Bermula Karena Dendam

Bermula Karena Dendam
Part 58 Pergi


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Diaz Danuarta Emeryl tak bisa berkata-kata. Ia berkali-kali meyakinkan diri bahwa Abimanyu adalah salah seorang pengikut Diaz.


"Kenapa, Cantik? Apa kau terkejut?" Abimanyu mengulas senyum sambil membelai pipi Emeryl yang seketika ditepis oleh perempuan itu.


"Siapa kau ini, ha? Apa hubungannya mu dengan pria gila itu," tunjuk Emeryl kearah rumah Diaz.


Abimanyu menarik sedikit sudut bibirnya, Ia tidak memperdulikan pertanyaan Emeryl lalu menarik perempuan itu keluar.


"Lepas, Mas. Aku tidak mau ada disini!" Emeryl berupaya memberontak lagi. Tapi tetap saja Abimanyu dengan gampang nya menyeret tubuh kecil itu masuk ke dalam.


Sesampainya di sana, Abimanyu berbicara dengan pria yang berdiri membelakangi mereka. Sudah di pastikan itu adalah Diaz Danuarta.


"Aku sudah membawa wanita ini, Bos. Tapi sesuai janji malam ini dia menjadi bagianku," Ucap Abimanyu, yang merasa orang paling beruntung.


"Cih, dasar gila. Aku bukan perempuan murahan, Mas!" Maki Emeryl, dengan sorot mata marah.


Diaz membalikan tubuhnya dan tersenyum.


"Oke, ambil saja perempuan itu dan puaskan naf_umu," jawab Diaz seraya tertawa. Menatap Emeryl yang terlihat penuh kebencian kearahnya.


"Terima kasih, Bos." Abimanyu hendak menarik Emeryl ke sebuah kamar.


"Ayo ikut, buat aku terpuaskan seperti kamu memuaskan ku seperti memuaskan adik iparku!" Ajak Abimanyu, tanpa malu. Emeryl menolak, Ia menahan kakinya agar tidak terbawa. Namun tubuh kecil itu tidak ada artinya bagi Abimanyu membuat pria itu mengangkat tubuh kecil Emeryl ke pundaknya.


"Turunkan dia!" Teriak Kevin dari sisi pintu. Dimana Ia yang masih belum sehat menodongkan senjatanya kearah Abimanyu. Ada Damar di belakangnya yang selalu hadir sebagai orang pertama.


Abimanyu yang melihat kedatangan Kevin terpaksa menurunkan Emeryl.


"Hahaha...." Diaz Danuarta terbahak-bahak. "Ayolah Kevin, bukannya dulu kau menjual wanita cantikmu ini pada semua pria."


"Itu dulu, Bos. Tapi tidak sekarang. Emeryl adalah istriku dan aku mencintainya," Ucap Kevin dengan suara lantang. Kevin benar-benar berhasil membuktikan jika dia mencintai Emeryl tanpa embel-embel lagi.

__ADS_1


"Mas...!" Emeryl tersentuh. Perempuan yang memiliki bola mata besar namun indah itu ingin berlari dan memeluk Kevin tapi Abimanyu menahannya.


Kevin kemudian memerintah Damar melawan anak buah Diaz yang datang menyerang mereka.


"Lepas Mas Abi, aku mau ke suamiku," desis Emeryl.


"Hahaha...!" Kali ini Abimanyu yang tertawa. Di sela keributan dia tidak memiliki ketakutan sama sekali.


"Tidak akan, dia itu hanya pria pecundang, sayang. Lebih baik kamu hidup bersama ku." Abimanyu memeluk dan hendak menciumi Emeryl dan itu menciptakan rasa panas di dada Kevin. Pria itu menembak Abimanyu tepat di bagian keningnya sedang Diaz berhasil mencuri kelengahan Kevin.


Tanpa aba-aba, Diaz Danuarta menembak Kevin tepat di bagian jantungnya membuat mulut pria itu menyemburkan darah kental.


"Bang Kevin!" Teriak Emery dan Damar serempak. Mendengar dua dentuman berbarengan memecah suasana. Mereka histeris, panik, takut dan terkejut. Perempuan yang sudah melihat Abimanyu jatuh tergeletak langsung berlari dan memeluk tubuh Kevin yang masih berdiri tanpa rasa.


"Mas, Mas Kevin jangan mati, Mas. Maafin aku belum bisa jadi istri yang baik." Tubuh Emeryl lagi-lagi penyebabnya Ia tak mampu menahan tubuh Kevin yang terjatuh kelantai.


