Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Bab 6 Merelakan


__ADS_3

Dibalik selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai ke dada, Emeryl dapat menghisap bau mint yang keluar dari bibir Elang saat menyentuhnya. Pemuda itu belum sempat dilihatnya secara seksama karena begitu rapatnya mengenakan penyamaran, apa lagi dalam waktu yang singkat.


Didalam ruangan yang sangat gelap gulita, Emeryl dapat mendengar jelas suara pergerakan Elang padanya.


Pria itu menahan tengkuknya dan memperdalam daging tak bertulang tersebut masuk sampai memenuhi rongga-rongga mulutnya lebih dalam lagi.


Dengan berderai air mata, Emeryl hanya pasrah sambil mencengkram dada Elang sekuatnya menerima apa saja yang Elang lakukan sesuka hati.


Beberapa menit kemudian, Elang melepaskan pangutan nya dan menyibak selimut tebal di pangkuan Emeryl lalu membuangnya asal kelantai.


Emeryl bisa memastikan jika Elang sedang melepas semua pakaiannya dengan sangat cepat. Gigi Emeryl saling mengatup, tak bisa dibayangkan olehnya jika Ia akan menghabiskan malam itu bersama pria asing.


"Kau sudah siap, cantik?" bisiknya lirih. Ia juga bergerak melepas seluruh kain ditubuh Emeryl.


Dengan perasaan bergetar, Emeryl menangis lagi. "Bolehkah aku meminta sesuatu?" ujarnya, sayu. Sedikit mengulur waktu.


"Katakan saja, aku suka sebuah kejujuran," jawab Elang. Tapi tak menghentikan kegiatannya berbuat ulah pada beberapa titik sensitif di bagian tubuh Emeryl.


"Aku mau minum," ucapnya serak. Elang tercekap, lalu menatap dalam wajah samar didepannya.


"Apa, Kevin tidak memberimu minum?" Ulasnya, balik.


Emeryl menggeleng. "Aku bahkan belum makan sama sekali."


Elang tertawa, Ia sedang menganggap Emeryl membuat lelucon. "Jangan main-main Emeryl, aku tidak mungkin menunda malam kita."


Tanpa belas kasihan, Elang menarik tubuh Emeryl yang sudah polos terlentang di ranjang. Emeryl menggigit bibir merasakan Elang telah menindih tubuhnya.


Elang tidak terlalu suka memanjakan wanita, jadi Ia memilih memasukkan miliknya langsung ke inti Emeryl yang masih sangat sempit.


Bahkan Elang tahu, saat Ia memasukkan satu jarinya kesana, Emeryl langsung memekik kesakitan.


"Good, aku suka ini," ujarnya sambil menyeringai licik menatap Emeryl.


Elang memainkan adik kecilnya disana untuk membuat basah milik Emeryl dan satu tusukan tak mampu mendobrak ruangan tersebut.

__ADS_1


Bahkan Belum apa-apa Emeryl menjerit histeris, Ia merasakan jika sentuhan itu berhasil menyakitinya.


"Bang, tolong jangan lakukan. Aku takut, Bang," ujarnya setengah merintih memejamkan mata.


Elang tidak perduli, Ia malas terlalu banyak melakukan perbincangan yang tidak menguntungkan baginya.


Jlep!


A...


Satu dorongan lagi, Emeryl memekik keras. Ia merasakan miliknya telah robek.


"Bajing*n, kau tega Bang. Aku tidak percaya ini. Hentikan Bang, aku merasa sakit," ucap Emeryl sambil memukul-mukul dada Elang berulang-ulang. Bahkan meremas kedua lengan berotot Elang dengan kuat mungkin kukunya menebus kulit pria tersebut.


Elang tetap tidak mendengarkan, dia malah mempercepat hentakan adik imutnya dengan kuat pada dinding lunak Emeryl meski wanita itu berteriak dan meraung-raung kesakitan sampai akhirnya Elang melakukan pelepasan. Pria itu juga dapat merasakan milik Emeryl membuncah hangat di kepala adik imutnya disela-sela nafas yang dalam sekejap seperti berlarian.


"Heh, kau menikmatinya," decih Elang akhirnya. Ia merasa puas melihat Emeryl mulai tenang dibawah kungkungan nya.


"Apa yang bisa kulakukan pria gila? Kalian sudah menjeratku untuk ini," timpal Emeryl, marah. Kali ini Ia sudah kehilangan mahkotanya itu artinya Ia tidak akan perduli lagi dengan kehidupan selanjutnya.


Elang mengusap rambut Emeryl, Ia sengaja menyelusup kejenjang wanita belia itu dan menggigit kecil lehernya.


