disebut talak 1. Jadi aku akan menyembunyikan Emeryl sampai batas waktu yang sudah ditentukan.

__ADS_1


"Brengsek kau Elang, aku bersumpah akan membuat hidupmu menyesal melakukan ini."


Elang tidak perduli, Ia mematikan ponsel secara sepihak dan kembali menatap liar kearah Emeryl lalu tanpa basa basi hendak melanjutkan aksinya. Namun lagi-lagi suara ketukan pintu merusak semuanya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi makan siang sudah datang!" Sapa seorang dari luar. Benar-benar merusak momen istimewa yang sedang Elang mulai.


"Ah, sial. Kenapa harus datang sekarang sih? Apa mereka tidak tahu kalau kita sedang melakukan adegan yang membara," gerutu Elang, kesal. Pria itu terpaksa meninggalkan Emeryl menuju pintu.


Perempuan yang sempat terkungkung tersebut akhirnya bisa bernafas lega, Ia benar-benar hampir tak berkutik akan aksi Elang tadi. Semua otot-otot nya seakan terasa kaku. Bingung harus berbuat apa jika sampai Elang berhasil kembali menyentuhnya untuk ke dua kali..


Beruntung, Elang selalu menunda momen itu sampai detik ini. Tapi bukan berarti Ia bisa selamat dan terlepas dari jeratan Elang begitu saja.


"Silakan masuk!" Elang meminta pelayan di tempatnya menginap menata makanan di meja. Mereka akan menikmati makanan yang disajikan sebelum berpetualang menikmati indahnya pulau dewata bali yang memiliki sejuta pesona.


Tradisi dan adat istiadat yang kental masih terjaga sampai saat ini. Semua hidup rukun dan damai. Saling menghargai satu sama lain. Bahkan keributan jarang sekali terjadi.


"Sayang, ayo kita makan!" Ajak Elang. Setelah pelayan itu pergi. Emeryl segera membenahi posisinya duduk berhadapan dengan pria di hadapannya.


Ia dengan telaten mengambil piring milik Elang untuk melayaninya. Sungguh itu membuat Elang tersihir akan tindakannya.


"Aku mau belajar menjadi seorang istri," kata Emeryl. Ia meletakkan kembali piring itu setelah terisi penuh diiringi senyum tipisnya.


"Oya?" Elang terkekeh mendengarnya. "Untuk siapa, aku atau suamimu itu?"Godanya lagi. Ia sengaja menjadikan Emeryl salah tingkah atas pertanyaan konyol nya itu.


"Dasar pria menyebalkan? Tentu untuk pria yang mau menikahi aku nantilah?" Jawab Emeryl ketus. Memonyongkan bibirnya sambil cemberut sampai kedua pipi cabi itu mengembung.

__ADS_1


Elang terkekeh lagi, Ia paling gemes kalau sudah melihat keimutan wajah Emeryl. Gadis itu selalu saja membuat jiwanya meronta-ronta.


"Baiklah, jika kamu mau belajar jadi istri, kesini!" Elang menepuk sofa di sebelahnya.


"Ha, ngapain?" Emeryl langsung deg-degan.


"Udah, nurut aja. Katanya mau belajar jadi istri." Elang kembali mengisyaratkan agar Ia duduk di sampingnya. Dengan langkah ragu, Emeryl terpaksa menurut. Ia mendaratkan bokongnya lambat-lambat sampai Elang harus membantunya.


"Nah, begini kan cakep. Sekarang ayo suapi aku." Elang mengambil piring yang sudah di isi tadi kepangkuan Emeryl. Gadis itu mengangguk lalu mulai menyodorkan nasi di atas sendok ke mulut Elang. Terlihat jelas tangannya bergetar. Emeryl pasti sedang menyembunyikan perasaan di dalam sana. Bisa jadi perempuan itu mulai ada rasa pada Elang.


"Kau menyukai ku?" Tanya Elang setelah berhasil mengunyah nasi itu.


Emeryl menganga. Perempuan itu merasa kalau Elang terlalu percaya diri. "A_ apa maksudmu? A_ aku jatuh cinta sama ka_kamu? Mustahil." Emeryl mengelak. Ia sendiri belum tahu akan perasaannya pada pria itu. Rasa nyaman, takut dan khawatir berbaur menjadi satu.


Emeryl kembali menyuapi Elang, sejak tadi pemuda itu senyum-senyum sendiri melihat Emeryl. Ia sangat ingin perempuan itu bisa melupakan sejenak ketakutannya pada Kevin maupun Diaz.


Namun, orang-orang di ibukota tidak akan tenang sama sekali sebelum Emeryl kembali. Mereka langsung mencari tahu kemana Elang membawa Emeryl pergi. Kevin akan pastikan jika Elang harus mengembalikan Emeryl secepat mungkin padanya. Ia tidak sudi Elang merampas wanita yang Ia sendiri lebih berhak atas kehidupan Emeryl.


"Halo, Tir? Apa kamu sudah tahu keberadaan mereka?" Tanya Kevin, dibarengi nafas menggebu-gebu. Semua anak buah Kevin telah menyebar ke beberapa tempat untuk mencari tahu kemana Elang membawa istrinya.


"Belum, Bos. Semua bandara, stasiun dan berbagai tempat sudah kami periksa. Tapi tidak ada data nama Elang dan Nona Emeryl di dalamnya," jawab Petir dari balik layar.


"Sial, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ya sudah cari tahu semua orang yang berhubungan dekat dengan Elang. Pergi saja ke perusahaan PT Elang Hitam aku yakin sekertaris Elang tahu kemana Bosnya itu pergi!" Titah Kevin lagi, sangat gusar.


"Oke, Bos. Saya akan segera pergi kesana." Petir segera mematikan ponsel dan langsung menuju ketempat yang di perintahkan.


Sesampainya disana, Ia melihat Tania dan Abimanyu menepikan mobil mereka. Sepertinya Tania ada keperluan di tempat itu.

__ADS_1


"Pagi Bu Tania, Pak Abi!" Sapa para pekerja kantor.


__ADS_2