"Mas Kevin...!" Air matanya terus banjir tanpa henti kala melihat sang suami tengah sekarat. Kevin yang tidak punya daya upaya masih sempat mengangkat tangan dan mengusap air mata Emeryl.


"Sebenarnya aku tidak punya urusan denganmu, Diaz.Tapi setelah kau membuat adikku menderita, hari ini aku tidak akan mengampunimu!" Ujar Dimas, dengan tatapan tenang setenang air sungai.


"Ck... apa kau sekuat itu," Jawab Diaz, dengan ucapan meremehkan.


"Kau pikir aku main-main, ada orang hebat yang membentengi diriku." Dimas menakuti.


"Hem, siapa? Pertahananmu sudah tumbang liat itu!" Tunjukkan pada Kevin yang terus terbatuk-batuk dan memuntahkan darah.


"Aku," jawab seseorang dari balik pintu. Emeryl yang mendengar suara Elang serta merta menoleh tanpa menyadari kehadiran sang Kakak. Diaz terkejut saat beberapa orang anak buah Elang yang masuk dalam jumlah besar ke istana tanpa penjagaan itu.


Awalnya Diaz mengira jika Kevin akan datang sendiri tapi rupanya banyak kroni-kroni Elang yang datang berbondong-bodong.


Brak! Brik! Bruk!

__ADS_1


Suara berbagai barang dan baku hantam terjadi, rumah Diaz sampai koyak di buatnya.


Elang menoleh kearah Abimanyu yang mungkin telah meregang nyawa dan berpindah kearah Emeryl yang memangku Kepala Kevin. Pria itu terus saja memuntahkan darah.


Melihat kejadian mengerikan itu, Elang mengeratkan rahang. Ia benar-benar kecewa akan kesadisan Ayahnya.


"Tuan, Diaz Danuarta. Kau sudah membuat api yang kecil di dada ini bertambah besar. Membunuh Nyonya Diana tanpa nyali sehingga memerintah orang lain melakukannya, yaitu memanfaatkan menantunya sendiri untuk menusuk IBu Mertua sampai mati. Jadi kau sudah merasa puas?" Ucap Elang di ikuti sorot mata penuh kebencian.


"Jadi kau mengenal wanita menyusahkan itu," Decih Diaz, tersenyum miring.


"Haih, jadi Kakak ipar Abimanyu tidak memberi tahumu jika aku adalah adiknya?" Selidik Elang, pasalnya mustahil jika Abimanyu atau pun Diaz tidak tahu perselisihan mereka.


"Apa maksudmu?" Desak Diaz Danuarta. "Hm... akan ku jelaskan setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Kevin." Elang mendekati Kevin yang sidah pucat pasi lalu berjongkok dan menatap penuh aksara.


Sedang Jack dan Petir bersiaga kearah Diaz, sebab mereka tidak akan membiarkan pria tua itu melukai Elang.


"E_ Elang, ma_ maafkan kesalahanku. Su_sudah membunuh Kakakmu. Ta_ tapi ku mohon hapuskan den_ dam itu ka_ karena aku telah mendapat karmanya," melas Kevin dengan suara terputus-putus. Ia nampak kesulitan mengambil nafas.


Damar yang tak kuasa melihat Kevin sang Kakak sekarat ikut mendekat. Dia menangis melihat kondisi Kevin. Karena belum mendapat maaf dari Elang.


"Lang...!" Ucap Damar di balik kekuatan fisiknya memegangi tangan Elang.


"Plis, maafin Bang Kevin, Elang. Aku tahu, dia punya banyak salah di masa lalu. Tapi dia sudah membuktikan kalau dia bisa berubah. Jadi ku mohon, maafkan atas semua kesalahannya. Bang Kevin sudah mendapat ganjaran dari perbuatannya tapi Ia juga berhak mendapatkan kata maafkan?"


Emeryl tak henti-hentinya terisak, ada rasa takut akan kehilangan Kevin yang sekarang sudah berubah bak malaikat baginya.


Cukup lama terdiam, Elang akhirnya mengangguk pelan. Kevin yang merasa senang lekas menarik tangan Emeryl dan Elang menyatu. "To_ tolong jaga ia_istriku, Lang. Ka_ karena hanya kamu yang mampu menjaga dirinya." Kevin menatap keduanya bergantian.


"Jangan khawatirkan Emeryl, Vin. Aku akan berusaha menjaganya semampuku," jawab Elang yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ma_ makasih, Lang." Ucapan itu berakhir dengan terputusnya nafas Kevin yang tiba-tiba terlelap.

__ADS_1


__ADS_2