Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 45 Curahan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Kevin dan Damar sedang mengunjungi rumah Diaz Danuarta, dan ini menjadi kesempatan Petir menemui Lana di taman samping rumah.


"Nona, anda sedang apa?" Tanya Petir.


"Eh.. Tir. Tidak ada. Kamu punya keperluan dengan Kevin ya? Dia sedang pergi dengan Damar," jawab Lana, yang hanya sesekali menoleh. Karena Ia tengah sibuk menyiram bunga.


"Tidak, aku hanya ingin menemui Nona. Em.. Bagaimana dengan hadiah yang kemaren? Nona senang?" Tanya Petir lagi.


Lana akhirnya menoleh kearah Petir, pemuda itu terlihat jadi sangat tampan di mata Lana.


"Hey, kau habis perawatan ya?" Lana hendak mendekat akan tetapi kakinya tersandung hingga tubuh Lana jatuh tepat di pelukan Petir.


Keduanya saling berpandangan. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengguncang perasaan Lana. Wajah tampan Petir berhasil membuatnya membandingkan Ia dengan Kevin.


"Kau cantik, Nona," puji Petir sambil tersenyum manis. Memijat lebih tepatnya. Lana sampai terperangai melihatnya.


"Oh... iya maaf," Ucap Lana. Saat sadar masih ada di dekapan Petir.


"Tidak apa-apa, Nona. Boleh aku tahu apakah Nona merasa nyaman?" Tanya petir lagi. Lana jadi salah tingkah di buatnya. Tidak mengerti mengapa Ia jadi berdebar-debar menatap sosok Petir.


"Ah, apa yang kau katakan Petir. O ya kamu kan orang kepercayaan Mas Kevin biar aku buatkan minuman ya?" Lana hendak pergi tapi Petir mencegahnya.


"Tidak usah, Nona. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu." Petir berbicara lirih.


Lana memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan. "Soal apa?" Tanya Lana, gamang. Ia mulai curiga ada yang tidak beres pada Petir.


"Maafkan saya jika perkataan saya ini terkesan lancang, Nona. Tapi jujur saja saya sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan yang mengganjal di hati saya," kata Petir lagi. Lana tersenyum bingung.


"Katakan saja, Petir. Aku paling malas jika harus di suruh mendengarkan sesuatu yang berbelit-belit." Lana kembali melanjutkan kesibukannya menyiram bunga.


"A_ apa Nona tidak akan marah?" Petir ragu-ragu.


"Tidak, katakan saja!" Jawab Lana.

__ADS_1


"I_ ini, Nona. Sa_ saya sebenarnya?"


"Ayolah Petir, jangan membuat aku menunggu." Lana kembali menatap Petir.


Petir menunduk malu.


"Ah, payah. Ya sudah aku mau masuk saja." Lana menjauh tapi Petir akhirnya buka suara.


"Saya mencintai Nona," Ujarnya tegas. Lana sampai tak mampu menoleh saat mendengar ucapan tersebut.


"Iya saya mencintai Nona Lana sejak lama, saya tahu Bos Kevin tidak pernah punya waktu untuk Nona. Izinkan saya mengisi kekosongan itu Nona." Petir memberanikan diri.


Lana yang memang tidak merasa bahagia dengan Kevin meneteskan air mata. Masih tidak percaya jika perhatian Petir selama ini adalah karena pemuda itu punya rasa pada nya.


Petir mendekat dan memeluk Lana. Ia membisikkan kata-kata indah yang bisa membuai pendengar Lana.


"Aku bersungguh-sungguh, Nona. Aku akan bahagiakan Nona jika Nona mau meninggalkan Kevin untuk bersamaku."


Lana tidak munafik jika selama ini, Ia sangat kesepian. Kevin terlalu sibuk dengan urusannya sendiri tanpa pernah ada waktu sejenak saja untuk sekedar mengusap kepalanya.


"Maaf jika saya sudah berbohong." Petir memutar tubuh Lana lalu mengusap pipi yang sudah basah oleh air mata itu.


"Percayalah, saya akan membahagiakan Nona dengan uang yang halal," ujar Petir lagi, bersungguh-sungguh.


Lana menatap lekat manik mata Petir. Berharap itu hanya mimpi. Mustahil kaki tangan suaminya jatuh cinta pada istri Bosnya sendiri.


