Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 51 Memberi waktu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pulang bersama Kevin, Emeryl memilih tetap bungkam, tidak ada percakapan antar keduanya. Sesekali Kevin melirik kearah Emeryl dan menangkap sendu dimatanya. Kevin sendiri tidak tahu mengapa Ia menjadi sangat canggung untuk berbicara pada Emeryl. Dia benar-benar tidak nyaman dengan kondisi seperti itu Ia pun memutuskan menghentikan mobilnya.


Sontak Emeryl terkejut dan menatap lekat bola mata seorang suami yang seperti bukan suami baginya itu. Air mata jatuh berderai bagaikan hujan semi.


Kevin merasa menyesal melihat kesedihan Emeryl. Ia tahu bahwa tindakannya yang lalu telah menorehkan luka di hati Emeryl. Pemuda itu pun menghela nafas, kemudian menghadap Ke arah Emeryl dan menggenggam kedua tangan perempuan itu.


"Emer, mungkin kau bingung dengan semua ini? Tapi_." Kevin menahan sejenak kalimatnya dan harap-harap cemas Emeryl menunggu kelanjutan dari ucapan Kevin. "Aku melakukan kni karena aku baru sadar telah menyakitimu, dan kehilangan saat kamu tidak ada," jujur Kevin.


Emeryl berdecih, setelah semua yang terjadi. Dengan gampangnya Kevin bilang menyesal semudah itu. Bahkan itu telah kehilangan Kakak dan sekaligus kehormatannya sebagai seorang perempuan.


"Maafkan aku, Emer. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu," ujar Kevin, sungguh-sungguh.


Tidak mendapat respon dari Emeryl, Kevin kembali membuang nafas.


"Oke, baiklah. Tidak perlu katakan apa pun kau pasti masih belum bisa menerima semua kesalahanku."


Kevin kembali menarik gas, dan melajukan mobilnya secepat kilat sampai mereka tiba di rumah yang kini telah lengang. Biasanya banyak anak buah Kevin berjaga di post yang sudah disediakan tapi kali ini tidak ada seorang pun yang Ia temui.


Masuk ke dalam juga sama, tidak ada lagi Lana dan pembantu sedang sibuk dengan aktivitas mereka setiap hari.


"Kau tidak akan menemukan mereka lagi," delik Kevin. Mengeluarkan bungkusan batang yang baru saja Ia ambil dan hisap setelah menyulutnya dengan korek api.


Emeryl tentu penasaran dan ingin bertanya, tapi Kevin terlalu dingin saat itu.


"Aku ke kamar dulu," izin Emeryl. Ia membuka pintu dan mengedarkan kamar yang masih tetap sama saat terakhir Ia masuk.


Apa yang terjadi? Kenapa rumah ini begitu sepi? Adakah sesuatu yang menimpa Bang Kevin?


Emeryl mengigit bibir, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Akan tetapi manik matanya belum berhenti menyapu pemandangan yang ada dikamar itu.


"Haruskah aku kembali menjadi wanita yang tak berarti? Apakah Bang Kevin akan memberikan aku pada Mafia itu lagi?" Pikiran kalut terus mendera. Emeryl belum sepenuhnya siap jika Kevin kembali menjual dirinya. Ia yakin kebaikan Kevin hanya kepalsuan semata yang tidak akan pernah bisa dipercaya sama sekali.


"Bang Dimas, kenapa kamu harus mati ditangannya? Dan membuat aku tidak bisa menerima kenyataan ini, Bang? Bagaimana mungkin aku bisa percaya dia tulus denganku setelah apa yang terjadi?" Emeryl menjatuhkan diri ke ranjang dengan posisi tengkurap. Ia harus siap apa pun yang bakal Ia hadapi setelah kembali ada ditangan Kevin.

__ADS_1


Kevin yang sudah berdiri dan mendengar semua keluh kesahnya hanya bisa menahan sesak. Ia memang salah telah menyiksa dan dendam pada orang yang salah.


Pemuda yang memiliki bulu di sekitaran dadanya itu tidak sanggup melihat kesedihan Emeryl memilih membiarkan Emeryl seorang diri.


Mungkin perempuan itu butuh waktu untuk memikirkan segalanya dan percaya jika Ia telah berubah.


...💥💥💥💥...