"Tidak, ini hanya sebuah stempel, yang artinya aku pernah menyentuh tubuhmu. O ya? benar usianya masih sembilan belas tahun?" tanya Elang, memastikan.


"Menurutmu?"


Elang memegang dua buah kenyal yang masih belum sempurna masuk ke dalam genggamannya.


"Dadanya belum berisi, masih terlalu kecil untuk di mainkan." Perkataan jujur Elang membuat Emeryl kesal.


"Lalu kenapa kau memesanku?" ucapnya sambil mencibir menatap malas.


"Oh, bukan apa-apa. Aku suka barang baru. Karena yang lama itu sudah tak menggoda lagi."


"Sial, jadi kau hanya menganggap wanita seperti sampah, minggir." Emeryl mendorong tubuh Elang yang cukup sulit membuatnya bernafas. Toh, si adik imut pria itu juga sudah keluar sendiri.

__ADS_1


"Ck, tenaganya kuat juga," decak Elang seorang diri. Ia hanya mengamati Emeryl mengambil posisi memunggungi dirinya.


Pria itu tersenyum puas, entah mengapa perbuatan Emeryl malah menjadikan Ia gemas dibuatnya.


"Kau belum pernah berhubungan sebelumnya?" Elang pura-pura menanyai berharap Emeryl mau menceritakan apa sebab Ia terlempar kedalam dunia Kevin. Seorang pria kejam dan ahli dalam menyelundupkan barang-barang ilegal. Kevin juga suka menjelma jadi lelaki liar yang selalu bergonta-ganti pasangan untuk sekedar memuaskan diri.


"Bukan urusanmu," jawab Emeryl, masa bodoh.


"It's Oke, tidak perlu kau beri tahu. Aku rasa kau sangat menyimpan baik tubuh mungil mu ini. Ya, karena seorang seperti Kevin tidak akan tertarik dengan anak ingusan. Ia lebih suka wanita yang sudah ahli dibidangnya," tandas Elang kemudian.


Beberapa waktu berlalu setelah lelah mengobrol saling memaki dan mencela, Elang melihat Emeryl tengah tertidur, dan dengan leluasa Ia menarik selimut dan merangkak naik lagi. Mana mungkin Ia rela Emeryl membiarkannya tidak bisa tidur seorang diri.


Apa lagi saat menyentuh lumut kecil di bawah pusar Emeryl, dengan cepat adik imutnya tegak menantang lagi.


"Aih, kau tahu saja jika dia adalah milikmu," gelak Pria itu. Tentu saja Emeryl membuka mata ketika kedua inti mereka kembali bergesekan.


"Bang, ini sudah malam. Apa kau akan terus melakukanya?" Dengan berani Emeryl marah. Ia bahkan kehilangan rasa kantuk yang seharusnya masih tertidur dalam mimpi indah.


"Tidak, bayangkan saja. Aku harus membayar mu 2 M dalam semalam. Jadi mana mungkin aku menganggurkan mu dalam satu ronde."


"Brengsek, jadi begini nasib wanita jika sudah di sentuh. Maka Ia akan di rusak terus menerus tanpa henti bahkan tak kenal waktu," maki Emeryl lagi, jengah. Ia membalas tatapan Elang.


"Hahaha...." Tawa Elang, pecah. "Bukankah itu sudah menjadi kondrat wanita. Mereka hanya sekedar di jadikan alat pemuas pria."


Emeryl tersentak kaget, saat Ia ditarik Elang naik keatas tubuhnya. "Ayo bergoyang lah, aku akan membuatmu melupakan nasibmu!" ujarnya meremehkan.


Emeryl menolak dan hendak pergi, tapi Elang menahan panggulnya.


Ia sendiri yang memasukan adik imut nya lagi kedalam ruangan milik Emeryl dan memaksanya bergerak naik turun. Emeryl menggigit bibir, ruangan yang masih sempit itu terasa sesak.


Elang membantunya bergerak dan Emeryl berteriak lagi, Ia men. de sah antara nikmat dan sakit berbaur menjadi satu. Rasa perih masih merong-rong di area dinding lunak miliknya.


Dengan bantuan terus menerus, terpaksa Emeryl ikut menambah kecepatan dan hanya dalam dua menit. Keduanya kembali melakukan pelepasan bersama-sama.


huf...

__ADS_1


Elang dan Emeryl tersengal-sengal tapi rasanya membahagiakan.


"Setelah malam ini kau akan ketagihan, Emer." Senyuman manis terbit di sudut bibir Elang tapi Emeryl tidak. Ia tidak bisa tersenyum untuk hal yang sangat menjijikan itu. Ia hanya akan menikmatinya saja meski hatinya menolak untuk itu.


__ADS_2