"Kau kasihan padaku?" Lana terus saja memandangi wajah Petir.


Petir menggeleng. " Aku mencintai Nona dari hati, bahkan Nona bisa buktikan kalau aku sanggup membawa Nona pergi sekarang juga." Petir meyakinkan kebimbangan Lana.


Perempuan itu mulai berpikir picik, mungkin dengan melepaskan diri dari Kevin dan pergi bersama Petir Ia akan bahagia dengan hidupnya.


"Kita bicara didalam!" Lana berjalan lebih dulu untuk masuk takut ada yang melihat perbincangan serius mereka.

__ADS_1


Petir mengekor dari belakang. Bahkan Ia tercengang saat Lana membawanya masuk kedalam kamar. Perempuan itu segera menguncinya setelah mereka sudah masuk.


"Apa yang Nona lakukan?" Petir tersenyum tegas. Tapi tidak dipungkiri senyumnya jauh leboh cool ketimbang Kevin yang jarang sekali memberikan senyuman pada seorang Lana.


"Apa kau bisa menjamin kehidupan yang kubutuh kan?" Lalu mendorong Petir duduk diranjang. Memainkan jari jemarinya di dada bidang Petir. Bola mata pemuda itu mengikuti jari yang panjang dan terawat itu membelai tubuhnya.


"Tentu saja," jawab Petir yakin.


"Kalau begitu apa kau mau membahagiakan ku hari ini seperti mas Kevin yang bebas melakukan dunia liarnya dengan perempuan lain?" Lana memberi penawaran.


"Apa? Jadi Nona ingin membalas dendam?" Petir semakin bersemangat.


"Tentu saja, siapa wanita yang rela di madu dan di duakan dengan banyak wanita oleh suaminya sendiri. Akan tetapi jarang memberi waktu."


Sepertinya Lana haus akan sentuhan pria dan kehadiran Petir adalah peluangnya untuk melepas keinginan yang terpendam.


Lana melepas lingerie yang membungkus baju seksi didalamnya lalu menjatuhkan Petir keranjang. Kali ini pemuda itu ada dalam kungkungan nya.


Petir tidak akan menolak, apa yang Lana lakukan adalah keinginannya sejak lama. Rasa suka yang membuatnya harus bertopeng kepasluan di hadapan Kevin.


Kuku-kuku panjang yang berwarna perak itu mulai bermain di jakun Petir. Sentuhan menggairahkan seorang pria tentunya.


"Aku akan selalu membahagiakanmu, Nona." Petir menyentuh lembut pipi Lana yang nampak berna_su akan tubuh gagahnya.


Lana membenahi rambut yang terurai panjang kebelakang lalu mendekatkan wajah nya pada pria bermata coklat tersebut. Petir adalah keturunan Spanyol. Dia memang hidup dengan bebas tapi bukan dalam berhubungan dengan perempuan melainkan pengalaman yang luas dalam memilih ratusan wanita yang di jumpai nya.


Petir sendiri tidak tahu, kenapa Ia malah mencintai Lana yang jelas-jelas adalah istri dari Kevin yang dipanggilnya dengan sebut Bos atau Abang dalam sewaktu-waktu.


"Puaskan aku Petir, sampai lemas tubuhku agar aku merasa benar-benar di cintai. Tidak seperti Kevin yang kaku dan singkat memberiku sentuhan ini," ujar Lana penuh pengharapan. Ia melabuhkan bibirnya cukup lama di bibir Petir.


Tidak munafik Petir sangat menyukai harum tubuh Lana. Dua gundukan kenyal yang besar itu menggoda pandangan matanya.


Petir tidak tinggal diam, Ia yang mendapatkan angin segar berbalik menjatuhkan Lana di bawahnya. "Aku akan membuat kamu seperti di surga, Sayang." Petir menciumi dada Lana sampai perempuan itu mendesssh nikmat.

__ADS_1


"Awh... Petir. Sentuhan kecilmu saja membuat tubuhku serasa tak berdaya," kicau Lana dengan lenguhan syahdunya.


Ternyata sebegitu inginnya Lana di sentuh dan di buai akan tetapi Kevin menutup mata pada istrinya sendiri. Padahal Lana adalah perempuan yang baik. Ia sudah setia pada Kevin meski berulang kali tersakiti.


__ADS_2