
"Bang, bangun Bang! Jalannya kemana ni?" Damar menggoyangkan-goyangkan tubuh Kevin yang tengah terlelap. Memang semalaman setelah perkelahian itu dia tidak tidur sama sekali.
"Astaga, Dimas!" Kevin benar-benar kaget. Ia membuka matanya dengan tingkah yang linglung. Sadar mobil mereka masih berjalan. Kevin mengusap kasar wajahnya. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Ia membayangkan Dimas ada didepan mobil mereka.
"Kenapa, Bang?" Tanya Damar, bingung.
"Owh... , Damar kita masih di jalan?" Kevin malah balik bertanya.
"Iya, Bang. Apa ada sesuatu yang membuatmu terkejut?"
Kevin menggeleng, wajahnya terlihat berkeringat. "Tidak ada. Aku sedang mimpi buruk tadi!" Kevin menolak untuk bercerita dan mengalihkan pembicaraan dengan meminta sopirnya mengikuti arahannya. "Ke jalan Putri malu, Tok!" Titahnya.
"Baik, Bos."
Mobil mereka melesat cukup cepat hingga menepi pada sebuah Villa dimana Kevin pernah mengantar Emeryl ditempat itu.
Setelah semua keluar dari mobil. Kevin, Damar, Petir dan Jojok termangu menatap bangunan tersebut. Villa yang sangat mewah untuk dijadikan tempat tinggal seumur hidup.
"Wah, villa nya gede banget ya, Bang?" Damar yang slengekan terkesan takjub. Halaman villanya begitu luas, ada dua kolam yang dipenuhi ikan dan taman yang dirawat sedemikan rupa. Bahkan Kevin tidak menyadarinya sama sekali malam itu.
Damar berulang kali berdecak kagum sambil berjalan mendekat daun pintu dan mendongak kearah langit-langit. Villa itu penuh dengan ukiran yang sangat unik. Dimana pemiliknya tak diragukan lagi akan kekayaannya.
"Mar, Ayo menjauh!" Kevin khawatir rumah itu ada CCTV. Benar saja, Ia melihat dua CCTV terpasang diatas daun jendela sebelah kiri dan diatas kolam. Tanpa pikir panjang Kevin mengeluarkan pistolnya dan menembak kedua alat perekam itu berkali-kali sampai rusak.
Dor! Dor!
Suaranya memekakkan telinga, namun anehnya tidak ada seorang pun yang keluar. Melihat keadaan hening, Kevin menasehati Damar.
"Jangan ceroboh, kau mau Elang menyadari keberadaan kita, ha?" Kevin mengajak mereka kembali ke mobil dan menunggu sesuatu yang bisa saja membuka cela untuk membawa kabur Emeryl.
Selang beberapa lama, Sebuah mobil mewah terparkir. Tak berapa lama, Seorang pria bermasker dan seorang perempuan turun. Jika dilihat dari penampilan perempuan itu. Kevin yakin dia adalah Emeryl.
__ADS_1
"Bagus, dia sedang sendiri sobat!" Kevin tersenyum puas melihatnya. Apa lagi mengetahui kalau Elang hanya seorang diri. Aku akan menculik Emer, dan kalian berdua. Serang Elang bagaimana pun caranya. Pastikan dia tidak akan mengganggu aku membawa Emer. Untuk Totok, siapkan mobil kita untuk melaju cepat. Siapa tahu ada anak buah Elang yang tiba-tiba datang mengintai!"
Kevin sepertinya cukup jitu mengatur siasat. Ia yakin bisa membawa Emer pergi tanpa adanya halangan. "Damar, kau bawa senjata. Pastikan kau selamat dari tempat itu!"
"Oke, Bang. Jangan khawatirkan aku."
"Ayo beraksi!" Kevin menyiapkan sebuah penutup kepala untuk Emeryl. Sedang Damar dan Petir bergerak menyerang Elang.
Kedua pria itu berlari dan secepat kilat menerjang punggung Elang sampai terpelanting. Bahkan pekikan terdengar sangat nyaring.
"Ah...!" Pria bertopeng itu kesakitan. Ia Menoleh kearah Damar dan Petir dengan tatapan marah.
"Sial, mau apa kalian?"
Disisi lain, Perempuan yang tak lain adalah Emeryl sangat ketakutan. Ia histeris melihat Damar dan Petir yang terlihat mengerikan.
Saat lengah itu lah, Kevin membekap kepalanya dengan penutup wajah berwarna hitam lalu menggeret perempuan itu dengan paksa.