Jauh di istana Elang Danuarta, pemuda yang memiliki wajah dan tampan di balik ke garangannya tengah kesulitan menaham marah. Ia membanting jas yang dipakainya tadi ke atas ranjang sambil menekan kepala yang terasa sakit.


Ia masih belum terima, saat melihat Emeryl memilih pergi bersama Kevin tanpa menolak sama sekali. Apa lagi setelah banyak hal yang mereka lalui bersama-sama.


"Ah... sial. Kenapa ini harus terjadi, ha? Kenapa Emeryl tidak mau tetap tinggal bersama ku? Apa dia tidak mencintaiku?"


Tidak sanggup lagi membendung rasa kecewanya, Elang bangkit dan melempar pas bunga di atas nakas kearah dinding hingga pecah berkeping-keping.


"Aku tidak akan pernah bisa melepaskan kamu Emeryl, ku pastikan kau akan memilih kembali denganku dari pada dengan Kevin. Pria durjana yang sudah menghancurkan hidup kita." Tatapan penuh kebencian kian membara bagai bongkahan bara api yang siap menghantam ke tumpukan jerami kering.


Suara ponsel berdering nyaring mengurai sedikit otot yang menegang. Elang menyipit mata saat melihat layar ponsel tanpa nama disana.


"Halo, siapa ini?" Ucapnya, kasar.


"Aku mau berbicara dengan keluarga Diana Laras Sati," jawab dari lawan bicaranya.


"Anda siapa?"


"Saya turut berduka cita atas kejadian ini," jawab orang aneh itu.


"Cih, tidak usah basa-basi. Bilang saja ini siapa?" Elang menyerangnya dengan nada tinggi.


"Anda tidak perlu tahu, aku hanya ingin anda tahu. Bahwa aku masih ada sedikit respeck dengannya."


Orang itu mematikan mematikan ponselnya sebelah pihak membuat Elang bertambah meradang. Ia yakin orang itu tahu segalanya tentang Mommy Diana atau bisa jadi dia ada sangkut pautnya dengan kematian wanita tersebut.

__ADS_1


"Benar-benar keterlaluan? Aku pasti akan menemukan siapa dalang di balik kematianmu Mommy, walau pun aku sangat yakin jika itu adalah perintah Diaz Danuarta."


Elang segera berganti pakaian, Ia turun dari tangga melewati Eyang Kanesty, Tania dan Abimanyu yang sedang makan malam bersama.


"Elang, mau kemana?" Teriak Eyang.


"Ada keperluan, Eyang," sahut nya dari kejauhan.


Abimanyu menelisik kearah tangga kamar Elang. Ia cukup penasaran akan Emeryl. Sejak kepulangan Elang, Ia tidak lagi melihat perempuan itu di rumah mereka.


"Apa Elang sudah mengantar pulang calon istrinya?" Tanya Abimanyu. Membuat Eyang Kanesty dan Tania tertuju kepadanya.


"Iya, Eyang. Tania juga gak liat. Eyang tahu?" Meski tidak suka, Tania juga butuh sebuah kepastian.


"Eyang tidak tahu, mungkin saja mereka ada masalah," jawab Eyang, cuek. Ia memilih fokus pada makanan di piringnya.


Abimanyu yang sudah memilih out dari kantor di luar kota merasa kehilangan. Padahal Ia keluar juga agar bisa sering-sering bertemu Emeryl.


"Mas, kenapa?" Tanya Tania, heran. Tidak seperti biasanya Abimanyu memasang wajah tidak tenang.


"Tidak ada, ayo lanjut makan, Sayang." Pria itu mengalihkan perhatian Tania. Apa lagi Ia tahu betul Tania adalah wanita pencemburu.


Elang memasuki sebuah Bar, Ia memesan sebotol wine untuk melepas penat. Sedang dari sisi lain, ada seseorang yang memperhatikannya siapa lagi jika bukan suruhan seseorang.


"Kau lihat itu!" ujar pria itu pada seorang wanita penghibur menunjuk kearah Elang.


"Iya, Bos."


"Bagus, buat dia tidur denganmu malam ini agar pertahanannya goyah," perintah orang itu lagi.


Perempuan itu mengacungkan jempol dan mulai melipir kearah Elang.


"Diam disitu!" Cegah seseorang.

__ADS_1


__ADS_2