Elang yang melihat Emer dibawa semakin geram. Ia mencoba menghentikan aksi Kevin.
"Kevin, hentikan tindakanmu!" Pria bermasker yang diyakini sebagai Elang itu mengejar Emeryl. akan tetapi Damar dan Petir menghalanginya.
"Jangan bertindak gegabah, Tuan terhormat." Damar menodongkan pistol ditangannya. Elang tak berkutik. Ia menghentikan pengejarannya dan berbalik arah menatap Damar. Sedangkan Emer telah di bawa masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka.
"Dasar bodoh, kenapa kau begitu ketakutan, ha? Mana anak buahmu?" Damar sengaja memanasi nya dengan cara mengejek Elang.
Pria bermaskernya itu hanya menatap bengis. "Aku tidak akan membiarkan ini!" Ucapnya, berjanji.
"Terserah kau, tapi pastikan. Kali ini usahamu berhasil!" Jawab Damar, sesukanya. "Ayo Tir, kita pergi!" Damar terus menodongkan senjatanya sampai mereka ikut masuk kedalam mobil.
"Sial, kenapa aku begitu lengah!" Elang hanya bisa pasrah memandangi Mobil yang membawa Emeryl pergi. Berbeda dengan Kevin yang begitu bahagianya mendapatkan Emeryl. Dengan begitu dia akan mendapatkan upah yang banyak dari Diaz. Sedangkan hutangnya akan segera lunas.
__ADS_1
"Lepas, Bang. Aku tidak mau ikut denganmu. Aku lebih nyaman sama Elang!" Pekik Emeryl terus menerus tanpa henti. Kevin yang muak mendengarnya mengambil sapu tangan yang dipergunakan untuk membungkam mulutnya.
"Em... Em...!" Emeryl terus meronta-ronta.
"Bagus, Baby. Ternyata Elang tidak secerdas perkiraanku!" Gelak Kevin. Ia terus tertawa tanpa henti mengamati Emeryl yang masih saja memberontak, akan tetapi kali ini tidak bisa lagi untuk bicara.
.
.
Sudah seharian ini Lana hanya berdiam diri dikamar, Ia kesal pada Kevin. Sejak kemarin pria itu belum juga kembali kerumah.
"Dasar suami menyebalkan, kemana dia pergi? Apa benar dia tengah sibuk menjual Emer? Atau malah bersenang-senang di hotel dengan perempuan itu? Huh, menyebalkan. Kapan dia bisa menghargai aku? Katanya Cinta dan tidak rela Dimas menyakiti aku. Tapi mana? Dia sendiri saja begitu?"
Lana terus mengoceh seorang diri, tidak peduli bila tak ada seorang pun yang mendengar tingkah lakunya.Karena yang dia inginkan saat ini adalah Kevin segera kembali dan menghujani dirinya dengan cinta.
Tin! Tin!
Suara klakson memekikkan telinga. Lana begitu girang, Ia sangat yakin jika itu adalah suaminya.
"Mas Kevin?" Perempuan berambut panjang tersebut, segera menuruni anak tangga untuk menyambut sang suami. Tapi saat membuka pintu, Ia malah melongo mendapati jika yang datang adalah Petir.
"Kamu? Mas Kevin kemana?" Cecar Lana. Ia berjalan kedalam mobil dan memeriksa, tapi rupanya orang yang dicari tidak ada ditempat.
"Petir, kenapa Mas Kevin tidak pulang, ha? Aku merindukannya? Apa dia sudah melupakanku? Jangan bilang kalau dia sedang honeymoon dengan maduku itu tanpa meminta Izin!" Lana mengintimidasi tatapan kearah Petir. Pria berperawakan tinggi dan besar itu hanya memandangi Lana dan membiarkan Nona nya marah-marah sesuka hati.
"Petir kenapa diam, ha? Kalau memang iya, kenapa tidak izin dulu padaku?" Lana sampai melotot guna memaksa Petir menjawab.
"Tenanglah, Nona. BOs Kevin sedang menjalankan misi besar. Jika sudah selesai dia pasti akan kembali!" Petir mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yaitu sebuah kotak berukuran kecil membentuk Love berwarna merah.
"Kata Bang Kevin, ini adalah hadiah untuk Nona Lana!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Petir, wajah Lana langsung membias sempurna. Ia tidak percaya Kevin masih memperhatikan dirinya walaupun masih sangat sibuk.